HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Bangunlah Maya


__ADS_3

Happy reading......


Hari terus berlalu, tapi Maya tak kunjung sadar dari komanya. Dan hari ini kakek Albert datang ke Indonesia untuk melihat keadaan Maya. Dia datang bersama dengan kemarahan di dalam dadanya.


Namun, Carlen terus duduk dan menemani Maya. Dia tidak meninggalkan istrinya sama sekali, bahkan kerjaan pun dibawa Carlen ke sana. Melihat keadaan Maya sekarang, membuat Carlen benar-benar sangat menyesal.


Setiap hari bahkan dia mengelap tubuh Maya, berharap jika wanita itu akan sadar dari komanya. Tapi sudah dua minggu berlalu, tidak ada perubahan apapun. Wanita cantik berhijab itu masih saja nyenyak dalam tidurnya.


"Maya, kapan kamu akan sadar? Apa kamu akan terus menyiksaku dalam sebuah penyesalan yang begitu dalam? Tidakkah kamu ingin membuka matamu? Tidakkah kamu ingin berbicara kepadaku? Jika nanti kamu membenciku, jika nanti kamu mau meninggalkanku, aku rela. Tapi tolong, jangan siksa aku dengan rasa seperti ini! Jangan siksa aku dalam jurang penyesalan. Bangunlah Maya! Buka matamu, aku mohon!" ucap Carlen dengan nada yang lirih sambil menggenggam tangan Maya.


Dalam 2 minggu itu badannya terlihat sedikit kurus, karena Carlen juga jarang makan. Debab melihat kondisi Maya membuatnya tidak nafsu makan, apalagi mengingat semua perlakuannya kepada Maya.


Tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut terbuka, ternyata yang datang adalah kakek Albert. Pria tua itu langsung berjalan ke arah Carlen dan melihat kondisi Maya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.


Dengan amarah yang dia tahan selama dua minggu itu, kakek Albert mencengkram kerah baju milik cucunya, kemudian dia menampar wajah Carlen bolak-balik, hingga membuat sudut bibir pria tampan tersebut robek dan terluka.


Tidak puas sampai di situ, kakek Albert memukul Carlen dengan tongkat yang ada di tangannya, dari mulai perut, punggung, kaki sampai tangan.


"Benar-benar suami tidak tahu diri! Suami kejam kamu! Sudah berapa kali Kakek bilang, Maya itu wanita yang baik. Tapi kamu tidak pernah mendengarkan ucapan Kakek. Sekarang Maya harus seperti ini, gara-gara kamu, Carlen!" bentak kakek Albert sambil terus memukuli tubuh cucunya.


Mama Gisel yang baru kembali dari kantin membeli minuman, tiba-tiba saja kaget saat melihat putranya dipukuli oleh mertuanya. Dia pun segera menaruh minuman tersebut di atas meja lalu menghentikan aksi kakek Albert.


"Pah, apa yang Papa lakukan? Hentikan Pah! Jangan lukai Carlen! Hentikan, aku mohon!" pinta mama Gisel sambil memegangi tangan mertuanya.


"Untuk apa? Untuk apa kamu meminta ampun untuk pria semacam dia, hah?! Bahkan untuk hidup di dunia ini saja dia tidak pantas, Gisel! Seorang suami itu harusnya menjaga istrinya, menyayanginya, memberikan nafkah lahir dan batin, memberikan kebahagiaan pada istrinya. Tapi apa yang Carlen lakukan, ah? Dia malah menyiksa Maya? Menduakannya, menyakiti hatinya. Lihat sekarang cucu menantuku, sudah terkapar lemah di atas ranjang! Lihat Gisel!" teriak kakek Albert sambil menunjuk tubuh Maya.


Tidak ada yang berani mengangkat suara, mama Gisel hanya bisa menangis begitupun dengan Carlen, dia hanya bisa menunduk merasakan sakit di tubuhnya akibat pukulan sang kakek.

__ADS_1


Bahkan luka yang kuberikan kepada carlen itu tidak ada apa-apanya, dibandingkan luka yang dia berikan kepada Maya. "Apa selama ini kau pikir, aku tidak tahu apa yang pria bajingaan ini lakukan kepada Maya? Aku mengetahui semuanya. Tapi aku diam. Aku ingin Carlen membuka matanya sendiri, siapa Freya sebenarnya. Tapi apa? Mata hatinya itu sudah dibutakan oleh cinta. Sehingga dia tidak bisa mencari tahu. Sekalinya dia mencari tahu dan tahu kebenarannya, semua sudah terlambat bukan? Terlambat!" bentak kakek Albert kembali.


Carlen bersimpuh di atas kaki Kakek Albert. Dia menangis memohon ampun atas semua perlakuannya kepada Maya selama ini. Carlen menyadari jika dia memang pria yang jahat.


"Aku tahu Kek, aku ini suami yang jahat. Tidak pantas untuk dimaafkan. Aku tahu perbuatanku selama ini kepada Maya, benar-benar sudah keterlaluan. Tapi apakah tidak bisa ada maaf untukku? Jika Maya bangun nanti, dan dia tidak bisa memaafkanku atau dia meninggalkanku, aku rela Kek. Tapi aku mau Maya sadar, aku tahu kesalahanku begitu fatal. Aku menyesal Kek, aku menyesal," ucap Carlen sambil menangis.


Kakek Albert yang mendengar itu pun menghela napasnya dengan kasar, kemudian dia melepaskan kakinya lalu duduk di atas sofa, mencoba mengatur nafasnya yang dikuasai oleh amarah.


"Kau mau menyesal seperti apapun Carlen, semua sudah terlambat. Apakah kau sadar dengan yang kau lakukan? Kau sadar, jika perbuatanmu itu benar-benar kejam? Lalu melihat Maya seperti ini, dan kau baru menyesal? Apa kau pikir, semuanya masih bisa? Syukur-syukur nanti Maya memaafkanmu, dia wanita yang baik, tapi perempuan juga mempunyai hati. Ada kalanya mereka lelah dengan semuanya Carlen," ujar kakek Albert.


"Aku tahu Kek, penyesalanku mungkin sudah terlambat. Tapi setidaknya sekarang aku ingin melihat Maya sadar, apalagi saat ini dia tengah mengandung anakku, Kek," jelanya sambil terduduk di lantai.


Kakek Albert yang mendengar itu pun tersenyum miring, "Kau bilang apa? Mengandung anakmu? Bukankah selama ini kau tidak pernah mengakuinya? Kau ragu akan bayi yang ada di dalam kandungan milik Maya?" tutur kakek Albert.


Kemudian dia beranjak dari duduknya, lalu berjalan ke arah Maya dan mengusap kepala wanita itu. "Penyesalan memang selalu datang terakhir Carlen, sebaiknya kau sekarang perbaiki diri, walaupun pada akhirnya entah Maya akan meninggalkanmu atau tidak. Kakek tidak akan ikut campur, sebab keputusan semua ada di tangannya. Setelah dia membuka matanya nanti," jelas kakek Albert. Setelah itu dia keluar dari ruangan tersebut.


.


.


Sore hari jam 16.00, Rania datang bersama seorang pria, yaitu Felix. Dia ingin menjenguk keadaan Maya yang masih belum sadar dari komanya.


Sebenarnya Felix ingin sekali menjenguk Maya dari jauh-jauh hari. Akan tetapi mendadak ada kerjaan yang mengharuskannya ke luar negeri. Akhirnya dia pun hanya bisa memantau dan tahu keadaan Maya lewat Rania, di mana mereka sering chat-an selama dua minggu itu.


Rania tidak membiarkan Felix untuk datang sendiri, karena dia takut jika nanti kakaknya akan ngamuk. Rania juga mencari waktu yang tepat, di mana Felix akan menjenguk Maya saat di sana ada mama Gisel.


"Kamu yakin, Carlen tidak akan marah?" tanya Felix, dan Rania langsung menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Tenang saja, nanti aku yang bicara sama kak Carlen. Yuk masuk!" ajak Rania, kemudian mereka pun masuk.


Terlihat Carlen yang sedang duduk di samping Maya sambil menggenggam tangan wanita itu, tetapi ada yang aneh, pria tersebut sedang membacakan sebuah buku tentang anak kecil.


"Dia terlihat berbeda dari terakhir kali aku melihatnya, saat ini kakakmu terlihat begitu kurus," bisik Felix.


Rania mengangguk, "Ya, Kak Carlen memang terlihat begitu kurus. Dia jarang sekali makan, sekalinya makan hanya beberapa suap saja. Semangatnya seperti hilang saat Mbak Maya koma," jelas Rania.


Felix yang mendengar itu pun menjadi prihatin. Dia sadar sebenarnya Carlen itu sudah menaruh hati atau jatuh cinta kepada Maya, tapi pria tersebut tidak pernah menyadarinya. Hingga saat Maya sekarang sudah terkapar lemah di atas ranjang Rumah Sakit, pria tersebut baru menyadari perasaannya kepada Maya.


"Kak Carlen, ada yang ingin menjenguk Mbak Maya," ucap Rania.


Carlen menutup buku di tangannya, kemudian dia menengok ke arah belakang. Dan seketika amarahnya memuncak, tapi sekuat tenaga dia mencoba untuk menahannya saat melihat Felix.


"Buat apa dia ke sini?" tanya Carlen dengan nada yang dingin.


"Jangan seperti itu, Kak! Cobalah untuk bersikap dewasa. Tuan Felix ke sini, hanya untuk menengok temannya rekan bisnisnya, tidak lebih. Seharusnya Kakak juga sadar, bahwa di hatinya Mbak Maya itu hanya ada Kakak. Kakaklah suaminya, jadi tidak usah cemburu dengan Tuan Felix," jelas Rania.


Terlihat Carlenn menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Maaf jika aku mengganggu waktu Anda Tuan Carlen. Tapi saat mendengar Maya koma, aku ingin sekali menjenguknya. Kau tidak usah khawatir! Aku dan Maya hanyalah rekan bisnis, tidak lebih. Aku hanya perihatin dengan keadaannya sekarang," jelas Felix dengan hati-hati.


"Ya, seperti yang Anda lihat sekarang Tuan, istri saya masih koma dan belum sadarkan diri," jawab Carlen dengan nada yang lesu sambil menatap ke arah Maya.


Felix dapat melihat raut wajah penyesalan yang begitu dalam di kedua mata milik Carlen, dan tatapannya teralihkan kepada Maya. Dia benar-benar miris saat melihat wanita yang pernah singgah di hatinya sedang terbaring lemah dengan selang infus di tubuhnya.


'Bangunlah Maya! Jika kau sudah bangun, dan kau memilih untuk bersama dengan suamimu, maka aku rela. Tapi jika kau bangun dan memilih bersamaku, aku lebih rela. Bangunlah sebelum aku menghajar suamimu!' batin Felix sambil menatap wajah pucat Maya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2