
Pagi menjelang, aku sudah bersiap untuk menghadiri pernikahan Mbak Sumi dan juga Prima, kali ini aku berangkat sendirian dan tidak bersama Ayah. Dia sedang ada meeting ke luar kota bersama Pras
Gaun warna merah dari bahan sutra, sebatas lutut dan juga berlengan pendek. Di lengkapi dengan sebuah tas pesta yang aku selempangkan di pundak dan sepatu warna hitam yang tidak terlalu tinggi, rambutku tidak aku ikat hanya aku gerai dan aku ikal, riasan wajah yang aku aplikasikan pun tidak terlalu tebal dan lebih terkesan natural. Aku memakai gaun itu bukan tanpa alasan, ini adalah gaun yang Willy berikan padaku saat aku ulang tahun ketika masih berpacaran dengannya, ini kali pertama aku memakainya
Aku bersiap masuk ke dalam mobil milikku sesaat setelah memasukkan sebuah kado yang akan aku berikan pada Mbak Sumi, kado istimewa dariku dan dari Ayah yang kami putuskan beberapa waktu yang lalu
Aku pun sudah sampai di rumah Prima, setelah parkir aku pun turun, rumah yang dulu pernah aku datangi dan menyisakan kenangan. Kuberanikan diri menginjakkan kaki di sana kembali, setelah mengatur nafas dan juga emosi yang sesaat tidak karuan. Dari luar rumah tampak beberapa karangan bunga yang beraneka ragam, kembali aku pun teringat kala pertunangan dan rumahku juga penuh dengan karangan bunga
Kuatur nafasku kembali dan kemudian masuk ke dalam rumah itu, di dalam rumah itu sudah ada beberapa orang yang terlihat mengobrol dan bersendau gurau. Namun tidak ada satu pun orang yang aku kenal bahkan seorang wanita yang membawa anak kecil yang tersenyum ramah ke arahku, aku pun membalas senyuman itu
Bersamaan dengan itu, Prima pun turun dari tangga, aku pun sedikit terkesima kala melihatnya kali ini yang memakai peci, setelan jas warna putih serta di lehernya terdapat sebuah untaian bunga melati yang wanginya bisa tertangkap oleh indera penciumanku
"Di mana Mbak Sumi?" tanyaku tanpa basa-basi kala ia sampai di bawah tangga, banyak mata memandang namun tidak aku hiraukan
"Dia sedang berdandan di kamar, naiklah" aku pun kemudian naik ke tempat yang ditunjukkan oleh Prima
"Assalamualaikum" keketuk pintu kamar itu, dari dalam terdengar sahutan dan aku pun memutar handle dan masuk ke dalam kamar bercat coklat, di sana terdapat sebuah tempat tidur berukuran kecil, sebuah lemari yang kecil pula serta meja rias yang lengkap dengan kaca yang berukuran sedang
Kembali aku dibuat terkejut, tampak di depan cermin, Mbak Sumi yang kini telah dipoles dengan riasan dan berbah menjadi sangat cantik. Gaun bruklat pengantin warna putih tulang, berekor panjang, terlihat berkilau dengan berlian-berlian kecil yang menempel di sana, dengan bawahan rok batik yang tak kalah serasi dengan gaunnya, kali ini ia memakai hijab dan dilengkapi dengan hiasan kepala mirip mahkota yang berwarna silver, serta sebuah heels yang cukup tinggi berwarna senada dengan gaunnya, cukup tinggi dan memperlihatkan jari-jarinya yang ramping itu. Takjub aku melihatnya, tangan perias pengantin itu mampu menyulap wajah Mbak Sumi menjadi bak seorang ratu
Cukup lama aku terdiam, mengamati dan juga merasakan eforia yang mampu membalikkan emosi. Hingga pada akhirnya kegiatan itu selesai, Mbak Sumi menyadari kehadiranku, dia berdiri dan berjalan menghampiriku
"Agnes" ucapnya bergetar, tampak matanya berkaca-kaca
"Mbak cantik banget" dan kami pun berpelukan, terdengar ia menahan isakannya, hatinya bergejolak meski sekarang adalah hari bahagianya.
"Jangan nangis ya mbak, nanti make upnya luntur" ia melepaskan pelukannya lalu mengangguk
"Terima kasih ya, kamu sudah mau datang"
"Sama-sama, Mbak. Oh iya ini ada hadiah dari Ayah, maaf dia kali ini tidak bisa datang" aku menyerahkan sebuah kado berukuran kecil yang aku letakkan dalam paper bag berukuran sedang
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa pak Kuncoro repot-repot seperti ini?"
"Tidak, Mbak. Ini semua tidak ada apa-apanya dengan apa yang Mbak lakukan pada kami sekeluarga. Anggap saja ini sebagai tanda terima kasih kami pada Mbak Sumi" dia kemudian menganggukkan kepalanya
"Mbak, diminta turun. Akad nikah sebentar lagi dimulai" kata seorang dari balik pintu, kami pun menyudahi percakapan itu dan kemudian turun. Namun sebelumnya aku meletakkan tas milikku di kamar itu sebab aku akan turun mengiringi pengantin
Kami pun berjalan ke lantai bawah, banyak mata memandang kehadiran kami berdua. Tak luput juga William, netraku sesaat menangkap dirinya yang kini duduk di antara para tamu undangan dengan balutan jas hitam miliknya. Netranya pun tak luput dari kami berdua, ke mana kami melangkah ke situ pula dirinya menatap
"Hei, hentikan itu. Matamu bisa lepas!" senggol Tomi pada lengan Willy
"Sulit untuk bisa mendekatinya kembali, Tom. Bahkan sekarang aku hampir menyerah" Kata William membenarkan duduknya
"Apa kamu yakin?"
Willy menggeleng, " Entah, aku hanya merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sepertinya perjuanganku sudah berada di ujung jalan"
"Dengarkan aku" Timi kemudian membisikkan sesuatu pada William, entah apa itu hanya mereka berdua yang tahu. William pun tak berekspresi saat mendengarnya hanya mengangguk dan mengangguk
Ijab qabul pun akan segera di mulai, setelah aku mengantarkan Mbak Sumi untuk duduk berdampingan dengan Prima di depan penghulu, aku pun duduk di dekat mereka. Saksi pernikahan pagi ini dari pihak laki-laki ada Andreas dan dari pihak perempuan adalah diriku. Ini adalah hal mendadak yang terjadi pagi ini, awalnya aku tidak mau tapi karena ini permintaan Mbak Sumi akhirnya aku pun mengiyakannya
"Saya terima nikah dan kawinnya Sumi binti almarhum Suwono dengan mas kawin tersebut, tunai!" Jawab Prima lantang, Pak penghulu pun menoleh ke arah Andreas yang menjadi saksi Prima
"Bagaiaman saksi, sah?" Andreas mengangguk dan kini giliran pak penghulu menoleh ke arahku bertanya halnyang sama. Cukup lama pertanyaan itu tak kujawab hingga berulang kali pertanyaan itu terlontar, entah apa yang aku pikirkan saat itu hingga tidak fokus pada apa yang ada di hadapanku
"Nona Agnes!" ucap Pak penghulu agak kerasa dan lamunanku buyar, sekali lagi ia bertanya dan kali ini pertanyaan itu terjawab dengan anggukan
Ucapan hamdalah pun akhirnya terdengar serentak di dalam ruangan itu, agak malu rasanya saat banyak mata tertuju padaku dan kemudian aku pun beringsut dan pamit ke kamar mandi, aku tahu ke mana arahnya kamar mandi itu sebab aku pernah di sini sebelumnya
Kubasuh wajaku di wastafel kamar mandi sambil berkaca, kuingat kembali apa yang terjadi padaku beberapa menit yang lalu. Kenangan masa lalu pun kembali melintas saat itu, masa tang aku lewati bersama Prima hingga kenangan pernikahan yang gagal, aku sempat membayangkan andai saja yang menikah saat ini adalah entah dengan siapa pun itu pasti akan terasa sangat bahagia, tapi sekali lagi itu hanya lamunan dan bukan kenyataan
"Semuanya sudah jadi masa lalu, Nes. Tidak akan pernah berubah meski seperti apa kamu menyesalinya!" William mengejutkanku, dia berdiri di ambang pintu
__ADS_1
"Aku tidak menyesalinya, Will"
"Bagus jika kamu tidak menyesalinya. Oh ya, mumpung kita bertemu di sini ada yang ingin aku sampaikan padamu"
"Apa?"
"Maaf jika selama aku memgenalmu, aku menyakitimu, bahkan terkesan mendesakmu untuk kembali lagi padaku. Aku tahu ini salah, ini juga bukan waktu yang tepat tapi mulai saat ini kamu bisa bebas mengejar apa yang kamu inginkan, aku tidak akan pernah lagi memintamu untuk menerimaku atau membuatmu berpikir kapan kamu mau kembali padaku, aku menyerah, Nes"
Bagai disambar petir di siang bolong, tidak ada angin tidak ada hujan aku kembali menelan pil pahit yang begitu dahsyat
"Maksudnya?" aku kembali mencari penjelasan di dalam kata-kata yang sebenarnya aku tahu apa maksudnya tapi aku ingin tahu apa ini benar atau pura-pura
"Kita sudah semuanya, Nes. Meski akuntahu kita bukan siapa-siapa tapi harapanku padamu sepertinya sudah sampai di ujung jalan dan jalan di depannya pun buntu. Maaf, Nes kita jalani hidup masing-masing mulai saat ini. Aku memang mencintaimu tapi sepertinya kamu tidak, aku ikhlaskan kamu dengan yang lain" William pun pergi, ia pergi setelah menoreh penjelasan yang sangat mengejutkan
Ini bukan salahnya, ini salahku. Aku terlalu lama mengulur waktu hingga waktu yang diberikan pun habis. Aku tahu cinta itu mau menerima dan menunggu tapi mungkin tidak selama ini. Air mata pun lolos sebagai bukti bahwa aku masih mencintainya tapi ego mengalahkan segalanya. Kuhapus air mata itu dengan tisu yang menggantung di dekat wastafel, kurapikan rambutku dan aku pun kembali ke ruang tamu
Beberapa tamu undangan masih berada di sana tapi sebagian sudah pulang, tak kudapati pengantin yang berbahagia di sana
"Mohon maaf, pengantinnya ke mana ya?" katanya seorang wanita yang menggandengan putrinya, wanita yang cantik di balik balitan dress warna biru muda itu, wanita yang tadi tersenyum ke arahku
"Dia berganti pakaian" jawabnya ramah, setelahnya aku pun pergi ke tempat yang dimaksud, aku berniat berpamitan dan juga mengambil tas milikku
Aku sampai di kamar yang tadi dipakai oleh Mbak Sumi untuk berhias, pintunya sedikit terbuka, aku membukanya perlahan dan sekali lagi kejutan aku dapatkan
Mbak Sumi yang masih memakai baju pengantin kini duduk di pangkuan suaminya, keduanya berciuman dengan mesra bahkan Prima tak menghiraukan wajah Mbak Sumi yang masih berbalut make up. Aku memalingkan wajahku seketika dan menutup pintu itu rapat-rapat, ini juga salahku tak mengetuk pintu sebelum masuk
Kulangkahkan kakiku yang terasa lemas, hingga sampai pada tengah tangga aku menemui seorang perias yang akan mengambil barang-barang miliknya di kamar Mbak Sumi, aku mengikutinya segera
Dia mengetuk pintu dan kemudian penghuni kamar itu ke luar, hanya Mbak Sumi yang kini berada di sana dan Prima entah ke mana
"Maaf ya, Mbak aku harus pulang. Ada telepon penting"
__ADS_1
"Kok buru-buru sih, Nes?" aku pun kemudian membuat alasan jika ada klien yang ingin bertemu. Ia lalu mengangguk dan membiarkan aku pulang. Aku menyambar tas milikku yang aku letakkan di atas ranjang kamar itu, sekelebat bayangan yang baru saja aku lihat kembali terlintas dan jujur itu membuatku cemburu
"Ada telepon penting, bukankah sejak tadi ponselnya ada di kamar ini?" pikir mbak Sumi menerka-nerka