HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 132. Suami takut istri


__ADS_3

POV WILLIAM


Malam menjelang, membawa bintang yang selalu menemani bulan. Angin semilir membelai wajahku yang kini tengah mengikuti pengajian di sebuah rumah yang baru saja dibeli oleh orang tuaku, bukan rumah yang besar seperti dahulu namun hanya sebuah rumah sederhana. Acara malam ini tidak dihadiri oleh banyak orang hanya keluarga inti serta para tetangga dekat dan juga seorang pemuka agama


Kuingat kembali jalan terjal yang aku lalui untuk bisa bersama dengannya. Agnes Kuncoro, gadis kecil yang kala itu aku temui di acara grand opening restoran baruku. Aku pada saat itu tengah terjun langsung melayani para pelanggan yang membludak siang itu


Gadis berbaju merah dan bertopi hitam itu baru saja masuk ke dalam restoranku, ia duduk di dekat pintu sambil membaca buku menu yang tersedia di sana, tak lama dia memanggilku aku mendekat ke arahnya dan menulis pesanan miliknya. Seorang karyawanku menyadari hal itu, ia memintaku untuk berhenti dan membiarkan dirinya melayani Agnes, tapi aku menolaknya. Aku merasa ada yang menarik dari gadis itu, jika para gadis lainnya akan langsung historis dan menempel saat melihatku karena aku memang terkenal akan usaha keluargaku yang aku jalankan tapi dia malah cuek dan mengira jika aku karyawan di restoran itu


Dengan segera aku mengantarkan makanan yang ia pesan, dia menikmatinya namun menyadari keberadaanku yang kini berdiri di dekatnya. Ia menatapku dengan tatapan tajam dan memintaku untuk pergi dengan alasan ia tidak suka dilihat saat makan. Aku berada di sana bukan tanpa alasan, aku menyuaki cara dia makan dan cara dia duduk. Biasanya seorang gadis akan menjaga penampilannya saat ia tengah makam dan duduk tapi lain dengannya, ia cuek dan masa bodoh


Sesaat setelah mendengar titahnya, aku pergi. Namun sebelumnya kuberikan kartu nama milikku yang aku ambil dari dalam kantong celemek yang aku kenakan. Ia tidak memerdulikannya, masih terus makan dengan lahapnya. Selesai makan Ia baru ingat jika aku menaruh sesuatu di depannya, ia mengambilnya dan membacanya. Dari kejauhan aku perhatikan raut wajahnya yang berubah, ia terkejut saat membaca kartu nama itu


Ia melihat sekeliling mencoba mencari keberadaan diriku, namun aku bersembunyi di balik meja kantorku sembari mengamati tingkahnya dari cctv restoran milikku. Dia pergi dengan tergesa setelah membayar dan sejak saat itu aku tak lagi bertemu dengannya. Namun bukan berarti aku tidak mencarinya, dengan kuasa uang yang aku miliki saat itu aku secara diam-diam menggali informasi tentang dirinya, aku tahu di mana rumahnya, bagaimana kehidupannya dan bagaimana keluarganya. Kukantongi nomor ponselnya yang sampai saat ini tidak pernah ia ganti, aku sengaja tidak memghubunginya saat itu sebab aku masih ingin melihatnya tersenyum lugu sebelum nanti akhirnya dia siap bersamaku


Dua tahun lamanya aku menjaganya dari jauh, sejak saat pertama aku melihatnya aku merasa ada kenyamanan tersendiri yang aku rasakan. Dan kala itu aku mencoba menghubunginya pertama kali, lewat pesan singkat kuberanikan diri untuk mendekati dirinya. Awalnya ia sangat cuek dan dingin namun lama kelamaan ia berubah menjadi sosok yang hangat dan juga periang


Waktu berlalu, aku menemuinya dan menjalin komunikasi lebih dekat lagi meski kesibukan yang aku miliki menghalangi kami berdua. Suatu ketika aku memberanikan diri untuk menyatakan cintaku padanya, bak gayung bersambut Dia menerimaku dan kami berpacaran. Hal mengejutkan lainnya yang aku baru tahu, ternyata aku adalah cinta pertamanya. Pun sama denganku, Dia juga cinta pertamaku meski sejak dulu banyak sekali gadis-gadis yang mendekatiku dan terang-terangan menyatakan cintanya


Kami berdua resmi menjadi sepasang kekasih, menjalin cinta dan merindu saat tidak bertemu sampai pada akhirnya kita memutuskanuntuk bertunangan. Tapi semua itu tidak berjalan dengan lancar, aku yang notabene adalah seorang pengusaha super sibuk, memegang perusahaan yang memiliki banyak sekali cabang yang menjadi tempat naungan hidup orang banyak seringkali melanggar janji yang ku buat sendiri. Aku sebenarnya tidak ingin namun mau bagaimana lagi inilah resiko ketika memiliki kekasih sepertiku, aku yang memang gila kerja sejak awal dan baru pertama kali menjalin cinta belum bis membagi waktu dan lebih memprioritaskan pekerjaan


Sering membuat janji maka sering pula aku melanggar, itu menjadi alasan paling besar yang membuat hubungan kami menjadi sering banyak pertengkaran. Suatu ketika aku membawakan setangkai bunga mawar merah yang menjadi kesukaannya, ia tertarik dengan wangi parfum dari bunga itu. Dia meminta ijin padaku untuk mengunjungi tempat di mana aku sering membeli bunga itu, dengan senang hati aku mengijikannya sebab pemilik toko bunga itu adalah sahabatku sekaligus partner bisnis perusahaanku

__ADS_1


Satu, dua, tiga kali mereka bertemu. Itu bukan masalah besar bagiku, tapi lama semakin lama ada hal aneh yang aku rasakan. Ditambah lagi dengan kedatangan Alexa yang membawa berita kurang sedap, aku tidak percaya begitu saja dan ingin membuktikannya sendiri. Lambat laun apa yang dikatakan oleh kakakku benar adanya, aku melihat sendiri bagaimana aku dikhianati oleh cinta dan juga sahabatku sendiri


Mereka menjalin kisah tersembunyi di belakangku, kisah yang seharusnya tidak pernah ada. Hal paling menyakitkan yang aku alami saat itu, jika ditanya kapan aku mengalami titik terendah dalam hidup maka jawabannya adalah hal itu. Berminggu-minggu aku melupakan rasa amarah dan kekesalan yang aku rasakan pada seluruh karyawan di perusahaanku, mereka terkena imbas dari hal yang aku alami. Hal buruk pun melintas di benakku, dengan segala kemarahan yang menggunung aku yang saat itu menerima cincin pertunanganku kembali dan Agnes membatalkan pertunangan kita berdua membuatku begitu saja menghancurkan semuanya bahkan toko bunga milik sahabatku juga hancur ditanganku. Tidak ada kata menyesal yang aku rasakan hanya marah dan murka


Waktu berlalu begitu saja, aku yang sudah mulai bisa sedikit melupakan kejadian itu kini kembali mulai menata hidup dan fokus pada perusahaan. Banyak berita aku dengar jika saat ini Agnes dan Prima menjalin cinta. Sakit, masih sakit dan terus sakit rasanya tapi ikhlas adalah cara yang paling ampuh untuk menyembuhkan luka itu


Tak lama kemudian, kudengar Agnes tak lagi dengan Prima. Mereka berpisah dengan tidak baik sebab Agnes tahu Prima hanya melampiaskan rasa sakitnya karena kehilangan cinta pertamanya yang sampai saat itu belum ia temukan. Bersamaan dengan itu, kudengar lagi berita mengejutkan. Orang tua Agnes bercerai karena ibunya berselingkuh. Aku sempat marah karena merasa sifat Agnes diturunkan dari mamanya tapi lama kelamaan aku bisa melupakannya


Dari orang kepercayaanku, kudapati informasi jika Agnes kini tengah dalam keterpurukan. Ia ditinggal pergi oleh kekasihnya dan juga orang tuanya. Dari hati yang paling dalam, kutanya aku lagi pada diriku apa aku masih peduli padanya, apa aku masih memiliki rasa cinta padanya. Dan jawabnya adalah iya


Dari keyakinan hati itu aku kembali mendekati Agnes. Penolakan pun kudapatkan, ia bersikukuh untuk tidak.lagi menjalin hubungan denganku dengan alasan takut menyakitiku untuk yang kedua kalinya. Aku tak berhenti di situ, aku berusaha sekuat tenaga agar aku bisa bersamanya kembali dan kemudian berakhir dengan penolakan. Tak sampai di situ, aku tak habis akal untuk membuatnya bisa kembali padaku


Semua berjalan sesuai harapan, aku mendengar sendiri bagaimana Agnes menangis dan mengakui jika dirinya masih mencintaiku. Aku yang merasa terbang di atas awan segera mendatangkan dengan rencana awal, dia sempat marah namun akhirnya dengan kesungguhan dan juga harapan yang benar-benar aku tunjukkan maka dia mau kembali lagi padaku


Hingga saat ini, saat di mana aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lalui saat ini. Cinta yang aku perjuangkan kini menjadi kenyataan, cinta pertama yang aku impikan kini sudah di depan mata. Besok, aku dan Dia akan menikah dan resmi menjadi suami istri. Kebahagiaan terasa penuh di dalam dada, tangis luka kala itu berubah menjadi tangis bahagia


"Tunggu aku besok, Nes. I love you so much" kukirimkan pesan itu di saat pengajian akan dimulai. Tak menunggu pesan itu dibalas aku beralih fokus pada apa yang disampaikan oleh pemuka agama yang Oma undang malam ini


...**************...


Pengajian malam ini dihadiri juga oleh Mama dan keluarganya. Om Defrico dan juga Samuel, Prima dan Mbak Sumi juga tampak di sana. Wanita yang tengah berbadan dua itu tampak cantik dibalik balutan gamis putih dan juga hijab warna merah muda itu. Tubuhnya makin berisi seiring usia kandungannya yang kini sudah sekitar lima bulan

__ADS_1


Sesuai konsep malam ini, untuk para wanita memakai gamis dan hijab warna merah muda dan untuk para kaum laki-laki memakai baju koko warna putih dengan bawahan celana hitam


"Agnes" Mbak Sumi memelukku, ia menangis lama dipelukanku


"Kok nangis, Mbak?"


"Aku menangis bahagia, Nes. Aku turut bahagia dengan semuanya" kembali ia menangis


"Terima kasih, Mbak. Sudah jangan menangis, nanti selepas pengajian kita bisa mengobrol kan, Mbak. Qgnes kangen sama mbak" Mbak Sumi mengangguk


"Malam ini rencananya aku akan menginap di sini, apa boleh?" tanpa pikir panjang aku mengangguk, aku senang bukan main, kerinduan akan dirinya yang selama ini menjagaku akhirnya akan terbayar.


"Apa suami Mbak mengijinkan?"


"Dia selalu memberikan apa yang aku mau, awas saja jika dia mengatakan tidak!" ucap Mbak Sumi penuh kesungguhan


"Wow, jadi secara tidak langsung dia itu tipe suami takut istri ya?" Tawa kami berdua menggema di ruangan itu, banyak yang menoleh dan ikut tertawa


"Siapa yang suami takut istri?" Prima mendekat ke arah istrinya, aku dan Mbak Sumi gelagapan. Untung saja secepat kilat aku bisa berkilah


"Itu, Satpam komplek depan. Suami takut istri!" Prima tidak begitu saja percaya, ia masih terus bertanya tapi untung saja seseorang datang dan memintaku bergabung karena pengajian akan segera dimulai

__ADS_1


__ADS_2