
Happy reading.....
Maya pulang ke rumah bersama dengan Rania tepat jam 04.00 sore, dan di sana Freya baru saja selesai mengerjakan pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan oleh Maya.
Wanita itu merengut kesal, karena dia melihat Maya baru saja pulang. Kemudian dengan sengaja Freya berjalan ke arah Maya, lalu menyenggol bahunya, hingga membuat Rania menatap tajam ke arah kakak ipar keduanya tersebut.
'Lihat aja! Gue akan ngaduin semuanya sama mas Carlen, dan lo akan kena imbasnya.' batin Freya.
"Tuh orang kenapa sih? Heran deh aku. Dikit-dikit marah, nggak ada lembut-lembutnya sama orang?" rutuk Rania, kemudian dia memanggil bi Rahma dan menanyakan soal pekerjaan Freya.
"Bagaimana Bi? Apakah dia mengerjakan semua tugasnya dengan benar?" tanya Rania.
"Tenang aja Non! Dia mengerjakan tugasnya kok. Sudah Bibi awasin, walau banyak drama," jawab bi Rahma sambil mengacungkan dua jempolnya.
Rania yang mendengar itu pun tertawa jahat. Dia benar-benar puas, karena sudah memberi pelajaran pada wanita sundal itu. Sementara Maya hanya menggelengkan kepalanya saja, kemudian dia naik ke lantai atas untuk membersihkan diri dan menunaikan shalat ashar.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam, saat ini Carlen sudah pulang ke rumah, dan dia sedang membersihkan diri di kamar yang ditempati dengan Freya.
"Kamu kenapa sih, sayang? Dari tadi cemberut terus?" tanya Carlen saat sudah keluar dari kamar mandi.
Freya yang mendengar itu pun tersenyum menyeringai. Dia berpikir itulah waktunya untuk mengadu kepada Carlen tentang perlakuan adiknya dan juga Maya. Dia ingin memberikan pelajaran kepada Rania dan juga madunya.
Kemudian Freya mulai melancarkan aksinya. Dia menangis sambil mengeluh sakit di bagian tangan dan juga pinggangnya, karena seharian ini dia terus aja bekerja.
"Sayang, kamu kenapa sih ditanya kok malah nangis?" tanya Carlen dengan heran.
"Gimana aku nggak nangis? Badan aku semua pegal, pada sakit tahu. Adik kamu tuh minta aku buat gantiin pekerjaannya Maya, sedangkan dia dan Maya malah asik-asik kan belanja ke mall. Aku nggak jadi belanja deh sayang, malah ngerjain pekerjaan rumah. Kamu 'kan tahu, aku nggak pernah ngerjain pekerjaan seperti itu? Lihat tanganku, sampai sakit!" rajuk Freya dengan air mata yang sudah menetes.
"Apa! Kamu mengerjakan pekerjaannya si wanita udik? Kenapa bisa?" kaget Carlen.
"Ya bisa aja sayang. Si Rania tuh yang nyuruh," adu Freya.
__ADS_1
Carlen yang mendengar itu pun mengepalkan tangannya dengan sorot mata yang tajam. Dia benar-benar marah kepada adiknya, karena sudah berani menyuruh Freya untuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya tidak dikerjakan olehnya.
Kemudian dia berjalan ke keluar kamar, lalu berjalan menuju kamarnya Rania. Setelah itu dia menggedor pintu kamar adiknya, tak lama pintu itu pun terbuka, sedangkan Rania hanya tersenyum saja. Karena dia tahu, Freya pasti akan mengadu kepada kakaknya.
"Rania, apa---"
"Kakek, ini Kak Carlen ada di sini. Kakek mau bicara," ucap Rania saat dia sedang melakukan video call dengan sang kakek.
Carlen yang mendengar itu pun menatap sang adik dengan heran, kemudian Rania menyerahkan ponselnya ke arah Carlen, dan ternyata adiknya sedang teleponan bersama kakek Albert. Akhirnya Carlen pun mengurungkan niatnya untuk memarahi Rania.
"Carlen Ilingat pesan kakek, tiga bulan. Jika Maya belum hamil, maka harta akan kakek kasih ke panti asuhan dan juga panti jompo, paham!" ancam kakek Albert di seberang telepon.
"atapi kek, aku---"
"Tidak ada tapi-tapi, kakek hanya menerima cucu dari Maya. Bukan dari istri keduamu, paham!" Setelah mengatakan itu, telepon pun diputuskan secara sepihak oleh kakek Albert.
Sementara Freya menggerutu dengan kesal, karena Carlen tidak jadi memarahi Rania, dan malah kakek Albert yang mengancam suaminya.
'Sial! Gagal deh rencanaku.' batin Freya dengan kesal.
Itu kenapa Rania mempunyai rencana, di mana dia menelpon sang kakek, agar Carlen tidak memarahi dirinya. Dan benar saja, setelah berbicara dengan kakeknya Carlen seperti orang bingung.
"Kakak ke sini mau ngapain? Udah ya, aku mau mandi dulu," ucap Rania. Setelah itu dia langsung menutup pintu kamarnya.
Freya yang melihat itu pun merasa kesal, kemudian dia menghampiri Carlen. "Sayang, kamu kok nggak jadi marahin dia sih?" tanya Freya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kamu nggak lihat tadi ada kakek yang lagi ngobrol? Sudahlahx aku pusing," ujar Carlen, kemudian dia pergi meninggalkan Freya yang masih berdiri di depan pintu kamar milik Rania.
Pria itu bingung, sebab sang kakek memintanya untuk segera memberikan cucu dari Maya. Dan waktu yang diberikan hanya tiga bulan. Sedangkan dia dan maya sama sekali belum melakukan apapun, bahkan kamar mereka saat ini sudah terpisah.
"Masa iya sih, aku harus mempunyai anak dari wanita udik itu? Kenapa kakek tidak memberikan ku pilihan? Sudah pasti aku akan meminta untuk Freya saja yang mengandung!" geram Carlen sambil mengacak rambutnya dengan frustasi.
Freya masuk ke dalam kamar, dan dia melihat suaminya sedang kebingungan. Wanita itu sedikit mengerti, karena dia tadi mendengar pembicaraan Carlen dan juga sang kakek.
"Sayang, apa kakek meminta kamu untuk menghamili wanita udik itu?" tanya Freya.
__ADS_1
"Iya sayang. Mana mungkin bisa aku menghamili wanita udik itu? Menjijikan sekali! Tapi kalau itu tidak terjadi, bagaimana dengan harta yang kakek punya nanti jika diwariskan pada panti jompo dan juga Panti Asuhan? Aku tidak kebagian apapun, hanya 20% saja," jelas Carlen.
Freya yang mendengar itu tentu saja sangat kaget. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Carlen jatuh miskin, dan hanya mendapatkan 20% dari keluarga Dalmiro.
"Gimana kalau aku yang hamil, itu sama saja. 'Kan garis keturunan dmDalmiro juga. Benihnya dari kamu," ucap Freya sambil mengedipkan matanya.
"Iya, kamu benar, tapi kakek tidak bisa dibantah. Lagi pula, itu sudah keputusan mutlak. Bagaimana bisa aku menyentuh wanita itu? Sedangkan aku sendiri tidak berminat," jelas Carlen.
Freya mengetuk-ngetuk dagunya, sedang memikirkan sesuatu, lebih tepatnya sebuah rencana yang pasti akan menguntungkan dirinya.
"Kalau begitu ya kamu hamilin saja dia!" celetuk Freya.
Carlen yang mendengar itu seketika menjadi kaget. Dia menatap ke arah istri mudanya tersebut. "Sayang, are you crazy? Bagaimana mungkin bisa aku menghamili wanita udik itu? Bahkan menyentuhnya saja aku jijik!" Carlen tidak habis pikir dengan Freya.
"aiya sih, tapi 'kan nggak ada cara lain? Kenapa kamu melakukannya tidak dengan tutup mata aja, ya tanpa harus ciuman dan juga yang lainnya, langsung tancap gas aja," usul Freya.
"Maksud kamu, langsung pada intinya?" Carlen memastikan dan pria langsung menganggukkan kepalanya.
"Entahlah sayang, bisa atau tidak. Rwsanya aku benar-benar tidak sanggup." Carlen terlihat begitu frustasi, dan berbarengan dengan itu pintu kamarnya diketuk.
Ternyata yang mengetuknya adalah Maya, yang mengingatkan untuk makan malam. Kemudian Freya tersenyum menyeringai, lalu dia menggandeng tangan Carlen untuk keluar dari kamar, di mana Maya masih berdiri di sana.
Wanita itu tersenyum sinis, karena dia saat ini tengah menggandeng tangan Carlen. Sedangkan Maya hanya cuek saja sambil berjalan di belakang mereka. Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa sakit, karena dia tidak pernah dilirik ataupun dipedulikan oleh suaminya.
Saat mereka akan menuruni tangga, tiba-tiba saja Freya ingat, jika dia belum memberikan pelajaran kepada Maya.
"Sayang, dia tadi bersekongkol dengan Rania untuk mengerjaiku. Apa kamu tidak ingin memberikan pelajaran kepadanya? Tanganku dan tubuhku sampai sakit tahu!" rajuk pria.
Carlen yang mendengar itu pun menghentikan langkahnya, kemudian dia berbalik menatap ke arah Maya dengan tajam. Lalu mencengkram rahang wanita itu dengan kuat.
"Di rumah ini pekerjaanmu adalah babu, dan Freya adalah istriku. Tidak seharusnya kau memberikan pekerjaan itu kepadanya, paham!" geram Carlen, kemudian dia menghempaskan wajah Maya dan sedikit mendorongnya, hingga tubuh Maya jatuh dan mengenai besi tangga hingga membuat keningnya memar.
"Jika berani kau membuat masalah lagi, kupatahkan lehermu!" geram Carlen. Setelah itu dia turun untuk menuju ruang makan, sementara Freya hanya menatap Maya dengan sinis.
'Rasakan itu wanita udik!' batin Freya sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1
BERSAMBUNG........