
Hari sudah berganti malam, William masih berada di tempat yang sama. Pikiran dan netranya menerawang entah ke mana, ia tak beranjak se senti pun bahkan hanya untuk mengisi perutnya yang kini mulai ikut berdemo
Di luar, para rombongan pun sudah bubar. William tidak menanggapi mereka bukan karena tidak peduli sebab ia tahu jika keadaan panas seperi ini tidak dibiarkan dingin dulu maka semuanya tidak akan menemui titik terang
Ponselnya berdering berulang kali, banyak sekali notifikasi dan panggilan yang ia abaikan. Sekali ia memegang benda pipih itu hanya untuk memerintahkan sekretarisnya untuk segera pulang. Di sudut lain, terdapat sebuah televisi layar datar berukuran cukup besar dan sedari tadi terus menerus memberitakan sang kakak dan menjadi trending topik paling panas selama beberapa hari ini
Nafasnya sesak setelah netranya menangkap gambar sang kakak yang terlihat lebih kurus dari biasanya, wajahnya kusut tanpa polesan make up seperti biasa. Ia diborgol dan kemudian dibawa masuk ke dalam mobil polisi versama para komplotan yang membantunya melakukan kejahatan
Ia memang sedikit menyesal ketika mengungkap kasus ini sebab pengaruh buruknya begitu terasa dan mengancam bisnisnya tapi jika ia tidak bertindak maka kakaknya akan semakin menjadi dan menyeret banyak nyawa yang tidak berdosa
Sekali lagi ponselnya berdering, kali ini berdurasi lebih lama dari sebelumnya. William pun mendekat dan memeriksanya, sebuah panggilan dari nomor yang ia simpan di ponselnya dan tak berapa lama ia pun pergi dari sana menanggapi apa yang disampaikan seseorang dari balik telepon miliknya
...***************...
Prima kini tengah berada di rumahnya, ia dan juga beberapa orang tengah mendekor ruang tamu miliknya sebab hari pernikahannya tinggal menghitung hari sedangkan Mbak Sumi kini tengah berada di sebuah tempat pembuatan baju yang tentunya juga ditemani oleh orang kepercayaan Prima
Mereka semua adalah orang-orang yang dulunya bekerja bersama Prima saat Prima masih bekerja di bidang WO, meski kini mereka tidak lagi bersama tapi mereka menganggap Prima adalah bagian dari mereka
"Gue kira kalian akan benar-benar menikah" laki-laki berambut gondrong dan berbaju putih itu memulai percakapan di sela-sela memasang berbagai perlengkapan
"Maksudnya?" Prima tidak tahu kenapa arah pembicaraan itu, bukankah sekarang memang Prima akanenikah lalu apa yang dimaksud. Prima pun menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah temannya yang kini berdiri di dekatnya itu
__ADS_1
"Gue kira elo bakal nikah sama si Agnes itu, eh enggak tahunya sama yang lain" laki-laki itu terbahak dan Ptima pun ikut terbahak juga
"Awalnya sih gitu. Meski gue tahu itu salah tapi jujur gue sebenarnya juga sayang dan suka sama Agnes. Tapi setelah gue pikir-pikir ternyata rasa cinta gue lebih besar sama calon istri gue daripada sama Agnes" Prima tampak jujur
"Jahat kamu, Prim"
"Bukan jahat, Boy. Tapi hati memang tidak bisa berkata lain meskipun mulut berulang kali berkata 1 tapi ternyata hati butuh 2 ya apa mau dikata. Awalnya aku memang sudah melupakan cinta pertamaku itu dan akan serius dengan Agnes tapi ternyata setelah aku menemukannya lagi, aku belum bisa berpaling terlebih lagi setelah hal buruk yang menimpanya akhir-akhir ini" jelas Prima pada sahabatnya yang bernama Boy itu
"Kisahmu berat ternyata. Lalu bagaimana Agnes sekarang, apa dia sudah punya yang baru atau dia kembali lagi pada William?"
"Sepertinya dia masih sendiri, William memang sekarang kembali mendekatinya tapi sepertinya dia menjaga jarak dengan William"
"Ya, meskipun pastinya ada jarak pemisah di antara kita. Aku sudah meminta maaf pada William secara langsung dan dia memaafkanku, tapi Agnes, aku belum pernah berbicara dengannya lagi setelah aku memutuskan pergi darinya"
"Pergi temui dia, minta maaflah padanya. Aku dengan jika kekasihmu yang menolong adalah dia" Prima mengangguk membenarkan kata-kata itu
"Aku sarankan padamu, pergi temui dia. Minta maaflah dengan tulus meski aku tahu semuanya tidak akan seperti sedia kala tapi setidaknya itu bisa mengurangi rasa bersalah yang kamu rasakan"
"Ok, aku akan menemuinya segera sebelum aku menikah"
"Datanglah bersama calon istrimu agar tidak ada lagi kesalahpahaman nantinya"
__ADS_1
"Terima kasih, Boy" Boy pun mengangguk dan keduanya kemudian melanjutkan pekerjaan mereka
Dari balik pintu, Mbak Sumi mendengar semua pembicaraan mereka. Ia pun kemudian merasakan hal yang sulit sekarang, rasa bersalah pun menjalar di sana, ia merutuki dirinya sendiri dan merasa jika ia sebab dari semua hal yang terjadi sampai saat ini. Mulai dari putusnya Prima dan aku, meninggalnya pak Samin dan juga dipenjaranya Alexa
Keraguan sesaat hadir di sana, ingin rasanya ia pergi dan mundur dari pernikahan ini agar tidak lagi menyakiti orang lain. Namun, di sisi lain ia terlalu cinta pada Prima yang juga merupakan cinta pertamanya yang selama ini ia cari
Ia ingin pergi tapi ke mana dan kepada siapa, ia sudah tidak punya keluarga lagi. Dan ia merasa sudah tidak punya muka lagi jika harus kembali bekerja padaku, hanya kebimbangan yang kini ia rasakan. Ia yang awalnya berniat menunjukkan sebuah kebaya putih yang akan ia kenakan saat akad nanti kini mengurungkan niatnya dan lebih memilih memerhatikan beberapa orang yang tengah sibuk itu
Dan lagi, Mbak Sumi kini kembali dikejutkan dengan sebuah adegan di mana Prima mengambil sebuah bingkai foto yang ia sediakan di bawah meja kaca miliknya. Dengan senyum yang mengembang, Prima mengamati dengan seksama foto itu. Dari kejauhan Mbak Sumi bisa melihat foto siapakah itu, ia bisa menerkanya dan terkaannya itu benar adanya
Itu adalah fotoku yang dulu Prima gantung di dekat tangga, foto lama yang menjadi saksi kisah terlarangku dan juga dirinya. Hati Mbak Sumi kembali berkecamuk, ia ingin marah tapi apa dasarnya, ia ingin berontak tapi apakah ia pantas melakukannya sebab ia sendiri merasa jika dirinya juga penyebab masalah, ia cemburu sebab tak pernah sekali pun Prima mengatakan hal yang menyangkut foto itu dan lagi kenapa juga foto itu harus disembunyikan di sana jika memang kini dirinya sudah akan menikah dengan Mbak sumi
bukankah ia seharusnya berkata jujur
"Katanya move on tapi kok masih senyum-senyum sendiri" Boy sejak tadi mengamati tingkah Prima yang berubah saat melihat kembali bingkai foto itu
"Cuma senyum, Boy" kilah Prima
"Iya memang cuma senyum, tapi apa kamu tahu dari senyuman itu pasti otak kamu juga lagi mengingat masa lalu saat kamu sama dia" Prima mengangguk begitu saja dan keduanya pun tergelak bersama
Sakit, itu yang kini Mbak Sumi rasakan. Ia ingin rasanya melangkah ke arah Prima dan bertanya yang sebenarnya tapi tubuh dan otaknya sedang tidak sinkron, ia pun memutuskan untuk segera pergi dari sana dan menghubungi seseorang lewat ponsel yang beberapa hari dibelikan Prima
__ADS_1