HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Carlen Jealous


__ADS_3

Happy reading....


Mobil Carlen pun sudah sampai di sebuah gedung mewah, di mana acara akan dilangsungkan. Dan dia langsung masuk ke dalam, tetapi seketika pria itu menghentikan langkahnya saat melihat Maya berjalan di belakang.


Pria itu langsung mengulurkan lengannya ke arah Maya, membuat istrinya merasa bingung. Melihat kebingungan dari Maya, Carlen pun memutar bola matanya dengan malas.


"Gandeng tanganku!" ucap Carlen.


Maya yang mengerti pun segera menggandeng tangan Carlen, walaupun saat ini dadanya sedang berdebar dengan kuat, karena tidak biasanya Carlen memperlakukannya seperti itu.


Sementara Carlen memang harus berperilaku romantis di hadapan semua orang, sebab dia tidak mungkin memperlakukan Maya layaknya seorang pelayan. Karena itu bisa menimbulkan kecurigaan dan akan menjatuhkan nama keluarga Dalmiro.


Sesampainya mereka di dalam, Carlen memperkenalkan Maya pada semua rekan bisnisnya. Dan Maya begitu sangat bahagia melihat perlakuan manis Carlen, hingga setelah menyapa beberapa orang, pria tampan itu pun mengajak Maya untuk duduk di salah satu kursi yang ada di meja.


"Ingat! Kamu di sini jangan mempermalukan aku!" bisik Carlen saat berada di samping Maya, dan wanita itu pun hanya menganggukkan kepalanya.


Terlihat satu rekan bisnis Carlen datang menghampiri pria itu. "Selamat malam Pak Carlen, tidak menyangka kita bertemu di sini ya," sapa pak Samson pada Carlen.


"Selamat malam juga Pak Samson," jawab Carlen sambil menjabat tangan pria itu dengan ramah.


"Wah! Apakah ini istrinya Pak? Cantik sekali. Masya Allah! Anda benar-benar beruntung. Siapa nama Nyonya Carlen?" tanya pak Samson sambil menatap ke arah Maya.


"Nama saya Maya, Tuan," jawab Maya sambil menundukkan pandangannya.


"Nama yang sangat cantik, seperti orangnya," puji pak Samson.


Entah kenapa Carlen merasa tidak suka saat ada pria lain yang memuji kecantikan Maya. Setelah itu pak Samson pun pergi dari sana, dan Maya duduk kembali bersama dengan Carlen.

__ADS_1


"Jangan ke-gr-an, saat ada yang memanggilmu cantik!" ketus Carlen.


Maya hanya diam saja. Entah kenapa, dia merasa jika suaminya sedang cemburu. Tapi Maya sadar, tidak mungkin Carlen cemburu kepada dirinya. Karena walau bagaimanapun, Maya tidak pernah ada di hati pria itu.


Tiba-tiba saja saat mereka sedang makan jamuan, ada seorang pria yang menghampiri ke arah meja tersebut, di mana membuat Carlen seketika hilang selera makan.


"Selamat malam Maya, Tuan," sapa orang tersebut. "Wah ... tidak menyangka ya kita bertemu di sini?"


"Tuan Felix!" kaget Maya saat melihat Felix berada di hadapannya.


"Saya pikir kamu tidak ke sini, tapi ternyata suamimu salah satu kolega bisnis di sini juga," jelas Felix sambil menatap ke arah Carlen yang tengah menekuk wajahnya.


Dia tidak peduli dengan kehadiran Carlen, karena bagi Felix Carlen adalah pria yang kejam. Tega untuk melukai istrinya sendiri, dan menikah dengan wanita lain. Di mana Felix sudah mengetahui semuanya, sebab dia diam-diam mencari tahu tentang pernikahan mereka berdua.


"Maaf, Anda mau ngapain ya ke sini? Tidak lihat kalau saya dan istri saya itu sedang makan?" ucap Carlen sambil merangkul pinggang Maya.


Wanita itu terperanjat kaget saat melihat perlakuan suaminya. dmDia tidak menyangka, jika Carlen bisa bersikap posesif itu kepadanya. Padahal selama ini Carlen tidak pernah peduli dengan Maya.


"Pergi sana yang jauh!" sewot Carlen.


Carlen yang melihat itu pun hanya merengut dengan kesal, tapi dia tidak melepaskan rangkulan di pinggang wanita tersebut.


'Mas Carlen kenapa ya, seperti terlihat suami yang cemburu saat istrinya didekati oleh pria lain? Tapi masa iya sih? Tidak ah! Mungkin hanya perasaanku saja,' batin Maya.


Acara telah selesai, Carlen dan Maya pun pulang, karena Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Tidak ada pembicaraan antara keduanya selama di dalam mobil, karena Maya pun tidak tahu apa yang harus dia ucapkan.


Hingga tanpa sadar wanita itu tertidur di dalam mobil, saat sampai di rumah Carlen melihat ke arah samping, dan ternyata Maya sudah tertidur. Entah kenapa dia ingin membangunkannya tetapi malah tidak tega, kemudian dia pun berinisiatif untuk menggendong Maya ke kamarnya.

__ADS_1


Sedangkan di lantai atas, Freya sedang mondar-mandir dengan gelisah. Dia takut jika lama-lama Carlen jatuh ke pangkuan Maya, dan wanita itu sedang menyusun rencana agar bisa menguasai harta Dalmiro. Tapi sampai sekarang dia tidak menemukan apapun, selain jalan keluar yaitu mengandung anak dari Carlen.


"Sebaiknya aku harus hamil lebih dulu daripada Maya. Tapi bagaimana wanita itu bisa hamil? Dia kan belum melakukan apapun bersama dengan mas Carlen?" gumam Freya.


Dia tidak tahu jika Carlen dan juga Maya bahkan sudah melakukannya, walaupun baru satu kali. Sementara di kamar sebelah, Carlen baru saja menidurkan Maya. Dia melihat wajah wanita itu terasa teduh, dan tanpa sadar tangannya terulur mengusap pipi Maya.


Setelah itu Carlen pun pergi meninggalkan Maya untuk menuju kamarnya, dan saat dia masuk, dia melihat jika Freya sedang mondar-mandir. Dia pun segera menghampiri istrinya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa? Apa kamu sudah baikan?" tanya Carlen yang ingat jika tadi saat dirinya pergi Freya sedang pingsan.


Entah kenapa, Carlen tidak ingat selama bersama dengan Maya, jika Freya tengah kesakitan. Seakan saat bersama wanita itu, dirinya tidak ingat apapun bahkan tentang Freya sedikitpun.


Mendengar itu, Freya pura-pura ngambek. Dia merengut sambil menekuk wajahnya, kemudian duduk di tepi ranjang membelakangi Carlen.


"Kenapa kamu mengkhawatirkanku? Bukannya tadi kamu pergi tanpa mau tahu keadaanku bagaimana?" ketus Freya.


"Maafkan aku sayang, tadi aku benar-benar tidak bisa. Lagi pula, kakek Albert dan juga Rania sudah memanggilkan Dokter 'kan ke sini?" ujar Carlen.


Freya tidak menjawab, kemudian dia membaringkan tubuhnya membelakangi Carlen lalu menarik selimut. Wanita itu masih saja kesal dengan Carlen, karena tega pergi dengan Maya tanpa menghiraukan keadaannya.


Dulu saat Carlen belum menikah dengan wanita udik itu, bahkan pria tersebut rela meninggalkan pekerjaannya sepenting apapun itu demi dirinya. Tapi sekarangx bahkan jamuan seperti itu pun tidak bisa ditinggalkan oleh Carlen, dan dia malah pergi bersama dengan Maya.


Carlen yang melihat itu pun menghela napasnya dengan kasar, kemudian dia pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengganti pakaiannya. Tapi sampai jam menunjukkan pukul satu malam, dia masih belum bisa tertidur.


Kemudian dia berjalan keluar kamar untuk menuju kamar Maya, dan saat sampai di sana dia melihat Maya sudah berganti pakaian dan saat ini dia tidak memakai jilbab.


Pria itu berjalan mengendap-ngendap dan tidur di samping Maya, setelahnya Carlen memeluk tubuh Maya. Entah kenapa, dia merasa aroma tubuh wanita itu menenangkan dirinya. Padahal selama ini Carlen bahkan tidak mau tidur seranjang dengan Maya.

__ADS_1


'Mas Karen kenapa tiba-tiba masuk ke sini ya? Dan dia tidur bersamaku. Aku pikir, dia akan menyiksaku?' batin Maya yang memang tadi sempat terbangun dan mendengar pintu terbuka, dia pun pura-pura tertidur.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2