
Pintu apartemen terbuka dan betapa terkejutnya Alexa ketika tidak hanya William yang berada di sana tetapi aku, Prima dan juga Mbak Sumi, orang yang ingin ia singkirkan sebab ia menginginkan Prima
"Ka-kalian!"
Wajah Alexa mendadak pucat, tubuhnya mulai gemetar dan jantungnya berdetak tak karuan kala melihat kami semua, terutama Mbak Sumi yang kini terlihat sehat dan tidak kurang suatu apa pun. Terlebih lagi, kini Prima selalu setia di sampingnya dan membuat rasa cemburu itu mencuat seketika
"Siapa sayang?" teriak tante Rosa dari dalam membuat Alexa kemudian mempersilakan kami semua masuk meski sebenarnya itu buka hal yang ingin dia lakukan
"William, Ma!" sahut Alexa dan kemudian berjalan mengikuti kami semua
Kami semua pun berjalan ke arah ruang tamu apartemen Alexa, aku sendiri kini yang berjalan di samping William pun seketika menghentikan langkahku kala melihat Tante Rosa dan Om Adiputra di sana
Ada kegelisahan dan juga ketakutan tersendiri yang aku rasakan, bagaimana tidak, pernikahan yang kala itu harusnya sudah berjalan pun harus berakhir seperti ini tidak ada kejelasan dan juga kepastian. Ditambah lagi, di antara kami tidak ada pembicaraan serius yang mengenai masalah tersebut
Sampai sekarang pun, aku yang memwnag menjadi tersangka utama dalam hal ini tidak menghubungi pihak William dan menjelaskan semuanya
"Kenapa?" William tahu apa yang aku rasakan
Aku menggelengkan kepalaku dan kemudian menatap ke arah orang tua William yang kini sudah berbincang dengan Alexa, Prima dan juga Mbak Sumi, entah mereka tahu keberadaanku atau tidak aku pun tidak tahu
Tanpa aba-aba William kemudian memutar tubuhnya dan mengajakku ke balkon apartemen itu yang memang menuju ke tempat itu tidak melewati ruang tamu. William hafal betul dengan tempat ini sebab dia dulu pernah tinggal di sini
"Kenapa, Nes?" pertanyaan itu telontar lagi
"Aku belum siap, Will. Aku belum siap bertemu orang tuamu" jawabku lirih sambil menunduk
"Kenapa kamu tidak mengatakan jika akan bertemu mereka?" lanjutku kemudian
"Kalau aku mengatakan yang sebenarnya pasti kamu tidak akan pernah mau, dan lagi, sejak tadi kamu selalu saja diam. Ada masalah apa?"
"Aku baik-baik saja, Will"
"Bohong"
"Benar, Will. Aku baik-baik saja"
"Baiklah jika kamu tidak mau jujur tidak apa-apa, mungkin kamu masih butuh waktu untuk semuanya. Oh ya, ada satu hal yang ingin aku sampaikan"
"Apa?"
"Aku tahu kekhawatiran yang kamu rasakan, ini semua pasti tentang pernikahan kita yang pernah kita rencanakan, iya kan?" aku mengangguk
__ADS_1
"Tenang, Nes. Semua sudah dibicarakan dan semuanya sudah selesai" aku mengangkat kepalaku daneminta penjelasan lebih akan hal yang dikatakan William
"Ayahmu dan orang tuaku sudah membicarakan semuanya, mereka sudah sepakat untuk mengundur pernikahan kita"
"Kapan mereka bertemu, Will?"
"Tidak lama setelah Ayahmu bercerai dan itu pula yang mendasari pembatalan pernikahan kita"
"Tapi masalahnya bukan itu, Will" aku merasa sangat bersalah jika mengingat saat itu
William yang memang setia padaku, memberikan apa pun yang aku mau, hanya saja dia yang gila kerja dan tidak pernah punya waktu untuk hanya sekedar makan siang bersama yang akhirnya membuatku berani berpaling, mengejar cinta yang ternyata hanya sebuah kepalsuan dan pada akhirnya aku ditinggalkan
Dan lagi, ternyata di saat itu, Ayah yang baru saja bercerai dan masih merasakan sakit akan pengkhianatan yang Mama lakukan ternyata sudah menjadi benteng penyelamat putrinya dan seolah menjadikan aku orang yang paling benar sedunia padahal aku lah yang jahat dan aku lah yang paling bersalah
"Sudahlah, jangan diingat lagi. Itu semua sudah berlalu dan biarkan jadi masa lalu, yang paling penting sekarang adalah kita pikirkan masa depan" aku mengangguk tapi dengan pikiran yang tidak menentu
William itu sebenarnya manusia atau malaikat, ia masih saja setia saat aku mengkhianatinya, ia msih setia saat aku melukainya dan ingin menjauh darinya
"Maaf, Will"
"Untuk apa?"
"Aku mencintaimu, Nes. Sampai kapan pun"
"Terima kasih, Will"
William melepaskan pelukannya, dia kemudian menatapku intens. Ada desiran tersendiri di hatiku saat mata kami bertemu
"Menikahlah denganku" permintaan yang terdengar tulus itu keluar dari mulut William membuat aku tiba-tiba merasakan kejutan yang luar biasa
"Beri aku waktu, Will" William mengangguk dan kemudian tersenyum, ia kembali memelukku dan aku membalas pelukannyq kali ini
"Aku akan menunggunya, Nes. Sampai kamu siap!" kesungguhan itu kembali kudengar
Di ruang tamu apartemen Alexa,
Mereka masih terus berbincang hangat, meski atmosfer di sekitar Alexa terasa lebih panas dari sebelumnya
Bagaimana tidak, dengan gamblang Prima kemudian mengenalkan pada orang tua Alexa jika Mbak Sumi adalah calon istrinya dan sebentar lagi mereka akan menikah
Dan yang membuat terkejut adalah Om Adiputra dengan tulus akan membiayai pernikahan Prima jika waktunya sudah dekat
__ADS_1
"Terima kasih, Om. Tapi Prima rasa itu terlalu berlebihan" tolak Prima halus akan penawaran yang diberikan Om Adiputra
"Tidak, Prima. Kamu sudah Om anggap seperti anak Om sendiri, selama ini tidak ada hal yang tidak bisa kamu kerjakan dan itu semua sangat berarti untuk Om"
"Iya, Prima. Ini semua tidak sebanding dengan apa yang sudah kamu lakukan" imbuh Tante Rosa yang kini sudah akrab dengan Mbak Sumi dan membuat Alexa semakin cemburu
"Oh iya, katanya tadi William bersama kalian, tapi di mana dia, Mama akan mencarinya!" Tante Rosa pun kemudian berdiri dan mencari anak laki-laki kesayangannya itu
Ia pun berjalan ke arah luar apartemen, kemudian kembali masuk dan menuju ke dapur. Tak menjumpai yang ia cari kemudian ia berinisiatif ke balkon karena ia merasa jika William di sana
"Stop, Stop, Stop, apa yang kalian lakukan di sini!" teriak Tante Rosa kala melihatku dan William mengobrol berdua di balkon, sebenarnya kami berdua tidak melakukan apa pun hanya sekedar berbincang tapi William masih terus menggenggam erat tanganku
Kami berdua yang terkejut akan suara itu kemudian menoleh dan tampaklah Tante Rosa di sana sudah menyilangkan kedua tangannya di dada seraya menatap kami berdua
"Tante Rosa" aku pun mendekat dan menyalami perempuan cantik itu, ia pun menyambutnya dan kemudian memelukku, aku membalas pelukannya
"Mama" William pun juga mendekat, ia kemudian menyalami Tante Rosa yang kini melepaskan pelukanku
"Kamu benar-benar anak nakal, belum juga halal tapi malah ngajakin Agnes ngobrol berduaan. Apa kamu lupa jika nanti orang ketiganya itu setan?" Tante Rosa menjewer anak laki-lakinya itu
"Ampun, Ma. Ampun" William mengaduh kesakitan, Tante Rosa malah dengan bahagianya tertawa melihat anak laki-lakinya itu
Atmosfer kebahagiaan pun tercipta, kami yang awalnya berbicara serius kini malah berganti suasana dan merasakan tersendiri
.
.
.
.
.
.
Eh, ini tadi kan rencananya mau interogasi Alexa, tapi kok malah belok kanan kiri ke sini sih alurnya?????? 🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️🤦♀️
Nggak papa ya reader, mengobati rasa kangen bang Will sama non Agnes dulu, ntar kalo udah ilang kangennya kita interogasi neng Alexa berikutnya
Ditunggu ya...... tapi jangan lupa sambil nunggu tetep dukung otor ya, like, vote , dukung novel ini sebab lagi ikut kompetisi
__ADS_1