
Happy reading......
Mereka memilih baju dan jilbab yang ada di toko muslimah di dalam mall tersebut. Maya memilihkan beberapa gamis juga untuk adik iparnya dengan jilbab senada.
Namun, saat mereka sedang berbelanja, tiba-tiba saja ada seorang pria yang memanggil Maya, membuat kedua wanita itu seketika menoleh ke arah belakang, dan ternyata pria tersebut adalah Felix.
"Maya kamu di sini?" tanya Felix dengan raut wajah kaget sekaligus senang, saat melihat wanita yang selama ini selalu membayang-bayangi pikirannya.
"Tuan Felix, apa kabar?" tanya Maya sambil menangkupkan tangannya di depan dada.
"Alhamdulillah, kabar saya baik. Kabar kamu sendiri gimana? Tidak menyangka ya, kita ketemu di sini?" tanya Felix sambil menatap ke arah Rania yang berada di samping Maya.
Rania menatap Felix dengan kagum, saat melihat ketampanan pria tersebut. Jika bisa diukur, ketampanannya setara dengan Carlen. Namun seketika Rania membuang perasaan itu, bagi dia cowok tampan itu sama saja, tidak ada yang mencintai wanitanya dengan tulus seperti kakaknya.
"Mbak Maya, dia siapa?" tanya Rania pada Maya.
"Oh, ini Tuan Felix. Dia yang dulu menolong Mbak, waktu di Jerman, saat Mbak kehilangan arah pulang. Oh ya, Tuan Felix, kenalkan ini adik ipar saya, namanya Rania. Dan Rania perkenalkan, ini adalah Tuan Felix."
Dua orang itu pun berjabat tangan satu sama lain, kemudian mereka memperkenalkan namanya satu persatu.
"Kamu di sini lagi belanja?" tanya Felix berbasa-basi.
"Tidak Tuan! Kami di sini sedang makan. Sudah tahu lagi belanja, pakai ditanya lagi?" ketus Rania.
Felix yang mendengar jawaban Rania yang begitu ketus pun tersenyum. Selama ini tidak ada wanita yang berani berbicara dengan nada seperti itu kepada dirinya, tapi Felix memaklumi, mungkin saja karena Rania tidak tahu siapa dirinya.
"Ya sudah Mbak, ayo kita lanjutkan belanja dulu. Tuan, kami lanjut belanja dulu ya," ucap Rania sambil tersenyum paksa ke arah Felix, kemudian dia menarik tangan Maya.
Entah kenapa, Rania merasa jika Felix mempunyai perasaan kepada Maya. Melihat dari tatapan pria itu yang begitu menatap Maya dengan dalam, seperti tersirat sebuah perasaan yang sulit diungkapkan.
__ADS_1
Setelah mereka berbelanja, Rania mengajak Maya untuk makan di salah satu restoran yang ada di lantai dua. Dan ternyata di sana mereka bertemu juga dengan Felix, karena pria itu duduk tak jauh dari meja Rania dan juga Maya.
"Boleh aku bergabung di sini?" pinta Felix.
Maya dan Rania melirik satu sama lain, kemudian Maya pun mengangguk. Dia rasa tidak kenapa-napa selagi ada Rania di sana, dan itu membuat Felix senang, karena dia bisa duduk bersama dengan Maya.
'Aduh Mbak Maya kenapa sih, pakai nyuruh dia untuk duduk di sini segala? Lagian nih cowok emangnya belum tahu apa, kalau Mbak Maya Ini udah punya suami? Kayaknya sih memang dia suka sama Mbak Maya?' batin Rania.
Makan siang itu terasa canggung, karena Maya juga tidak terlalu dekat dengan Felix. zditambah Rania juga hanya diam saja. Dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Felix, dan tiba-tiba saja sebuah pesan masuk pada ponsel pria tersebut.
"Sepertinya aku harus pulang lebih dulu, ada urusan yang tidak bisa kau tinggalkan. Senang bisa bertemu dengan kalian. Dan Maya, kamu jaga kesehatan ya," ucap Felix sebelum dia beranjak dari duduknya.
Kemudian pria tersebut meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan salam, dan itu membuat Rania benar-benar kesal. "Cowok zaman sekarang, datang nggak ngucap salam, pulang juga mau ucap salam. Kayak Jelangkung aja!" gerutu Rania sambil meminum jusnya.
Maya terkekeh melihat sikap Rania yang seperti tidak menyukai Felix. Padahal mereka baru satu kali ini bertemu, tapi Rania sepertinya tidak tertarik pada pria tampan tersebut.
"Kamu kenapa sih, dari tadi Mbak perhatiin kayak tidak menyukai Tuan Felix? Padahal dia orang yang baik loh. Lagi pula, dia tidak mengucap salam ya wajar, karena dia bukan muslim," jelas Maya.
Mendengar itu, Maya malah tertawa sampai memegangi perutnya. Dia menggelengkan kepala sambil menatap ke arah Rania.
"Apa yang kamu katakan? Mana Mungkin Tuan Felix menyukai aku? Dia juga mengetahui, jika aku sudah menikah dengan mas Carlen, dan mereka juga sempat bertemu waktu di Jerman," jelas Maya.
"Tapi Mbak, dia itu---"
"Sudah, sudah. Tidak usah dibahas lagi! Lebih baik kita pulang yuk, udah jam 02.00 nih. Dan ingat, jangan terlalu benci sama seseorang, nanti jatuhnya suka loh?" ledek Maya.
Mereka pun menyudahi acara belanjanya, setelah itu keluar dari mall untuk pulang ke rumah..Akan tetapi, sampai di tengah jalan seorang karyawan Maya menelpon, jika dirinya harus pergi ke restoran, karena ada seseorang yang ingin bertemu.
"Siapa Mbak?" tanya Rania.
__ADS_1
"Ah, itu ..." Maya terlihat bingung. Apakah dia harus mengucapkan jika yang menelponnya adalah karyawannya atau tidak. Tetapi Maya juga tidak bisa berbohong kepada Rania.
"Itu kenapa, Mbak?" tanya Rania dengan penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu." Akhirnya Rania pun menyuruh supir untuk mengantarnya ke restoran.
Sesampainya di sana, Rania merasa heran, karena mereka baru saja makan. Tapi Maya malah mengajaknya ke Cafe lagi. Namun saat dia akan bertanya, Maya malah keburu turun. Akhirnya Rania pun hanya mengikuti langkah kakak iparnya tersebut.
Saat mereka sampai di dalam, seorang karyawan menyambut Maya dan juga Rania sambil membungkukkan badannya.
"Orangnya menunggu di sebelah sana Mbak," ucap karyawan itu kepada Maya.
"Terima kasih," jawab Maya. Kemudian dia hendak pergi untuk menemui orang tersebut. Namun tangannya ditahan oleh Rania.
Gadis itu merasa heran, saat melihat karyawan yang ada di cafe tersebut membungkukkan badannya ke arah Maya. Biasanya jika hal itu terjadi, maka orang tersebut mempunyai jabatan yang penting di sana.
"Mbak, kenapa orang tadi membungkukkan badannya ke arah Mbak? Memangnya Mbak di sini mempunyai jabatan apa?" tanya Rania dengan tatapan menyelidik ke arah Maya.
"Nanti Mbak jelasin. Mbak harus nemuin orangnya dulu," jawab Maya.
"Nggak mau! Mbak jelasin dulu sama aku, apa jabatan Mbak di cafe ini? Kenapa mereka seakan hormat sama Mbak?" Rania bertanya karena dia sudah penasaran.
Akhirnya Maya pun menjelaskan, jika cafe tersebut miliknya. Dan dia sudah memilikinya sebelum menikah dengan Carlen. Namun dulu cafe itu masih kecil, belum seramai sekarang.
"Jadi Cafe ini milik Mbak? Wow, amazing! Mbak benar-benar hebat! Aku bangga banget sama Mbak Maya!" seru Rania sambil memeluk tubuh wanita itu.
"Tapi ingat! Ini dirahasiakan dari mas Carlen dan juga mama ya. Sebab Mbak tidak mau mereka mengetahui usaha Mbak. Karena bagi Mbak, mempunyai usaha apapun, tidak akan penting di mata mereka. Jadi lebih baik diam-diam saja," jelas Maya.
Rania mengangkat dua jempolnya ke arah Maya sambil tersenyum, kemudian mereka menemui orang yang sejak tadi menunggu Maya.
__ADS_1
BERSAMBUNG......