HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 119. Gombal


__ADS_3

"Kita pulang, Pak!" pak sopir mengangguk dan melajukan mobilku ke arah yang kuminta. Meski dari luar mobilku tampak William tengah memanggil namaku dan memintaku turun tapi tidak akau hiraukan


Antara kesal, malu dan juga bahagia. Aku masih terus tersenyum kala mengingat William yang berlutut dan memintaku untuk menikah dengannya, hal yang aku impikan telah terwujud adan terpampang di depan mata. Tapi di balik rasa haru dan bahagia itu, ada rasa malu yang sempat terselip kini sirna sudah dan telah didominasin oleh bahagia yang tiada tara


Aku sudah sampai di rumah, segera aku melangkah masuk dan mencari di mana Ayah berada. Aku ingin meminta pertanggungjawaban darinya soal rekaman memalukan itu


"Bi, Ayah di mana?" tanyaku pada Bibi yang tengah beberes di ruang tamu


"Bapak ada di kebun belakang, Non" segera aku pun ke tempat itu, sesampainya di kebun belakang rumah aku melihat Ayah yang kini tengah berjalan mengitari tanaman bunga mawar yang mulai mekar itu


Aku menyusulnya dengan diam dan terus mengikuti ke mana kakinya melangkah. Sesekali aku tertawa saat ini berbicara sendiri seolah mengobrol dengan bunga yang ada di depannya


"Bagaimana jika mereka benar-benar bisa menjawabnya semua pertanyaan Ayah" aku masih mengikutinya


"Ayah harap juga begitu" jawabnya santai dan masih terus bertanya


"Ayah" Ayah membalikkan badannya dan tersenyum, ia kemudian memetik setangkai mawar, durinya ia buang lalu ia sediakan di telingaku


"Kenapa Ayah tega melakukannya?" Dia hanya tersenyum seolah tahu apa yang aku maksud


"Kamu terlalu keras kepala dan banyak berpikir, banyak hal akan terlewat jika kamu melakukannya. Untung saja William sangat mencintaimu, jika tidak maka kamu akan merasakan sakit dan kecewa yang teramat" aku memeluknya kemudian


"Terima kasih, Yah. Cuma Ayah yang bisa mengerti Agnes"


"Sama-sama, putriku. Kamu juga satu-satunya orang yang bisa mengerti dan memahami Ayah" Ayah melepaskan pelukannya


"Coba lihat!" Ayah menunjuk ke arah pintu taman belakang dan di sana sudah ada Willy yang kini berdiri tegak sembari tersenyum


"Hubungan yang baik itu dimulai dari komunikasi yang baik juga, jangan ada kesalahpahaman lagi di antara kalian. Temui dia dan kembali rencanakan kisah kalian yang sempat hilang" Ayah pun pergi dari taman belakang, ia terlihat menghampiri William, entah apa yang mereka bicarakan kelihatannya sangat membahagiakan


William kini berada tepat di belakangku. Ia tak bersuara sedikit pun, ia hanya mengikutiku yang kini berputar-putar di taman kecil itu. Sesekali ia juga bermonolog dengan bunga-bunga itu dan kadang melontarkan rayuan padanya


"Apa kalian semua tahu, sampai saat ini aku masih mencintai orang yang kutemui tiga tahun yang lalu. Apa aku termasuk orang yang setia atau memang aku hanya tidak bisa melihat orang lain karena hatiku sudah penuh dengan namanya?" kembali William berceloteh tak jelas


"Bahkan sampai saat ini ia aku masih diragukan, apa kalian tidak kasihan padaku?"


"Apa aku harus menyerah dan benar-benar mencari pengganti sekarang?" ingin rasanya aku tertawa tapi hal itu akan membuatnya semakin besar kepala


"Untuk wanita yang kini berada di depanku, aku tidak meminta hal yang lebih, aku hanya ingin bertanya apakah kamu mau kembali dan memulai kisah kita yang dulu?" aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya. Dia tersenyum dan semakin mendekat ke arahku


Kembali ia menyodorkan cincin yang tadi, kali ini ia tak lagi berlutut, ia menyejajarkan tingginya denganku dan menatapku intens


"Will you marry me?" kembali kudengar kata-kata yang selama ini ingin aku dengar. Aku menggeleng

__ADS_1


"Why?" ia menajamkan netranya


"Kenapa apanya?" aku masih santai menanggapinya


"Kamu enggak mau nikah sama aku?"


"Emangnya aku ngomong gitu?" wajah William berubah masam


"Terus?" ia mencari kepastian


"Terusin aja sendiri" aku sengaja mempermainkannya


"Agnes!" teriaknya cukup nyaring


"Apa?" jawabku santai


"Will you marry me?" aku masih diam


"Aku anggap diammu adalah jawaban iya!"


"Enggak bisa gitu dong!" protesku padanya, tak lama kemudian ia memelukku erat dan sangat posesif


"Aku tidak peduli, mau kamu jawab iya atau tidak maka aku anggap jawaban itu tetap iya!"


"Bodo amat, aku enggak akan lepasin kamu untuk saat ini dan seterusnya, apa pun yang terjadi. Bahkan jika besok dunia kiamat sekali pun!"


"Gombal!" William melepaskan pelukannya


"Cuma itu yang aku punya sekarang, aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk bisa dibanggakan!" wajahnya berubah menjadi murung, aku mengerti hal apa yang membuatnya seperti itu


"Kita bisa cari semuanya sama-sama" kulontarkan jawaban itu. Tidak ada lagi alasan untuk menolaknya, bukankah hal ini yang aku inginkan bahkan aku pun sudah mengakui jika masih ada cinta dan masih berharap padanya. Bahkan aku hampir mati konyol karena cemburu jadi kali ini ok lah


"Sama-sama, berarti kamu mau?" aku mengangguk kali ini dan William berekspresi di luar nalar, ia melompat tidak karuan dan bersorak gembira seperi anak kecil yang dibelikan mainan oleh orang tuanya


...******************...


Samuel masih terus mengunjungi Alexa, ia masih terus berusaha membujuk Alexa agar mau menerima tawarannya, ia rela untuk meninggalkan bisnisnya yang tengah berkembang demi menemui Alexa, ia juga belum tahu sampai kapan ia akan tinggal di Indonesia. Alexa kini sudah berubah, dia sudah mau berbicara dan mengobrol meski kadang kata-kata yang ia lontarkan terdengar sangat pedas


"Apa kamu menginginkan sesuatu untuk dimakan?" tawar Sam yang sedari tadi masih setia menunggu Alexa, laki-laki itu terlihat begitu rapi dengan setelan jas kerjanya, ia sempatkan untuk mampir di tempat ini sebelum ia berangkat kerja. Pagi ini ia membawa banyak makanan untuk wanitanya itu, bahkan hampir separuh dari sel Alexa berisi makanan, buah dan juga snack darinya


"Tidak" jawab Alexa singkat, ia masih duduk di sudut ruang pengap itu. Sam hanya bisa memandangnya daru kejauhan sebab Alexa enggan mendekat tapi bagi Sam itu sudah cukup baginya


"Pulang, Sam!" Sam menggeleng

__ADS_1


"Aku akan tetap di sini sampai waktuku habis"


"Apa kamu tidak punya pekerjaan lain, setiap hari melihatmu membuatku bosan" Sam tersenyum, ia merasa lebih lega sebab Alexa yang galak dan juga bermulut pedas telah kembali


"Untuk saat ini pekerjaanku hanya menemanimu selebihnya aku santai"


"Jangan berharap banyak padaku, aku tidak bisa bersamamu untuk saat ini dan seterusnya. Kamu hanya membuang waktumu"


"Memangnya apa yang membuatmu ragu padaku?"


"Adikmu dan adikku, mereka kembali bersama!" raut wajah Sam berubah dari yang awalnya bahagia tapi kini terlihat masam dan lesu. Ia terkejut sekaligus kecewa dengan apa yang ia dengar


"Bukankah mereka berpisah?" Alexa menggeleng


"Mereka kembali bersama, semalam William datang dan mengatakan jika mereka kembali bersama, mereka akan menikah dalam waktu dekat" Sam mencoba menetralkan hatinya, ia mencoba berpikir dengan benar


"Jika mereka bersama maka kita juga bisa bersama" usul Sam seketika sebab hanya itu yang terlintas di otaknya


"Itu tidak mungkin, keluarga kami tidak memperbolehkan untuk menikahi keluarga yang sama. Jika hal itu terjadi maka satu di antara mereka harus berpisah" jelas Alexa mengenai apa yang keluarganya lakukan. Memang benar adanya, sejak dahulu keluarganya memegang teguh prinsip itu, jika William kembali bersamaku maka Alexa dan Sam tak boleh bersama


"Lagi pula aku tidak akan merusak kebahagiaan Willy, dia sudah cukup menderita dengan apa yang aku lakukan. Kejahatan ini membuatnya harus bekerja keras dan memulai segalanya dari nol. Ia juga kehilangan seluruh aset miliknya untuk menutup semua kerugian yang keluargaku alami"


"Tapi, Lexa"


"Biarkan aku melakukan hal yang benar kali ini, Sam. Aku sudah terlalu jahat pada orang lain dan biarkan kali ini aku tidak berpikir egois. Terima kasih untuk semuanya, untuk waktu dan juga kesediaanmu mengunjungiku, tapi maaf, kita tidak bisa bersama" Sekali lagi harapan Sam dipatahkan oleh kata-kata terima kasih dan juga maaf, dan untuk ke sekian kalinya hatinya sakit dan patah karena luka yang tak berdarah


"Istirahatlah, Lexa. Aku akan kembali nanti malam" Sam berjalan menjauh dari sel Alexa, ia berjalan gontai dan lesu tak seperti saat dua datang ke mari dengan semangat dan juga kebahagiaan yang membuncah. Sekali lagi, ia harus pulang dengan tangan kosong, hal yang ia harapkan sampai saat ini tak kunjung ia dapatkan mungkin malah tidak akan pernah ia miliki


Alexa yang sedikit melunak kini kembali mengeras karena takdir yang terus berjalan, harapan akan cinta yang ia pendam selama bertahun-tahun kini mungkin sudah sampai pada titik akhir. Ia melajukan mobilnya pelan, berharap apa yang ia alami dapat kembali terulang dan merubah jawaban Alexa


.


.


.


.


.


Yeaayyyyyy🥳🥳🥳🥳🥳🥳....... Agnes sama William sama-sama lagi, apakah percintaan mereka akan kembali berjalan mulus atau akan menemui tantangan????..... Dan Sekali lagi bang Samuel ditolak sama Alexa, apakah mereka nantinya akan sama-sama atau enggak ya?????


terima kasih untuk terus stay di novel ini ya. Mohon maaf jika belum bisa update setiap hari

__ADS_1


Happy New year 2022 🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳


__ADS_2