
"Terima kasih, Mas" hendak kubuka pintu mobil William tapi tangan kekar itu menghalangi
"Kenapa?" Dia tidak menjawab hanya mendekatkan wajahnya dan menyodorkan pipinya. Aku tahu kode itu, dan tanpa malu aku menciumnya. Bukannya menjauh ia malah meraup bibirku kembali, cukup lama kami beciuman hingga nafasku hampir habis. Nafasku tersendat dan kulepas tautan itu
"Jika kamu tidak ingin menginap di apartemenku, apa aku boleh menginap di rumahmu?" senyum jahil William kembali ia perlihatkan. Ia tidak berhenti berusaha dan masih terus berusaha
"Sekali aku jawab tidak maka tetap tidak!" langsung kubuka pintu mobilnya dan melenggang masuk ke dalam rumahku, ia malah mengikuti dan terus mengekor di belakangku
Aku langsung masuk ke dalam rumah dan naik ke kamarku namun William berhenti di ruang tamu dan duduk di sofa, aku penasaran kenapa dia ikut masuk. Kuurungkan niatku untuk masuk kamar dan mengamatinya
"Kamu sudah lama?" Ayah baru saja keluar dari kamarnya dan langsung menghampiri William
"Baru, Om. Maaf saya baru bisa mengantar Agnes pulang jam segini" jelasnya sembari mencium punggung tangan Ayah
"Tidak apa, Will. Om tahu kamu baru memulai bisnis itu dan om merasa senang jika bisa membantumu"
"Oh jadi William beralasan jika aku membantunya dalam mengurus bisnis barunya, pintar sekali dia, andai Ayah tahu apa yang sudah ia lakukan pada putrinya tadi. Pantas saja sejak tadi ia tak berganti pakaian, jadi ini alasannya" ucapku lirih saat mendengar percakapan keduanya
"Iya, Om. Agnes banyak membantu sore ini" benar-benar kebohongan yang luar biasa, tak kusangaka William yang aku kenal polos ternyata pintar berakting. Kuputuskan untuk masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri
Aku yang sudah mandi dan berganti pakaian turun dan ikut mengobrol keduanya yang masih tampak asyik tertawa, entah apa yang mereka bicarakan
"Apa kamu tidak kesulitan sore ini?" tanya Ayah seketika sesaat aku duduk di sampingnya. Aku tahu maksud Ayah dan untung saja aku mendengar percakapan mereka sebelumnya jadi mudah bagiku untuk memahami pertanyaan Ayah
William terlihat gugup, ia tak mengira kebohongan yang ia ucapkan akan menjadi bomerang baginya, ia berharap dalam hati agar aku tak salah menjawab pertanyaan itu, jika saja aku sampai salah maka habis dia kali ini
"Tidak, Ayah. Aku belajar hal baru sore ini dan aku rasa aku cukup menguasainya" kulihat wajah William yang berkeringat namun setelah mendengar jawabanku ia terlihat tak lagi gugup
"Jika kamu tidak lelah, sepulang kerja kamu bisa membantunya" saran Ayah padaku, hati Willy berserakan gembira. Lampu hijau sudah di depan mata dan senyum tak hentinya mengembang
Aku yang mendengar hal itu cukup terkejut, andai Ayah tahu apa yang sebenarnya rmterjadi di balik kebohongan yang William utarakan pasti ia tidak akan pernah mengijinkan William menjemputku dan membawanya
"Oh ya, apa yang ingin kamu bicarakan?" mata Ayah tertuju pada William
"Malam ini Willy datang ke sini untuk mengutarakan niat hati Willy. Aku dan Agnes berencana akan menikah dan dengan itu saya minta restu om, saya juga meminta ijin om untuk kembali bersama dengan Agnes. Apa om merestui?" lancar William mengutarakan isi hatinya, ia kaki ini terlihat tegas dan berwibawa, sikap jahil dan juga usilnya terganti sudah
__ADS_1
"Kamu tidak perlu menanyakan hal itu lagi, om pasti akan merestui kalian berdua. Tapi yang menjalani semuanya adalah Agnes. Apa kamu mau menerimanya?" kini ayah beralih padaku
Dengan hati yang mantap kukatakan iya dan mau menerima William kembali. Tidak ada alasan untuk berkilah atau banyak berpikir. Dia laki-laki yang sempurna dan juga setia, tidak ada celah buruk sedikit pun yang tampak padanya bahkan aku sendiri merasa minder saat ini bisa bersama dengannya dan dia memintaku bersamanya
"Terima kasih, Om sudah mau membwri restu pada kami berdua, William tidak akan memberi janji apa pun, karena William sekarang dalam keadaan yang jauh berbeda dari sebelumnya namun satu hal yang pasti, William akan berusaha untuk ada saat apa pun"
"Cinta itu bukan hanya tentang materi, Nak. Cinta yang sebenarnya adalah saat kalian mau menerima satu sama lain kekurangan dan juga kelebihan yang dimiliki oleh pasangan kalian. Bahagiakan dia, dia milik om satu-satunya saat ini" William mengangguk
"Iya, Om. Mungkin besok atau lusa saya akan menyusul orang tua saya di luar negeri. Saya juga akan meminta restu mereka dan memberitahukan kabar bahagia ini"
"Kamu pergi sendiri atau mengajak Agnes?"
"Rencananya saya hanya pergi sendiri tapi jika om mengijinkan maka saya ingin mengajak Agnes"
"Pergi saja jika kamu mau, ayah ijinkan"
"Tapi bagaimana dengan perusahaan, Ayah. Apa Ayah tidak kerepotan?"
Ayah menggeleng, "Jangan khawatirkan Ayah, ada Pras yang bisa Ayah andalkan. Ayah tidak lagi menangani proyek luar kota untuk beberapa bulan ke depan" jelas Ayah sekali lagi
"Silakan lanjutkan obrolan kalian, Ayah ingin istirahat" Ayah pun masuk ke dalam kamarnya, menyisakan aku dan William di ruang tamu
"Kenapa senyum-senyum terus?" William berdiri dan mendekat
"Kamu tahu enggak, tadi aku takut banget pas om Kuncoro tanya soal apa yang kita lakuin sore ini" Willy celingukan menoleh ke sana kemari, ia takut jika kebohongan yang tadi ia ucapkan didengar oleh Ayah
"Untung tadi aku dengar kamu ngomong apa sama ayah, kalau enggak pasti kamu udah habis malam ini sama ayah" William menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Eh tapi tadi kamu bilang katanya kamu cukup menguasai apa yang kami lakukan sore ini, emang bener ya?" goda William lagi
"Tahu lah, dari pada aku ngomong yang sebenarnya mendingan aku ikuti alur kebohongan kamu!"
"Tapi kamu suka kan?"
"Harus aku jawab iya atau enggak?"
__ADS_1
"Enggak usah dijawab, lagi pula udah tahu jawabannya apa"
"Emangnya apa?"
"Pasti iya lah, enggak mungkin juga kamu enggak suka"
"Sok tahu!" aku berdiri dan berjalan ke taman belakang, Willy mengekor dan kini memelukku, ia tetap berjalan sembari memeluk tubuhku erat
"Mas, lepas dulu. Aku mau nyiram bunga dulu"
"Enggak, kamu bisa kok nyiram bunga, kan tangan kamu bebas"
"Tapi berat, mas"
"Kamu keberatan aku peluk?" aku membalikkan tubuhku dan menatap masamnya wajah William, tanpa aba-aba kucium pipi tirusnya setelahnya senyum kembali mengembang
"Peluk lagi" Wiliam merentangkan kedua tangannya padaku sambil merengek seperti bocah
"Sini, sayang" aku kembali memeluknya dan kuajak dia duduk di kursi yang tersedia di taman kecil itu, kutunda kegiatan yang akan aku lakukan tadi dan kini kembali duduk berdua bersama William, kami duduk saling berhadapan dan tangan kami berdua saling bertautan
"Mas, maaf ya selama ini aku sering marah dan menganggap kamu lebih memilih pekerjaanmu daripada aku. Sekarang aku tahu jika bekerja itu memang sangat menyita waktu dan kita harus fokus, bekerja itu bukan hal yang main-main sebab menyangkut hajat hidup orang banyak" William mengusap pucuk kepalaku lembut
"Iya, sayang. Aku memakluminya, kita tidak akan pernah tahu hal yang memang kita tidak lakukan, Kamu tidak perlu merasa bersalah dan menyalahkan diri kamu sendiri. Yang penting mulai sekarang kita harus saling terbuka dan membicarakan semuanya dengan baik" aku mengangguk
"Mas enggak mau pulang?"
"Kamu mengusirku?"
"Bukannya gitu, mas. Ini udah malam, kan besok kamu harus kerja, aku enggak mau kamu terlambat ya?"
"Duh perhatian banget calon istri, jadi makin cinta"
"Pulang sekarang atau nanti?" lanjut Willy
"Sekarang aja ya, mumpung belum malem" kuusap kembali pipi tirusnya, ia mengangguk dan berdiri
__ADS_1
"Peluk dulu" aku memeluknya kembali cukup lama kali ini, selepasnya William pamit dan pulang. Meski sesekali ia menoleh dan merasa berat meninggalkanku