
Happy reading.....
Keadaan Maya sudah jauh lebih baik, luka-luka di tubuhnya juga sudah jauh lebih mendingan, walaupun masih terasa sakit. Apalagi bagian dadanya, karena luka di sana adalah yang paling sensitif bagi seorang wanita.
Pagi ini Maya sedang memasak di dapur. Namun tiba-tiba saja Freya datang, kemudian dia berdiri di samping madunya.
"Sekarang aku rasa, kau mencoba untuk mengambil hati mama Gisel. Tapi sayang, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Karena wanita sepertimu tidak pantas untuk dikasihani ataupun disayangi. Seharusnya kau itu ditendang dari rumah ini, dan akan aku pastikan itu!" ucap Freya sambil setengah berbisik ke arah Maya.
Dia melihat Carlen dan juga mama Gisel akan menuju meja makan, kemudian dengan cepat Freya mengambil tangan Maya yang sedang mengiris wortel, lalu dia menggores tangannya sendiri.
Maya yang melihat itu pun sangat terkejut. "Freya, apa yang kau lakukan?!" panik Maya saat melihat darah yang sudah keluar dari tangan wanita itu.
"Aduh .. kenapa kamu melakukan ini sama aku Maya? Aku 'kan hanya ingin membantu kamu memasak. Aduh ... sakit!" jerit Freya sedikit berteriak, agar Carlen dan juga mama Gisel mendengarnya.
Benar saja, kedua orang itu langsung berlari menuju meja makan saat mendengar teriakan Freya, lalu Carlen langsung menghampiri istrinya.
"Sayang ada apa? Astaga! Tangan kamu kenapa, kok berdarah seperti ini?" tanya Carlen dengan cemas, saat melihat darah yang terus mengalir lumayan deras di tangan Freya.
"Ini semua karena ulahnya, Mas. Dia melukaiku. Padahal aku ingin membantunya masak, lihat, bahkan pisau masih dia pegang. Aduh!" adu Freya.
Dia sengaja memfitnah Maya, agar wanita itu semakin dibenci oleh Carlen dan juga mama Gisel. Dan sesaat tatapan Carlen mengarah pada tangan Maya. Benar saja, wanita itu masih memegang pisau yang berlumur darah.
Tatapannya tajam mengarah kepada Maya, tangannya terkepal dengan kuat. Kemudian dia menampar wajah Maya dengan sangat keras, sehingga membuat wanita itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Berani kau menyakiti Freya, hah! Kupikir kau wanita baik-baik, tapi ternyata kau memang busuk. Kelakuanmu ini ditutupi dengan hijabmu yang tidak berguna sama sekali!" Carlen, menarik hijab Maya hingga kain itu terlepas dari kepalanya dan menampilkan rambut Maya yang tergerai indah.
__ADS_1
Maya yang melihat itu segera mengambil jilbabnya kembali, kemudian memakainya. Namun Carlen meludah ke samping, kemudian dia menjambak rambut Maya, lalu menghempaskan wajah wanita itu sehingga menabrak ke tembok dan keningnya berdarah.
"Aku sudah berbaik hati tidak menyiksamu, tapi kau malah membuatku kembali menjadi seorang iblis. Benar-benar keterlaluan!" bentak Carlen, kemudian dia membawa Freya duduk di kursi, lalu meminta pelayan untuk mengambil kotak P3K.
"Aku tidak pernah melukainya, Mas. Dia yang melukai dirinya sendiri saat aku sedang memotong sayuran," jawab Maya sambil berdiri dan berpegangan di meja dapur.
"Bohong Mas! Untuk apa aku melukai diri sendiri? Ini sangat sakit." Freya mencoba untuk membuat semua orang percaya. "Apa mas tidak lihat, bahkan pisaunya pun dia pegang. Jika aku melukai diri sendiri, buat apa? Sudah pasti aku juga tidak memegang pisau itu, tapi jelas-jelas ada di tangannya bukan?" Freya coba memperkeruh suasana.
Mama Gisel yang tadinya sudah percaya kepada Maya, tiba-tiba saja dia menggelengkan kepalanya. Wanita itu tidak menyangka, jika Maya bisa setega itu kepada Freya. Padahal tadinya dia sudah simpatik dan akan menyayangi dan menerima Maya.
PLAK!
Sebuah tamparan kedua mendarat di pipi Maya, dan kali ini bukan Carlen, melainkan mama Gisel. "Mama benar-benar kecewa sama kamu. Awalnya Mama pikir, kamu itu wanita yang baik. Tapi ternyata kamu itu tidak lebih dari seekor serigala sangat menjijikan!" geram mama Gisel.
"Kamu lihat tuh Kakak iparmu yang selama ini kamu banggakan dan kamu sayang. Berani dia melukai Freya, bahkan sudah kepergok tidak mau mengaku!" geram Carlen.
Rania melihat tangan pria yang mulai diperban, kemudian dia juga melihat ke arah Maya, di mana kening wanita itu berdarah. Dan dia yakin, jika itu adalah ulah Carlen.
"Mbak, tidak apa-apa?" tanya Rania, dan Maya langsung menggeleng dengan air mata yang sudah bersimbah.
"Sumpah demi Allah, aku tidak pernah melukai Freya. Tapi walaupun aku membawa nama Tuhanku, kalian tidak akan pernah percaya. Untuk apa aku menyakitinya, hanya untuk mendapatkan perhatian? Hanya untuk diterima oleh kalian? Sungguh itu adalah hal yang licik. Bahkan berniat melukainya sedikitpun tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Seharusnya kalian mendengarkan dulu penjelasanku, tapi---"
"CUKUP!" bentak Carlen dengan intonasi yang sangat tinggi.
Carlen berjalan ke arah Maya, namun Rania menghentikannya. Carlen yang melihat itu pun benar-benar sangat geram, dia sudah diliputi amarah, kemudian dia mendorong Rania hingga tersungkur ke lantai.
__ADS_1
Rania cukup kaget saat melihat perlakuan kakaknya yang begitu kasar kepada dirinya. Selama ini semarah-marahnya Carlen, tidak pernah dia sampai mendorong Rania. Begitupun dengan mama Gisel, dia langsung membantu putrinya.
"Luka harus dibalas dengan luka. Darah pun harus dibalas dengan darah!" geram Carlen, kemudian dia mengambil pisau yang tadi digunakan oleh Freya untuk menyakiti dirinya sendiri, kemudian dia menarik tangan Maya.
Wanita itu panik saat melihat pisau yang berada di tangan suaminya. Dia menggeleng sambil melihat ke arah pria tersebut. "Jangan Mas, aku mohon! Aku tidak pernah melukai Freya Mas. Dia melukai dirinya sendiri, aaagh!" jerit Maya saat Carlen mengiris tangannya.
Tidak sampai di situ, Carlen juga mengiris tangan Maya yang satu lagi, sehingga kedua tangan itu pun terluka. Rania yang melihat itu segera mendorong tubuh Carlen, hingga mundur beberapa langkah dari Maya, kemudian dia menampar wajah kakaknya.
PLAK!
"Keterlaluan kamu Kak! Iblis kamu! Jahat! Tidak pernah kusangka, kamu bisa mempunyai hati yang begitu jahat, tidak berperikemanusiaan! Seharusnya kamu dengarkan dulu penjelasannya Mbak Maya. Aku membencimu, Kak! Sangat membencimu!" teriak Rania dengan sorot mata yang tajam.
Dia berbalik menatap ke arah Maya dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipi, saat melihat wanita itu sedang meringis menahan tangannya yang terluka.
Rania pun mengambil kotak P3K yang ada di atas meja makan, kemudian dia mulai membalut luka itu dengan perban, dan mengobatinya. Air mata bahkan terus saja mengalir di kedua mata indah milik gadis berusia 20 tahun tersebut.
"Mama dan juga Kak Carlen benar-benar keterlaluan! Kalian bahkan tidak mengenal Mbak Maya seperti apa. Saat kalian tahu kebenarannya, jangan pernah berharap kata maaf dariku! Aku benar-benar kecewa sama kalian!" marah Rania dengan dada memburu menahan amarah.
Dia menunjuk ke arah Carlen. "Demi Allah, saat kamu tahu kebenarannya tentang wanita ular ini. Aku pastikan, kamu akan menyesal seumur hidup tentang apa yang kamu lakukan kepada Mbak Maya! Aku sangat membencimu, Kak! Aku membencimu!" teriak Rania dengan suara yang bergetar menahan amarah di dalam dadanya.
Mama Gisel merinding saat melihat wajah Rania yang merah menahan marah. Dia tidak pernah melihat putrinya semarah itu, bahkan kata-kata Rania bagaikan anak panah yang menusuk tepat di jantungnya.
Carlen pun hanya bisa diam saat mendengar kebencian yang terlontar dari mulut Rania. Dia tidak menyangka, adiknya akan membela Maya bahkan sampai membenci dirinya.
BERDAMBUNG.....
__ADS_1