HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Pura Pura Pingsan


__ADS_3

Happy reading....


Rania seharian ini membawa Maya ke salon, dari mulai facial, medicure, pedicure, semua dilakukan. Dan setelah siap, mereka pun pulang ke rumah karena jam juga sudah menunjukkan pukul 17.00 sore


Saat mereka masuk ke kediaman Dalmiro, mereka disuguhkan dengan pemandangan di mana saat ini Freya tengah menyapu halaman, dan tidak lupa di sana ada kepala pelayan yang sedang mengawasinya. Siapa lagi jika bukan perintah dari kakek Albert.


Pria menatap ke arah Rania dan juga Maya dengan sinis, tapi dia tidak bisa melakukan apapun, sebab di sana ada kepala pelayan yang diperintahkan kakek Albert untuk mengawasinya.


'Mereka asik-asikan belanjax dan juga perawatan. Sedangkan aku disini malah mengerjakan pekerjaan yang begitu kotor. Lihat aja pembalasanku! Akan aku balas kalian semua!' batin Freya dengan penuh dendam.


Dia bertekad jika Carlen tidak bisa dimilikinya, dan dia tidak bisa menguasai harta keluarga Dalmiro, maka Freya tidak akan pernah membiarkan mereka bahagia.


Tepat jam 18.00 sore Carlen pulang, dan dia langsung membersihkan tubuhnya, karena jam 18.30 malam mereka akan berangkat ke tempat acara.


Carlen sudah siap dengan pakaiannya, dan dia berjalan ke arah kamar istrinya. Namun, tiba-tiba saja Freya mengeluh dan dia menahan tangan Carlen.


"Ada apa, sayang?" tanya Carlen.


"Mas, perut aku tiba-tiba sakit banget. Kamu jangan pergi ya! Kamu di sini aja temenin aku! Aku benar-benar lagi butuh kamu, Mas!" pinta Freya dengan licik.


"Nggak bisa. Aku harus pergi ke tempat acara, tidak enak sebab klien ini bukan klien sembarangan. Jadi kalau aku tidak datang, aku merasa tidak enak pada mereka," jawab Carlen, "Kamu diantar ke rumah sakit ya sama Rania," sambungnya lagi.


"Aku tidak mau, Mas. Kamu di sini aja ya! Nggak usah berangkat. Aku benar-benar sakit ini perutnya." Freya mencoba untuk berpura-pura kesakitan, dan Carlen terlihat begitu bingung. apakah dia harus pergi atau tidak.


Namun jika dia tidak pergi tidak enak pada kliennya, hingga Carlen pun harus meninggalkan Freya. "Maaf sayang, tapi aku kali ini benar-benar tidak bisa. Aku akan meminta Rania untuk membawamu ke rumah sakit," ucap Carlen, kemudian dia beranjak untuk keluar dari kamarnya.


Akan tetapi tiba-tiba saja Freya mengejarnya dan jatuh ke lantai. Wanita itu pura-pura pingsan, berharap jika Carlen tidak akan pergi karena melihat keadaannya.

__ADS_1


"Astaga sayang!" panik Carlen saat melihat Freya jatuh pingsan. Dia pun langsung menggendong tubuh wanita itu ke atas ranjang.


Sedangkan di lantai bawah, Maya sudah siap. Dia sedang berada di ruang tamu bersama dengan Rania untuk menunggu Carlen, tapi pria itu tidak kunjung datang dan turun dari tangga.


"Kak Carlen ke mana sih? Lama banget. m


Masa siap-siap aja melebihi cewek?" gerutu Rania dengan kesal.


"Coba kamu samperin sana!" titah mama Gisel. Rania mengangguk, kemudian dia mengajak kakek Albert untuk naik ke lantai atas.


"Kamu ngapain sih ngajak kakek?" tanya kakek Albert dengan heran saat mereka berada di tangga.


"Entah kenapa, feelingkuh mengatakan jika si wanita sundal itu tidak melepaskan kak Carlen untuk pergi, Kek," jelas Rania.


Kemudian mereka pun naik lantai atas dan menuju kamar Carlen. Benar saja, saat mereka sampai di sana Carlen sedang menepuk-nepuk pipi Freya.


"Kakak juga tidak tahu, Rania. Tiba-tiba saja Freya pingsan, tadi dia mengeluh perutnya sakit," jawab Carlen dengan wajah yang cemas.


"Tapi kamu harus segera pergi Carlen, ini sudah jam berapa?" timpal kakek Albert.


"Tapi Kek, aku mana mungkin bisa meninggalkan Freya dalam keadaan seperti ini? Kalau terjadi apa-apa sama dia, bagaimana?" Carlen terlihat begitu khawatir.


"Sudah, soal Freya kamu tidak usah khawatir! Serahin aja pada Kakek. Kamu sama Maya pergi aja! Nanti Kakek bakalan panggil Dokter ke sini, jangan terlalu cemas!" ucap kakek Albert.


Carlen menghembuskan napasnya dengan kasar, kemudian dia menganggukkan kepalanya dan keluar dari kamar. Sebenarnya berat bagi dia untuk meninggalkan Freya, tapi apa yang kakek Albert katakan memang benar, jika klien yang saat ini harus mereka hadiri itu sangatlah penting.


Rania dan juga kakek Albert tersenyum satu sama lain saat melihat Freya yang pura-pura pingsan, karena mereka tahu itu hanyalah alibi wanita sundal tersebut untuk mencegah kepergian Carlen bersama Maya.

__ADS_1


Sedangkan Freya menahan kekesalannya, karena gagal untuk mencegah Carlen.


'Sialan! Ini semua gara-gara kakek tua dan si Rania. Jadinya mas Carlen pergi bersama dengan wanita udik itu. Lihat saja, aku masih mempunyai 1000 cara untuk memisahkan mereka,' batin Freya sambil mengepalkan tangannya.


"Kakek lihat deh, kok ada kecoa sih yang berjalan di atas tubuhnya Mbak Freya? Ambilin Kek, aku takut! Tuh masa kecoanya mau masuk lihat Kek, ke dalam bajuny!" seru Rania dengan sengaja.


Dia sengaja mengatakan itu, karena Rania yakin jika Freya itu hanya pura-pura pingsan saja. Dan benar saja apa yang dipikirkannya, tiba-tiba saja Freya menjerit ketakutan saat mendengar jika ada kecoa di atas tubuhnya.


"Huuwaa ... mana kecoanya? Mana usir! Usir dari aku!" teriak Freya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di atas baju.


Kakek Albert dan Rania yang melihat itu pun tertawa terbahak-bahak. Mereka tidak bisa lagi menahannya, sehingga Freya yang melihat itu merasa jika keduanya tengah mengerjai dirinya.


"Apa kalian sedang mengerjai ku?" tanya pria dengan marah.


"Kami tidak sedang mengerjaimu. Hanya saja, kami tahu kamu sedang membodohi kak Carlen. Sayang saja, kamu tidak bisa membodohi kami," jawab Rania dengan sinis.


Freya yang melihat itu pun berdengkus dengan kasar, kemudian kakek Albert mendekat ke arahnya lalu mencengkram tangan Freya dengan kasar, hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Kamu dengar ya! Jangan pernah bermimpi untuk menguasai hartaku! Karena sebentar lagi kejahatanmu juga akan terbongkar. Carlen tidak akan pernah menerimamu, setelah dia tahu kebusukanmu, paham!" bentak kakek Albert, kemudian menghempaskan tubuh Freya ke atas ranjang.


Setelah itu keduanya meninggalkan Freya di dalam kamar. Mereka sungguh sangat puas karena sudah berhasil membongkar kebohongan Freya, di mana wanita itu pura-pura pingsan.


Sementara itu Maya dan Carlen tengah berada di dalam mobil untuk menuju tempat acara. Bahkan sedari tadi Carlen terus saja mencuri pandang ke arah Maya. Dia tidak menyangka jika wanita itu akan sangat cantik dan anggun setelah di make-up, walaupun make-up nya tidak tebal, tetapi mampu mengeluarkan aura kecantikan yang begitu paripurna.


'Sntah kenapa, aku sama sekali tidak bosan memandangnya? Dia benar-benar sangat cantik malam ini.' batin Carlen.


Sedangkan Maya sedari tadi merasa kikuk, karena Carlen terus saja menatap ke arah dirinya. Dan itu membuatnya sedikit tidak nyaman, karena tidak biasanya suaminya bersikap begitu.

__ADS_1


BERSAMBUNG........


__ADS_2