
"Willy, kenapa kita harus bertemu sekarang?" gumamku lirih sambil memegangi dadaku yang kini berdetak lebih cepat,
Aku pun segera berpaling dan kemudian mencari tempat duduk yang kosong karena kakiku terasa gemetar. Aku menghela nafasku kasar dan kemudian kembali menata mood yang awalnya sudah membaik kini menjadi sedikit berubah.
Tak berselang lama, ponselku berbunyi dan di sana terpampang jelas nama Pak Adi, orang yang harusnya aku temui.
Kujawab panggilan itu dengan sebelumnya aku menghirup nafas dalam-dalam
"Iya, Pak" lanjutku ketika orang yang berada di seberang telepon bertanya kenapa aku belum menemuinya.
"Iya, baik. Saya akan ke sana" panggilan itu pun kemudian terputus. Aku pun kemudian segera beranjak dan kembali ke aktivitasku semula.
Kulihat ke tempat di mana tadi William duduk, tapi tak lagi aku dapati orang itu di sana. Aku merasa lega karena dia sudah pergi dan aku pun kemudian segera mencari di mana Pak Adi berada.
"Jas coklat dengan kemeja putih" ucapku sambil mengamati setiap orang yang ada di sana yang, aku hanya fokus pada orang yang memakai pakaian itu karena tadi pak Adi mengatakan jika dirinya memakai pakaian itu.
Mataku kemudian menangkap seseorang yang tengah duduk membelakangiku, ia sepertinya sedang menikmati makanan sambil sesekali melihat ke arah ponselnya. Aku pun mendekat dan berharap jika itu adalah Pak Adi.
"Maaf, dengan Pak Adi?" tanyaku sopan tapi laki-laki itu menggeleng
"Bukan, nama saya buka Adi" jelasnya, aku pun kemudian meminta maaf dan pergi dari sana dan kembali lagi mencari Pak Adi.
Aku sudah berputar di hampir dua kali di lantai tiga ini, kakiku terasa agak pegal dan juga lelah tapi orang yang aku cari tak kunjung aku temui.
Aku memutuskan untuk duduk di tempat di mana tadi aku duduk, aku memijat pelan kakiku dan memukulnya dengan tenaga yang sedang.
Ponselku kembali berbunyi dan Pak Adi kembali menghubungi, aku menjawabnya dan kemudian menjelaskan semuanya. Hingga pada akhirnya dia pun bertanya di mana aku berada dan dia akan menghampiriku.
"Saya di samping lift , Pak. Maaf saya istirahat sebentar"
"Tidak apa-apa, kamu tunggu di sana saya akan ke sana dan menghampiri kami" ucapnya di seberang telepon
"Iya, Pak. Maaf sekali lagi" panggilan itu berakhir dan aku pun kembali melanjutkan aktivitasku sembari menunggu Pak Adi.
Dua menit berlalu, dari jarak dekat aku melihat seseorang yang kini memaki celana bahan kain dan sepatu hitam berdiri tepat di depanku
Aku yang masih sibuk dengan aktivitasku yaitu memijat kakiku, kemudian berhenti dan berganti mengamati siapa pemilik sepatu itu
Dari bawah aku perhatikan, sepatu hitam yang mengkilap itu dan dari sana aku kemudian menaikkan pandanganku ke arah celana coklat berbahan kain itu, setelahnya aku pun melihat jas coklat dengan dalaman kemeja putih dan aku pun bisa menyimpulkan jika itu adalah Pak Adi.
__ADS_1
Aku belum melihat wajahnya, tapi satu jarak itu aku sudah bisa mencium aroma maskulin parfum pak Adi. Aku membenarkan dudukku dan kemudian menegakkan badanku hingga pada akhirnya aku pun bisa melihat wajah seseorang yang berdiri di depanku yang aku pikir itu adalah Pak Adi, yang kini membuuat jantungku terasa seperti ingin meledak
"Wi-William, William" ucapku tergagap ketika aku melihat laki-laki yang kini berdiri di hadapanku adalah William. Aku tak habis pikir kenapa orang ini bisa menemukanku, padahal tadi aku menghindarinya.
Seperti tanpa dosa, dia pun tersenyum ke arahku sembari mengulurkan tangannya tapi tidak aku tanggapi. Aku celingukan ke sana ke mari untuk mencari orang yang harusnya aku temui
"Kamu mencari siapa?" dia menarik tangannya karena aku tak kunjung menjabatnya. Aku masih terdiam dan tidak menjawab kata-katanya. Aku masih terkejut dan kini jantungku berdetak cukup kencang.
"Orang yang kamu cari sudah ada di depanmu" lanjutnya membuatku semakin tidak mengerti,
Aku menatapnya tajam, "Maksudnya?" lanjutku
"Sudah lama aku tidak melihat tatapan itu, dan aku merindukannya" ucapnya seolah tanpa dosa. Aku yang sejak awal sudah gugup kini bertambah gugup dan kemudian beranjak dari sana
Sebelum aku pergi jauh William pun menarik tanganku dan aku semakin tersentak
"Lepaskan, aku sedang bekerja sekarang!" aku berbicara agak ketus tapi dia malah tersenyum
"Bosmu tidak akan marah kok, tenang saja. Ayo duduk dulu!" dia mengajak aku duduk dan bodohnya aku pun menurut meski wajahku kini terlihat begitu kesal dan juga sebal.
Dia kembali mengulurkan tangannya ke arahku, aku tidak tahu apa maksudnya, aku pun kemudian menjabatnya dan berharap ini akan segera berakhir karena sampai saat ini aku masih belum bertemu dengan Pak Adi.
"Jangan bercanda, Will. Aku sedang sibuk" aku kemudian menarik tanganku tapi Willy malah tergelak
"Tidak, Aku tidak bercanda. Bukankah sekarang kamu di sini untuk bertemu dengan atasanmu?" aku mengangguk
"Aku atasanmu!" Lanjutnya masih mengeluarakn kata-kata itu
"Sudahlah, Will. Jangan bertingkah konyol, aku sedang tidak ingin bercanda. Aku sibuk Will, maaf aku pergi" aku beranjak dari dudukku
"Tapi pak Adi akan marah jika sekretarisnya pergi sebelum melakukan pekerjaanya" teriaknya dan itu otomatis membuatku berhenti
Aku menoleh ke arahnya dan menatapnya tajam, dalam benakku aku berpikir dari mana dia tahu tentang pak Adi dan juga pekerjaanku, apa dia mengenal Pak Adi atau bagaimana
Aku yang semula menjauh kini malah berbalik ke arahnya dan duduk di hadapan William yang kini menampilkan senyuman penuh kemenangan
"Apa kamu mengenal Pak Adi, seperti apa orangnya agar aku tahu dan cepat menemukannya" ucapku antusias seakan aku menemui titik terang dari masalah yang aku hadapi.
Dia mengangguk, "Duduklah, sebentar lagi kamu akan tahu di mana dan siapa pak Adi itu"
__ADS_1
Aku pun duduk tepat di hadapannya dan kemudian kembali menanyakan apa yang baru saja aku tanyakan, tapi dia malah senyum-senyum tidak jelas dan seolah mempermainkan aku yang kini hampir mati penasaran karena ingin segera tahu sepeti apa wujud pak Adi.
Aku harus segera bertemu dengannya karena aku tidak ingin dianggap sebagai karyawan yang teledor di hari pertama bekerja. Aku mengesampingkan perasan gugup dan juga sebal yang sampai saat ini aku rasakan
"Cepat katakan, Will. Aku harus segera bertemu dengannya" lanjutku
"Baik, tapi aku hanya ingin memastikan jika kami tidak akan terkejut ketika melihatanya"
"Katakan saja jangan bertele-tele, apa dia buruk rupa atau dia gendut atau dia celamitan?" tanyaku tanpa jeda dan Willy pun kembali tergelak
"Tidak, dia tidak buruk rupa, dia tampan. Dia juga tidak gendut dan bisa dipastikan dia juga tidak celamitan"
"Lalu, kenapa kamu mengira aku akan terkejut ketika melihatnya?"
"Aku takut jika kamu akan jatuh cinta ketika melihatnya dan itu semua akan membuatmu dan pacarmu bertengkar" lanjut William masih dengan tersenyum
"Kenapa aku harus jatuh cinta dengannya, memangnya apa istimewanya dia, toh kalau pun aku jatuh cinta itu tidak masalah, aku kan jomblo!" jawabku tanpa sadar dan malah membuka aibku sendiri
"Jadi sekarang kamu jomblo?" cibir William, aku pun segera menutup mulutku dan merutuki kebodohan yang baru saja aku lakukan
"Sudah, jangan membahasnya. Cepat katakan bagaimana rupa pak Adi agar aku bisa menemukannya"
"Baik" kata Willy mantap
.
.
.
Hay semuanya, otor up lagi loh ini. Sebelum dilanjut otor ingin mengucapkan minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin (meskipun telatππππ) tapi enggak apa-apa yes, ini kan masih lebaran meski udah hampir abis.ππππ
Masih penasaran kan dengan perjalanan cinta sang Agnes yang kini sudah pisah sama bang Prima karena Bang Prima jahat banget, memanfaatkan Neng Agnes demi kembali sama Si sumi.
Coba aja kalo itu beneran terjadi sama otor, udah abis diulek buat campuran pepes dah. Trus gimana ya sama Neng Agnes yang kini tengah bertemu dengan William dan usaha pencarian bosnya, apakah Senasibnyimpan rasa buat Willy atau kini cintanya udah kabur kena angin????
Ditunggu ya kelanjutannya, jangan lupa untuk like vote dan juga komen
Matur nuwun
__ADS_1
Alfarahmawati