HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Mengetahui Semuanya


__ADS_3

Happy reading....


Setelah kejadian itu, Maya mendiamkan Carlen. Dia bahkan memberikan jarak kepada suaminya, dia bahkan irit bicara terhadap Carlen dan itu sangat dirasakan oleh pria tersebut.


Seperti halnya pagi ini, Carlen meminta Maya untuk menyiapkan baju kerjanya. Padahal sudah disiapkan oleh Freya, tapi dia tidak mau. Carlen ingin disiapkan baju oleh Maya.


"Apakah bajunya sudah siap?" tanya Carlen saat Maya memberikannya baju, dan wanita itu hanya mengangguk saja.


Freya benar-benar tidak suka saat melihat perhatian Carlen kepada Maya. Namun seketika dia menyunggingkan senyumnya. 'Lihat saja, sebentar lagi aku akan membuat kalian berpisah. Jika Carlen tidak bisa kumiliki,nmaka kamu pun tidak akan bisa Maya!' batin Freya.


Saat berada di meja makan, Maya pun tidak banyak bicara. Dia lebih banyak diam. "Oh ya Mbak Maya, nanti temenin aku ya ke butik! Kebetulan besok itu ada acara di kampus, dan aku nggak tahu harus pilih gamis yang kayak gimana. Jadi nanti Mbak temenin aku buat pilih-pilih ya!" pinta Rania kepada Maya.


Wanita itu menganggukkan kepalanya, "Iya, nanti Mbak temani," jawab Maya.


"Ya ampun, Rania. Kalau kamu berbicara soal fashion, kenapa nanya sama wanita udik seperti dia yang tidak tahu apa-apa? Mendingan kamu nanyanya sama aku. Aku ini 'kan model, udah pasti tahulah soal fashion. Lah dia, mana tahu soal begituan?" sindir Freya sambil memakan sarapannya.


"Jangan terlalu merendahkan orang, Mbak! Emangnya model aja yang tahu fashion? Lagi pula, aku ini bukannya mau belanja baju-baju seksi, tapi mau belanja gamis dan jilbab. Emangnya Mbak tahu fashion gamis dan jilbab? Mbak aja modelnya majalah dewasa!" sindir Rania dengan cuek.


Freya mengerucutkan bibirnya saat mendengar sindiran dari adik iparnya tersebut. Dia memutar bola matanya dengan malas. Entah kenapa Rania sedari dulu tidak pernah menyukainya, semasa dia pacaran dengan Carlen.


Karena memang Rania tidak suka dengan cara berpakaian Freya yang terlalu terbuka, dan terlalu berani. Itu membuatnya sedari dulu tidak pernah menyukai wanita tersebut, ditambah saat dia mengetahui tentang kebenaran yang diberikan oleh kakek jika Freya suka berselingkuh. Namun, Rania sudah pernah memberitahukan kepada Carlen, tapi dia tidak percaya.


Tiba-tiba saja ponsel Carlen berhenti, dan sebuah pesan masuk kepadanya.


"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat ke kantor dulu ya. Ada hal penting soalnya," ucap Carlen sambil mengelap mulutnya dengan tisu, kemudian dia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Maya dan mencium kening wanita itu.


Setelahnya Carlen berjongkok di samping Maya, kemudian dia mengusap perut yang mulai membuncit tersebut. "Papa berangkat kerja dulu ya. Kamu jangan nakal-nakal," ucap Carlen, setelah itu dia pergi dari rumah untuk menuju kantor.

__ADS_1


Freya sangat cemburu saat melihat perhatian Carlen kepada Maya. Entah kenapa dia pun belum hamil sampai sekarang? Padahal mereka hampir setiap hari melakukannya, walaupun itu bukan keinginan Carlen dan lebih menonjol kepada Freya yang terus memaksa untuk diberikan nafkah batin.


'Aku benar-benar tidak suka melihat Carlen sekarang sudah baik kepada Maya. Walaupun aku tidak menyukai pria itu.' batin Freya.


.


.


Sesampainya Carlen di kantor, dia langsung menuju ruangannya, di mana seseorang saat ini tengah menunggu dirinya. Karena akan memberitahukan sesuatu yang penting kepada pria tersebut.


"Selamat pagi, Tuan," sapa seseorang saat melihat Carlen masuk ke dalam ruangan.


"Pagi. Bagaimana Peter? Apa kau sudah menyelidikinya?" tanya Carlen, dan pria itu langsung menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja sudah Tuan, ini data-data yang saya dapatkan. Silakan Anda cek sendiri," jawab Peter sambil menyerahkan map berwarna coklat kepada


Carlen.


"Apa kau yakin ini asli? Kau sudah menyelidikinya?" tanya Carlen dengan aura yang dingin.


"Sudah Tuan, dan itu semua data-data yang saya dapatkan," jawab Peter.


"Kurang ajar! Berani dia ternyata bermain api di belakangku! Selama ini aku sudah ditipu mentah-mentah olehnya, pantas saja kakek tidak pernah menyukainya, jadi ini alasan kakek!" geram Carlen sambil menggebrak meja. "Bodohnya aku yang tidak pernah mencari tahu akan hal ini! Dan dibutuhkan oleh cinta palsunya." sambungnya lagi.


Peter hanya memejamkan matanya saat mendengar gebrakan meja yang ada di hadapannya tersebut. Dia tahu pasti Bosnya itu akan merasa marah saat mendapatkan kenyataan tersebut.


"Kalau begitu saya pamit dulu, Tuan," ucap Peter sambil bangkit dari duduknya dan membungkukkan tubuh.

__ADS_1


"Iya, terima kasih Peter," jawab Carlen, kemudian Peter pun keluar dari dalam ruangannya.


.


.


Sementara itu Freya sedang duduk di ruang tamu, kemudian ada seorang pelayan yang datang dan memberikan paket kepadanya. Freya yang melihat itu pun tersenyum penuh misteri.


"Itu paket apa, Freya?" tanya mama Gisel.


"Oh, ini hanya paket kecantikan aku aja Mah," jawabnya sambil tersenyum manis, padahal aslinya itu bukan paket dari skin care-nya.


Rania dan juga Maya sudah berbelanja, dan mereka saat ini baru sampai di rumah. Sebab jam juga sudah menunjukkan pukul 14.00 sore, Rania tidak ingin membuat Maya terlalu capek. Jadi dia hanya pergi ke butik saja yang tidak jauh dari komplek ke rumahnya.


Saat Rania akan memasuki kamar, dia melihat pintu kamar dari Carlen tidak tertutup dengan rapat. Namun, saat dia melewatinya Rania tidak sengaja mendengar ucapan seseorang.


"Kamu tenang aja sayang. Nanti malam aku akan menjalankan rencanaku. Aku akan mencampurnya dalam minuman pria itu, dan dia sudah pasti akan tiada," ucap Freya pada seseorang di seberang telepon dengan bahasa inggris.


Rania mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan wanita itu. 'Siapa yang dimaksudnya? Apa rencananya? Apa yang akan dia campurkan ke dalam minuman? Aku harus menyelidiki ini!' batin Rania.


Kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar, tapi pikirannya masih saja tertuju pada ucapan Freya tentang sesuatu yang akan dicampur ke dalam minuman, dan siapa yang akan Freya celakai?


"Apa dia akan mencelakai kakak? Tapi itu tidak mungkin. Freya 'kan sangat mencintai kakak? Atau dia ingin mencelakai mbak Maya? Tapi tadi ditelepon bilangnya pria? Berarti kan artinya bukan seorang wanita. Aduh, kok aku jadi takut gini ya?" gumam Rania sambil mondar-mandir di dalam kamar.


Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 18.00 sore. Carlen baru saja sampai rumah. Sebenarnya dia ingin pulang lebih cepat untuk memberikan pelajaran kepada Freya, tapi pria itu harus menahannya sebab ada meeting yang tidak bisa dia tinggalkan.


Sesampainya di rumah, Carlen langsung masuk menuju kamar dan dia sedang melihat Freya memainkan ponselnya sambil tersenyum. Pria itu yakin jika saat ini Freya sedang chat-an bersama dengan selingkuhannya.

__ADS_1


"Freya!" bentak Carlen dengan marah.


BERSAMBUNG......


__ADS_2