HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 122. See you next time


__ADS_3

"Aku sudah sampai di apartemen, sayang" tulis William dalam pesan whatsapp yang ia kirimkan kepadaku. Aku tidak membalasnya sebab mataku tinggal satu watt dan terasa sangat berat, ia lantas menelponku karena pesan yang ia kirimkan hanya aku baca


"Nes" ucapnya, seketika panggilan terhubung


"Hmm" mataku sudah terpejam


"Ya udah, tidur nyenyak ya" Dia tahu aku sudah hampir tidur, ia mematikan panggilan itu


William lantas keluar dari mobilnya dan menuju apartemen miliknya. Ia terkejut kala mendapati pintu apartemennya terbuka, dengan langkah buru-buru ia melepaskan sepatu yang ia kenakan dan berlari ke dalam


"Apa masa kecilmu kurang bahagia, Will" kata Andreas waktu melihat William berlari ke arah ruang tamu. William merasa lega sekarang, hal buruk yang sempat ia pikirkan beberapa detik yang lalu kini hilang sudah


"Kenapa, Will. Apa kamu pikir ada pencuri yang masuk ke dalam apartemenmu"


"Kalian menakutiku, aku pikir bemar ada pencuri masuk. Kenapa kalian bisa masuk ke sini?"" ia langsung duduk di samping Tomi yang tengah menikmati cemilan dan juga kopi yang ia bawa


"Bukan hal yang sulit untuk kami lakukan" Santai Andreas menanggapinya


"Kalian kan tahu, aku sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Hanya apartemen dan jugo mobil yang aku pakai saat ini hartaku" Andrean dan Tomi tertawa terbahak-bahak


"Kamu masih punya kami, Will. Kami akan ada saat kamu membutuhkan" Tomi menepuk bahu William mencoba menyalurkan semangat padanya


"Benar, Will. Jangan subgkan untuk meminta bantuan pada kami, jangan seperti kemarin-kemarin, saat aku terpuruk dan jatuh kamu malah tidak mengabari kita berdua dan bahkan kamu menolak bantuan dari kami"


"Pada saat itu aku masih bisa bertahan sebisa mungkin untuk tidak merepotkan orang lain, aku tidak mengabari Kalian karena aku sendiri tengah menata semuanya agar tidak menjadi lebih hancur"


"Kami paham, tapi untuk ke depannya jangan pernah ragu lagi untuk menghubungi kami berdua bagaimana pun keadaanmu" William mengangguk


Sungguh, mereka adalah teman yang solid sejak dulu. Siapa pun yang kesusahan pasti akan mereka bantu dengan suka rela. Ya, seharusnya memang sepeti itu lah sebuah pertemanan, kita harus selalu siapa sedia, menampung cerita, menampung masalah dan menyelesaikannya, membantu pikiran, membantu saran dan bahkan jika memang perlu membantu secara materi harusnya bisa kita lakukan demi persahabatan yang kita jalani tapi dengan satu syarat, di dalam pertemanan itu tidak ada yang namanya saling menjatuhkan dan juga saling merugikan


"Besok kalinya berangkat jam berapa?"


"Kalau aku berangkat pagi, tapi entah Tomi jam berapa"


"Kamu berangkat jam berapa, Tom" netra William mengarah pada Tomi


"Entah, mungkin tidak jadi besok. Aku berangkat malam ini saja, nih lihat ibu negara sudah mengomel" Tomi menunjukkan ponselnya pada William dan juga Andreas, pesan yang dikirimkan oleh istrinya benar-benar berisi okelah yang menjenuhkan bagi kaum laki-laki


Andreas dan William bergantian menertawakan Tomi yang kini masih terus memijat benda pipih itu, " Lagian, kamu keenakan di sini dan istrimu kamu biarkan bekerja sendirian. Ajak dong ke mana pun kamu pergi" lanjut Andreas


"Dia yang enggak mau bukan aku" wajah Tomi makin masam


"Gue balik duluan, gue berangkat sekarang. Nanti kalau ibu negara sudah benar-benar marah, bisa-bisa aku harus puasa meski bulan Ramadhan masih jauh" gelak tawa terdengar kembali, Tomi pun meninggalkan kedua sahabatnya


"Ok, see you next time" seru William pada Tomi yang kini sudah berjalan menjauh dari apartemen William

__ADS_1


"Apa Prima sudah tahu jika kalian akan kembali ke luar negeri" Andreas mengangguk


"Aku sudah memberitahukan semuanya siang tadi, dia memang keberatan dan meminta kami untuk menetap saja tapi ya mau bagaimana lagi, masih ada beberapa hal yang harus aku selesaikan. Aku juga sudah memberi tahunya jika ada pengganti Tomi untuk urusan fotografi dan selebihnya aku serahkan pada kalian berdua"


"Akan aku lakukan semuanya sebaik mungkin"


"Aku percaya kalian!" dan setelahnya Andreas pun ikut berpamitan, ia juga ingin beristirahat sebelum besok pagi ia berangkat ke luar negeri


"Kamu berangkat jam berapa besok?"


"Aku berangkat agak pagi, tidak perlu mengantarkan aku. Aku takut kami tidak kuat melepaskanku pergi" Sekali lagi tawa Andreas pecah


"Aku tidak akan menangisimu, kami sudah terlalu tua untuk ditangisi"


...****************...


"Sayang, bangun!" Willy tidak henti mencium wajahku. Ia datang pagi buta dan menerobos masuk ke dalam kamarku. Ia masuk melalui pintu depan yang dibuka oleh ayah yang hendak pergi bersepeda


"Ini jam berapa?" aku terbangun tapi mataku belum terbuka sepenuhnya


"Jam 5, sayang. Ayo cepat bangun, kita harus ke bandara sekarang" ia merapikan rambut yang menutupi wajahku, mengusap lembut pipiku dan kembali menciumku


"Ngapain kita ke bandara, mas. Apa kita ke luar negeri hari ini?" kali ini aku sudah tersadar dan dalam posisi duduk di ranjang


"Oh, tapi aku mandi dulu ya?"


"Enggak usah, cuci muka aja, mandinya nanti kita udah telat!"


"Tapi mas...." William menggeleng


"Tidak ada tapi, ayo cepat cuci muka terus ganti baju kita berangkat!" William tak sabar, ia menarik tangaku dan memintaku untuk segera membersihkan diri


Aku sudah berganti baju dan juga mandi meski beberapa kali William berteriak dan memanggil namaku berulang kali tapi tak aku hiraukan. Aku pun turun ke lantai satu, menemui William yang kini mondar-mandir bak setrikaan baju


"Kenapa mas tidak mengabariku semalam, kan tidak buru-buru begini"


"Aku sudah mengirimkan pesan tapi tidak kamu baca sama sekali" aku kemudian mengambil ponsel yang aku simpan di dalam tas kecil yang kubawa, memang benar di sana ada banyak pesan yang Willy kirimkan padaku


"Maaf" kataku sesaat setelah melihat ponselku


"Enggak papa. Yuk berangkat!"


"Tapi kita belum pamitan sama ayah"


"Udah kok, tadi pas aku datang aku langsung ngomong sama om Kuncoro kalau aku mau ngajak kamu ke bandara"

__ADS_1


"Ya udah kita berangkat" Willy kemudian melajukan mobilnya ke bandara, sepanjang perjalanan ia tak henti memgoceh dan terus menggodaku, perubahan sikapnya kali ini membuatku seolah kembali jatuh cinta pada William, kehangatan dan kepedulian yang ia tunjukkan membuatku kembali merasakan rasanya pacaran layaknya anak muda pada umumnya


Kami sudah tiba di bandara, William segera mengajakku ke tempat di mana Andreas dan kak Sofi berada sekarang


"Itu mereka di sana!" Tunjuk William pada Andreas dan istrinya yang duduk di bangku tunggu penumpang, mereka berdua tampak serasi dengan pakaian yang berwarna sama. Di samping mereka ada dua buah koper besar bawaan mereka, di sekitar mereka hanya ada sedikit aktivitas sebab ini masih sangat pagi dan merupakan penerbangan awal


"Kak Sofi" aku menghambur ke arahnya dan memeluknya, kami lanjut mengobrol dan tidak menghiraukan dua laki-laki itu


"Kok kalian cuma berdua, anak kalian mana?" Tanya William


"Dia udah dijemput omanya dan terbang semalam" jawab Andreas


"Andreas!" teriak seseorang dari jarak yang cukup dekat. Ternyata dia adalah Prima dan Mbak Sumi yang kali ini juga datang untuk menemui Andreas sebelum kembali ke luar negeri


"Maaf kami datang terlambat" kata Prima, Mbak Sumi sendiri kini ikut mengobrol denganku dan juga mengabaikan para laki-laki itu


Tak berselang lama, panggilan terdengar memenuhi bandara yang kini masih tampak sepi sebab ini adalah penerbangan paling pagi hari ini, Andreas dan istrinya segera bergegas mengikuti arahan dari sumber suara


"Kalian baik-baik, ya. Jaga diri kalian" pamit kak Sofi padaku dan juga pada Mbak Sumi


"Iya, Kak. Kakak juga jaga diri dan janga lupa untuk selalu memberikan kabar"


"Pastinya, ya udah see you next time ya?" aku dan Mbak Sumi melambaikan tangan pada Kak Sofi yang kini berjalan digandeng suaminya itu


Setelah Andreas dan istrinya pergi, kini hanya tampak William dan Prima tengah mengobrol serius. Entah apa yang mereka bicarakan tapi dari suasana ini aku merasa sangat bahagia, akhirnya merwka kembali akrab dan kembali saling menerima satu sama lain


.


.


.


.


yeyyyyyy up lagi, mohon maaf jika ada banyak typo dan juga kemarin update bab yang dobel. Terus dukung author dengan memberikan like, vote dan juga hadiahnya


jangan lupa juga untuk baca novel author yang lain ya, ada


* Danisa


* Teman kakakku


* Dendam dan cinta


Terima kasih 🤩🤩🤩🤩🤩

__ADS_1


__ADS_2