
"Bersiaplah, kita akan bertemu Pak Direktur" William beranjak dari duduknya tapi aku sendiri enggan berdiri dan masih menatapnya penuh curiga.
William menyadari jika aku tidak mengikutinya, ia menoleh ke arahku, " Kenapa?" sambungnya kemudian
"Jangan berbohong lagi. Aku tidak akan tertipu untuk yang kedua kalinya!" aku masih menatapnya curiga
William tertawa, "Kali ini aku tidak akan berbohong lagi, ayo cepat" dia pun segera berjalan ke luar dari ruangnnya terlebih dahulu, sedetik kemudian aku pun mengikutinya.
Kami sekarang sudah berada di dalam mobil, menuju ke tempat yang aku pun tidak tahu di mana. Tapi satu yang pasti jika kali ini kita akan benar-benar bertemu dengan Pak Direktur
"Kamu bawa semua berkasnya?" Tanya William di sela-sela aktivitas mengemudinya.
Aku mengangguk sembari menunjukkan tumpukan map yang aku ambil dari dalam tasku, dia hanya mengacungkan jempolnya lalu kembali fokus ke kemudinya.
Setengah jam berlalu, kami sudah sampai di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Setelah memarkirkan mobilnya, William dan aku pun segera bergegas masuk ke dalam tempat itu.
Kami berdua masuk ke sebuah lift yang saat itu tengah kosong, di sana terlihat William tengah memencet tombol dengan angka 12 yang berarti kita akan menuju ke lantai yang dimaksud
Tak berselang lama pintu lift pun terbuka dan kami pun sudah sampai di lantai yang dimaksud. Aku masih berjalan di belakang William yang kini terlihat serius dan terus berjalan ke sebuah pintu yang berada paling ujung di lantai itu
Pintu besar dengan cat warna hitam itu mendominasi seluruh ruangan yang mayoritas berwarna hitam. William mengetuknya perlahan, dan tak berselang lama muncullah seorang laki-laki yang usianya mungkin hampir sama denganku yang memakai setelan jas warna hitam
Dia mempersilakan kami berdua masuk ke sana, ke dalam ruangan yang bercat coklat dan hampir seluruh perabot di dalamnya memiliki warna senada. Dari samping pintu itu terdapat satu set sofa, yang mana di sana duduklah seseorang yang aku kenal. Mbak Rosa, dialah orangnya. Sekretaris Direktur yang waktu itu aku temui di kantor tempatku kerja sekarang.
Rak kayu berjajar rapi di samping kiri dan kanan ruangan itu dan di tengah-tengahnya terdapat sebuah meja yang cukup besar, lengkap dengan komputer dan juga beberapa buku yang terlihat menumpuk. Di sana juga terdapat kursi kebesaran dari sang Direktur, yang kini tengah di duduki oleh sang pemilik.
Aku pun masuk dan kemudian menyapa mbak Rosa yang kala itu tengah fokus pada tumpukan kertas warna putih, dia memintaku untuk duduk di sebelahnya, aku pun meyanggupinya sedangkan William mengikuti laki-laki yang tadi membuka pintu itu berjalan ke arah pak Direktur yang membelakangi kami semua
__ADS_1
"Apa dia menyulitkanmu?" Mbak Rosa menaruh bolpoinnya dan kemudian menoleh ke arahku.
"Sangat, dia lebih rewel dari seorang bayi" jelasku padanya, dia kemudian tergelak
"Dia akan seperti itu pada orang yang menurutnya menyenangkan, dia akan bergantung dan selalu rewel" sambung Mbak Rosa lagi
Aku menatapnya bingung, darimana dia tahu tentang William, apa dia dan William pernah ada cerita. Dia pun menyadari tatapanku dan kemudian kembali tertawa
"Aku sudah lama mengenalnya, suamiku bekerja di tempatnya dan kami sering bertemu" aku pun hanya mengangguk
Di sela-sela obrolan kami, aku mendengar William memanggil namaku dan memintaku mendekat ke arahnya. Aku pun berdiri dan berjalan ke arah yang dimaksud.
"Duduklah" dia menepuk kursi yang berada di sebelahnya
"Berkasnya?" aku pun kemudian mengambil berkas itu dan kemudian memberikannya pada William
Jantungku seakan melompat dari tempatnya, aku yang awalnya merasa tenang dan biasa saja kini mendadak merasa marah dan ingin lari sejauh yang aku bisa
Kulihat wajah pak Direktur sekali lagi, memastikan apakah yang aku lihat ini nyata atau hanya pikiranku saja, tapi sekali lagi yang aku lihat masih sama, ternyata Pak Direktur itu adalah orang yang aku kenal
Laki-laki itu kemudian tersenyum ke arahku sembari membenarkan setelan jasnya, tapi sikapnya yang ramah itu tak menyurutkan rasa marah yang kini aku rasakan
"Samuel"
Akhirnya nama itu terucap dari mulutku, rasa marah ini semakin menjadi terlebih lagi bayangan masa lampau yang pernah aku lewati kembali bermain di otakku
Pengkhianatan Mama kembali melintas dan kembali menguak rasa sakit dan kecewa yang selama ini coba aku lupakan,
__ADS_1
"Agnes, aku bisa menjelaskan semuanya" ucapnya kemudian sembari menatapku yang kini tertunduk
William menyadari jika ada kecanggungan yang terjadi, tapi ia hanya diam dan menepuk punggungku pelan, mencoba memberi dukungan padaku yang kini tengah berhadapan dengan orang yang tidak ingin aku temui
Aku sebenarnya ingin pergi dan meninggalkan tempat ini, tapi aku masih menghormati William dan Mbak Rosa. Aku putuskan untuk bertahan satu atau dua jam lagi.
Tapi ternyata aku salah, aku tidak bisa melawan diriku sendiri, rasa sakit itu teramat sangat perih aku rasakan. Tanpa aba-aba aku pun segera berdiri dan ke luar dari ruangan itu,
"Agnes, tunggu jangan pergi" cegah William tapi tak aku dengarkan
"Biarkan, Will. Dia masih butuh waktu" kata Samuel
"Agnes" Panggil mbak Rosa tapi aku acuhkan.
Aku terus berjalan dan masuk ke dalam lift yang saat ini penuh sesak dengan orang-orang yang bekerja di tempat ini, mereka semua memandangku karena aku begitu terburu-buru dan lagi saat ini aku sedang menangis, entah kapan air mata itu tumpah.
...***********...
"Saya harap pak Polisi segera menemukannya" Prima kemudian ke luar dari tempat itu
Sudah tidak terhitung, lagi berapa banyaknya ia mendatangi kantor Polisi untuk mencari kejelasan di mana sang kekasih berada. Tapi dari hari ke hari hasilnya masih sama, Polisi belum menemukan di mana orang yang ia cari berada.
Stasiun, bandara, dan bahkan tempat-tempat yang memungkinkan keberadaan Mbak Sumi dan Pak Lek berada pun sudah ia datangi bersama dengan Polisi, tapi sekali lagi tidak ada hasil dan itu membuatnya semakin frustasi
Foto keduanya pun sudah tersebar ke seluruh tempat dan penjuru. Selain itu, ia juga masih tetap mengintai Alexa diam-diam, sebab ia masih merasa janggal dengan apa yang pernah Alexa beberapa waktu yang lalu.
Tapi, Prima sendiri juga tidak tahu jika aktivitas dirinya selama ini juga masih diawasi oleh orang suruh dari Alexa dan semuanya dilaporkan pada Alexa
__ADS_1