
"Maaf membuat anda menunggu lama" seorang laki-laki yang memakai setelan jas coklat baru saja menyapaku, ia menggandeng seorang wanita yang sangat cantik, wanita dengan balutan dress warna hitam selutut, berlengan pendek dilengkapi dengan riasan yang tidak terlalu tebal dan terlihat pas jika dipandang, rambut sebahu yang lurus membuat wajahnya yang tirus begitu pas dengan tatanan itu
"Tidak, saya baru saja sampai"
"Tuan Andreas?" lanjutku kemudian aku menyalami keduanya dan mempersilakan keduanya duduk di meja yang sudah aku pesan sebelumnya. Kami berada di sebuah mall ternama di kota ini, memang itu adalah tempat yang kami tentukan semalam. Bukan tanpa alasan tempat ini kami pilih, sebab ia sangat ingin menemani istrinya berbelanja sebelum mereka kembali ke ke luar negeri
"Iya saya Andresa, dengan nona Agnes?" aku mengangguk
"Perkenalkan ini istri saya, Sofia" aku dan Bu sofia kemudian saling berkenalan
"Maaf sebelumnya, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" bu Sofia memulai pertanyaan yang sebenarnya sangat ingin aku tanyakan sebab menurutku wajahnya tidak begitu asing dan aku merasa jika aku pernah bertemu dengannya dalam waktu dekat
"Sepertinya juga begitu, jika tidak salah apa anda wanita yang saya tanyai waktu di pernikahan Prima?" lanjutku
"Iya anda benar" sambungnya kemudian tersenyum manis. Ia kemudian kembali memperkenalkan dirinya dan mengatakan jika dirinya belum memiliki teman wanita di Indonesia, dia mengajakku berteman dan dengan senang hati aku pun menerimanya
Setelahnya kami pun kembali melanjutkan apa uang seharusnya kamu kerjakan hari ini. Berbagai pendapat pun bermunculan di antara kami bertiga, berbagai rencana dan juga spekulasi pun tak luput ikut andil dan tak lama kemudian kami menemui kesepakatan, dengan ini kami telah menyatakan kerja sama dan akan memulai bisnis kami yang baru
"Mulai hari ini gedung itu sah milik kalian, semoga bisnis yang anda rintis semakin sukses dan kedepannya kita bisa bekerja sama lagi" Andreas dan istrinya mengangguk
"Tapi alangkah senangnya jika hari ini Bu Agnes bisa ikut kami untuk melihat kembali gedung itu" ide yang ditawarkan oleh Bu Sofia pun segera aku setujui berhubung hari ini tidak ada pekerjaan lain dan aku masih ada sedikit waktu senggang sebelum nanti kembali ke kantor
Kami bertiga pun akhirnya menuju ke alamat di mana gedung itu berada, aku yang membawa mobil sendiri kini berada di depan dan diikuti oleh pak Andreas dan istrinya. Kami pun sampai di tempat itu, gedung lantai dua yang bercat putih kombinasi emas itu, gedung dengan kaca yang mengelilingi bagian depannya yang baru dijual oleh pemiliknya sekitar tiga bulan yang lalu itu masih tampak kokoh dan juga terawat
Dulunya gedung itu adalah sebuah butik yang bisa dibilang cukup ternama tapi lambat laun bisnisnya menurun dan pada akhirnya menemui titik rendah penjualan lalu berimbas pada kebangkrutan, sang pemilik gedung pun kemudian menjualnya dan beralih ke bisnis yang lain
Kubuka pintu gedung itu dan mengajak mereka masuk, di dalam gedung itu sudah tidak tersisa apa pun, tempat itu sudah kosong dan juga sudah bersih. Pak Andreas dan istrinya mengamati dinding dan juga sudut setiap ruangan itu, setelahnya mereka berdua mengajakku naik ke lantai dua di sana juga kosong dan bersih. Seklai lagi mereka mengamati dinding dan juga sesekali melihat pemandangan yang tembus pandang dari kaca lantai dua itu, kebetulan gedung ini terdapat di seberang jalan raya sehingga sangat strategis dan mudah dijangkau
"Gedung ini saya beli memang untuk bisnis saya dan suami namun kami memercayakan tempat ini pada teman kami yang kebetulan sebentar lagi akan datang" jelas Bu Sofia kala ia menuruni tangga setelah puas mengamati lantai dua gedung itu
__ADS_1
" Teman?" bu Sofia mengangguk
"Dia sahabat baik suami saya, mereka berteman sejak kecil"
"Dia laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki, dan mungkin sebentar lagi dia akan datang" jelasnya lagi
Tak berselang lama, sebuah motor terparkir tepat di depan gedung itu. Aku masih mengobrol dengan bu Sofia dan pak Andreas mendekat ke arahnya, Pak Andreas memanggil istrinya, namun bersamaan dengan itu ponselku berbunyi ada panggilan masuk yang harus aku jawab
"Non Agnes, mari saya kenalkan dengan orang yang akan mengurus tempat ini" ajak bu Sofia padaku yang kini masih berbicara melalui telepon, aku mendengar seruannya dan kemudian menyelesaikan panggilan itu lalu bergegas mendekat ke arahnya
Kaki yang semula ringan kini terasa berat saat tahu siapa yang berada di sebelah bu Sofia dan pak Andreas. William, orang itu ternyata adalah William, yang katanya adalah teman baik dari pak Andreas. Kenapa dunia ini sempit sekali, apakah ini kebetulan ataukah ini adalah teguran bahwa aku harus menyadari kesalahan dan kembali merasakan penyesalan
"Selamat siang, perkenalkan saya William" Willy mengulurkan tangannya padaku, aku yang mematung di tempat dihampiri olehnya. Gugup pasti ada tapi aku tidak mau menunjukkannya di depan bu Sofia yang sangat ramah saat ini, aku juga malu pada pak Andreas yang tentunya sudah tahu bagaimana kisah kami secara dia adalah teman baik William dan tidak mungkin Willy tidak bercerita akan hal itu
"Oh ya, Non Agnes. Maaf kami harus pergi dulu, ada hal yang harus kita selesaikan di tempat lain. Berdiskusilah dengan William, dia yang akan menjalankan tempat ini!"
Dengan berat hati aku mengiyakan perkataan mereka dan kinin tinggal aku dan William saja yang berada adi tempat ini, kecanggungan pun tak terelakkan terlebih sikap William yang acuh seolah tidak pernah mengenal satu sama lain. Kali ini dia berada di sisi kiri dan aku pun berada di sisi kanan, tidak ada percakapan sampai beberapa menit, kita bagaikan orang yang tengah bertengkar dan belum menemui keputusan
"Maaf, apa kita bisa ke lantai dua. Saya ingin melihat kondisinya" dia berjalan mendahuluiku, aku pun mengikutinya
Aku kemudian menjelaskan setiap detail dari lantai dua gedung ini, menceritakan kembali kisah gedung ini sebelumnya, dipakai siapa dan bagaimana, semuanya sudah aku jelaskan padanya. Sekali lagi wajahnya tanpa ekspresi dan masih saja datar. Jengkel rasanya, ingin aku berteriak padanya dan bertanya kenapa dia berubah tapi aku berpikir apa itu pantas aku lakukan
"Ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanyaku kemudian tapi dia tidak menyahutinya dia malah asyik dengan ponselnya dan tengah tersenyum sembari memandang benda pipih itu
"Tuan William" kupanggil sekali lagi namanya tapi masih tetap diam
"Will!" teriakku cukup kencang, ia hanya diam dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket yang ia kenakan . Dia berjalan mendekat dan tiba-tiba Jantungku berdetak lebih kencang dari tadi, tatapannya pun seolah ingin memangsa dan membuatku takut
__ADS_1
Aku berjalan mundur seiring langkahnya yang semakin dekat hingga aku pun tak lagi dapat akses jalan dan terbentur tembok, William semakin dekat dan kini hanya berjarak beberapa jengkal dari tubuhku
"Kamu mau apa?" tanyaku sedikit gemetar namun dia hanya tersenyum
"Hidup ini kejam, Nes. Kamu akan sakit ketika kamu telah menyakiti dan kamu akan bahagia jika kamu mau menunggu, tapi tidak semua orang punya banyak waktu, ada kalanya mereka menyerah karena yang mereka perjuangkan tidak pernah memberi keputusan"
"Belajarlah untuk tetap sabar meski kadang sabar itu sakit, dan di saat sakit itu kamu rasakan maka kamu akan tahu bagaimana orang yang sudah sabar menantimu. Pulanglah, aku rasa kira sudah tidak perlu membicarakan apa pun lagi, gedung ini akan beroperasi sesuai jadwal yang sudah ditentukan" dia pun pergi begitu saja sesaat setelah membuat jantungku maraton, belum lagi aku mengerti apa yang ia bicarakan dan belum juga pertanyaan yang aku pikirkan menemui jawabannya ia pun sudah meninggalkan aku
"Tinggalkan kuncinya di sana, aku masih ingin berada di tempat ini" tanpa menjawab aku langsung pergi meninggalkan William yang semakin hari semakin aneh
...**************...
"Ini hadiah dari siapa, sayang?" Prima mengangkat sebuah paper bag berwarna coklat yang mana di dalamnya terdapat sebuah kotak yang dihias dengan pita
"Itu dari Agnes, mas" sahut Mbak Sumi yang masih berdiri di depan lemari pakaiannya, ia baru keluar dari kamar mandi, tubuhnya masih dibalut handuk dan rambutnya masih basah
Prima membukanya, sebuah kunci rumah dan secarik kertas yang berisi alamat rumah itu berada serta dua buah tiket bulan madu ke luar negeri yang sengaja aku dan Ayah berikan pada Mbak Sumi. Bukan tanpa alasan hal itu kami lakukan, jika untuk membalas budi tentunya tidak mungkin, itu hanya sebuah tanda terima kasih dari kami yang selama ini merasa sangat terbantu dengan keadaan Mbak Sumi ditambah lagi kini ia tak lagi memiliki siapa pun kecuali suaminya
Dulu dirinya pernah bercerita padaku jika suatu saat nanti ia ingin membeli sebuah rumah dengan pekarangan yang luas agar almarhum pak Samin bisa menanam singkong dan sayuran yang lainnya seperi saat berada di desa, dan ia juga bercita-cita ingin punya kebun bunga mawar putih meski hanya berukuran kecil. Dan hal itu sekarang terwujud, Ayah memberikannya sebuah rumah yang memiliki ciri hampir sama dengan apa yang ia harapkan meski kita semua tahu di kota besar seperti ini sangat jarang ditemukan rumah dengan lahan yang luas
"Maaf ya, Mbak. Ayah tidak bisa datang sendiri untuk memberikan ini, ini ada hadiah kecil untuk Mbak. Semoga Mbak selalu berbahagia" Prima membaca pesan yang aku tuliskan di sana
"Sayang kemarilah" Mbak Sumi mendekat ke arah suaminya dan Prima pun menyodorkan apa yang ia temui di sana, Mbak Sumi membacanya dan seketika menangis
Ia merasa sangat bahagia sekarang, orang-orang di sekelilingnya ternyata begitu menyayanginya ditambah lagi kini ia hidup dengan cinta pertama yang ia perjuangkan dalam diam meski sebelumnya dirinya sempat ragu dan hampir mundur
"Ya Alalh, hadiah ini terlalu besar untukku mas" Mbak Sumi merasa tidak pantas kala melihat apa yang ada di depan matanya akun sang suami meyakinkan dirinya jika itu adalah rejeki untuknya yang selama ini telah bersabar menghadapi kehidupan yang tidak mudah
Memang, terkadang kita sendiri sering mengeluh akan apa yang kita hadapi saat ini, menyalahkan Sang pemberi takdir bahwa ini tidak adil namun ada hal yang tidak kita tahu di balik itu semua, ada hadiah indah yang akan DIA berikan untuk kita dari arah mana pun dan juga dalam waktu yang tidak kita duga
__ADS_1