HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 107. Andreas


__ADS_3

William sudah sampai di apartemen miliknya, ia merebahkan tubuh lelahnya di sana. Ia kemudian meraih amplop coklat yang beberapa waktu lalu terlihat mengembang namun kini sudah mengempis itu. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang kini mewakili nasibnya, penderitaan baru saja dimulai tapi kini ia juga ditipu oleh orang yang ia percaya, benar-benar lengkap


Ia menghitung kembali uang yang tersisa di sana, tiga per empatnya sudah mengalir untuk para pegawai pabrik yang baru saja ia temui dan kini sisanya harus bisa ia pakai se efisien mungkin sebelum pada akhirnya ia menemukan pekerjaan baru atau membangun usaha baru. Tabungan memang ia miliki tapi itu akan habis jika ia terus menganggur


Ia berdiri dan membuka lemari pakaiannya, ia mengambil satu setel jas yang akan ia kenakan esok untuk acara pernikahan Prima, sekilas ia menatap jas itu, jas yang paling sering ia pakai untuk menghadiri meeting. Jas yang ia pakai pertama kali untuk memenangkan kerjasama dengan banyak vendor dan juga tender. Meski dulunya ia orang berada namun dia bukan tipe orang yang suka menghamburkan uang hanya untuk beli pakaian atau pun mengikuti mode ulang sedang tren. Ia malah tidak terlalu memikirkan hal-hal yang menurutnya sepele itu, yang terpenting baginya adalah pakaian atau apa pun yang ia pakai masih terlihat bagus dan layak


Lamunan itu buyar kala ponselnya berdering, ada sebuah panggilan di sana. William sedikit melongok ke arahnya dan tak lama ia pun menjawabnya. Pembicaraan itu terdengar cukup akrab dan juga lama, senyum terpancar di wajah William bahkan canda pun pecah dan sedikit menghilangkan rasa sesak dan juga kegundahan hatinya


"Baik, sampai bertemu besok" panggilan itu lalu terputus, Willy pun memutuskan untuk mandi dan akan pergi ke suatu tempat


...****************...


Prima menatap ruang tamunya yang kini penuh dengan dekorasi dan juga lampu-lampu hias warna temaram. Mawar putih yang dikombinasikan dengan dekorasi warna biru laut, membuat nyaman siapa pun yang memandang. Di setiap sudut ruang tamu terdapat sebuah foto prewedding milik mereka berdua dari setiap foto itu memiliki gaya dan juga pakaian yang berbeda


Foto yang mereka ambil kemarin, waktu yang begitu singkat dan juga mendadak itu membuat keduanya merasakan kelelahan dan juga kebahagiaan yang bersamaan. Di tengah-tengah ruangan itu terdapat sebuah meja kecil berbentuk segi empat yang di tengah-tengahnya terdapat sebuah rangkaian bunga mawar putih, meja itu di kelilingi oleh enam meja yang sudah dihiasi dengan pita warna biru yang nantinya akan dipakai untuk ijab qabul

__ADS_1


Tak jauh dari sana, sekitar beberapa senti, ada beberapa kursi yang berhiaskan sama dengan kursi yang tadi, kursi yang nantinya akan dipakai duduk oleh para tamu undangan yang tidak lain hanya kerabat dan juga teman dekat dari Prima.


"Apa kamu menyukainya?" Tanya Prima pelan, tepat di samping telinga kekasihnya. Posisi Mbak Sumi yang dipeluk Prima dari belakang itu membuatnya merasakan nyaman dan juga bahagia


Mbak Sumi mengangguk, "Tapi aku rasa ini semua terlalu berlebihan, Mas. Kita hanya melakukan ijab qabul biasa dan dekorasi ini seperti kita menggelar pesta mewah" sahut Mbak Sumi yang masih merasa keberatan akan apa yang dipersiapkan oleh kekasihnya itu, tapi tidak bagi Prima, ini bahkan bukan apa-apa, jika saja kekasihnya itu mengizinkan maka Prima bisa membuat pesta besar seperti impiannya selama ini, ia tidak akan segan-segan mengggelontorkan banyak uang demi membahagiakan calon istrinya itu


Namun, Mbak Sumi bukan orang yang gila akan kemewahan atau pun hal wah lainnya. Kebiasaan hidup sederhana dan apa adanya membuat dirinya tidak ingin menjangkau hal yang menurutnya berlebihan. Seperti halnya sekarang, dekorasi yang menurut Prima biasa namun menurut dirinya sudah luar biasa tapi untuk saat ini Mbak Sumi harus mengalah agar pernikahan yang sudah di depan mata tidak berubah jadi hal buruk karena sebuah perbedaan pendapat


"Sayang" ucap Prima lembut sembari membalikkan tubuh calon istri


Memang benar, pernikahan adalah hal yang paling indah kala dua hati sudah saling menerima dan memutuskan. Ini adalah tahapan terakhir dari perjalanan hati yang sebelumnya sudah berulang kali berlabuh atau mungkin memang satu-satunya tempat dan tujuan dari keduanya. Tidak menampik jika di dalam pernikahan itu ada masalah dan juga perdebatan tapi itu semua adalah bumbu yang menjadi penyedap rasa jalan berlaku dan juga jalan lurus yang dijalani oleh pasangan suami istri. Di antara banyaknya pernikahan yang kokoh dan juga kuat ada kalanya tidak sedikit dari mereka berpisah dan memilih untuk berjalan di jalan mereka masing-masing, meski sudah kuat bertahan dan berpegang namun jika Allah SWT sudah menakdirkan maka pasti akan berpisah juga, kita sebesar mungkin hanya menjaga dan berusaha karena hasil terakhir adalah keputusan Yang Maha Kuasa


"Terima kasih, Mas. Sudah mau menunggu dan menerima Sumi dengan segala kekurangan Sumi" Sumi memeluk calon suaminya dan pelukan itu disambut hangat oleh Prima


"Hey kalian, apa yang kalian lakukan. Kalian belum halal!" teriak seorang laki-laki dari ambang pintu rumah Prima. Keduanya pun melepaskan pelukan itu dan menatapa ke arah sumber suara. Laki-laki itu berjalan ke arah ke arah keduanya

__ADS_1


"Andreas!" kata Prima kemudian dan mendekat ke arah sahabat lamanya itu. Pelukan dan juga tawa pun kemudian menghampiri keduanya


Andreas, dia adalah kawan lama Prima yang menjadi saksi pertemuan pertama antara Mbak Sumi dan juga Prima. Mereka terpisah jarak dan waktu yang lama, Andreas yang kini sudah jadi pengusaha di negara tetangga dan juga sudah memiliki keluarga kecil. Kedatangannya kali ini bukan hanya karena Prima yang memberitahukan akan pernikahannya namun juga karena ia ingin mengembangkan bisnisnya di tanah air. Dia datang bersama keluarganya namun istri dan anaknya lebih memilih berada di hotel dan beristirahat


"Benar dugaanku, untung saja aku ke sini kalau tidak pasti akan ada hal buruk yang akan terjadi" tawa Andreas pecah, Prima tahu apa maksudnya. Andreas berjalan ke arah Mbak Sumi yang masih malu karena kepergok olehnya


"Kamu hebat, Nona. Prima takluk padamu dan akhirnya berlabuh padamu" dua jempol Andreas terangkat di depan Mbak Sumi. Tapi Mbak Sumi hanya menunduk dan tersipu malu, ia pun kemudian mempersilakan tamunya itu duduk dan ia pergi untuk mengambil minuman


"Kalian tinggal satu rumah?" Prima mengangguk dan mendapat tatapan tajam dari Andreas


"Tenang saja, meski kami tinggal satu rumah tapi kami tidur terpisah" Sahut Prima tahu akan maksud dari Andreas


"Hahahahahhahahah, aku kira kalian ....." Andreas tidak melanjutkan ucapannya namun malah melanjutkan tawanya


"Hey kalian, apa ini namanya pertemanan?" sahut seseorang dari ambang pintu lagi

__ADS_1


__ADS_2