HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Kakek Sudah Mengetahui Semuanya


__ADS_3

Happy reading.......


"Sudahlah, jangan dibahas! Ini masih pagi, Mama tidak ingin ada perdebatan apapun, pusing tahu nggak sih," ujar mama Gisel.


Sejujurnya dia juga merasa heran, kemana Maya pergi. Kenapa tidak ada di meja makan, karena biasanya menantunya itu sudah siap untuk menyiapkan sarapan pagi.


Rania mengetuk pintu kamar Maya, namun tidak ada jawaban. Wanita itu pun masuk ke dalam dan melihat Maya sedang meringkuk di bawah selimut.


"Mbak Maya!" panggil Rania yang merasa heran, sebab Maya masih belum bangun.


Namun tidak ada jawaban sama sekali. Gadis itu pun semakin mendekat ke arah ranjang, dan D


dia memegang bahu Maya, dan sekali lagi memanggil kakak iparnya.


"Mbak Maya! Mbak tidak apa-apa 'kan?" tanya Rania.


Maya membalikkan tubuhnya, dan sangat terlihat jelas keringat bercucuran di kening wanita itu. Rania yang melihat itu pun memegang kening Maya, dan ternyata kakak iparnya sedang demam.


"Astaghfirullahaladzim! Mbak sakit? Ya Allah, pantas saja tidak ada di meja makan. Sebentar, aku telepon Dokter dulu ya," ucap Rania sambil mengeluarkan ponselnya. Namun tangannya ditahan oleh Maya.


Wanita itu menggeleng dengan pelan, sambil menatap Rania dengan tatapan yang sayu. Kemudian Maya menunjuk laci yang tak jauh dari ranjang.


"Tolong ambilkan Mbak obat saja di laci itu! Kepala Mbah sedikit pusing, mungkin nanti sedikit istirahat juga sudah mendingan kok," ujar Maya.


Rania yang mendengar itu pun mengangguk, "Baiklah, aku akan mengambilkan obatnya. Tapi sebelum itu, aku akan meminta pelayan untuk membawakan bubur dulu ya." Setelah mengatakan itu, Rania keluar dari kamar Maya.

__ADS_1


Dia langsung berjalan ke lantai bawah dengan sedikit tergesa-gesa, lalu meminta pelayan untuk membuatkan bubur. Rania juga meminta pelayan untuk menyiapkan kompresan, dan mama Gisel yang melihat itu pun merasa heran.


"Rania, untuk apa bubur dan juga kompresan?" tanya mama Gisel.


"Itu Mah, mbak Maya sakit, badannya panas banget," jawab Rania.


"Ini Nona kompresannya." Pelayan tersebut memberikan kompresan kepada Rania, dan langsung diterima oleh gadis itu.


"Terima kasih," ucapanya, kemudian dia langsung meninggalkan meja makan dan pergi menuju kamar Maya.


Mama Gisel yang mendengar jika Maya sedang sakit, entah kenapa dia merasa khawatir. Padahal biasanya wanita itu cuek saja, tidak perduli dengan keadaan Maya. Mau wanita itu sakit ataupun menderita, tidak ada rasa prihatin sedikitpun. Tapi kali ini berbeda.


'Kenapa Rasanya aku khawatir dengan keadaan Maya ya? Ada apa ini? Apa aku mulai menyukainya? Tapi biasanya juga aku tidak peduli, mau dia menderita sekalipun,' batin mama Gisel yang merasa heran dengan dirinya sendiri.


Sedangkan Carlen merasa tidak enak, karena entah kenapa dia memikirkan bagaimana perlakuannya tadi pagi kepada Maya. Carlen berpikir, apa wanita itu sakit karena ulahnya.


"Manja sekali sih wanita itu! Habis jalan-jalan kok sakit? Bukannya enak!" gerutu Freya sambil mengaduk-aduk minumannya.


Setelah itu Carlen pun pamit, karena dia ada meeting yang harus dihadiri. Kemudian Freya mengantarnya sampai depan rumah, sedangkan mama Gisel berjalan ke arah kamar Maya. Dia ingin melihat keadaan wanita itu.


Saat wanita itu sampai di depan pintu kamar Maya yang tidak terkunci dan tertutup dengan rapat. Dia melihat Rania dengan telaten menyuapi kakak iparnya.


"Mbak harus makan banyak, biar sehat. Rania tidak ingin Mbak sakit. Kalau Mbak sakit, nanti Rania keluh kesahnya sama siapa? 'Kan cuma Mbak yang mengerti perasaan aku selama ini," ucap Rania sambil menatap sendu ke arah Maya.


Ada rasa sakit di hati mama Gisel saat mendengar ucapan putrinya. Dia sadar, jika selama ini wanita itu terlalu cuek kepada Rania. Bahkan terkesan tidak pernah sekalipun mendengarkan keluh kesah putrinya. Mungkin saja memang Rania selama ini menyimpan banyak masalah dan keluhan, tetapi dirinya jarang ada.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu! Mbak selalu ada di sini untuk kamu," jawab Maya sambil mengusap kepala Rania. "Terima kasih ya, kamu sudah mau merawat Mbak."


"Sama-sama. Mbakini sudah seperti kakak kandungku sendiri, rasa sayang Rania pada Mbak tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sungguh sangat menyesal jika kak Carlen tidak menyadari mempunyai istri seperti seorang bidadari, tapi dia malah memilih batu kerikil dari comberan." Seketika Rania mengubah raut wajahnya menjadi cemberut.


Maya yang melihat itu pun malah terkekeh, kemudian dia menggenggam tangan Rania. "Jangan bicara seperti itu! Walau bagaimanapun, Freya sekarang sudah menjadi kakak iparmu juga, dan kamu harus menghormatinya, selayaknya kamu menghormati Mbak,"tutur Maya dengan nada yang lembut.


Rania menyerahkan obat kepada Maya, agar wanita itu meminumnya. Setelah itu dia melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah ditekuk.


"atidak mau! Tidak sudi aku menganggap dia sebagai kakak iparku! Wanita ular seperti itu seharusnya tidak masuk ke dalam kediaman Dalmiro. Kak Carlen benar-benar bodoh, sudah memasukkan ular berbisa ke sini. Jika saja kakek turun tangan, sudah pasti mereka habis!" geram Rania.


Mama Gisel mengerutkan dahinya saat mendengar nama ayah mertuanya.


"Apakah kakek mengetahui tentang pernikahan mas Carlen dan juga Freya?" tanya Maya.


"Tentu saja kakek mengetahui semuanya. Hanya saja, kakek memang tidak ingin mencegah pernikahan itu. Entah apa yang sedang direncanakan oleh kakek, tapi aku yakin, suatu saat nanti kak Carlen pasti akan sangat menyesali semuanya. Karena dia lebih memilih si wanita ular itu ketimbang Mbak," jelas Rania.


Maya terdiam. Dia pikir, kakek Albert tidak mengetahui tentang pernikahan Freya dan juga Carlen, tapi ternyata pria tua tersebut mengetahui semuanya. Entah apa yang direncanakan oleh kakek Albert terhadap mereka berdua.


"Sudah, jangan dipikirkan! Itu biar urusan kakek saja. Kita lihat saja nanti, permainan apa yang akan dimainkan oleh drama Queen Freya? Aku yakin kok, setelah kehadirannya di rumah ini, akan banyak sekali drama. Dan Mbak tentunya harus menguatkan hati, sebab si wanita itu sangat licik," jelas Rania.


Maya hanya tersenyum saja, sedangkan mama Gisel masih berdiri di ambang pintu. Dia tidak menyangka, jika ayah mertuanya sudah mengetahui segalanya. Namun ada rasa penasaran yang begitu dalam di hati mama Gisel.


'Kenapa papa tidak menghentikan pernikahan Freya dan juga Carlen? Dari dulu 'kan dia tidak pernah menyukai Freya? Apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh papa? Dan aku yakin, Rania mengetahui semuanya. Tapi Gadis itu tidak akan pernah bisa bukan mulut. Apakah Freya memang sejahat itu?' batin mama Gisel bertanya-tanya.


Rania beranjak dari kamar Maya, karena dia sebentar lagi harus pergi ke kampus. Dan saat membuka pintu, betapa kagetnya gadis itu saat melihat sang mama berdiri di ambang pintu dengan keadaan melamun.

__ADS_1


"Mama!" kaget Rania.


BERSAMBUNG......


__ADS_2