
"Ayo pulang!" William mengajakku pergi dari sana, geledek sudah menyambar dan sebentar lagi dipastikan akan turun hujan
"Aku ganti baju dulu" kataku seraya masuk ke dalam kamar mandi yang berada di tempat itu. Tak butuh waktu lama, aku kini sudah berganti dengan kaos dan celana panjang. Aku tidak sempat menghapus riasan. Sementara Willy, ia juga sudah berganti baju
"Terus ini semua gimana?" kutunjuk sekeliling ruangan yang masih penuh dengan sisa-sisa pemotretan
"Biarkan saja, besok mereka akan datang lagi dan membereskan semuanya" aku mengangguk lalu turun ke lantai satu, mengunci pintunya rapat dan masuk ke dalam mobil
Sepanjang perjalanan kami tidak saling berbicara, asyik dengan pikiran dan imajinasi masing-masing. Canggung tentu pasti terlebih jika mengingat apa yang hampir saja terjadi pasti detak jantung kembali berlomba dan tak karuan
"Mas"
"Sayang" ucap kami bersamaan, ini qdalah kata-kata yang kami ucapkan sejak masuk ke dalam mobil dan melaju pulang. Aku dan Willy sama-sama tertawa mendapati diri kami yang canggung
"Ladies first!" aku menggeleng
"Mas Willy aja yang ngomong duluan"
"Maaf ya, Nes. Mas tidak bermaksud melakukannya tadi" ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari tersenyum
"Enggak apa-apa, Mas. Bukan salah Mas Willy kok, tadi aku juga salah" aku menunduk malu saat mengingat kejadian tadi. Hening, kita berdua tak lagi berbicara, tidak juga mengalihkan pembicaraan
William juga sama, apa yang ia rasakan juga sama dengan yang aku rasakan hanya saja ia mampu menutupinya dengan diam. Berbeda denganku, yang sejak tadi masih berdebat dan juga berkeringat. Kulihat keluar kaca mobil William, geledek yang sedari tadi terus menggelegar tak lagi kudengar. Pertanda akan turun hujan pun kini hilang malah berganti suasana sejuk meski kemacetan masih saja mengular
Mungkin saja tadi itu bukan mau hujan namun peringatan dari Tuhan bahwa hal yang tadi aku lakukan itu tidak benar, dalam batin terus saja mengucap syukur saat mengingat hal itu tidak berubah menjadi hal yang lebih
Kami sudah sampai di rumah, tanpa banyak kata aku segera turun. William mengekor di belakangku, masih diam tanpa suara apa pun. Ia mengikutiku masuk sembari membawa beberapa paper bag yang berisi barang-barang untuk ijab qabul nanti. Memang, hari ini kami tidak hanya melakukan pemotretan tapi juga berbelanja berbagai kebutuhan lainnya
Rumah sepi, Ayah yang kali ini pergi ke luar kota dan baru pulang besok. Sedangkan Bibi, ia sudah terlelap sebab ini sudah pukul sepuluh malam
"Semua ini harus aku letakkan di mana?" aku baru tersadar jika diikuti William, aku menoleh dan melihat tangannya yang penuh dengan belanjaan milikku
"Sini biar aku yang bawa, Mas" aku mengambil satu per satu barang yang ia bawa namun tanganku hanya dua dan hanya mampu membawa beberapa. Aku kesusahan, William tahu itu
"Kamu bawa sebagian saja!" aku mengangguk sembari membawa beberapa paper bag itu ke arah kamarku. William masih setia di belakangku, mengikutiku ke kamar. Kecanggungan masih saja terasa, kami berjalan dalam diam dan masuk ke kamar dalam diam juga
__ADS_1
"Letakkan saja di sini, Mas" aku meletakkan barang yang kubawa di atas ranjangku, pun dengan William ia melakukan hal yang sama. Setelahnya kami diam, tidak tahu harus berucap apalagi, William yang kini berdiri di dekat pintu hanya menatapku dalam diam, aku juga yang kini berada di dekat ranjangku hanya diam sembari menunduk
"Mas"
"Nes"
Sekali lagi kami bersamaan ingin berbicara, dia memintaku kembali untuk berbicara terlebih dahulu
"Terima kasih untuk hari ini, Mas" aku mencoba mencairkan suasana yang sedikit membeku
"Sama-sama, sayang. Sekali lagi aku minta maaf untuk yng tadi"
"Iya aku juga, sudah jangan dibahas lagi" aku berjalan mendekat ke arah William
"Oh iya, kata pemilik butik, beliau akan mengirimkan baju yang kita pesan besok jadi kita tidak perlu pergi ke sana mengambilnya, besok dia tutup"
"Memangnya dia mau ke mana?" aku menggeleng, aku juga tidak menjelaskan ke mana ia akan pergi besok
"Jika begitu besok aku akan datang kemari setelah baju pengantin kita datang" Mendengar kata "baju pengantin kita" membuatku kembali berdebar. Perasaan bahagia tak lagi terbendung dan semakin meluap
...*************...
Pagi menjelang, membawa semangat baru dan juga harapan baru. Pernikahanku dengan William tinggal menghitung hari, bahagia dan tidak pernah aku menyangkanya. Terakhir sejak kami berpisah, aku merasa kemungkinan untuk bersama dengannya hanya satu persen namun takdir berkata lain, ia malah mendekatkan kami berdua dan menjadikan kami berdua kembali bersama
Kini aku tengah duduk di taman belakang, tidak ada kegiatan apa pun. Pergi bekerja sudah tidak diperbolehkan, sebab kata Ayah calon pengantin harus dipingit sebelum ia melangsungkan ijab qabul
Aku menatap setiap tangkai mawar yang kini kembali mekar, teringat kembali cerita di antara mereka. Jatuh cinta, pertemanan, pengkhianatan, perpisahan dan bahkan kembali bersama seolah mereka saksikan dengan langsung. Jika saja mereka bisa bercerita pasti mereka akan mengoceh oanjang lebar akan jalan hidup yang sampai kini aku lalui
Aku berdiri dan berjalan mengelilingi taman kecil yang kini begitu semerbak, memang taman ini tidak sebesar dan sebanyak dulu bunganya, kini taman ini hanya tersisa beberapa pot bunga mawar dengan berbagai warna serta beberapa tanaman milik Ayah yang sengaja dipindahkan ke sini
"Selamat pagi, sayang!" teriak seseorang dari arah pintu. Aku mengenali suaranya dan benar saja jika itu adalah mama. Kusudahi aktivitasku lalu berlari ke arahnya
"Mama!" teriakku sembari mendekat ke arahnya. Wanita itu tampak tersenyum melihat tingkahku
"Mama sudah lama?"
__ADS_1
"Belum, sayang. Mama baru sampai dan kata Bibi kamu ada di sini makannya Mama menyusulmu" kami berdua mengobrol seraya berjalan masuk ke dalam rumah
"Aku bosan, Ma. Tidak tahu harus berbuat apa, terlebih lagi Ayah melarangku pergi bekerja"
"Calon pengantin harus diam di rumah, enggak boleh ke mana-mana" imbuh Mama
Kami sudah sampai di ruang tamu, ada pemandangan lain di sana. Ayah yang entah sejak kapan ia datang tengah berbincang sembari tertawa dengan suami baru mama dan juga William. Sekali lagi aku pastikan apa yang aku lihat dan ternyata itu benar. Mama tahu apa yang aku lihat, ia yang sejak tadi berjalan disampingku kemudian menatapku yang kini terdiam setelah melihat semuanya
"Ayo, sayang!" ajak mama untuk kembali berjalan ke arah mereka. Aku mengikutinya dengan ragu kemudian duduk di samping Ayah
"Ayah sudah pulang?" tanyaku pada pria luar biasa itu, ia yang dulu tersakiti oleh wanitanya kini mampu tersenyum dengan lebar dan menerima semuanya seolah tak terjadi apa pun. Luar biasa hebat
"Ayah baru saja sampai bersamaan dengan Mamamu, Tuan Defrico, dan William" Aku melihat ke arah tuan Defrico, ia tersenyum ke arahku, senyumnya tampak tulus dan aku membalasnya
"Maaf, Agnes jika kedatangan Om membuatmu terkejut" ia memulai pembicaraan, awalnya ia berbincang dengan William namun kini mengalihkan ucapnya dan menatapku
"Kedatangan Om kemari adalah untuk bersilaturahmi. Tidak etis memang namun kali ini Om memberanikan diri untuk datang sebab Ayahmu sudah sering meminta Om datang dan tidak tidak menyanggupinya" kini beralih aku menatap Ayah, kucari penjelasan di sana
Laki-laki hebat ini kemudian tersenyum dan meraih tanganku, di genggamnya erat jemariku yang kini terasa dingin karena jujur saja dalam hati pasti tidak karuan rasanya melihat situasi yang aneh ini
"Benar, Nes. Memang Ayah yang meminta Om Defrico kemari. Ayah tidak punya maksud apa-apa, yang Ayah ingin lakukan hanya membuat kita semua tetap bersilaturahmi dengan baik, Ayah dan mamamu saling mengenal dengan baik dan tidak akan baik rasanya jika karena sebuah perceraian yang kita berdua alami membuat kita memutuskan silaturahmi terlebih lagi kami memilikimu. Orang tua dan anak itu tidak ada bekasnya, seburuk apa pun mereka, ikatan darah di antara kalian tidak akan pernah bisa hilang" jelasnya kemudian
"Anggap Om Defrico seperti keluargamu sendiri sebab di antara mamamu dan Om Defrico ada Samuel yang lebih tua dari kamu. Dia kakakmu meski berbeda ayah"
Kupeluk laki-laki kuat dan hebat itu, tidak pernah aku menyangka jika hatinya seluas samudra, jika maafnya tak terbatas, jika perasaannya setulus ini. Entah hatinya terbuat dari apa, sampai-sampai ia masih bisa melakukan ini semua
Aku putuskan untuk sepaham dengan Ayah, sesakit apa pun kita tidak akan pernah ada gunanya jika kita membalasnya. Kita merasa mereka jahat pada kita tapi jika kita membalasnya, itu juga akan membuat kita sama dengan mereka, kita tidak ada bedanya dengan mereka. Kusampaikan maafkan pada Om Defrico dan mama, sebab selama ini aku bersikap kurang baik pada mereka, mereka memahaminya dan memintaku untuk tidak lagi membahasnya. Mereka berharap kita semua bisa bersilaturahmi dengan baik ke depannya. Akan aku coba, bertahap dan sedikit demi sedikit
"Om harap kamu juga bisa menerima Sam, anggap dia saudara kandungmu sendiri. Memang terdengar aneh dan memalukan Om meminta itu semua darimu, tapi harapan Om adalah kalian tetap rukun sebab kalian saudara" imbuh Om Defrico
"Maafkan mama dan Ayah yang tidak bisa memberimu keluarga yang sempurna, tapi mama harap kamu dan William nantinya akan menjadi orang tua yang sempurna untuk anak-anak kalian kelak" Mama terlihat mengusap air mata yang kini mengenang di sudut netranya
"Oh ya, Nes. Ini ada titipan dari Ane buat kamu, ia meminta maaf karena tidak bisa hadir di pernikahanmu pekan ini. Ibunya tengah sakit" keterima hadiah dari pemilik butik itu, ia tidak hanya mengirimkan baju pengantin yang kupesan namun juga beberapa hadiah yang membuatku merasa tersanjung
"Terima kasih, Ma"
__ADS_1