
"Maaf?" tanya Prima memastikan dan aku pun mengangguk. Tangan William mengusap punggungku pelan, ia seolah tahu apa yang aku rasakan
Memang, ada kekhawatiran dan juga rasa bersalah yang kini aku rasakan, jika saja hal buruk terjadi pada Mbak Sumi pasti aku akan merasa bersalah seumur hidupku
"Untuk apa?" lanjut Prima dan aku pun mengatakan jika saja aku tidak langsung memakan makanan itu begitu saja pastinya hal yang tadi diceritakan oleh William tidak akan pernah terjadi, aku tidak tahu lagi akan seperti apa jadinya. Dia sudah berkorban banyak untukku dan juga keluargaku dan sekarang mungkin saatnya aku harus membalas semua kebaikannya
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Nes. Itu semua terjadi di luar kendali kita semua, yang terpenting sekarang adalah kita harus tetap waspada akan bahaya yang mungkin saja mengintai Sumi selanjutnya" paparnya kemudian
"Iya, Nes. Sekarang bukan waktunya untuk menyalahkan siapa pun, kita harus fokus berjaga agar hal yang sama tidak terulang lagi" timpal William
"Sebaiknya kamu pulang dan Istirahatlah" aku menggeleng
"Aku ingin menemaninya di sini" sanggahku kemudian
"Pulanglah dulu, kamu butuh istirahat. Besok kamu bisa kembali lagi ke sini dan malam ini biar aku yang menjaganya, lagi pula sebentar lagi temanku akan datang ke sini!" pinta Prima sekali lagi, Aku menoleh ke arah William yang sejak tadi berdiri di belakangku, dia pun mengangguk sambil tersenyum
"Baiklah, aku akan pulang" Prima mengangguk dan aku pun kemudian beranjak dari dudukku dan bergegas ke luar dari ruangan itu, namun sebelumnya aku pun berpamitan pada Mbak Sumi yang sampai saat ini masih belum sadarkan diri
"Assalamualaikum" terdengar seseorang mengucapkan salam dari luar pintu
"Waalaikumsalam" jawab kami bertiga serempak dan tak lama kemudian masuklah dua orang laki-laki yang berbadan tegap dan juga berotot, berpakaian serba hitam dan juga berwajah agak seram
Prima kemudian mendekat ke arah keduanya dan memperkenalkannya padaku dan juga pada William jika mereka berdua adalah teman yang dimaksud oleh Prima. Aku dan William pun berkenalan dengan mereka berdua dan setelahnya kami pun bergegas ke luar dari ruangan itu dengan hati yang lega karena Prima memiliki teman saat ini
Kami berdua berjalan melewati lorong rumah sakit yang kini tampak sepi, tidak ada percakapan di antara kami berdua sampai pada akhirnya kita berdua tiba di parkiran. William sendiri sudah masuk ke dalam mobilnya tapi aku masih berdiri di sana sambil memainkan ponselku dan mencari taksi online yang ingin aku pesan. William membunyikan klaksonnya membuatku terkejut dan menatap ke arahnya
"Naiklah" aku menggeleng
__ADS_1
"Aku sudah pesan taksi online"
"Taksi online?" aku mengangguk
"Apa kamu tidak ingin aku antar?" William masih berada di dalam mobilnya
"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu"
"Aku tidak merasa direpotkan" William ke luar dari mobilnya dan mendekat ke arahku yang sampai saat ini masih memainkan ponsel
"Pulanglah dulu, aku sudah memesan taksi dan sebentar lagi akan datang" aku masih tetap pada pendirianku
"Ini sudah sangat larut, apa kamu tidak takut jika taksi yang kamu naiki itu ternyata akan membawamu ke dalam bahaya. Apa kamu lupa akhir-akhir ini sering terjadi kejahatan di dalam taksi dan kebanyakan korbannya adalah wanita" jelas William panjang lebar, aku menatapnya dan tentu saja merasa agak takut dengan apa yang baru saja ia katakan, aku yang awalnya yakin akan pulang dengan taksi online kini menjadi sedikit ragu dan juga was-was
"Tidak!" aku pun kembali fokus ke ponselku, dan entah kebetulan atau apa, di dalam ponsel yang aku pegang saat ini terdapat headline berita tentang apa yang baru saja William katakan. Ketakutanku menjadi dan kini agak sedikit merinding rasanya, William sepertinya menyadari apa yang aku alami
"Dengan Nona Agnes?" Tanya sopir taksi online yang terlihat masih muda itu dan aku pun mengangguk
"Silakan masuk" lanjutnya kemudian tapi baru saja aku membuka pintu taksi itu, William mencegahku dan menutup kembali pintu taksi itu,
"Will, apa yang kamu lakukan?" Dia tidak menjawab tapi hanya memasang wajah dingin dan juga kaku, wajah yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan tapi malam ini ia menunjukkannya
Dia kemudian beralih ke arah supir taksi itu dan mengatakan sesuatu sembari memberikan sejumlah uang yang baru saja ia ambil dari dalam dompetnya dan anehnya lagi taksi itu langsung melaju meninggalkan aku yang belum sempat masuk tanpa memberikan pernyataan apa pun
"Hei tunggu!" aku pun berlari mengejarnya tapi ia sudah terlanjur pergi, aku pun beralih menatap William yang kini masih berdiri di tempatnya seraya menyilangkan kedua tangannya di dada
Aku pun beralih berjalan ke arah William, "Apa yang kamu katakan padanya, Will. Aku belum masuk dan dia pergi begitu saja!" aku yang merasa kesal pun langsung mengomel pada William
__ADS_1
"Bukankah sudah aku katakan, tidak usah pulang dengan taksi online, bahaya, terlebih lagi jika sopirnya masih muda seperti itu. Dia bisa berbuat jahat padamu!" ucapnya tanpa menoleh ke arahku
Cukup lama aku diam dan mencerna apa yang ia katakan, aku tahu mungkin dia tidak ingin hal buruk menimpaku tapi tidak perlu bertindak sejauh itu dan lagi apa hubungannya dengan sopir yang masih muda dan juga perbuatan jahat, hingga pada akhirnya aku punenyimpulkan mungkin saja dia tidak suka aku dekat dengan laki-laki lain
"Kamu cemburu?" kata itu telontar dari mulutku begitu saja, aku pun kemudian menutup mulutku dan menepuknya pelan
Dia tidak menjawab dan kemudian malah memelukku, aku pun terkejut atas perlakuan yang ia lakukan dan berusaha melepaskannya
"Biarkan seperti ini sebentar saja, aku mohon jangan menghindar" aku pun terdiam dan tidak lagi berusaha melepaskan diri
"Apa kamu tahu, Nes. Aku mencemaskanmu melebihi aku mencemaskan diriku sendiri, aku tidak ingin kamu terluka , aku tidak ingin kamu tersakiti dan asal kamu tahu Nes, aku cemburu dan juga sakit saat melihatmu dekat dengan laki-laki lain meskipun hanya seorang supir taksi" Pengakuan William membuatku tambah terkejut
"Itu konyol, Will. Di antara kita sudah tidak ada apa pun lagi. Kita bukan siapa-siapa lagi, Will"
"Itu menurutmu, Nes. Tapi bagiku, sampai saat ini semuanya masih sama, aku masih mencintaimu sama saat pertama kali aku jatuh cinta, aku masih ingin terus melindungimu dan aku berharap itu semua tidak hanya saat ini tapi selamanya"
Aku melepaskan pelukan itu dan kemudian menatapnya, "Terima kasih, Will. Tapi maaf, saat ini aku masih ingin seperti ini, masih ingin sendiri dan menata hati"
"Aku akan menunggunya, Nes. Menunggu sampai hatimu siap untuk kembali bersamaku"
"Tapi jika nanti pada akhirnya kita tidak lagi bisa bersama?"
"Itu tidak akan mungkin terjadi, Nes!" dan dia kembali memelukku, aku pun hanya diam dan menerimanya.
Sampai saat ini aku juga tidak mengerti pada diriku sendiri, pada hatiku dan juga pada otakku. Perasaan cinta yang dulu subur kini sudah kering dan bahkan tidak ada lagi sisanya, hatiku sudah mati tidak bisa merasakan cinta dan juga kasih sayang, dikhianati oleh orang yang kupercaya membuatku tidak lagi bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam hatiku yang tersisa kini hanya sakit dan juga amarah, tapi kesakitan dan juga kemarahan itu tak kunjung menemui lawan dan masih terus saja mengendap di sana
Di saat William memelukku, di ujung sana aku melihat Prima yang kini tengah menatap ke arah kami berdua. Tatapan apa itu, entah aku tidak tahu, tapi yang pasti ia tak beranjak mendekat atau pun segera pergi. Rasa sakit itu kembali aku rasakan, perihnya Pengkhianatan itu kembali muncul dan terlintas jelas di otakku dan tak terasa air mata pun meluncur
__ADS_1