
Seluruh tamu undangan sudah kembali ke rumah masing-masing, tidak terkecuali William, Tomi, Andreas dna juga anak istrinya. Di rumah itu kini hanya tersisa pengantin baru yang kini berada di kamar pengantin mereka, kamar pengantin yang dihiasi dengan mawar putih kesukaan sang istri serta lampu yang dibuat temaram, menimbulkan suasana romantis, kamar yang mereka tempati malam ini adalah kamar pribadi Prima, seluruh perabotannya pun telah dirubah dan terlihat lebih lengkap dari sebelumnya, seluruh peralatan dan juga baju-baju milik Mbak Sumi juga sudah dipindahkan ke kamar ini. Ranjang berukuran besar pun telah tersedia di sana menggantikan ranjang kecil milik Prima sebelumnya
Mbak Sumi sendiri kini sedang membersihkan wajahnya dan merapikan rambutnya tapi Prima tidak berhenti mengganggunya, Prima duduk tepat di belakangnya meski kursi yang mereka tempati berukuran kecil namun mampu menopang tubuh keduanya. Prima terus saja memeluk istrinya itu dan melontarkan ciuman yang membuat Mbak Sumi tidak berkonsentrasi akan apa yang ia lakukan
"Tidak usah dirapikan sayang. Biarkan saja seperti itu" Prima menatap pantulan wajah sang istri melalui cermin yang berada di depannya, tangannya sudah bergerilya menuju tempat mana pun yang ia sukai. Menerobos masuk ke dalam setelan baju tidur sang istri yang longgar itu
"Berantakan, Mas" Mbak Sumi masih melanjutkan aktivitasnya , menyisir rambutnya yang seharian ini tak tersentuh tangannya
Prima terus saja mencumbu istrinya itu, hingga akhirnya ia lelah menunggu dan membalikkan tubuh sang istri. Kedua mata mereka beradu, tatapan penuh cinta dan juga kebahagiaan terpancar di antara keduanya. Perlahan Prima mendekat dan mendaratkan bibirnya tepat di bibir sang istri. Tidak ada perlawanan dari Mbak Sumi, ia malah mengalungkan keduanya tangannya di leher sang suami. Posisi keduanya pun kini berubah dari awalnya saling berdampingan namun kini Mbak Sumi sudah berada di pangkuan suaminya, hawa panas pun terasa meski pendingin ruangan di kamar itu sudah sampai batas maksimum
Kerinduan yang memuncak di antara keduanya pun kini seolah menemui muaranya, keduanya memang tinggal satu rumah namun di kamar yang terpisah. Prima yang setiap malam hanya mampu mengamati istrinya dari kejauhan namun kini keduanya tak lagi berjarak bahkan hal yang mereka inginkan sudah berada di depan mata, dan akhirnya ....................
(Dah lah, enggak usah dijabarkan di sini. Reader bebas membayangkan apa yang terjadi selanjutnya pada mereka. Otor masih terlalu kecil untuk membicarakan hal ini, belum saatnya ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤«ðŸ¤«ðŸ¤«)
...**************...
"Selamat pagi, Ayah" aku duduk di kursi ruang makan sembari menyambar sarapan pagi yang sudah tersedia di sana. Roti isi dan juga jus jeruk, menu favorit yang tidak boleh aku lewatkan setiap harinya
"Selamat pagi juga, putri Ayah" senyum Ayah mengembang di wajahnya yang sudah terlihat menua itu
"Ayah akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari, Nes. Ayah harap kamu bisa mengurus pekerjaan saat Ayah pergi" aku pun mengangguk dan menerima keputusan itu, memang akhir-akhir ini Ayah sangat sibuk bahkan jarang sekali berada di kantor, ia menghabiskan jam kerjanya di luar kantor bersama Pras. Awalnya aku agak bingung dan kurang percaya diri namun lambat laun aku mulai mengerti dan kini saat Ayah pergi seperti ini aku pun sudah paham apa yang akan aku lakukan
Sarapan pun usai dan kami berdua berangkat ke kantor sama-sama. Aku membantu Ayah memasukkan koper miliknya ke dalam bagasi, koper berisi keperluan pribadi dan juga berkas penting lainnya. Perjalanan pagi ini terasa sangat lancar tidak se macet beberapa waktu yang lalu
Sesampainya di perusahaan, Pras sudah menunggu Ayah dengan mobil miliknya, tanpa basa-basi Pras pun segera memindahkan koper Ayah ke dalam bagasi mobilnya dan berangkat ke luar kota
Aku pun kemudian masuk ke dalam kantor namun baru beberapa langkah aku kemudian disuguhkan dengan sebuah pemandangan yang menyesakkan dada. Di sana, di lobi berdirilah William bersama dengan Aira, resepsionis nari kantor ini
Keduanya terlihat sedang bercengkerama dan tertawa bahagia, William pun membantu melepaskan helm dan juga jaket yang dikenakan oleh Aira. Mendadak perih dan juga sakit kembali aku rasakan, beribu pertanyaan pun kembali melintas di benakku
"Selamat pagi, Bu" sapa Aira kala aku melintas di samping keduanya
"Iya, selamat pagi" balasku kemudian melanjutkan langkahku, William sendiri kini terlihat acuh dan seolah tidak mengenalku. Ia hanya diam lalu setelah aku agak menjauh ia kembali berbincang dan tertawa
Aku masuk ke dalam ruangan milikku dan entah apa uang mendorongku melakukan hal ini, aku melihat ke cctv yang memang monitornya berada di ruangan ini. Aku kembali melihat ke aktivitas yang terjadi di lobi dan aku masih melihat William serta Aira di sana. Kali ini tampak William melambaikan tangannya pada Aira dan kemudian melajukan motor yang biasa Aira pakai, dari situ aku bisa menyimpulkan jika Aira memang diantar oleh William dan mungkin saja keduanya sekarang memiliki hubungan
Ada rasa kesal saat aku melihatnya tapi apa hakku sekarang. Cemburu, apa mungkin aku cemburu sedangkan aku sudah tidak lagi memiliki hubungan dengannya. Kesempatan yang ia berikan memang aku sia-siakan kemarin dan apa aku masih pantas merasa cemburu. Keresahan ini tidak berujung, kubuka lagi surat lamaran Aira dan kubaca setiap detail informasi tentang dirinya
__ADS_1
"Dia memang masih muda" kala kulihat umurnya yang baru berusia 18 tahun, umur yang sama saat pertama kali aku mengenal William. Kulihat kembali ke lembar berikutnya dan kulihat alamat rumahnya dan entah apa yang membuatku semakin penasaran dengan gadis muda itu, aku mencatat alamatnya di ponsel milikku dan tujuannya untuk apa aku pun juga belum memahaminya
Waktu berlalu sangat cepat hari ini, sudah waktunya makan siang. Kali ini aku tidak membawa bekal dan berniat untuk makan di luar. Kututup pintu ruanganku dan kemudian menuju ke parkiran
Sekali lagi, pemandangan seperti pagi tadi kembali terulang. Kali ini William memakaikan helm ke kepala Aira dan keduanya pun pergi entah ke mana. Aku bodoh atau aku apa entah, aku mengikuti mereka berdua tapi tidak dengan mobilku, aku memilih meminjam motor milik pak Satpam dan sampailah di sebuah kedai yang memang banyak pengunjungnya. Ini pertama kali aku ke tempat ini meski jarak dari kantor hanya beberapa meter
Kedai ini memang sangat sederhana, hanya qda beberapa meja dan juga kursi di sana, kedai ini menjual berbagai makanan rumahan. Tempatnya bersih dan pastinya sangat ramai. Aku pun mengantri, jarakku dari keduanya terhalang 2 orang namun aku masih bisa mendengar jelas percakapan mereka. Aira dan William sudah mendapatkan makanan mereka, tak berselang lama aku pun juga mendapatkan makanan. Aku pun mencari tempat duduk yang kosong dan entah kebetulan atau apa aku mendapatkan tempat duduk di seberang keduanya. Aku duduk memunggungi keduanya sehingga merwka tidak begitu mengenaliku
"Malam ini jadi kan?" Tanya William
"Ya jadi dong!" Jawab Aira bersemangat
"Nanti aku jemput kamu lagi, ya?"
"Apa mas enggak capek, kan tadi pagi anter aku, terus sekarang juga bela-belain ke sini buat anterin aku beli makan siang terus tambah lagi nanti sore mas juga masih jemput aku?"
"Enggak lah, nanti kalau capek kan kamu bisa pijitin mas"
"Mau banget ya dipijitin?" William hanya tertawa
"Emangnya mas mau dapet calon istri bocah TK, umur kira jauh mas, kalau pun kita dijodohin dari dulu kan enggak mungkin juga mas bakal nikahin anak di bawah umur" Sekali lagi William tergelak
"Mas, perjodohan?" lirihku sembari mengaduk makanan yang tersaji di hadapanku. Bakso kuah dan es teh manis yang aku pesan sejak tadi belum aku cicip satu suap pun. Rasa lapar yang mendera beberapa menit lalu kini seolah menguap dan berganti rasa kenyang kala mendengar percakapan dua insan itu
Ada rasa heran yang kini kembali aku rasakan, apakah dia memang William yang aku kenal atau bukan. Jika ia kenapa dia sama sekali tidak menyapaku dan kini sikapnya sangat berbeda dari William yang dulu aku kenal namun jika dia bukan William yang aku kenal tapi kenapa aku jadi bodoh mengikutinya
"Apa mas tidak bekerja hari ini?" percakapan keduanya masih berlanjut
"Mas mulai bekerja besok, makannya hari ini mas akan menghabiskan waktu untuk menemanimu sebelum mas sibuk bekerja"
"Apa mas jadi bekerja sama dengan teman lama yang mas ceritakan waktu itu?" William mengangguk
"Mulai besok mas enggak bisa menemani kamu makan siang lagi, mas cuma bisa anter kamu dan jemput kamu. Jam kerja kita sama sekarang" Aira mengangguk
"Enggak apa-apa, mas. Lagian kan nanti aku buatin bekal makan siang buat mas juga"
Telinga dan hatiku terasa sama-sama panas mendengarnya, tanpa pikir panjang aku pun bangkit dan meninggalkan makanan yang sejak tadi hanya aku aduk dan tidak aku makan satu suap pun. Keduanya pun tidak menyadari kepergianku sebab keduanya masih terus berbincang
__ADS_1
"Loh ini kok masih utuh?" monolog seorang pramusaji yang mendekat ke arah mejaku untuk ebersihkan meja yang sudah ditinggalkan pemiliknya
William dan Aira menoleh ke sana, "Ada apa mbak?" Aira bertanya
"Ini Mbak, kok makanannya masih utuh tapi yang pesan sudah pulang"
"Mungkin saja ada urusan mendadak" sambung William
"Tapi sejak tadi saya perhatikan, Mbak yang pesan makanan ini terlihat aneh. Sejak pertama kali dia mengatri sampai dia mendapatkan makanan dan duduk Dia hanya mengaduk makanannya serta matanya terlihat memerah seperti hendak menangis" jelas pramusaji itu
"Mungkin dia sedang patah hati, Mbak" pramusaji itu hanya mengendikkan bahunya dan kemudian membereskan meja itu
Aku sudah berada di ruanganku sekarang, aku kini tengah berdiri sembari menatap ke arah luar melalui jendela. Terpaan angin dan juga hawa panas kembali menyapa wajahku, sesak itu tidak mereda dan sakit ini terasa menggila. Memang menyesal itu berada di akhir, aku tidak tahu jika penyesalan akan sesakit ini dan membuatku kembali menangis. Aku memang egois dan aku menyadari sepenuhnya sekarang ini, tidak ada gunanya lagi memang terlebih saat aku mendengar kata perjodohan yang sempat mereka berdua ucapkan, harapan yang semula aku kira masih ada namun kini tinggal kata yang berhembus bersama angin
"Assalamualaikum" seseorang mengucapkan salam dari luar pintu. Aku tersadar dari lamunan singkat itu, kuseka air mata yang sempat mengalir dan membuka pintu
"Waalaikumsalam" tampak wajah Aira di sana, sakit ini kembali tergores namun mampu aku kuasai, aku tidak ingin membuka masalah dengan kebodohan yang aku perbuat. Aku tidak ingin mengikutsertakan orang lain akan penyesalan yang aku rasakan sekarang dan aku juga tidak ingin membiarkan api kemarahan ini membesar dan melukai orang yang tidak seharusnya
Aira pun masuk dan kemudian menyerahkan sebuah amplop coklat padaku, "Tadi ada orang yang datang dan meminta saya memberikan ini, katanya dia sudah membuat janji dengan Pak Kuncoro sebelumnya. Saya sempat memintanya menunggu dan akan saya hubungkan dengan ibu tapi dia bilang jika hari ini dia sangat tergesa-gesa dan akan bertemu lain waktu"
Aku hanya mengangguk, "Terima kasih, Aira" dia pun kemudian mengangguk dan ke luar dari ruanganku. Aku membuka map itu. Sebuah kartu nama yang dilengkapi dengan alat dan nomor telepon, serta beberapa kontrak kerja yang sudah ditandatangani oleh Ayah
"Andreas" nama yang tertera di kartu itu
.
.
.
.
Lengkap banget deh part ini, yang satunya lagi bahagia menikmati malam pertama tapi yang satunya lagi merasa tersakiti karena penyesalannya.
Duh Non agnes kecewa nih, dia yang mengulur waktu tapi dia sendiri yang merasa sakit. kira2 kedepannya dia bakal gimana ya, berjuang mendapatkan kembali cintanya atau pasrah gitu aja????
yuk di prediksi, tapi jangan lupa vote dan like juga ya
__ADS_1