HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 131. Sabar Mas


__ADS_3

POV AGNES


Hari bahagia sudah di depan mata, meski tidak ada perayaan mewah seperti yang aku impikan selama ini namun itu semua tidak mengurangi rasa bahagia yang terus saja menghampiriku


Besok aku akan menikah dengan William, laki-laki yang aku cintai meski aku telah melukainya. Laki-laki yang banyak diperebutkan wanita namun ia tetap memilihku yang masih belum tahu apa dan bagaimana memperjuangkan cinta


Ya, jika diingat kembali. Pertama kali aku mengenalnya adalah di sebuah restoran yang baru saja membuka cabang. Restoran yang terkenal dengan aneka fresh and healthy foodnya itu membawa jodoh dan juga pelajaran hidup yang membuatku semakin dewasa


Pertama aku melihatnya kala ia dengan ramah menyapa semua pengunjung yang datang di sana, aku yang notabene baru lulus SMA kala itu sering sekali menjelajah makanan ke berbagai tempat yang baru. Meski hal itu kini terasa membosankan bagiku


Aku yang saat itu tidak mengira jika William adalah pemilik restoran itu dengan songongnya memanggilnya dan juga meminta dia untuk membawakan menu yang aku pesan saat itu. Aku tidak bisa membedakan mana bos dan mana karyawan sebab William dan semua yang bekerja di tempat itu usianya hampir sama. Ya, William menekuni usaha keluarganya sejak dia masih duduk di bangku SMA dan terus menerus mengembangkannya sembari kuliah dan pada akhirnya dia mampu menjalankan perusahaan


Dia dengan santainya membawakan apa yang aku pesan, sesaat setelah ia menyajikan makanan itu di mejaku, ia tak kunjung pergi dan masih berdiri di sana. Awalnya aku tak memerhatikannya namun lama semakin lama aku menaruh curiga padanya. Aku menoleh dan memintanya untuk pergi dengan alasan aku terganggu jika ada orang yang memerhatikan caraku makan


Ia tersenyum dan mengangguk namun seketika ia mengeluarkan kartu nama dari saku celemeknya. Ia memberikannya padaku, aku tidak peduli dan masih saja terus memakan roti isi dan juga lemon tea favoritku. Selesai makan aku mengambil kartu itu dan membacanya berulang kali. Tidak percaya, hanya itu yang aku pikir saat itu. Aku dengan tidak tahu diri malah meminta pemilik restoran untuk melayaniku lalu dengan bodohnya ia melakukannya


Itu pertemuan pertamaku dengannya hingga sekitar dua tahun lamanya aku tak lagi melihatnya, aku juga tak datang ke restoran miliknya lagi sebab masih merasa malu dengan apa yang aku lakukan. Aku hanya melihatnya di tv, jika dia merupakan pengusaha termuda dan keluarganya merupakan salah satu keluarga terkaya di tanah air. Melihatnya semua itu aku merasa biasa saja tidak ada perasaan suka sedikit pun hingga pada akhirnya dia mendapatkan nomor ponselku entah dari mana


Sejak saat itu aku dan William makin sering bertukar kabar melalui pesan namun kami tidak pernah bertemu. Kesibukan dirinya sebagai seorang pengusaha menjadi salah satu hal yang menghalanginya. Cukup lama kami hanya menyapa lewat pesan singkat hingga pada akhirnya kami bertemu, dan dari situ aku mulai merasakan ada kenyamanan tersendiri saat bersama dengannya


Pernah suatu saat ia mengajakku jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan ternama di kota ini, kami baru saja melangkahkan kaki namun dengan segera semua orang yang berada di tempat itu menyerbu William dan mengajaknya berfoto. Bak seorang aktris ternama, aku yang tidak biasa dengan hal itu kemudian menyingkir dan lebih memilih duduk di mini kafe yang berada di dalam mall itu


Cukup lama aku menunggu hingga akhirnya William mencariku. Share loc, kukurimkan lokasi di mana aku berada karena malas membalas pesannya. Ia sampai di tempat di mana aku berada meski beberapa orang masih terus mengejarnya dan mengajaknya berfoto. Dengan kekuatan uang yang ia miliki saat itu ia kemudian meminta mengosongkan kafe itu dan meminta semua pengunjung untuk pergi, jangan ditanya lagi berapa jumlah uang yang ia keluarkan untuk ganti rugi pasti sangat fantastis nilainya


Kini hanya tinggal aku dan William di tempat itu, sesaat semua pengunjung pergi ia kemudian menyatakan cintanya padaku. Tak kusangka namun itu lah yang terjadi. Aku mang sudah nyaman dan juga menyukainya langsung mengatakan iya ketika ia bertanya apa aku mau jadi kekasihnya. Rasa dongkol dan juga sebal yang tadi aku rasakan kini hilang sudah berganti dengan haru dan bahagia


Kami resmi menjadi sepasang kekasih saat itu, ia bukan tipe pria romantis, ia ambisius dan pekerja keras. Kami baru saja jadian namun ia lebih memilih pergi meeting daripada menepati janji yang ia buat sendiri. Marah dan kecewa pasti ada, sesaat setelah ia mengingkari janjinya ia pun datang sembari membawa bunga mawar merah kesukaan ku. Luluh terkadang namun juga masih merasa sebal, hal itu terus saja berulang sampai aku dan William bertunangan


Wangi parfum dan bunga yang ia bawa mengusik hatiku, kulihat nama dan tempat dari mana bunga itu berasal. Kudatangi tempat itu, dan dari situ lah kisah baru juga di mulai. William yang terus menomorsatukan pekerjaan membuatku terbuat pada humor dan juga ramahnya penjual bunga itu

__ADS_1


Sejak saat itu aku mulai dekat dengan Prima dan menjalin cerita tersembunyi di belakang William. William sendiri tidak menaruh curiga padaku sebab yang ia tahu adalah Prima merupakan sahabatnya dan juga merupakan orang yang paling dekat dengan dirinya


Hingga suatu ketika, Alexa yang memang sejak awal tidak menyukaiku entah apa sebabnya, tanpa sepengetahuanku ia juga meminta seseorang untuk mengawasi gerak-gerikku. Ia makin murka kala tahu aku dekat dengan Prima, laki-laki yang ia sukai sejak SMA


Kemarahan pun semakin bertambah, ia pulang ke Indonesia dan menemui diriku. Ancaman keluar dari mulutnya, aku mengelak sekuat tenaga namun ia tak percaya dan masih bersikap kasar padaku. William sempat menerima laporan dari kakaknya tapi ia tak percaya dan menganggap Alexa hanya membual saja


Seiring berjalannya waktu, semua sudah sampai pada titik akhir. Hubunganku dengan Prima diketahui oleh William, ia marah dan menghancurkan semuanya termasuk toko bunga milik Prima. Aku memutuskan untuk pergi dan mengembalikan cincin pertunanganku padanya, ia semakin marah dan kemudian pergi. Aku menjalin hubungan dengan Prima setelahnya namun di balik itu semua Prima hanya memanfaatkanku, sebab ia hanya ingin mencari plampiasan akan kekecewaan pada kekasihnyanyang tak kunjung ia temui. Hal menyakitkan kian bertambah kala aku tahu jika Mbak Sumi, ART di rumahku adalah wanita yang Prima cari selama ini


Sakit hati dan terluka semakin bertambah, di saat yang sama William kembali datang ia memintaku untuk kembali padanya dan menutup kisah yang pernah ada, melupakan masa lalu dan memulai kisah baru. Ia mencoba kembali meyakinkan semuanya namun aku meragu sebab aku takut akan kembali melukainya, ia gigih berjuang dan tak kenal lelah sampai pada akhirnya ia merencanakan sesuatu yang kini berhasil membuatku kembali padanya


Berliku memang namun inilah takdir jika memang Tuhan menakdirkan kita bersama dengannya ya mau bagaimana lagi. Jodoh itu sudah ada porsinya masing-masing kita hanya tinggal berusaha dan Sang Penentu nanti yang akan menjawab


Kulangkahkan kakiku ke arah rusng tamu milikku yang kini sudah tertata rapi dan penuh dengan dekorasi warna putih. Malam ini akan diadakan pengajian dan juga doa bersama agar pernikahanku besok berjalan lancar


Ponselku berdering, tampak nomor William di layar, aku menjawabnya dan wajahnya kini dapat kulihat sebab ia melakukan panggilan video


"Assalamualaikum, calon istri" senyum terus mengembang di wajah kusutnya, bisa kupastikan jika dirinya baru saja bangun tidur


"Kangen" ia menguap sembari mengatakannya, aku hanya tersenyum tak membalas perkataannya


"Kok diem, kamu enggak kangen sama aku?" aku menggeleng, ia yang awalnya masih rebahan kini mengubah posisinya menjadi duduk


"Yakin enggak kangen?" aku mengangguk


"Ya udah aku matiin ya?" ancamnya padaku


"Ya udah matiin aja" aku berbalik mengamcamnya


"Ok, wassalamualaikum!" tapi panggilan video masih on terus dan tidak dimatikan

__ADS_1


"Kok enggak dimatiin?" kutanya kembali


"Kamu tega ya, Nes. Enggak tahu apa kalau aku tuh kangeeeeeeeeeen bangeeeeeeeet sama kamu!"


"Sabar, Mas. Besok juga ketemu"


"Kenapa harus nunggu besok, kenapa enggak hari aja. Atau kita ketemuan diam-diam aja gimana?" siasat aneh mulai ia tawarkan dengan wajah kusutnya


"Jangan, Mas. Enggak boleh, tahan ya besok pagi kita ketemu"


"Tapi, Nes" ia merengek seperti anak kecil, wajahnya membuatku ingin tertawa


"Will bangun!" terdengar Mama Rosa mengetuk pintu dan memanggil William


"Iya, Ma. Ini udah bangun kok" jawab William


"Udah cepet bangun, mandi sana, bau iler tuh!" kutunjuk layar ponselku ke arah William


"Enak aja, aku kalo tidur enggak pakai acara ngiler ya" kami berdua tertawa bersama, setelahnya William benar-benar menutup panggilannya sebab sekali lagi mama Rosa terus menerus mengetuk pintu kamarnya


.


.


.


.


yeay pernikahan neng Agnes dan Bang William makin dekat aja nih. Sayang ya mereka enggak ngadain pesta, cob aja kalau mereka ngadain pesta pasti otor udah cuss paling duluan

__ADS_1


rencananya novel ini akan berakhir dalam beberapa episode ke depan, menurut kalian gimana nih? boleh tamat enggak ya????


__ADS_2