HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 87. Kerja bagus, Albert


__ADS_3

"Lakukan tugasmu dengan baik jika ingin anak perempuanmu selamat!" ancaman laki-laki itu benar-benar membuat dokter Hafiz ketakutan, ia tidak mau kehilangan putrinya dan juga keluarganya. Ia tidak ingin lagi dianggap rendah karena harus kehilangan kekayaan dari keluarga istrinya dan juga tidak ingin kehilangan selingkuhannya yang kini tengah mengandung. Egois dan serakah, itulah yang kini ada pada dirinya


Dokter Hafiz mengangguk sekali lagi, ia lalu beranjak dari duduknyq dan menuju ke sebuah lemari yang kini mengisi sudut ruangan serba putih itu, ia mengambil satu setel baju perawat dan menyerahkannya pada laki-laki yang tadi mengancamnya


"Pakai itu, kamu akan ikut ke sana dan memastikan semuanya aku kerjakan" laki-laki itu menerimanya dan mengenakan pakaian itu, pakaian yang begitu pas di badannya. Ia lalu kembali ke pakaiannya dan mengambil sebuah botol kecil yang berada di saku bajunya


"Ini obatnya" laki-laki itu menyerahkan botol kecil yang isinya cairan berwarna putih, entah apa itu, obat ataukah racun tidak ada yang tahu sebab itu semua adalah pemberian Alexa dan mereka tidak berani bertanya karena uang telah menutup mulut mereka


Obat itu pun kini telah berpindah ke dalam sebuah alat yang akan dipakai dokter Hafiz untuk menyuntik Mbak Sumi


Di dalam kamar Mbak Sumi


Prima dan 2 anak buah William masih berjaga, meski kantuk menyergap mereka tapi mereka tak ingin kalah dan terus melawan


Tengah malam telah tiba, anak buah William sudah berjaga di sekeliling rumah sakit itu, jumlah mereka berpuluh kali lipat banyaknya dari anak buah Alexa


Sedangkan anak buah Alexa yang kini ditugaskan untuk menyamar sebagai seorang petugas kebersihan pun sudah siap dan berada di posisinya, ia berjalan sambil menenteng ember yang berisi air dan juga sebuah pel


Ia memastikan keadaan sekitar apakah aman atau tidak, dan setelah aman, ia pun mulai mengetuk pintu kamar Mbak Sumi


Prima mendengarnya dan sebelum membukanya, ia pun kembali melirik jam tangan miliknya, "Sudah tengah malam, apakah semuanya akan dimulai?" tanyanya pada diri sendiri, ia kemudian melihat ke arah ponselnya dan melihat siapakah yang berada di balik pintu itu


"Petugas kebersihan" ucapnya dan kemudian memberitahukan pada dua temannya jika semuanya sudah di mulai. Keduanya bersiap pada posisinya

__ADS_1


Prima membuka pintu, ia bersikap biasa saja, ia sedikit bersandiwara seolah baru bangun tidur dan kini belum tersadar sepenuhnya


"Siapa?" Tanya Prima saat membuka pintu


"Petugas kebersihan, maaf mengganggu waktunya" jawabnya


"Malam-malam begini membersihkan ruangan?" Prima sengaja mengulur waktu


"Iya, kami membersihkan ruangan 8 jam sekali, Pak" kilahnya dan Prima pun mempersilakannya masuk


Dia pun masuk dan terus berpura-pura membersihkan, dia membuka pintu kamar mandi dan kemudian membersihkan tempat itu. Begitu lama dan membuat Prima penasaran dengan apa yang ia lakukan di sana


Prima pun menyusulnya dan melongok ke dalam tapi tiba-tiba ia mendapatkan sebuah kejutan, ia disemprot oleh petugas itu dengan sebuah cairan, entah apa itu


"Kejar dia, jangan sampai lepas!" pinta Prima pada anak buah William dan keduanya pun ke luar dari ruangan itu mengejar petugas kebersihan


Prima masih dalam kesakitan yang ia rasakan, ia tidak tahu jika saat ini dokter Hafiz sudah berada di sana bersama dengan anak buah Alexa yang satunya. Ia mengeluarkan jarum suntik yang ia simpan di saku bajunya, tangannya gemetar seolah tidak sanggup mengerjakan apa yang diminta


Dari kejauhan, Roy dan juga kedua temannya membagi tugas, dua temannya membantu mengecoh anak buah William dan Roy sendiri kini bertugas untuk menyusul dokter Hafis dan juga temannya itu, ia pun berdiri dan berjalan dengan santai ke arah yang dimaksud


Ia pun kemudian menghubungi William dan kemudian menjelaskan keadaan sekitar, William yang kala itu memang berada tidak jauh dari sana langsung berlari masuk ke dalam ruanga Mbak Sumi dan Roy sendiri kini malah bersembunyi di balik tembok ruangan Mbak Sumi


"Siapa kalian!" teriak William ketika mendapati Dokter Hafiz dan juga temannya tengah berdebat untuk memyuntikkan cairan itu pada infus Mbak Sumi

__ADS_1


Prima terkejut mendengar teriakan William, ia tidak mengerti apa maksudnya, ia masih berada di wastafel kamar mandi untuk menyeka matanya yang masih perih dan juga sakit itu


Mbak Sumi sendiri pun ikut terkejut dan terbangun, ia ikut berteriak dan membuat Dokter Hafiz dan temannya itu menjadi gugup seketika, Prima berjalan sambil meraba dinding dan menuju ke arah Mbak Sumi


Prima mendapatkan Mbak Sumi dan kemudian memeluknya, membawanya pergi beringsut dari ranjang itu


Tanpa mendengar jawaban dari dua laki-laki yang kini tampak gugup itu, William dengan segera menyerang mereka, baku hantam tak terelakkan, William diserang oleh dua orang tapi ia mampu melawannya, pukulan demi pukulan pun mengarahkan pada William tapi ia mampu menghindar dan kini gilirannya memberikan pelajaran pada keduanya dan sedetik kemudian dokter Hafiz pun tersungkur tak berdaya di bawah kaki William sebab ia tak begitu pandai berkelahi


Sedangkan kini ia masih melawan laki-laki berkulit putih yang memakai baju perawat itu, ia agak sulit dikalahkan karena ia pandai berkelahi dan mampu menangkis segala pukulan dari William


Roy pun muncul dan kemudian ia membantu William mengajar orang yang tadinya menjadi kawan satu timnya itu


"Hey, kenapa kamu lakukan ini pada kami. Bukankah kita satu tim?" Protes perawat palsu itu akan Roy yang kini menghadapinya, Roy tidak membalas ucapannya, ia masih terus membantu William mengalahkan laki-laki itu dan sedetikn kemudian ia pun ikut tersungkur. Dengan segera Roy pun mengambil borgol yang ia simpan selama ini dan kini ia pakai untuk memborgol dokter Hafiz dan perawat palsu itu


"Kamu!" Teriak perawat palsu itu sembari menatap tajam pada Roy, ia pun berjongkok dan kemudian mengangkat dagu perawat itu


"Jangan mudah percaya pada orang lain, kita bukan teman tapi lawan" jawabnya


"Kerja bagus, Albert!" William menepuk pundak Albert dan laki-laki itu kembali bingung siapa yang dipanggil Albert, bukankah kemarin namanya adalah Roy


Dengan segera, Albert pun menggeledah keduanya, mengambil ponsel dan juga identitas diri mereka. William sendiri kini telahenghubungi anak buahnya dan meminta mereka untuk membawa dua orang yang kini terborgol


Setelah semuanya disingkirkan, William pun beralih pada Prima yang kini belum bisa melihat sama sekali, Mbak Sumi penasihat merasakan ketakutan karena melihat perkelahian yang menyeramka menurutnya

__ADS_1


"Semua sudah aman, tetap tenang di sini. Roy sedang memanggil dokter"


__ADS_2