HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 138. Kembali seperti semula


__ADS_3

Laki-laki itu adalah Ayah. Ya, Ayah yang kini tampak turun dari lantai dua sambil membawa sebuah tas kerja yang terlihat penuh akan kertas


Semua orang yang berada di ruang tamu rumah itu hanya diam, mereka tidak tahu apa maksud dari semua ini. Kenapa Ayah bisa berada di rumah ini dan turun dari lantai dua


"Selamat malam, Besan" Ayah duduk tepat di seberang kami semua, aku melihat kebingungan tampak dominan di wajah mereka, tidak tahu harus bertanya apa dan bagaimana kini mereka semua hanya diam dan juga saling melirik satu sama lain


"Maaf, Pak Kuncoro. Apa maksud ini semua?"Oma mulai bertanya saat Ayah mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tas yang sedari tadi bersamanya


Perlahan Ayah mulai menceritakan semuanya, mulai dari penawaran yang ia terima dari orang kepercayaan Oma hingga pada akhirnya ia membeli rumah yang ditawarkan oleh orang tersebut. Di sini Ayah juga menceritakan jika sebenarnya rumah ini tidak dijual ke siapa pun melainkan hanya diambil alih oleh dan juga Ayah


Mereka semua saking menatap satu sama lain, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar


"Katakan pada Oma, apakah ini benar sayang?" Oma menggenggam tanganku dan mencoba mencari kejelasan dari apa yang ia tanyakan. Aku hanya mengangguk dan membenarkan semuanya, menjelaskan apa yang ingin Oma ketahui


"Maaf, Oma. Agnes melakukan ini semua dan terpaksa menyembunyikannya. Agnes hanya ingin menjaga rumah ini, rumah yang penuh kenangan dan juga perjuangan" Aku mulai menjelaskan dari mana aku tahu sejarah rumah ini dan dari situ aku mulai merasa tersentuh dan memutuskan untuk mengambil alih semuanya


"Jadi rumah ini milik kamu sekarang?"Oma terlihat berkaca-kaca


"Rumah ini milik Oma, tetap menjadi milik Oma"


"Tapi kamu sudah membelinya" sambung Mama Rosa yang sejak tadi hanya diam dan penuh dengan pemikirannya sendiri


"Dan dengan begitu, rumah ini sudah jadi hak mu" sambung Papa Adiputra yang sedari tadi hanya jadi pendengar setia

__ADS_1


"Agnes memang membelinya, Ma. Tapi mulai saat ini rumah ini Agnes kembalikan pada Oma dan juga kalian semua. Jangan pernah menganggap jika Agnes melakukan jual beli pada rumah ini, Agnes melakukannya karena Agnes punya alasan tersendiri"


"Tapi, sayang ...." William kini mulai ikut bicara


"Sudah, Mas. Jangan dibahas lagi, Agnes ingin rumah ini tetap berada di tangan dan juga di tempat yang seharusnya sebab rumah ini bukan hanya sebuah bangunan semata melainkan ini adalah saksi bisa dari perjuangan Oma dan juga Mama dan Papa" jelasku sekali lagi


"Lalu bagaimana dengan uang yang sudah kamu keluarkan?" kata William lagi


"Uang bisa di cari, Mas. Tapi kesempatan untuk mempertahankan apa yang kita miliki itu sangat jarang bisa kita dapatkan. Toh, sekarang Mas William sudah membangun bisnis baru dan pastinya uang yang Mas punya akan Mas berikan padaku" aku mencoba mencairkan suasana yang sejenak kaku dan juga diiringi air mata


Mereka tampak tersenyum meski sedikit, namun aku merasa lega pada akhirnya semuanya sudah bisa kembali pada porsinya dan juga Oma bisa menerima apa yang sebenarnya terjadi. Awalnya aku sedikit takut jika keputusan yang aku ambil ini akan menyinggung mereka semua namun ternyata yang aku takutkan tidak terjadi, justru mereka malah merasa senang dan juga lega karena rumah yang sebenarnya mereka pertahankan kini kembali pada mereka


"Terima kasih, sayang. Kamu memang yang terbaik"pelykan hangat dari Oma dan juga Mama kini kembali aku rasakan. Ketulusan dari mereka tampak jelas dan juga nyata


"Mulai saat ini saya kembalikan lagi sertifikat rumah ini" Ayah menyodorkan sebuah map warna merah yang berisi sertifikat dan juga surat lainnya. Oma menerimanya dengan tangan yang gemetar dan juga air mata yang mengalir di wajahnya


Rona bahagia tampak di wajah keriputnya, ia tampak memeluk map tersebut dan berulang kali mengucap syukur atas apa yang terjadi saat ini


"Baiklah, berhubung semuanya sudah selesai saya pamit mohon undur diri terlebih dulu, saya sedang ada urusan dan ini tidak bisa diwakilkan" Pamit ayah sembari merapikan tas miliknya


"Sekali lagi terima kasih, Besan" papa Adiputra menjabat tangan Ayah dan keduanya berpelukan erat


"Sama-sama, kita sekarang keluarga . Jangan sungkan untuk saling minta tolong jika ada hal yang dibutuhkan"

__ADS_1


Ayah pamit dan kamu mengantarkannya sampai di teras, di sana Ayah sudah dijemput oleh sekretarisnya dan segera melaju ke tepat tujuan. Kami kembali masuk dan berbincang hangat di ruang tamu


"Siang tadi, perusahaan kita sudah kembali menjalin kerja sama dengan perusahaan Tuan Defrico, itu artinya kita sudah bisa kembali berjalan dan memulai semuanya dari awal" cerita Papa kemudian


Kami hanya bisa berucap syukur terus menerus karena sekali lagi kebahagiaan kembali hadir kepada kami semua


"Tapi untuk saat ini William belum bisa membantu Papa, William harus fokus pada bisnis baru William, Pa"


"Tidak apa, Nak. Kembangkan bisnismu, sebisa mungkin Papa akan mengelolanya bersama mamamu" jelas Papa lagi, Mama hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia memang sudah mengiyakan apa yang Papa ucapkan sebab sebelumnya Mama memang sudah bekerja mengelola perusahaan


"Alhamdulillah, akhirnya semua kembali seperti semula"


.


.


.


.


.


Finally, novel ini tamat juga. Mohon maaf jika endingnya tidak seperti yang kalian harapkan, untuk kelanjutan kisah dari Prima dan juga Mbak Sumi atau yang lainnya akan hadir di extra part yang nanti bakal author up di sini. Sekali lagi terima kasih dan jangan lupa untuk mampir di karya author yang lain

__ADS_1


__ADS_2