
"Kenapa kita ke sini Will?" Aku kaget ketika William mengajakku pulang ke rumah
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Ayahmu, Nes" jelasnya kemudian mengajakku turun dan segera masuk
Pintu terbuka dan tampaklah Ayah di sana, laki-laki yang selama ini selalu aku rindukan, laki-laki yang selalu ada di setiap masalah meski dia sendiri sebenarnya juga penuh dengan pemikiran berat
"Ayah!" aku memeluknya erat, menyalurkan rasa rindu yang selama ini aku pendam, dia pun membalas pelukanku
"Akhirnya kalian sampai juga" ucapnya sembari melepaskan pelukan itu, aku tidak tahu apa maksud dari perkataan itu tapi yang pasti aku tahu dia sebenarnya juga merindukan aku
William pun menyalaminya dan mencium punggung tangannya lalu setelahnya kami pun segera masuk ke dalam rumah
Ayah membawa kami berdua langsung ke ruang makan, di sana sudah tersaji beraneka jenis masakan yang sudah Ayah siapkan, aku semakin bingung dengan apa yang aku lihat, ada apa sebenarnya
Kami pun duduk dan segera menikmati makan malam yang tersedia, ada kerinduan tersendiri kala menikmati momen seperti ini. Dulu, waktu aku masih bersama dengan Ayah dan juga Mama, hal ini sering kami lakukan bahkan hampir setiap malam Mama memasak makanan kesukaan kami semua dan makan malam bersama seperti saat ini
Kali ini aku duduk berdekatan dengan Ayah, kuambilkan makanan untuknya dan juga melayani ya seperti waktu kita masih bersama dulu
Namun, sekarang semuanya berubah. Kami harus menjalani hidup kami sendiri-sendiri, dan Mama, ia sekarang mungkin sudah bahagia bersama keluarga barunya
"Nes, ada yang ingin Ayah bicarakan" Ayah membuka suara di tengah aktivitas malam ini. Aku menatapnya dan kemudian menganggukkan kepalaku
"Berhentilah mencari kerja dan kembali lah pulang, Ayah kesepian!" lanjutnya kemudian
__ADS_1
"Tapi, Yah"
"Sayang, Ayah sudah tua dan Ayah tidak ingin menikmati masa tua ini dalam kesendirian" Ayah menggenggam tanganku erat, sorot matanya memancarkan ketulusan akan kata-kata yang ia ucapkan
Ada rasa bersalah di benakku, aku yang mungkin egois dan munafik lebih memilih egoku dan tidak memedulikan orang-orang yang berada di sekitarku. Tapi mau bagaimana lagi, Aku pergi bukan karena aku ingin. Aku pergi karena aku tidak bisa lepas dari masa lalu dan masalah yang masih terus membayangiku hampir di setiap aku membuka mata
"Ayah sudah memutuskan untuk tidak kembali ke luar negeri lagi, Ayah hanya akan mengurus perusahaan Ayah yang berada di sini, bantulah Ayah mengurusnya dan belajarlah di sana"
Aku masih diam belum bisa berkomentar apa pun juga, tidak tahu harus menjawab iya atau tidak. Keinginan untuk menikmati masa muda seperti yang lain, menikmati lelahnya bekerja dan juga hasilnya, tapi di lain sisi aku juga harus memerhatikan Ayah yang kini hanya tinggal sendiri dan kesepian
"Ayah tahu, tidak mudah untukmu melewati ini semua. Tapi masalah itu tidak akan pernah selesai jika kamu tidak berani menghadapinya, dan lagi, masa lalu yang kini mungkin membayangimu kamu juga harus berani melawannya, penyesalan itu memang sudah tidak berguna tapi memperbaiki diri demi bekal hidup di masa depan itu yang lebih penting. Kamu memang masih muda tapi bukankah masa depan itu harus dipersiapkan sejak sekarang?" tutur Ayah panjang lebar
Pemikiranku mulai berperang dengan hati, di benakku aku masih ingin mengejar apa yang aku inginkan tapi di hati terbesit keinginan untuk berhenti dan kemudian menyerah
"Om, ada hal yang ingin William bicarakan" sahut William ketika menyadari pembicaraanku dengan Ayah sudah selesai
"Katakan saja, Nak"
"William ingin meminta restu dari Om, William ingin menikahi Agnes dan memulai lagi semua yang pernah terhenti" ucap William dengan gamblang tanpa basa-basi
Aku sendiri tidak habis pikir, apa lagi ini. Aku yang masih belum bisa berdamai dengan keadaan pun harus kembali menampung kisah yang pernah ada, aku tahu memang benar yang dikatakan oleh Ayah bahwa masalah itu tidak akan selesai jika kita terus menghindar dan masa lalu itu tidak akan pernah berubah kecuali kita mampu berdamai dengan hal itu
Ayah tersenyum dan kemudian menatapku yang kini tertunduk, serasa kepalaku hendak meledak dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini
__ADS_1
"Restu Om selalu menyertaimu, Will. Tapi keputusan tetap berada di tangan Agnes, tanyakan padanya apa pun hasilnya nanti tetaplah berlapang dada dan ikhlas menerimanya" nasihat Ayah pada William
"Iya, Om. Terima kasih"
"Bicarakan ini baik-baik dan dengan hati dan kepala yang dingin" Ayah pun berdiri dan beranjak dari ruang makan, meninggalkan aku dan William yang kini masih terdiam dan terasa canggung
"Nes" William beranjak dan duduk di sampingku
"Kita bicara di tempat lain saja Will" William mengangguk dan kemudian mengikutiku ke sebuah tempat
Taman belakang, taman bunga mawar yang masih terlihat asri dan juga terawat. Sejak hari itu, hari di mana tragedi terungkap, aku sudah tidak pernah mengunjunginya dan meminta Mbak Sumi merawatnya tapi entah apa yang sebenarnya akan ditunjukkan oleh Allah padaku, Mbak Sumi pun juga pergi dan taman itu terbengkalai
Namun, semuanya tidak seperti yang seharusnya. Taman ini terlihat lebih indah dari sebelumnya meski sekarang ukuran taman ini lebih kecil dri sebelumnya dan selebihnya kini malah berisi meja berbentuk lingkaran yang juga dilengkapi dengan beberapa kursi kayu yang di cat putih dan lagi, penerangan di taman ini kini lebih terang dari sebelumnya
Aku menghela nafasku sejenak, menetralkan pikiran dan juga hati yang mulai berkecamuk karena semu hal itu kini kembali datang dan memenuhi otakku
Penuh keyakinan aku melangkah, menepis semua masa lalu yang tidak akan pernah bisa aku perbaiki, aku mengajak William duduk di sana, kamu duduk saling berhadapan dengan atmosfer kecanggungan masih saja mendekat
William masih terus mengamati sekitar, seolah apa yang aku pikirkan ikut ia pikirkan juga. Mungkin hatinya juga sakit ketika mengenang kembali apa yang pernah terjadi namun ia adalah seorang William yang mampu memanipulasi perasaan dan tetap bertahan dalam kesedihan
"Nes" William meraih tanganku, kulihat wajahnya mengembangkan senyum yang sama, senyum yang sejak pertama kali aku mengenalnya tidak pernah berubah sedikit pun sama seperti hatinya
"Aku mencintaimu, mungkin ini terdengar membosankan karena aku terus mengatakannya berulang kali. Tapi satu hal yang harus selalu kamu ingat, Nes, aku tidak pernah mengatakan ini pada wanita lain. Aku mencintaimu sejak pertama aku mengenalmu hingga saat ini" Aku masih diam
__ADS_1
"Aku tidak bisa berlaku romantis seperti yang lainnya, aku hanya William yang dingin dan juga gila kerja tapi jika kamu masih mau kembali dan menjalin kisah kita"