
Ponsel William berdering, nomor Andreas tertera di sana. Samar-samar William mendengar dering ponselnya, ia masih dalam keadaan yang setengah tertidur. Dengan rasa malas ia mengucek matanya dan tangannya pun mencari di mana sumber suara itu
"Iya" dengan suara khas orang bangun tidur ia mulai duduk di ranjang apartemennya dan menjawab panggilan itu
"Atur saja bagaimana baiknya, aku tinggal terima beres" panggilan itu terputus dan William kembali merebahkan dirinya namun tak kembali tidur. Sejak semalam, sepulangnya dari rumah Aira dan mendengar jika kemarin adalah ulang tahunku ia tidak enak tidur, semalam penuh ia berjaga dan baru bisa memejamkan matanya selepas subuh tadi. Sejak itu pula pikirannya terus menerawang ke masa di mana ia bersamaku, ingin seklai rasanya ia menghubungiku namun ia tidak mungkin membongkar semua sandiwara yang sudah berjalan sejauh ini. Ia pun memutuskan untuk pergi mandi dan menyegarkan tubuh dan matanya yang terasa berat
...*********************...
"Willy" ucapku lirih antara sadar dan tidak, kubuka mataku dan kulihat sekeliling. Aku berada di tempat yang tidak aku tahu, kurasakan berbeda di pergelangan tangaku dan ternyata selang infus tertancap di sana dan juga di keningku terdapat sebuah perban yang agak panjang dan saat aku memegangnya aku merasakan nyeri di sana, kudengar derap langkah mendekat dan tampak Ayah sudah duduk di sampingku
" Putri ayah sudah sadar" wajahnya tampak bahagia dengan senyum yang mengembang
Aku mencoba duduk dengan memegangi kepalaku yang sedikit pusing, "Akh, kenapa aku berada di sini, Yah?" Ayah kemudian menceritakan semuanya, bagaimana aku berakhir di tempat ini. Kuingat kembali apa yang terjadi semalam setelah ke luar dari rumah Aira aku melajukan mobilku dan melihat sorot lampu yang begitu terang namun setelahnya entah apa yang terjadi dan kini aku berada di sini
"Ayah akan panggilkan dokter sebentar" tak berselang lama Ayah datang bersama dengan seorang dokter yang usianya hampir sama dengan dirinya, dia memeriksa kondisiku dengan seksama
"Putri anda baik-baik saja, Pak. Tapi dia perlu beristirahat guna menghilangkan pusing yang pasti ia rasakan dan juga beberapa luka yang ada di tubuhnya" Ayah mengangguk dan Dokter itu menyudahi kegiatannya
"Apa kamu mengebut semalam?" aku mengangguk
"Aku tidak tahu dari mana keberanian itu aku dapat, tapi jujur Ayah, aku merasakan sakit dan juga kecewa dengan apa yang aku saksikan semalam, aku mencoba kuat tapi ternyata aku tidak mampu. Ini salahku ayah" aku mulai menangis di pelukan Ayah
"Apa kamu masih mencintainya?" aku mengangguk
"Katakan saja, meski sekarang bukan waktu yang tepat tapi setidaknya kamu tidak merasa ada yang mengganjal di hatimu"
"Apa itu tidak terlalu agresif, Ayah. Aku takut jika nanti akan berakibat kurang baik sebab Willy sudah bertunangan semalam"
Ayah tersenyum, "Ajak William dan calon istrinya bertemu, katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Sebagai sesama wanita mungkin dia akan paham" saran Ayah
"Aku tidak berani, Ayah. Aku takut jika ....."
"Memikirkan sesuatu dengan matang itu bagus, tapi jika kamu terlalu lama berpikir maka itu semua seolah kamu mengulur waktu dan akhirnya penyesalan yang akan kamu dapat"
"Apa Ayah mau membantuku?" Ayah mengangguk sekali lagi
"Apa yang bisa Ayah lakukan untuk Putri cantik Ayah ini?"
"Hubungi Willy dan kita atur pertemuannya nanti saat agnes sudah sembuh, apa Ayah mau?"
"Dengan senang hati, sayang" Ayah melepaskan pelukanku, ia tersenyum lebar kala itu dan mengatakan jika akan membantuku melakukan apa pun
...****************...
Kini William, Andreas dan juga istrinya tengah berada di depan rumahku. Mereka berada di dalam mobil dan sedang merencanakan sesuatu, setelah semuanya disepakati akhirnya Bu Sofia turun dan menemui pak Satpam
"Selamat sore, Pak" sapa bu Sofia
__ADS_1
"Selamat sore, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan bu Agnes, ada?"
"Mohon maaf, Nyonya. Bu Agnes sedang tidak ada di rumah, dia sedang dirawat di rumah sakit"
Mendengar penjelasan pak Satpam, Bu Sofia terkejut sebab selama beberapa hari ini dia tidak mendapatkan kabar apa pun mengenai keadaanku. "Bu Agnes kenapa, Pak?" lanjutnya
"Bu Agnes mengalami kecelakaan setelah pulang dari acara pertunangan karyawannya" jelas pak Satpam sekali lagi
"Lalu keadaannya sekarang bagaimana, Pak?" bu Sofia menggali informasi lebih dalam lagi
"Soal itu saya belum tahu, Nyonya. Sebab pak kuncoro sampai saat ini belum pulang, dia hanya memberi kabar pada saya kemarin katanya Non Agnes baik-baik saja"
"Kalau boleh tahu di rumah sakit mana bu Agnes dirawat ya?" pak Satpam kemudian memberikan alamat rumah sakit di mana aku dirawat selepasnya bu Sofia kembali ke mobil dan ingin memberitahukan hal ini pada William. Kado yang sebelumnya ingin ia berikan padaku akhirnya ia bawa kembali ke mobil
"Kok di bawa lagi?" tanya Andreas saat istrinya masuk ke mobil dan masih membawa kado itu
"Agnes tidak ada di rumah, dia mengalami kecelakaan dan sekarang dirawat di rumah sakit"
"Kecelakaan?" seru William dan Andreas pun memasang wajah terkejut. Bu Sofia kemudian menjelaskan bagaimana aku mengalami kecelakaan sama seperti yang diceritakan oleh pak Satpam
"Ayo kita ke rumah sakit, Ndre!" ajak William dengan segera, ia merasa tak karuan dan kini rasa bersalah menyelimutinya, ia takut hal buruk terjadi padaku secara selama ini ia sudah bersandiwara dan membuatku mengalami hal ini
Andreas pun melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit, selama itu juga William tidak berhenti berbicara dan terus meminta Andreas melajukan mobilnya agar cepat sampai di rumah sakit
"Mana bisa tenang, Sofia. Aku melakukan sandiwara itu untuk membuatnya mengaku jika dirinya memang masih menyukaiku tapi kenyataannya aku malah membuatnya kesakitan seperti sekarang"
"Lalu kamu mau apa sekarang, membongkar semuanya begitu saja. Kamu hanya akan terlihat bodoh, Will. Kamu berencana menjebaknya tapi kamu sendiri yang terjebak" sambung Andreas sembari mengarahkan kemudinya
William sejenak berpikir, benar kata Andreas tapi dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia juga masih mencintaiku dan tidak ingin berpisah sedikit pun
"Terus aku harus gimana?" William kini lebih tenang
"Kita lihat dulu bagaimana keadaannya, jika memang ia baik-baik saja maka kita bisa lanjutkan rencana tapi jika keadaannya buruk kita bongkar saja sandiwaramu itu" Plak, kepala Andreas kena pukulan tangan William, Andreas pun kaget dan mobilnya agak oleng sebentar tapi ia langsung menguasainya kembali. Sofia terkejut dan berpegang erat pada suaminya
"Kamu menyumpahinya, Ndre!" teriak William
"Elo mau kita semua mati, Will?" lanjut Andreas mengusap bekas pukulan itu
"Ngomong yang bener dong!" William masih nyolot
"Iya, sorry"
"Kalian bisa enggak sih enggak berantem terus, malu sama umur napa?" Sofia memarahi keduanya yang bertingkah seperti anak kecil. Yang dimarahi pun seketika diam
Mobil mereka kini sudah sampai di rumah sakit dan kini sudah terparkir. Ketiganya turun dan berjalan ke ruangan di mana aku di rawat
__ADS_1
"Gimana udah dibales belum?" Andreas memerhatikan William yang sedang mengirimkan pesan pada seseorang
"Udah, kita jalan terus" jelas William kala pesan yang ia kirim pada Ayah sudah dibalas
"Kalian pergi ke kamar 208, gue mau ketemu sama calon mertua dulu" Andreas dan Sofia mengangguk, William kemudian menuju ke arah lain dan menemui Ayah
Andreas dan istrinya sudah berada di depan kamarku, setelah memastikan apakah benar akunyang berada di dalam pada suster yang lewat kala itu, mereka kemudian masuk
"Pak Andreas, Bu Sofia" ucapku kala mereka berdua masuk ke dalam ruang rawatku
"Agnes" bu Sofia menghambur ke arahku sedangkan Pak Andreas langsung duduk di sofa tidak jauh dari kami berdua
"Bagaimana keadaanmu?"
"Alhamdulillah Agnes baik-baik saja, hanya lecet-lecet sedikit" aku menunjukkan beberapa luka ringan yang kini ada di tubuhku
"Kok Bu Sofia tahu saya di sini?"
"Tadi saya ke rumah kamu niatnya mau main, tapi kata pak Satpam kamu ada di sini. Oh ya, ini ada hadiah buat kamu" aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih atas hadiah dan juga kedatangannya, kami pun berbincang cukup lama dan biasa lah jika wanita sudah berkumpul pasti tidak akan pernah putus topik pembicaraannya
Di tempat lain, tepatnya di sebuah tempat makan yang berada di rumah sakit itu. William dan Ayah tengah berbicara serius, keduanya tengah berdiskusi hal apa yang akan dilakukan selanjutnya mengingat diriku baik-baik saja
"Apa kamu yakin akan melakukan semuanya setelah mendengarkan ini" Ayah menyodorkan ponselnya dan kemudian memutar rekaman pembicaraanku dengannya tadi pagi
Rekaman yang berisi pengakuanku dan juga permintaan pada Ayah tentang William. Yang dibicarakan pun senyum-senyum sendiri dan salah tingkah, ia tidak mengira jika aku memang masih sangat menyukainya. Sifat jahilnya kembali keluar dan ia pun kemudian mulai membuat sebuah rencana baru
"Bagaimana, Om?" William membisikkan rencana itu pada Ayah tapi Ayah menolaknya
"Om tidak mau terlibat lagi, kasihan Putri om yang harus menangis di hari ulang tahunnya. Kalau memang kamu mencintainya, coba bicarakan baik-baik bawa juga semua orang yang terlibat dalam sandiwara ini" jawab Ayah dengan santai tapi tegas, William merasa tak enak hati dan ia pun berencana menyudahi sandiwaranya
"Baik, om. Beri Willy waktu dua atau tiga hari lagi dan Willy akan memperbaiki semuanya"
"Om akan bantu kamu bertemu Agnes tapi selebihnya kamu selesaikan sendiri" William mengangguk antusias
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Apa semua akan berjalan lancar, apa Agnes akan menerima jika dirinya hanya dibohongi oleh William?