
"Hari ini, Alexa Adiputra dan beberapa orang yang menjadi komplotannya akan menerima vonis hukuman akan kejahatan yang mereka kerjakan. Mereka semua kini sudah berjalan ke arah ruang sidang dengan seragam tahanan yang mereka kenakan beberapa minggu ini"
Begitulah suara yang aku dengar dari radio mobilku, berita ini sudah sangat familiar sekarang bahkan tidak hanya di media cetak dan media online namun sudah merambah ke ranah radio dan sudah sangat santer terdengar di penjuru nusantara, aku kini tengah menuju ke kantor untuk menemui klien yang sudah bersama Ayah. Aku berangkat agak siang sebab masih mengurus beberapa hal yang belum dipersiapkan Ayah
Kuingat kembali apa yang William katakan semalam, sangat mengusik dan membuatku tak lelap tidur. Ditambah dengan apa yang aku dengar kali ini, semakin membuatku merasa bersalah dan kembali kepikiran apakah yang aku lakukan benar atau salah
Entah apa yang terjadi pagi ini, jalanan menjadi macet dan sangat sulit bergerak. Dengan sangat terpaksa kualihkan jalan dan putar balik, meski durasinya cukup lama tapi setidaknya aku bisa sampai di kantor dan tidak terjebak macet
Kuterus menginjak pedal gas mobilku ke arah berlawanan dari arah biasanya, di sini pun juga ada kemacetan tapi tidak separah yang tadi. Kuhentikan mobil dan melihat ke arah pusat kemacetan, bukan kecelakaan atau pun kerusakan mobil melainkan para demonstran yang berseragam hijau kini melintas sembari membawa beraneka bentuk tulisan yang sangat kasar tidak hanya itu beberapa dari mereka pun meneriakka kata-kata yang juga tidak pantas di dengar
Kuamati sekali lagi dan baru kusadari jika para demonstran itu adalah para pegawai dari pabrik milik Willy, dari kaos yang mereka kenakan yang bertuliskan AW FRESH FOOD sebagai tanda itu adalah karyawan William yang menuntut gaji atau entah apa itu. Mereka berjalan ke arah perusahaan Willy yang memang satu jalur dengan jalan yang aku lewati saat ini
...************...
Di tempat sidang
William dan oma Mariyam sudah berada di dalam ruang sidang, kehadiran mereka berdua tidak diketahui oleh Alexa namun keduanya tahu persis jadwal sidang Alexa dan kini berada di sana
Pembacaan vonis pun tengah berlangsung, oma Mariyam hanya bisa memegang erat tangan Willy yang juga berkeringat mendengar sang kakak yang kini dihadapkan pada kenyataan pahit yang akan ia hadapi kedepannya
"Dengan ini saudari Alexa Adiputra divonis dengan hukuman 15 tahun penjara!" tok tok tok, palu pun diketuk langsung oleh pak Hakim sebagai tanda akhir dari sidang siang ini. Alexa tidak berekspresi apa pun, wajahnya datar dan matanya yang sayu hanya menatap sekeliling dan tak sengaja ia pun melihat William dan Oma Mariyam duduk di antara para pengunjung di sana tapi ia tetaplah Alexa yang dingin dan tak berhati, cinta membuatnya buta akan segalanya. Dendam yang tertanam di hatinya masih terus membawanya menjadi orang yang serakah dan ambisius walaupun kini ia tahu ia tak bisa berbuat apa pun kecuali menunggu 15 tahun itu usai
Marah, benci dan juga kecewa mendera hatinya. Marah karena hal yang ia anggap benar ternyata malah membawanya pada bui yang dingin. Benci, ia benci pada hidupnya dulu maupun sekarang sebab ia tak bisa dapatkan apanya ia inginkan, pembullyan yang ia alami dan cinta yang tak bisa ia gapai membawanya pada sosok yang jahat dan serakah. Kecewa, ia kecewa bukan hanya pada Prima tapi juga pada orang tuanya yang sampai saat ini tidak datang menjenguknya dan mungkin malah memilih bisnisnya namun ia tidak menyadari jika di luar sana keluarganya juga menerima dampak buruk dari apa yang ia lakukan selama ini dan bahkan sampai sekarang dampak itu belum berakhir meski vonis sudah ia dapati
Oma Mariyam hanya bisa mengusap air matanya yang terus mengalir sedangkan William hanya merangkulnya dari samping memberi kekuatan pada sang oma yang kini terasa hancur. Cucu perempuan satu-satunya yang ia banggakan, yang sukses di bidang permodelan dan juga berparas cantik itu kini harus menerima apa yang sudah ia lakukan
Alexa kini tampak mengenaskan dengan tubuh yang semakin kurus, wajah penuh jerawat dan rambutnya yang tak terurus membuat rasa miris bagi siapa saja yang melihatnya. Alexa dan yang lainnya pun kini kembali dibawa ke sel tahanan setelah pembacaan putusan itu, Alexa melewati tempat duduk Willy dan oma Mariyam tapi ia tak menoleh sekali.pun dan malah membuang muka
Selepas ia keluar dari runagn itu, Willy dan oma pun ikut berdiri menuju ke sel tahanan Alexa yang lokasinya tidak jauh dari sana
"Alexa, sayang!" oma terisak kala melihat cucunya duduk di sudut sel yang dingin itu. Alexa sendiri tidak bergeming dan masih duduk di sana, merangkul dua lututnya yang kini tinggal tulang dan kulit itu. Oma semakin menangis dan hanya William yang bisa menenangkannya
"Kak!" Panggil William dan Alexa berdiri. Tidak satu kata pun keluar dari mulutnya, ia berdiri dan dan menatap keduanya yang berdiri di seberang sel
"Sayang, ini oma" oma Mariyam terbata namun mulut Alexa terkunci rapat, hanya matanya yang bergerak ke sana ke mari melihat dua orang yang kini juga berbeda, terlebih adiknya yang juga terlihat kurus
__ADS_1
"Kak, bicaralah" pinta William hendak meraih tangan sang kakak namun segera ia tepis dan Alexa pun memundurkan langkahnya
"Sayang, maafkan oma yang baru menjengukmu saat ini. Oma tahu ini bukan hal yang kamu inginkan tapi ketahuilah oma tidak pernah nyenyak tidur saat memikirkanmu" Tapi itu rak dijawab oleh Alexa, ia masih diam mematung sembari menatap sang oma dan sang adik. Ada rindu di hatinya tapi rasa benci dan kecewa lebih dominasi dan itu membuatnya tampak angkuh sekarang
Pembicaraan itu terasa sia-sia, hampir 1 jam lamanya keduanya di sana tapi Alexa tidak sedikit pun membuka mulutnya. Oma dan William menyerah akan sikap kakaknya dan dengan terpaksa mereka pun akan pergi
"Jika kamu masih tidak mau bicara tapi setidaknya kamu masih mau mendengar oma bicara. Oma akan menyusul orang tuamu, belum tahu kapan kembali" Sekali air mata itu luruh tapi kali ini Alexa berekspresi lain, ia memang tak bersuara namun dari kedua matanya yang berkaca-kaca menandakan dirinya juga sedang tidak baik-baik saja walaupun jika dilihat ia tampak tegar
"Jaga diri kakak baik-baik, aku akan mengunjungimu sesekali" mereka berdua pun pergi dari sana meninggalkan Alexa yang kini menangis, hatinya kini semakin hancur kala ia mengingat fisik adiknya yang juga mengalami perubahan
"Antarkan oma ke bandara sekarang, Will. Oma tidak mau menunggu besok, itu terlalu lama" kata oma kala ia berada di dalam mobil menuju ke apartemen William
"Kenapa oma, bukankah oma sudah menjadwalkan penerbangan itu besok?"
"Tidak, Will. Oma sudah mengatur ulang penerbangan oma dan lagi Lian mungkin sekarang sudah berada di sana" terang Oma
"Apa oma sudah mempersiapkan semuanya?" oma mengangguk dan bercerita jika Lian sudah mengurus semuanya bahkan pasport dan juga tiket penerbangan sudah siap
"Maafkan oma yang tidak memberitahumu, sudah oma prediksi dari kemarin, setelah menemui Alexa mungkin oma tidak akan tenang dan malah semakin gusar dan itu benar adanya" tangis pun kembali hadir dan dengan berat hati William pun mengiyakan apa yang diminta oleh omanya, ia memutar arah menuju ke bandara dan mengantar omanya
William melewatinya begitu saja sebab ia merasa tak lagi ada urusan dengan hal itu, gaji para pegawai dan juga kerugian dari seluruh kliennya sudah ia bayar tunai kala seluruh miliknya terjual habis. Hancur, inilah posisinya saat ini dan tak tahu sampai kapan akan seperti ini
"Lian, jaga oma ya. Terima kasih sudah mau bertahan meski keadaan tidak baik" kata Willy pada Lian
"Iya, Pak. Saya akan menjaganya, Bapak tidak perlu berterima kasih pada saya sebab yang saya lakukan saat ini tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang saya terima dari keluarga Bapak" Willy memeluk Lian dan Lian pun membalasnya
"Oma berangkat, ya" William mengangguk dan mencium punggung tangan omanya. Ia hanya bisa menatap punggung wanita tua yang ia sayangi itu hingga akhirnya tak lagi terlihat
William pun kemudian pulang, di jalan pulang Ia kembali melewati perusahaan yang dulu membesarkan namanya itu. Ia penasaran hal apa yang mereka ributkan sampai-sampai kemacetan pun terjadi. Ia turun dari mobilnya dan menghampiri para demonstran yang memakai seragam pabriknya itu
"Mohon maaf, ada apa ya?" semuanya menoleh
"Nah itu dia pak William, kebetulan sekali" teriak seorang laki-laki yang menjadi pemimpin mereka. William pun masuk ke dalam barisan mereka dan bertanya lebih lanjut
"Kenapa kalian berada di sini, bukankah kalinya tidak lagi bekerja?"
__ADS_1
"Kami berada di sini sebab kami meminta kekurangan gaji yang seharusnya sudah dilunasi minggu lalu. Kami punya keluarga pak yang butuh makan dan juga sekolah!"
William terkejut kala salah seorang mengungkapkan keberadaan mereka, ia yang merasa melunasi semua gaji para buruh itu pun harus dihadapkan pada kenyataan yang berbeda
"Gaji kalian semua sudah diurus oleh pak Rahmat, dia yang mengatur semuanya" jelasnya pada para demonstran yang semakin memanas itu
"Pak Rahmat hanya memberi kami separuh dan katanya kekurangannya akan segera ditransfer namun sampai sekarang tidak ada kelanjutan, Pak!"
"Tunggu dulu" William pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi pak Rahmat, orang uang ia percayakan untuk mengurus semua gaji pegawai selama ini. Berulang kali nomor yang ia hubungi tidak menemui jawaban hingga pada akhirnya nomor itu malah tidak aktif
"Sial!" umpat William saat menemui kebuntuan. Ia telah ditipu ternyata dan kini penipu itu malah lari entah ke mana. Tidak ada jalan lain selain melunasi semuanya toh jika dirinya kabur maka dirinya tidak akan selamat sebab dirinya kalah jumlah dengan para demonstran itu
"Berapa jumlah yang harus saya bayaran pada kalian?" mengingat ia masih punya uang yang oma berikan semalam maka ia memutuskan untuk melunasinya dan tidak lagi memikirkannya
"Ini pak, totalnya sekian" seseorang memberikan sebuah lembaran yang berisi nama dan juga kekurangan gajintang harus dibayarkan
William terbelalak, nominalnya fantastis dan ia tida tahu apakah uang dari oam cukup untuk melunasinya atau tidak. Ia kemudian berjalan ke arah mobilnya dan mengambil uang yang tersimpan di sana. Dengan hati-hati William menghitung nominalnya agar tidak ada lagi kekurangan, setelah semuanya pas William memberikan uang itu pada mereka
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Silakan hitung kembali" salah seorang darinya menghitung uang itu dan jumlahnya sama dengan apa yang tertera di sana. Kelegaan pun dirasakan oleh para demonstran itu dan dengan segera mereka pun membaginya
"Terima kasih sudah bekerja dengan baik selama ini, maaf sekali lagi" pamit William pada mereka
"Sama-sama, Pak. Saya doakan bapak bisa merintis usaha lagi, dengan senang hati kita mau bekerja dengan bapak" William mengangguk dan kemudian pergi dari sana
.
.
.
.
udah jatuh ketimpa tangga pula, kasihan ya mas Willy. Kira2 ada yang mau bantu enggak ya dari para reader semua????
cara bantunya gampang kok, cukup vote sama kasih hadiah mawar atau kopi aja🤭🤭🤭
__ADS_1