HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Siapa Yang Kamu Telepon


__ADS_3

Happy reading.....


"Ya ampun Mbak! Mbak kalau mau mandi itu, ya di kamar mandi. Tapi nggak apa-apa sih, sekalian nyebur. Tapi jangan pas kolamnya begitu dong, Mbak jadinya kayak bebek kali deh?!" ledek Rania berteriak, membuat Freya kesal dan memukul air.


"Diam kamu! Lebih baik sini kamu bantuin aku, daripada ngeledekin terus!" ketus Freya.


Rania malah tertawa mengejek, dia benar-benar puas melihat penderitaan wanita itu. Sementara Maya merasa kasihan, tapi apa yang dilakukan kakek Albert memang sedikit membuat Freya merasa jera. Tapi tetap saja, api dendam malah semakin menyala di hati wanita itu terhadap Maya.


.


.


Malam telah datang, saat ini Maya sedang menyiapkan makan malam bersama dengan pelayan. Walaupun kakek Albert sudah melarangnya, tetapi tetap saja, Maya bersikukuh, karena dia sudah terbiasa melakukan itu.


Carlen baru saja pulang, dan tiba-tiba saja pelayan datang ke arah Maya dan memberitahukan tentang kepulangan suaminya. Kemudian Maya berjalan ke ruang depan, dan mengambil tas kerja serta jas milik Carlen lalu mencium tangan pria itu.


"Tolong buatkan aku kopi ya! Dan langsung bawa ke ruang kerja!" pinta Carlen.


Maya mengangguk, kemudian dia berjalan ke sofa dan menaruh tas serta jas suaminya. Setelah itu Maya beranjak ke dapur untuk membuatkan kopi, dan langsung membawanya ke ruang kerja milik Carlen.


Entah apa yang dialami suaminya hari ini, sehingga wajah pria itu terlihat sangat kusut. Biasanya Carlen akan terlihat bahagia, tapi kali ini dia seperti menyimpan sesuatu yang sangat berat.


"Ini Mas minumnya," ucap Maya saat sudah berada di dalam ruangan tersebut. Lalu menaruh kopinya di atas meja di hadapan Carlen.


Pria itu menganggukkan kepalanya sambil memejamkan mata, dan memijit pelipisnya yang terasa pusing. Maya yang melihat itu pun merasa tak tega.


"Apa mau aku pijitin kepalanya, Mas?" tawar Maya.

__ADS_1


Carlen membuka matanya dan menatap istri pertamanya tersebut, kemudian dia menganggukkan kepala. Carlen pikir, tidak ada salahnya jika Maya memijit kepalanya, karena memang saat ini itulah yang dibutuhkan oleh dia.


Maya yang sudah mendapatkan izin pun mulai memijit kepala Carlen dengan perlahan, dan pria itu hanya memejamkan matanya, menikmati setiap pijitan dari tangan lembut sang istri. Entah kenapa, tangan Maya begitu lembut. Padahal dia sering mengerjakan pekerjaan yang berat.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Carlen tanpa membuka matanya sama sekali.


"Iya Mas, silakan mau bertanya apa?" jawab Maya.


"Kenapa bisa kamu balik ke rumah ini, dan kenapa mama sikapnya berubah drastis sama kamu?" tanya Carlen.


"Oh itu, mama yang memintaku untuk balik ke rumah ini. Kemarin mama menemuiku dan memintaku untuk balik ke sini. Aku sudah menolaknya, tapi mama memaksa," jawab Maya.


Carle.n yang mendengar itu pun hanya diam saja. Dia merasa heran dengan mamanya, kenapa wanita itu bisa berubah drastis sikapnya kepada Maya. Mungkin nanti Carlen akan menanyakannya secara langsung pada mama Gisel.


Carlen meminta Maya untuk menyudahi pijatannya, kepalanya sudah terasa begitu ringan. Setelah itu Carlen pun meminum kopi yang dibawakan oleh Maya, lalu dia beranjak dari duduknya untuk membersihkan diri terlebih dahulu di kamar.


Namun saat kakinya akan menaiki tangga, tiba-tiba saja langkahnya dihentikan oleh kakek Albert, membuat Carlen menatapnya dengan heran.


"Ingat, waktumu tinggal dua bulan lagi! Jika sampai Maya tidak hamil, maka Kakek akan membuat seluruh aset keluarga Dalmiro disumbangkan ke panti asuhan ataupun panti jompo! Dan kamu hanya akan mendapatkan 20% saja!" Setelah itu dia pergi meninggalkan Carlen.


"Lagi-lagi ancaman. Lagi-lagi ancaman." Carlen menghela napasnya dengan kasar, kemudian dia melanjutkan langkahnya menaiki tangga.


Namun saat sampai di lantai atas, dia melihat istrinya sedang menelpon seseorang di balkon. Carlen tidak menghiraukan Freya di sana, tetapi sayup-sayup dia mendengar obrolan wanita itu dengan seseorang di seberang telepon.


"Iya, aku juga merindukanmu, honey," ucap Freya.


Carlen yang mendengar itu merasa heran. 'Dengan siapa Freya menelpon, sampai harus mengatakan rindu?' batin Carlen.

__ADS_1


"Siapa yang kamu rindukan?" tanya Carlen secara tiba-tiba, membuat Freya terlonjak kaget kemudian dia langsung memutuskan telepon tersebut.


"Mas, ka-mu ka-pan pulang?" tanya Freya dengan gugup saat Carlen memergokinya sedang berteleponan dengan seseorang.


"Jawab saja pertanyaanku! Siapa yang kamu rindukan?" tanya Carlen sekali lagi.


"Oh, itu Mas, anu ... dia ... dia temanku di Jerman," jawabnya dengan sedikit tergagap.


Carlen melihat ada kebohongan di mata istrinya, kemudian dia mengambil ponsel yang ada di tangan Freya dengan paksa,.lalu mengecek panggilan tersebut. Dan di sana tertulis nama Jasmine.


"Apaan sih Mas, main rebut-rebut aja, nggak sopan tahu nggak sih! 'Kan aku udah bilang, itu telepon dari teman!" kesal Freya sambil mengambil ponselnya kembali di tangan Carlen.


"Siapa Jasmine? Apa dia temanmu?" tanya Carlen dengan tatapan menyipit.


"Kan aku udah bilang, dia itu temanku. Kamu nggak percayaan banget sih! Emangnya kamu nggak lihat, namanya itu siapa? Jasmine. Udah ah, males aku debat sama kamu!" gerutu Freya kemudian dia masuk ke dalam kamarnya.


Carlen tidak ingin pusing memikirkan itu, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi. Tapi entah kenapa, dia merasa Freya sedang membohongi dirinya. Walaupun dia juga melihat sendiri bahwa di sana tertera nama Jasmine.


'Apa iya yang tadi Freya telepon itu adalah temannya? Tetapi kenapa nada bicaranya begitu lembut dan juga manja, seperti saat dia merayu diriku? Terus kenapa tadi aku dengar dia manggil honey?' batin Carlen memikirkan hal barusan sambil mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower.


Sementara itu Freya mengusap dadanya dengan lega, karena tidak ketahuan oleh suaminnya. Memang di sana tertera nama Jasmine, tapi sebenarnya itu adalah nama Josi. Hanya saja diubah sedikit, agar saat Carlen melihatnya bukan nama seorang pria, tapi wanita.


"Sungguh bodoh mempunyai suami punya kecerdasan yang tinggi, tapi begitu sangat bodoh karena bisa dibohongi oleh istrinya sendiri?" kekeh Freya sambil menatap ke arah pintu kamar mandi.


Dia memang mempunyai selingkuhan bernama Josi, asal dari Australia dan mereka bertemu di Jerman. Tapi tetap saja, ketampanan sangat kalah dari Carlen. Namun dari segi permainan di atas ranjang, Josilah yang paling hebat, dan Carlen tidak ada apa-apanya.


Entah kenapa Freya merasa tidak puas dengan permainan suaminya, saat mereka melakukan hubungan. Karena Carlen terlalu monoton, hanya begitu-begitu saja. Sedangkan Freya paling suka melakukan banyak gaya.

__ADS_1


''Sepertinya aku sangat merindukan permainan Josi? Kapan ya aku bisa bertemu dia lagi? Aku harus mencari cara agar bisa bertemu dan bermain dengan Josi. Rasanya tubuh ini sudah tidak tahan mendapatkan sentuhan darinya," gumam Freya sambil membayangkan permainan panas dirinya dengan selingkuhannya itu.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2