
Sesampainya di restoran, Alexa segera melangkah masuk ke dalam ruangannya. Ia menerobos para pegawainya yang menyapanya sembari melayani para pelanggan yang kali ini terlihat membludak
Tidak sedikit dari mereka yang merasakan keanehan dan kejanggalam dari sikap Alexa, biasanya Alexa akan menyapa mereka dan bersikap ramah pada siapa pun tapi kali ini tidak. Ia mengeluarkan sisi lain dri sifat aslinya yaitu yang arogan dan keras,
"Bu Lexa kenapa ya?" bisik salah seorang pegawainya pada pegawai yang lain yang baru saja selesai mengantarkan pesanan
"Enggak tahu, Gue juga bingung, enggak biasanya dia kayak gitu" balas pegawai yang satunya
"Mungkin dia lelah" dan keduanya pun menyudagi perbincangan mereka lalu melanjutkan pekerjaan yang kali ini terasa begitu melelahkan
Di dalam ruangannya, Alexa melampiaskan kemarahan yang ia hadapi dengan mengomel di sambungan telepon. Entah siapa yang sedang ia hubungi kali ini yang pasti orang itu tengah bernasib sial sebab Alexa menumpahkan seluruh amarah yang sedari tadi ia pendam pada orang tersebut
"Cepat selesaikan, jangan ada jejak yang tertinggal jika kalian semua tidak ingin kehilangan nyawa kalian!" Tegas Alexa pada orang itu dan tak lama kemudian panggilan itu berakhir
Alexa kemudian duduk dan terdiam, ia tak berani berteriak atau pun melemparkan barang-barangnya sebab hal itu akan terdengar jelas dari luar dan akan menjadi bahan perbincangan para pegawai dan juga pelanggannya
...***************...
"Ibu harus makan dulu dan setelahnya minum obat" ucapku sembari menyuapi Bu Mariyam dengan makanan yang baru saja diantar oleh suster
Awalnya Bu Mariyam menolak karena ia merasa jika makanan dari rumah sakit itu tidak enak dan ditambah lagi kini dirinya merasakan jika mulutnya terasa pahit namun lama-lama dia akhirnya mau juga setelah aku membujuknya hampir satu jam lamanya
"Terima kasih" ucapnya lirih sembari menyeka caranya bening yang kini meluncur di pipinya
"Sama-sama, Bu" dia pun tersenyum
__ADS_1
"Kenapa kamu menunggu saya di sini, bukankah harusnya kamu bekerja?" lanjutnya
"Saya sudah berhenti dari pekerjaan saya, Bu!"
"Kenapa memangnya, apa gajinya tidak sesuai atau pekerjaannya yang membuatmu tidak nyaman?" aku pun kemudian segera menjelaskan kejadian yang sebenarnya, awalnya dia bingung tapi setelah aku penjelasan lagi akhirnya dia pun mengerti
"Masalah itu tidak akan pernah selesai jika kamu menghindarinya, semakin lama dan jauh kamu menghindar maka masalah itu akan tetap terasa di hati kamu. Selesaikan semuanya baru nanti kamu bisa memilih untuk tetap bekerja di sana atau tidak!" aku menundukkan kepalaku mendenagr nasihat dari Bu Mariyam
"Kedewasaan itu bukan berdasarkan umur tapi hal itu dibentuk dari suatu hal, bagaimana kamu menghadapinya dan juga menyikapinya" paparnya lagi seraya mengusap pucuk kepalaku
Sentuhan hangat dari wanita paruh baya itu membuatku seketika menangis, aku tidak tahu kenapa tapi yang pasti ketika tangan itu mengusap kepalaku, aku jadi teringat Mama. Dia sering melakukan hal itu ketika aku sedang mengalami masalah, suaranya yang pelan serta sorotan matanya yang teduh membuatku merasa seakan aku sudah menemukan jawaban dari setiap persoalanku
"Kenapa menangis?" aku menggeleng
"Mama" hanya itu yang aku ucapkan
"Saya pamit dulu ya, Bu. Nanti saya kembali lagi!" Bu Mariyam menganggim sambil tersenyum dan aku pun segera pergi dari sana
Aku berjalan di lorong rumah sakit itu dengan langkah yang pelan seraya memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh Bu Mariyam, benar juga katanya jika masalah memang harus dihadapi dan bukan dihindari, tapi berbicara memang mudah dan melakoninya yang sulit
Orang lain tidak merasakan apa yang aku rasakan, ditinggalkan dan ditipu oleh orang yang kita percaya dan kita cintai. Sakit, dan bahkan tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata
"Agnes, kamu mau ke mana?" Tanya William saat kita berdua berpapasan di lorong
"Aku ingin pergi sebentar, maaf" aku pun pergi meninggalkan William yang kininmelanjutkan perjalanannya menuju ke ruang perawatan Bu Mariyam
__ADS_1
Aku sendiri kini tengah berada di dalam sebuah taksi online yang akan membawaku entah ke mana sebab sedari tadi aku belum menentukan ke mana aku akan pergi. Aku sendiri masih bimbang dengan perasaanku, apa yang dikatakan oleh Bu Mariyam memang benar adanya tapi aku tidak tahu apakah aku mampu melakukannya
Ponsel pun terus berbunyi, ada banyak pesan yang masuk dan juga panggilan hang sedari tadi terus berulang. Aku hanya melihatnya dan tidak berniat untuk membalas atau pun mengangkatnya
Di tempat berbeda
Mbak Sumi dan Pak Smqin kini tengah bersembunyi di sebuah rumah kosong, mereka terus menghindar dan bersembunyi dari kejaran para mata-mata 6ang dikirimkan eh Alexa
Mereka yang awalnya hanya bersembunyi kini menampakkan diri mereka dan berusaha kembali membawa Mbak Sumi dan Pak Samin sesuai arahan Alexa
"Kita berpencar, kamu ke arah sana dan kamu ke arah sana!" tegas seorang lelaki berbadan tinggi itu pada dua temannya yang memiliki badan hampir sama dengannya
Mereka berdua mengangguk dan kemudian berpengaruh ke arah yang sudah ditunjukkan, dan si pembagi tugas itu kini tengah mencari mangsanya tepat di samping rumah yang digunakan oleh Mbak Sumi dan Pak Samin bersembunyi
Suara barang-barang yang dilemparkan, Pintu yang didirikan paksa dan juga umpatan dari laki-laki itu terdengar jelas di telinga mereka berdua
"Jangan menimbulkan suara, dia qda di dekat kita" bisik Mbak Sumi di telinga Pak Samin dan dia pun mengangguk
Laki-laki itu kini berganti ke sebuah rumah yang ditempati oleh Mbak Sumi, ia terus mengobrak-abrik tempat itu hingga kini bak kapal pecah yang terhantam ombak dan batu karang, Mbak Sumi dan juga Pak Samin yang kala itu bersembunyi di balik tumpukan sampah dan juga plastik bekas kini semakin tak bisa ditemukan sebab sang pemangsa tidak sekali pun menyentuh titik itu
Ia mengira jika itu hanya tumpukan sampah biasa dan terlebih lagi tumpukan sampah itu mengeluarkan bau yang sangat tidak bisa ditoleransi oleh hidung siapa pun yang menciumnya
"Sial!" umpatnya sekali lagi dan dia pun kemudian pergi menjauh, dari sela-sela tumpukan sampah itu Mbak Sumi mencoba memastikan apakah keadaan sudah aman atau belum dan akan segera kembali kabur
Setelah dirasa aman, ia pun kemudian memberi aba-aba Pak Samin untuk segera beranjak dari sana. Tanpa menimbulkan suara, keduanya pun ke luar dari tumpukan sampah itu dan segera berjalan berjinjit untuk ke luar dari sana, kini keduanya tengah berlindung di balik pintu berkarat yang sudah hampir tumbang itu, ia sekali lagi mengamati keadaan sekitar dan memastikan keamanan
__ADS_1
"Kita pergi sekarang" ucapnya sembari memegang erat tangan Pak Samin