
"Apa yang sebenarnya terjadi, Mbak?" ucapku lirih sembari memegang tangan Mbak Sumi, dia dan laki-laki tua yang bersamanya kini sidah dipindahkan ke sebuah ruang perawatan yang berada di samping ruangan Bu Mariyam. Aku sengaja melakukan itu semua agar aku bisa tetap melihat keduanya bergantian
Aku terus menatap wajahnya yang kini tirus dan juga pucat. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai dia sekarang menjadi seperti ini. Dan lagi, kenapa dia di tempat itu bukankah seharusnya dia berada di kampung karena sebentar lagi akan menikah dengan Prima. Kualihkan pandanganku ke arah lelaki tua yang berada di ranjang sebelah, wajahnya juga pucat dan cekung
"Istirahatlah, sejak kemarin kamu belum tidur" Wilkiam baru saja masuk ke dalam ruangan di mana aku berada, selama hampir dua hari ini dirinya tidak bekerja dan lebih memilih menemani diriku yang kini bergantian menjaga bu Mariyam dan juga Mbak Sumi
Aku beringsut dan kemudian duduk di sebuah kursi panjang yang berada di seberang pasien, duduk di dekat William yang kini tengah mengupas buah
"Makanlah!" dia menyodorkan potongan apel ke arahku, aku menerimanya dan memakannya
"Jangan terlalu sibuk memikirkan orang lain, sampai kamu lupa memikirkan dirimu sendiri" lanjutnya tapi aku masih diam sbari memakan apel itu
"Terima kasih, Will"
"Untuk?"
"Semuanya" kuhela nafasku kasar, William memandang ke arahku intens. Dia mencari kejelasan terhadap ucapan terima kasih yang tidak ia mengerti
"Apa kamu sudah menghubungi Prima, apa dia tahu jika calon istrinya di sini?" aku menggeleng, aku sampai saat ini memang belum menghubunginya, aku tidak sanggup jika harus kembali bertemu dengannya lagi. Cukup waktu itu saja aku bodo terus berjalan ke arah rumahnya dan kini aku tidak ingin bertemu dengan dia lagi
"Kenapa, dia berhak tahu calon istrinya sampai saat ini belum sadarkan diri" mendengar kata calon istri membuatku hendak menangis dan berteriak sekencang mungkin, sesak dan juga perih karena luka itu kembali tergores.
"Aku tahu,Nes. Semuanya memang berat, aku tidak akan menyalahkan siapa pun. Cinta itu bukan hal yang harus dipaksakan tapi dengan kita mengikhlaskan orang yang kita cintai bahagia bersama pilihannya, itu adalah wujud rasa cinta kita pada orang yang kita cintai!"
Deg
__ADS_1
Air mataku kembali mengalir, kupalingkan wajahku ke arah yang berlawanan dengan William agar ia tidak mengetahui apa yang terjadi padaku. Aku juga semakin tidak mengerti kenapa William mengatakan itu semua, dia juga korban. Korban keegoisanku dan juga Prima tapi kenapa dia masih bisa menerima dengan lapang dada dan kini malah membuat semuanya seolah baik-baik saja
Apa dia tidak terluka, apa sebesar itu rasa cintanya padaku, atau memang ini caranya bertahan karena terluka, tapi kenapa, kenapa dia baik-baik saja dan aku yang melukainya malah semakin terluka. Apa ini karma atas apa yang aku lakukan atau memang inilah jalan takdir yang harus aku jalani
"Jangan menangis" ucapnya lirih sembari memelukku dari samping, aku tidak menghindarinya dan aku menerima pelukan itu. Pelukan dari orang yang aku cintai dan juga orang yang telah aku sakiti, pelukan itu masih sama hangat dan juga nyaman seperti saat aku masih bersamanya dulu
"Maaf, Will. Maafkan aku" dia melepaskan pelukannya dan kemudian membalikkan tubuhku untuk menghadap ke arahnya
"Beberapa detik yang lalu terima kasih terus sekarang minta maaf, terus nanti apa lagi?" senyuman manis mengembang di bibir William
Aku tidak menjawabnya dna kemudian malah memeluknya erat, menumpahkan segala isi hati yang kini terasa sesak dan mengganjal
"Ceritalah, jangan memendam semuanya sendiri" William mengusap pucuk kepalaku lembut
"Kenapa aku harus mengalami ini semua, apa dosaku di masa lalu sampai-sampai aku menjadi sesakit ini" aku masih terus menangis dan memeluknya
"Lihat aku, Nes!" aku pun menatapnya
"Jangan menghindari rasa sakit atau masalah apa pun, selesaikan semuanya dengan segera agar kamu tidak merasa terbebani dan juga terluka. Aku tahu itu tidak mudah tapi jangan pernah merasa takut, aku akan tetap di sampingmu dan membantumu untuk menyelesaikan semuanya!" Lanjut William dan aku pun mengangguk, aku tidak tahu apakah anggukan itu benar atau salah tapi yang pasti aku akan berusaha melakukannya
"Sekarqng hal pertama yang harus kamu lakukan sekarang adalah menghubungi Prima, biarakn dia tahu jika wanitanya sedang membutuhkan dia"
"Tapi aku sudah tidak punya nomor ponselnya" jelasku pada William, aku memang sudah tidak punya nomor ponselnya sejak lama, aku sudah menghapus semuanya.
"Biarkan aku yang menghubunginya. Tapi ingat, jika dia sudah berada di sini jangan menghindarinya, jelaskan semuanya dan berusahalah untuk menjalin komunikasi dengan baik agar kalian tidak salah paham lagi" Aku mengangguk dan kemudian William pun menghubungi Prima melalui ponselnya
__ADS_1
...**************...
Prima yang kala itu tengah berada di kantor polisi tiba-tiba dikejutkan dengan panggilan dari nomor William. Mereka berdua sudah lama tidak berkomunikasi semenjak kejadian itu, Prima sedikit ragu untuk untuk menjawabnya tapi ia berusaha untuk mengesampingkan semuanya dan mungkin saja ini semua ada hubungannya dengan apa yang ia cari saat ini
"Iya" jawab Prima pelan sembari berjalan ke luar kantor. Di panggilan itu William menjelaskan jika dirinya ingin bertemu dengan Prima dan belum menjelaskan semuanya.
William sendiri sudah menduga jika apa yang kini menimpa Mbak Sumi bukanlah hal yang enteng, terlebih lagi Mbak Sumi sampai saat ini belum sadarkan diri
"Kenapa harus di sana?" tanyq Prima saat William mengatakan jika ingin bertemu di rumah sakit, berbagai alasan William keluarkan hingga pada akhirnya Prima pun mengiyakan dan akan ke tempat yang di maksud, panggilan pun berakhir dan Prima kembali masuk ke dalam kantor polisi
Bersamaan dengan itu, seorang laki-laki yang merupakan pengemudi dari sebuah mobil yang tidak sengaja menabrak Mbak Sumi dan Pak Samin dibawa oleh seorang anggota kepolisian yang saat itu dihubungi oleh warga yang menghadangnya
Prima pun kemudian berpamitan dengan anggota kepolisian yang bertugas menangani kasusnya dan menjelaskan jika ia sedang berkepentingan, setelahnya ia pun melaju ke sebuah rumah sakit yang tadi William katakan
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
typo bertebaran, harap maklum ya reader
jangan lupa vote, like dan juga komen