
"Kita pergi sekarang" ucapnya sembari memegang erat tangan Pak Samin
Mereka berdua kemudian berlari sekuat tenaga mereka, menghindari para pemburu yang kini masih berada di sekitarnya. Namun, nasib naas menimpa keduanya, tanpa sengaja pak Samin menabrak tumpukan kaleng dan menimbulkan suara yang mengejutkan
"Itu di sana, ayo kejar mereka!" salah seorang dari orang suruhan Alexa melihat kejadian itu dan dengan segera langsung menyerbu keduanya yang kini berlari ke arah jalan raya yang lokasinya tidak begitu jauh dari sana
Sekuat tenaga keduanya terus berlari setelah Pak Samin terjatuh dan menabrak tumpukan kaleng, kaki Pak Samin yang cedera dan kini mengeluarkan darah itu pun harus ia paksa agar ia segera terbebas dari apa yang selama ini megejarnya
"Kamu lari sendiri, biarkan Pak Lek di sini. Pak Lek s7dah tidak sanggup" Pak Samin terlihat lemas dan juga penuh keringat
"Tidak, kita harus segera pergi, jangan menyerah Pak Lek" Mbak Sumi terus menggenggam erat tangan Pak Samin
"Tapi Pak Lek sudah tidak sanggup"
"Jangan menyerah, Pak Lek. Lihat sebentar lagi.oitq sampai di jalan raya dan kita bisa meminta tolong seseorang" Tunjuk Mbak Sumi pada sebuah jalan yang memang sudah terlihat
Dengan sisa tenaga ia pun akhirnya kembali berlari, meski pun sesekali ia melihat ke belakang dan terus mengamati 3 orang laki-laki yang juga tak kenal lelah terus mengejarnya
"Ayo kejar mereka!" seru salah satu dari mereka terdengar jelas di telinga Pak Samin dan juga Mbak Sumi
Lima menit kemudian, keduanya sudah sampai di jalan raya. Mereka sempat beristirahat selama beberapa detik dan kemudian melanjutkan aktivitas mereka kembali
Kini keduanya tengah berlarian di tengah jalan, menghalangi laju kendaraan yang kala itu tengah berlalu-lalang. Banyak klakson kendaraan bermotor iti terus berbunyi dan menggema di telinga keduanya tapi keduanya tidak mampu melakukan apa pun selain meminta maaf dan kembali berlari
__ADS_1
Hingga pada akhirnya, nasib sial kembali menghampiri mereka berdua. Mereka yang tengah berlari sambil terus bergandengan tangan tidak memperhatikan laju kendaraan yang berlawanan arah hingga keduanya pun tertabrak dan kini tergeletak tak berdaya
Ketiga lelaki yang sedari tadi mengejarnya kini terpaksa berhenti dna tak mau mendekat dikarenakan mereka bertiga tidak ingin dianggap sebagai penyebab kecelakaan ini terjadi, dengan segera ketiganya pun segera berbalik dan menjauh
Banyak dari kendaraan tayang tengah berjalan kemudian menghentikan aktivitasnya mereka dan segera berkerumun di dekat Pak Samin dan Mbak Sumi yang kini tergeletak bersimbah darah
Aku yang kala itu tengah melintas di tempat itu meminta Sopir taksi yang aku tumpangi untuk berhenti dan melihat apa yang sebenarnya terjadi
"Sepertinya terjadi kecelakaan, Nona" ucapnya setelah berhenti dan melongok dari jendela yang ia buka
"Apa Nona akan melihatnya?" lanjutnya
"Iya, Pak. Mohon tunggu sebentar" aku pun turun dari taksi itu dan mendekat ke arah kerumunan itu, menerobos di antara orang-orang yang berkerumun sambil terus bertanya satu sama lain apakah mereka mengenal korban atau tidak
"Apakah mereka orang tua dan anak?" Tanya salah seorang di sana
Sementara itu, aku yang kini sudah bisa menerobos pun akhirnya bisa melihat korban yang sampai saat ini tidak juga ditolong dan malah jadi bahan tontonan itu
Aku tidak bisa mengenali wajah mereka berdua karena sudah berlumuran darah dan posisi mereka tengkurap, tapi setelah beberapa saat aku amati, sepertinya aku mengenal salah seorang di antaranya
Kudekatkan tubuhku dan berjongkok di antara keduanya, kelihat wajah wanita itu dan betapa terkejutnya aku setelah aku menyadari bahwa yang ada di depanku itu adalah Mbak Sumi. Air mataku tiba-tiba lolos saat melihat wajahnya yang kini terlihat pucat dan juga bersimbah darah, aku yang sempat terluka karenanya kini mengabaikan hal itu dan aku pun kembali mengingat jika hanya dirinya yang selalu menemani kesendirianku saat masih bekerja di rumahku
"Ya Allah, Mbak Sumi. Tolong angkat mereka berdua dan bawa masuk ke dalam taksi yang ada di sebelah sana!" tanpa pikir panjang aku pun meminta orang-orang membantuku untuk mengangkat keduanya. Mereka semua segera membopong tubuh Mbak Sumi dan juga seorang lelaki yang kini bersamanya, dan aku pun segera berlari ke arah taksi yang tadi aku tumpangi sedangkan yang lainnya mencekal dan menghadang sebuah mobil yang tadi tidak sengaja menabrak keduanya saat melarikan diri
__ADS_1
Keduanya sudah ada di dalam taksi, setelah aku mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang sudah membantuku akhirnya kami pun melaju ke rumah sakit terdekat
Beberapa saat kemudian kami pun sudah sampai di sebuah rumah sakit, rumah sakit yang di mana Bu Mariyam dirawat. Aku sengaja memilih tempat itu karena lokasinya yang tidak jauh dari tempat kejadian
...**************...
Plak
plak
Plak
Tiga laki-laki itu kini tengah menerima tamparan dari sang bos. Alexa yang tampak murka tidak lagi bisa mengendalikan amarahnya, bukan hanya tamparan, ia juga telah melayangkan boleh mentahnya ke perut tiga lelaki itu. Mereka bertiga tidak biaa membalasnya meskipun mereka mampu
Alexa yang kala itu berada di restoran segera meluncur ke sebuah rumah yang sanagt besar, rumah pribadi Alex ayang ia beli dengan hasil jerih payahnya selama ini. Ia begitu murka ketika mendapatkan kabar bahwa tugas yang ia berikan tidak berhasil dan kini orang-orang yang ia buru tengah mengalami tragedi
"Kalian terlalu lemah, mengejar seorang perempuan dan laki-laki tua saja kalian tidak bisa!" bentak Alexa kemudian tapi ketiga laki-laki itu tidak menyahut dan masih terus menundukkan kepalanya
"Cari mereka sampai dapat dan bawa mereka ke hadapanku hidup atau mati. Jika kalian gagal maka kalian yang akan menggantikan mereka!" titah Alexa lagi. Merwka bertiga hanya bisa menelan ludah mereka dengan kasar saat mendengar konsekuensi apa yang akan mereka terima nanti
Ketiganya kemudian berjalan ke arah pintu rumah besar itu tanpa sepatah kata pun, dan melajukan mobilnya untuk kembali mencari mangsanya
Selepas kepergian ketiganya, ia kembali menyalurkan amarahnya yang sudah sampai di ubun-ubun. Amarah yang sejak tadi ia tahan akhirnya kini pecah dan menemukan pelampiasan
__ADS_1
Ia mulai membanting semua barang-barang yang berada di ruangan itu, mulai dari memecahkan vas bunga, guci-guci mahal yang berjajar hingga kemudian pada sebuah meja kaca yang meghiasi ruang tamu rumah mewah itu
"Kita akan lihat, Prima. Jika aku tidak bisa memilikimu maka orang lain juga tidak!" teriaknya sambil terus menghancurkan seisi ruang tamu itu