
"Setelah ini kalian mau ke mana?" tanya Prima
"Pulang" jawabku santai
"Aku mau mengunjungi Alexa, apa kalian mau ikut juga?"
"Kamu mau?" tanya William padaku
"Boleh" dan kami ber empat pun pergi dari bandara menuju ke tempat di man Alexa berada. Aku dan Willy pergi dengan mobil sementara Prima dan Mbak Sumi pergi dengan motornya. Mbak Sumi memang sudah mencoba memaafkan semua perbuatan Alexa, ia juga sudah mengikhlaskan semuanya dan rencana hari ini adalah usul dari Mbak Sumi
"Mas, kita beli sesuatu buat kak Alexa dulu ya?" William mengangguk dan menepikan mobilnya di sebuah kedai yang menjual berbagai buah dan juga olahannya. Aku putuskan untuk beli pie buah untuk Alexa sebab ia menyukai makanan itu, selepas membayar aku kembali ke mobil William segera menuju ke tempat tujuan. Kami pun sampai di tempat Alexa berada, setelah melapor kami segera dibawa ke tempat di mana Alexa sekarang
"Kita mau ke mana, Mas?"
"Iya, Will. Memangnya Alexa dipindahkan ke mana?" sambung Prima yang juga tidak tahu ke mana kita akan pergi, sebab sedari tadi ia terus berjalan ke arah lain
"Kak Alexa pingsan semalam dan sekarang dirawat di klinik" tergas William sambil terus berjalan dengan langkah cepat, setelah mendengar penjelasan itu kami seketika diam dan mempercepat laju langkah kami
"Di sini, Pak!" kami berhenti tepat di sebuah pintu klinik yang ditunjukkan oleh orang yang membimbing kami sejak tadi
"Saya tinggal dulu, waktu besuk kalian hanya satu jam" kami mengangguk
Pintu dibuka oleh William, tampak di sana Alexa masih berbaring dengan selang infus tertancap di tangannya di dalam ruangan sempit itu. Tampak juga di sana Samuel yang tengah menundukkan kepalanya di samping tangan Alexa dan sepertinya ia tengah tertidur
Kami berjalan se pelan mungkin agar tidak menimbulkan suara dan mengganggu istirahat mereka, tapi ternyata Sam malah terbangun dan menyadari kehadiran kami
"Maaf, mengganggu istirahatmu" William berdiri tak jauh dari dua orang itu, begitu juga kami semua. Di dalam ruang rawat ini hanya ada satu meja kecil dan kursi duduk dan kini dipakai oleh William. Miris rasanya melihat sekeliling tempat ini, pengap, kecil, dan tempat duduk pun sangat minim ditambah lagi tidak ada fentilasi udara yang memadai
"Kalian sudah lama?" Sam tampak membenarkan bajunya yang kusut
"Baru saja sampai, oh ya, kenapa Alexa bisa dirawat di sini?" sambung Prima
"Tunggu sebentar, aku akan segera kembali" Sam keluar dari ruangan itu entah ke mana. Tak berselang lama ia kembali dengan membawa sebuah matras
"Duduklah" dan kami duduk di atas matras itu
"Aku juga tidak tahu apa dan bagaimana Alexa bisa dirawat di sini, pihak kepolisian menghubungiku sesaat setelah Alexa dilarikan ke klinik ini" jelas Sam pada kami semua
__ADS_1
"Apa dokter sudah memeriksanya, lalu apa yang diderita Alexa?" Mbak Sumi juga ingin tahu
"Kata dokter dia stres dan tidak mau makan" Wajah Sam berubah murung, suasana hatinya bertambah buruk. Kekhawatirannya bertambah dan semakin memuncak. Ia tak sanggup melihat orang yang ia cintai tengah terbarung lemah seperti itu
"Dia akan pulih jika mau makan dan meminum obatnya" lanjut Sam
"Aku ingin bicara kalian, apa kota bisa keluar sebentar" arah mata William tertuju pada Sam dan aku, kami berdiri dan keluar dari ruangan itu
Kami berjalan tidak jauh dari sana, menuju ke sebuah taman kecil yang teduh dan sejuk, kami bertiga duduk di sebuah bangku besi tepat di sebuah pohon. William berada di tengah-tengah antara aku dan Samuel
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Will?"
"Apa kamu benar-benar mencintai kakakku?" tampak William serius dengan apa yang ia katakan
"Aku memang mencintainya bahkan sangat mencintainya tapi sepertinya perasaan itu tidak ada pada Alexa" Sam memandang ke arah lain, ada guratan kesedihan di wajahnya. Rasa sesak pun muncul di kilatan netranya
"Dia memang mencintai orang lain tapi tidak ada salahnya jika kamu berusaha untuk mendekatinya. Cinta itu akan tumbuh karena terbiasa" Sam menoleh pada William yang berada di sampingnya
Senyum simpul Sam terbit di sudut bibirnya, "Itu hanya sia-sia, Will. Lagipula kita tidak akan pernah bisa bersama, aku tak ingin membuat kalian berdua kembali berpisah dan membuat adikku yang bawel utu kehilanganmu" netra Sam menuju ke arahku
Aku yang mendengar hal itu seketika menatapnya tajam, bisa-bisa dia mengucapkan hal itu. Awalnya aku tersentuh saat ini memikirkan kebahagiaanku dan mengesampingkan perasaannya tapi seketika hal itu berubah karena kata bawel terlontar
"Iya, kau adikku yang bawel dan galak" Sam tergelak dengan suara yang keras
"Sudah jangan berdebat, kalian sudah terlalu tuan untuk hal itu" William melerai kami berdua, ia memahami wajahku yang kini sudah sangat kesal dan masam
"Iya, aku memang sudah tua. Jika kamu keberatan hidup bersama orang yang sudah tua maka kamu bisa mencari yang muda" aku beranjak dan pergi, benar-benar hari yang membosankan, setelah dikatai bawel dan galak kali ini lagi-lagi kata tua aku dapatkan
"Agnes, tunggu" tak aku hiraukan hal itu, William mengejarku dan meninggalkan Samuel
"Sayang, tunggu" William meraih pergelangan tangaku
"Maaf" ucapnya lembut, aku hanya diam
"Agnes" William membelai pipiku
"Jangan marah"
__ADS_1
"Aku akan ke kamar kak Alexa, berbicara lah dengan Samuel tanpaku" Willy menggeleng
"Kamu juga harus berada di sana, ada hal penting yang harus kita bahas sekarang"
"Males" aku melihat kedua tanganku ke dada
"Ayo lah, sayang" bujuk William kembali
"Ok, tapi jangan lama-lama. Aku masih kesal pada kalian berdua" William mengangguk dan kami.pun kembali ke tempat di mana kami tadi berbincang
"Ok, kita serius sekarang!"
"Sam, Agnes, aku sudah menghubungi kedua orang tuaku, aku juga membicarakan apa yang kita alami saat ini. Memang, keluargaku memegang teguh prinsip untuk tidak berbesanan dengan keluarga yang sama, tapi bukankah kalian sekarang tidak lagi satu rumah meski kalian saudara?"
"Dan lagi, meski kalian kakak beradik, tapi kalian punya keluarga masing-masing sekarang. Orang tuaku memahami apa yang terjadi pada kalian dan mereka rasa tidak mempermasalahkan semuanya" lanjut Willy
Aku dan Sam sama-sama tidak tahu apa yang harus kami katakan. Bingung atau justru bahagia, hanya itu yang kini ada di dalam pikiran kami
"Maksudnya bagaimana, Will?" Sam menuntut penjelasan lebih dari William
"Iya, seperti apa yang kamu dengar saat ini. Keraguan yang kamu rasakan sekarang sudah menemukan jawabannya, apa yang sempat kamu utarakan pada Agnes sekrang sudah jelas. Tidak masalah untuk keluargaku menerima hubungan ini, kamu dengan kakak dan aku dengan Agnes. Kalian kan tidak satu ibu satu Ayah, ya jadi ok" senyum bahagia terukir di wajah Samuel,
Pun juga aku, aku yang sempat berpikir tentang bagaimana semuanya akan menemui titik akhir, bagaimana takdir Samuel yang selama ini setia seperti William yang menunggu cintanya, meski selama ini aku menyangkal keberadaan dirinya tapi ia masih sempat berpikir tentang kebahagiaan diriku, apa ini waktu yang tepat untuk aku bisa menerima kehadirannya, apa mungkin aku harus memanggilnya dengan sebutan kakak juga
"Katakan sekali lagi, Will. Katakan jika hal itu benar!" Sam tampak antusias, William hanya tersenyum lalu mengangguk membuat Sam kini melompat kegirangan dan memeluk William
"Stop, Sam. Ini di klinik jangan berisik, lagi pula aku malu jika kamu terus memelukku" seketika Sam melepaskan pelukannya dan keduanya membenarkan pakaian masing-masing
"Sekali lagi terima kasih, Will"
"Sama-sama, tapi apa kamu yakin akan menunggu kakak sampai saatnya nanti ia bebas?" Sam mengangguk mantap
"Sam" Aku ikut bicara, Samuel lalu menatapku
"Mungkin kata maaf tidak bisa membuat semua halnyang aku lakukan padamu hilang. Jujur, sampai saat ini aku masih marah dan jengkel padamu, tapi setidaknya aku hanya ingin katakan jika mulai saat ini aku akan mencoba menerimamu sebagai kakakku"
"Agnes " Sam berjalan ke arahku, merentangkan kedua tangannya hendak memelukku, seketika aku menyuruhnya berhenti dan tidak melakukan hal yang ia ingin lakukan, ia berhenti dan tersenyum
__ADS_1
"Kamu tidak perlu minta maaf, aku tahu apa yang kamu rasakan. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisimu. Kamu masih terlalu muda untuk mengerti semuanya. Asalkan kamu tahu, adikku, aku juga sempat pergi dari rumah saat tahu kenyataan yang sebenarnya tentang keluarga kita, aku memberontak dan berbuat hal yang tidak jelas. Aku iri padamu, yang kuat dan masih bisa bertahan sampai sejauh ini" jelas Sam padaku
"Terima kasih, Sam"