HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Racun


__ADS_3

Happy reading.......


"Freya!" bentak carlin dengan marah.


Freya yang sedang tersenyum sambil menatap layar ponsel, seketika terkejut saat melihat kedatangan Carlen. Dia bahkan tidak mendengar jika pintu kamarnya terbuka, wanita itu pun langsung tersenyum kemudian berjalan ke arah Carlen.


Dia hendak mengalungkan tangannya di leher pria tersebut. Namun, seketika Carlen langsung mendorong tubuhnya, hingga terjerembab ke atas ranjang. Setelah itu dia mencengkram rahang pria dengan kasar.


"Mas, apa yang kamu lakukan? Sakit, kamu menyakitiku!" ucap Freya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Dasar kau wanita jalaang! Aku selama ini sudah percaya kepadamu, tapi ternyata kau menusukku dari belakang!" bentak Carlen, kemudian menghempaskan wajah Freya dengan kasar.


Wanita itu mengusap rahangnya yang terasa sakit, kemudian dia menatap Carlen dengan air mata yang sudah bersimbah. "Maksud kamu apa, Mas? Kenapa kamu berbicara seperti itu? Kamu bahkan sudah menyakitiku, Mas," ucap Freya dengan nada yang dibuat sesedih mungkin.


Dia cukup kaget saat melihat perlakuan kasar Carlen yang baru pertama kali dilakukan kepadanya. Padahal selama ini pria itu tidak pernah kasar apalagi membentaknya.


"Kau bilang menyakiti? Di sini siapa yang menyakiti dan tersakiti, hah! Tidak usah akting. Aku benar-benar tidak menyangka, kau bisa melakukan hal kotor itu? Kau mengkhianati cintaku Freya! Kau menghianatinya!" bentak Carlen sambil membanting jam weker yang ada di samping tempat tidur hingga hancur berkeping-keping di atas lantai.


Freya terperanjat kaget saat mendengar bentakan Carlen. Dia baru kali ini melihat kemarahan pria itu. "Mas, kamu ini bicara apa sih? Menghianati apa? Aku tidak pernah menghianati cinta kamu, sayang!" bantah Freya.


Carlen yang mendengar itu pun tersenyum miring, kemudian dia melempar map ke arah wajah Freya, membuat wanita itu mendelik tajam kemudian dia mengambil dan membacanya.


Seketika mata Freya membulat saat melihat data-data perselingkuhannya bersama dengan Josi. 'Sial! Jadi dia mencari tahu? Aku pikir selama ini dia terlalu bodoh!' batin Freya.


"Kenapa diam? Kaget, kalau aku mengetahui semuanya? Tidak kusangka ternyata kamu itu tidak ubahnya seperti seekor ular!" sindir Carlen sambil menatap tajam ke arah Freya.


Hatinya sakit saat dikhianati oleh orang yang paling dia cintai. Selama ini dia menentang kakeknya, bahkan bertentangan dengan adiknya, hanya untuk membela Freya. Tapi ternyata wanita yang dibela selama ini sudah menghianati cinta tulusnya.


"Sayang, kamu salah paham. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan." Freya mencoba untuk mengambil hati Carlen kembali, dan mencoba menggenggam tangan pria itu. Namun dihempaskan dengan kasar oleh Carlen.


"Kau pikir, data-data yang kudapatkan ini tidak valid? Aku sudah menyewa detektif terkenal yang handal untuk menyelidiki ini, apalagi yang ingin kau bantah!" jelas Carlen.


"Sayang, ini adalah pria yang selama ini menolongkum Iya kami memang pacaran, tapi setelah kamu menikah dengan Maya. Setelah kita berpisah. Tidak semua data-data ini valid, aku tidak selingkuh dari kamu." Freya mencoba untuk memutar balikan fakta.


Akan tetapi Carlen sudah tidak percaya, pria itu masuk ke dalam kamar mandi untuk mendinginkan otaknya yang terasa panas. Dia ingin percaya dengan ucapan Freya, tapi hati kecilnya mengatakan jika apa yang wanita itu ungkapkan adalah kebohongan.

__ADS_1


Kenapa sekarang Carlen tidak bisa percaya lagi kepada Freya? Padahal wanita itu mempunyai andil yang sangat besar di dalam hatinya, bahkan beberapa tahun dia menutup hatinya hanya untuk Freya. Tapi ternyata wanita yang sudah menjadi istri keduanya tersebut malah menghianati cinta tulusnya.


"Sial! Kalau begini, gimana aku bisa menguasai hartanya? Aku benar-benar harus gerak-gerak cepat!' batin Freya sambil mengepalkan tangannya dan meremas map yang saat ini ada di tangannya.


.


.


Saat ini semua sudah berkumpul di meja makan, Rania dan Maya saling melirik satu sama lain seperti memberikan sebuah kode . Karena tadi sore Rania menceritakan apa yang dia dengar kepada Maya.


Awalnya wanita itu tidak percaya, namun Maya yakin jika Rania tidak berbohong. Walaupun dia juga tidak tahu siapa orang yang dimaksud oleh Freya namun, mereka tetap saja harus waspada.


Seusai makan malam, Carlen berjalan ke arah ruang tamu. Dia ingin mengerjakan pekerjaannya di sana, dan Freya yang melihat itu pun segera membuatkan teh.


"Mbak sedang apa?" tanya Rania yang merasa heran.


"Oh ini, lagi buat teh anget buat Mas Carlen," jawab Freya sambil mengaduk minumannya.


"Ooh ..." jawab Rania sambil membulatkan bibirnya, kemudian dia pergi meninggalkan dapur. Tapi siapa yang menyangka jika wanita itu tidak benar-benar pergi.


'Jadi dia ingin mencelakai Kakak?' batin Rania, 'Aku tidak akan membiarkan ini. Aku harus memberitahunya kepada mbak Maya.'


Kemudian Rania segera bergegas untuk ke kamarnya Maya dan memberitahukan tentang apa yang baru saja dia lihat.


"Mbak gawat! Mbak gawat!" seru Rania dengan panik.


"Ada apa, Rania?" tanya Maya yang baru saja dari kamar mandi.


"Ternyata orang yang dimaksud oleh mbak Freya itu adalah kak Carlen. Kita harus penyelamatkannya! Dia sedang membuatkan minuman untuk kakak, dan tadi aku melihatnya mencampurkan sesuatu. Ayo Mbak!" ajak Rania.


Maya yang mendengar itu pun tentu saja sangat cemas. Walaupun Carlen jahat kepadanya, tapi dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan pria itu, karena saat ini Maya juga sedang mengandung anak Carlen. Jadi jika terjadi apa-apa pada suaminya, entah bagaimana hidup Maya dan juga bayinya.


Setelah sampai di bawah, mereka langsung menuju ruang tamu dan di sana Carlen baru saja akan meminum minuman itu yang diberikan oleh Freya. Namun seketika Rania menghentikannya.


"Jangan diminum Kak!" teriak Rania.

__ADS_1


"Kenapa Rania?" tanya Carlen dengan dahi mengkerut.


"Mas, minuman itu ada racunnya. Jangan diminum!" timpal Maya.


Freya cukup terkejut saat mendengar jika Maya mengetahui bahwa dia mencampur racun dalam minuman tersebut. 'Sial! Bagaimana wanita udik ini bisa tahu?' batin Freya.


"Apa yang kalian bicarakan? Minuman ini dibuatkan oleh Freya, mana mungkin dia ingin meracuni ku? Ada-ada saja!" bantah Carlen sambil menggelengkan kepalanya.


"Kak_ apa yang dikatakan Mbak Maya itu kebenarannya. Minuman itu sudah dicampur racun Kak. Aku yang melihatnya sendiri tadi Mbak Freya mencampur sesuatu ke dalam minuman itu," jelas Rania sambil menatap tajam ke arah Freya.


"Ya ampun Rania, sebegitu kah kamu tidak menyukaiku, sampai harus memfitnahku seperti itu? Dan kamu Maya. Aku tahu aku ini seorang madu, tapi tidak seharusnya kamu memfitnahku hanya untuk mendapatkan perhatian dari Mas Carlen." Freya berkata dengan air mata yang sudah menetes untuk menarik simpatik dari suaminya.


"Kalian ini apa-apaan sih? Dan kamu juga Maya, mana mungkin Freya mau meracuniku? Sudahlah, kalian ini. Aku lagi mengerjakan pekerjaan kantor, lebih baik sekarang kalian pergi!" usir Carlen sambil mencoba untuk meminum minuman itu kembali.


Namun Maya segera mengambilnya dan menegaknya dengan habis, sebab Carlen tidak percaya kepadanya.


Rania yang melihat itu tentu saja sangat kaget, "Mbak Maya!" ucap Rania. Kemudian dia menghempaskan gelas yang ada di tangan Maya hingga jatuh ke lantai. Namun sayang, minuman itu sudah diminum olehnya.


"Apa yang melakukan?!" bentak Rania saat melihat Maya meminum minuman itu.


"Biar Mas Carlen percaya, bahwa minuman ini memang ada racunnya. Dia tidak akan percaya jika kita tidak membuktikannya, Rania," jawab Maya.


Namun setelah beberapa saat, tidak ada yang terjadi dan Carlen yang melihat itu pun hanya memutar bola matanya dengan malas.


"Jika kamu memang tidak menyukai Freya, tidak usah memfitnahnya seperti itu. Kamu juga Dek, Kakak tahu kok mungkin Freya bukanlah wanita yang baik. Tapi kalian jangan mufitahnya seperti itu dong! Tidak baik tahu tidak! Kakak nggak suka ya dengan cara kamu, dan kamu juga Maya keterlaluan!" bentak Carlen marah-marah kepada dua wanita tersebut.


Sedangkan Freya mengepalkan tangan yang merasa gagal karena ingin menghabisi Carlen, tetapi dia juga merasa puas karena Maya dimarahi habis-habisan oleh pria itu.


"Sudahlah, lebih baik sekarang kalian pergi dari sini!" usir Carlen kepada Maya dan Rania.


Mereka pun keluar dari ruang tamu. Namun entah kenapa kepala Maya terasa begitu sakit, lehernya seperti tercekik, dadanya terasa sesak, kemudian dia pun jatuh.


"Mbak Maya!" teriak Rania sambil menahan tubuh Maya agar tidak jatuh ke lantai.


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


__ADS_2