
"Beri aku waktu, Will" Sekali lagi hanya itu yang keluar dari mulutku, William tidak bergeming, ia kembali berdiam dan tidak lagi berbicara
Keheningan pun tak terelakkan hampir 10 menit lamanya, di antara kami berdua tidak ada satu pun yang berbicara, hanya deru nafas dan angin semilir terdengar kala itu
"Baiklah, Nes. Jika memang itu yang kamu inginkan maka akan aku lakukan, namun jangan salahkan aku jika di kemudian hari kamu mendapatiku tak lagi meminta hal ini. Maaf, Nes aku sudah mengganggumu selarut ini" aku menatapnya kala ia berucap hal itu, ada ketidakrelaan yang melintas di hati dan juga pikiranku tapi aku sendiri tidak bisa memberi jawaban dan kepastian sekarang. Bimbang dan ragu, dua hal yang selalu mengikuti ke mana pun aku pergi
"Will" ucapku kala William berdiri dan menjauh dari ruang tamu, tak ada sahutan darinya seperti biasanya. Ia melenggang dan kemudian pergi bersama mobil putih yang ia kendarai, aku hanya bisa melihat kepergiannya dan tidak mampu mencegahnya
Segera kututup pintu setelahnya tanpa berpikir banyak aku pun kembali ke kamar untuk memulai kembali tidur yang sempat tertunda tadi meski tidak aku pungkiri ada hal yang mengganjal saat ini, hal yang tidak ingin aku lakukan namun sangat takut jika kehilangannya
...***********...
William pun kini tiba di apartemen miliknya, ini adalah tempat kedua yang ia miliki saat ini setelah vila di pedesaan itu. Rumah mewah, kantor bertingkat, restoran, mobil-mobil mewah dan juga rumah peninggalan keluarga Adiputra pun kini semuanya sudah disita. Kebangkrutan yang dialami oleh keluarganya memang membuatnya sudah tidak berharga lagi tapi ia hanya tetap diam dan mencari celah mana yang bisa ia masuki agar ia bisa kembali berbisnis
Label orang terkaya dan juga pengusaha muda paling kaya tak lagi disandangnya saat ini. Orang tuanya pun kini sibuk di luar negeri demi meyakinkan kolega dan juga mempertahankan perusahaan mereka yang berada di negeri orang itu. Dan di tanah air, ia masih terus berusaha menguatkan omanya yang kini tengah syok akibat perbuatan Alexa
William hanya beberapa saat di sini, setelah ia mengambil beberapa pasang baju miliknya dan juga beberapa barang yang ia butuhkan akhirnya ia pun kembali mengemudikan mobilnya menuju ke tempat omanya berada
Ia melirik ke arah jam tangan miliknya, di sana sudah menunjukkan tengah malam tapi tak menyurutkan niatnya untuk terus menginjak pedal gas. Kantuk memang menyerang namun rasa sesak dan tak tahu harus bagaimana kini lebih mendominasi hatinya. Kali ini ia benar-benar sudah berada di titik paling rendah hidupnya, kemarin saat dia dikhianati oleh cintanya ia masih bisa bertahan dan tak membunuh cinta yang sudah terlanjur tumbuh dihatinya. Tapi sekarang, bukan hanya cinta namun juga tahta dan harta pun meninggalkan dirinya
Hampir subuh William sampai di tempat tujuan, ia tak lantas masuk melainkan hanya tetap di dalam mobil, ia membuka pintu mobil yang ia kendarai dan membiarkan dinginnya udara masuk menyeruak ke sana. Tak lama, pagi pun menjelang. Ia membuka matanya yang kini terkena sorot matahari yang masih malu-malu menampakkan cahayanya, meski begitu rasa hangat pun sudah sedikit terasa meninggalkan dinginnya subuh yang beberapa saat menyelimutinya
Ia kemudian membongkar bagasi mobil itu dan mengeluarkan barang bawaannya, membawanya masuk dan meletakkannya di ruang tamu mengingat vila ini hanya punya 1 kamar dan dipakai oleh omanya. Tampak di sofa ruang tamu, Lian masih berada di alam mimpinya. William tidak tega membangunkannya sebab ia tahu bagaimana lelahnya laki-laki itu, bukan hanya fisiknya tapi juga otaknya. Ia rela masih tetap setia di samping omanya meski ia pun tahu bahwa ia tak lagi bisa mendapatkan gaji yang besar seperti beberapa saat yang lalu
"Willy" Panggil oma yang baru saja membuka pintu. William mengisyaratkan sebuah telunjuk yang ia tempelkan pada bibirnya dan setelahnya menunjuk ke arah Lian yang masih terlelap. Oma tahu maksudnya dan hanya mengangguk, ia kemudian melambaikan tangannya meminta William mendekat ke arahnya dan dengan segera Willy pun mendekat
"Masuklah, ada yang ingin oma bicarakan" Willy mengangguk dan kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan ranjang yang oma tempati
__ADS_1
"Ini untukmu" oma memberikan sebuah amplop coklat yang cukup tebal, William mengernyitkan dahinya kala melihat amplop yang kini berada tepat di pangkuannya itu. William membukanya dan tampaklah tumpukan uang yang nominalnya cukup fantastis
"Ini uang apa oma?" oma pun menjelaskan jika ini adalah uang hasil penjualan rumah miliknya yang semalam dibawa oleh Lian
"Rumah itu oma jual?" bu Mariyam mengangguk
"Kenapa oma jual, bukankah yang akan kita jual adalah apartemen milik Willy?" oma tersenyum
"Rumah itu adalah rumah penuh kenangan oma, rumah milik keluarga yang begitu berharga, rumah yang pertama kali dibangun saat keluarga kita memiliki usaha dan membangun perusahaan"
Oma memegang tangan cucu tangannya, "Willy sayang, apartemen itu adalah satu-satunya hal yang kamu beli dengan jerih payah kamu sendiri. Bahkan semua mobil-mobil mewah milikmu juga sudah kamu relakan untuk dijual dan oma tidak mau kalau kamu sampai tidak memiliki apa-apa. Soal rumah itu, jangan kamu pikirkan meski di sana banyak kenangan tapi setidaknya kita menjualnya bukan untuk hal yang sia-sia, kita menjualnya untuk bertahan hidup dan juga membantu kedua orang tuamu" jelas oma selanjutnya
"Tapi pada siapa oma menjualnya, Willy ingin tahu, siapa tahu suatu saat nanti Willy punya uang dan bisa mendapatkan rumah itu kembali"
"Oma tidak tahu siapa yang membelinya sebab oma menjualnya lewat lelang properti dan pemilik lelang juga tidak memberi tahu siapa yang membelinya karena sang pembeli tidak ingin dipublikasikan"
"Perusahaan mana yang mengadakan lelang properti, oma?" Willy tampak gusar
"Perusahaan Kuncoro, Ayah Agnes" terang oma dan itu sedikit membuat William tenang, kekhawatiran yang sejenak ia rasakan kini menghilang saat tahu perusahaan Ayah yang menangani lelang itu, ia tidak lagi berpikir buruk dan mengira jika hanya dipermainkan oleh perusahaan lelang abal-abal
"Pakailah uang ini untuk kembali membangun bisnis, beli kembali restoran milikmu atau beli lahan lain untuk memulai bisnis yang baru"
"Tapi uang ini milik oma" Willy menyodorkan amplop coklat itu pada omanya tapi kemudian ditolak
"Uang oma uang milikmu juga, oma sudah membaginya untukmu dan juga untuk orang tuamu. Jika tidak ada halangan maka lusa oma akan menyusul orang tuamu bersama Lian. Akan oma pekerjakan Lian di sana"
"Lusa, itu terlalu cepat oma. Apa oma sudah baikan?" William memang sangat menyayangi omanya, ia jadi orang pertama yang paling siaga saat sang oma dalam keadaan tidak baik-baik saja
__ADS_1
"Oma sudah lebih baik, jangan khawatirkan itu. Dan lagi, besok antarkan oma untuk menemui kakakmu, oma tidak pernah mengunjunginya saat dia dalam keadaan sulit seperti sekarang dan oma juga ingin berpamitan dengannya" Willy mengangguk
"Bagaimana dengan Agnes?" Tanya oma tiba-tiba dan William pun kemudian menceritakan apa yang ia alami akhir-akhir ini tidak ada yang ia tutupi bahkan tentang pertengkaran yang terjadi saat ini
"Beri dia waktu, oma yakin dia masih menyimpan perasaan untukmu. Oma memang baru beberapa hari bersama dengannya tapi oma rasa dia gadis yang baik"
"Terima kasih, oma. Willy akan tetap menunggunya sampai waktu lelah dan menyerah lalu berpihak pada Willy"
...**********...
. .
..
..
..
.
.
.
. yuk yuk yuk ,di vote di like ,otor up lagi loh ini,
Kira2 di dunia nyata ada enggak ya yang setianya kayak mas Willy, dia rela loh menunggu orang yang sudah menyakiti dan bahkan terkesan mengulur waktu
__ADS_1
Yuk ditebak di part selanjutnya neng agnes bakal kasih kepastian atau enggak ya??????