HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 112. Terima kasih, aku tidak tertarik


__ADS_3

Jam kantor pun usai, aku pun telah menyelesaikan pekerjaan kantorku hari ini, semua sudah kurapikan dan aku pun bergegas untuk pulang. Sampai di lobi aku kembali disuguhkan dengan pemandangan yang tidak ingin aku lihat, pasangan itu kembali memamerkan keromantisan mereka dengan memasangkan helm dan juga jaket pada pasangannya


Ini yang panas cuacanya atau hatiku, mendadak merasa gerah dan keringat pun mengalir di pelipis. Aku mencoba mengabaikannya dengan tidak memerhatikan hal itu namun tetap saja aku merasakan cemburu, eh tunggu, cemburu? aku cemburu? apa iya? entah aku tidak tahu apa ini cukup atau rasa tidak suka. Kulajukan mobilku menuju ke sembarang arah, enggan untuk pulang sebab di rumah pun aku juga tidak memiliki teman


...**************...


Sam dan Mama baru saja turun dari pesawat, mereka menginjakkan kaki mereka di tanah air sore ini. Samuel yang selama ini bekerja dengan tidak fokus akhirnya memutuskan untuk mengambil cuti dan pulang ke Indonesia


Kepulangannya bukan tanpa alasan, kekhawatiran akan kondisi Alexa yang kini berada di balik jeruji besi membuatnya hampir gila. Meski saat dia akan pergi, dia memutuskan untuk tidak lagi berharap pada wanita itu namun lain di mulut lain juga di hati, semakin jauh maka rindu itu semakin besar, semakin hari cintanya seolah tak tertahan dan bisa meledak kapan pun, sudah sejak lama ia ingin pulang bahkan sejak kasus itu pertama kali mencuat namun keinginan itu hanya impian baginya, pekerjaan yang bertumpuk dan juga tanggung jawab yang ia pikul tidak bisa ia lengserkan pada orang lain


Begitu juga Mama, ia memutuskan untuk ikut pulang karena ia juga merindukanku meski sampai sekarang aku masih acuh padanya tapi di dalam hatinya ia yakin bahwa itu semua tidak akan selamanya dan aku bisa menerimanya dengan apa yang sudah menjadi keputusannya


Kini mereka berdua berada di dalam taksi yang akan membawa mereka pulang, raut wajah gelisah tampak di wajah Samuel. Ia tak henti melihat ponselnya yang mana berisi pesan dari orang kepercayaannya yang selalu memberi kabar padanya akan kondisi dari Alexa


Keduanya kini sudah sampai di rumah, Samuel menurunkan semua barang bawaannya dan membawanya masuk sendirian. Ia sengaja tidak membangunkan ARTnya sebab ini sudah agak malam dan mereka pasti sudah tidur


"Mama Istirahatlah, Sam akan keluar sebentar" Saat semua barang-barangnya sudah berada di dalam rumah ia pun berpamitan pada Mama


"Ini sudah malam, sayang. Kamu mau kemana, kamu juga harus istirahat" tampak Mama juga khawatir akan putra pertamanya itu, Mama tahu bagaimana Samuel beberapa minggu terakhir ini. Ia lembur hampir tiap malam agar pekerjaannya segera selesai dan ia bisa cepat pulang. Mama juga tahu jika Sam masih memiliki perasaan pada Alexa katena selama ini hanya Mama lah tempatnya berkeluh kesah akan segala yang ia pikirkan


"Cuma sebentar, Ma. Jika sudah selesai aku akan segera pulang" Sam menyalamai tangan Mama dan kemudian pergi


"Hati-hati, sayang!" teriak Mama namun ia tak menjawab sebab sudah berada di dalam mobil yang kini menjemputnya, mobil orang kepercayaannya yang selalu tepat waktu

__ADS_1


Mobil itu melaju ke sebuah tempat, sepanjang perjalanan Samuel tidak enak duduk. Ia terus mengamati ponselnya dan juga jalanan sekitar berharap segera sampai tempat tujuan. Tak berselang lama mereka pun sampai di tempat tujuan, tanpa aba-aba ia pun segera turun dan bergegas masuk


"Silakan lewat sini, Tuan" sapa seorang penjaga yang sudah menunggunya di sana, ia juga sudah meminta ijin dan berdiskusi dengan para penjaga di tempat itu


Iya, Samuel kini datang ke tempat di mana Alexa berada. Rasa rindu pada wanita pujaannya itu semakin membuncah, ia tidak peduli sekarang sudah malam atau pun siang, yang ia tahu hanya ia ingin bertemu dengan Alexa. Ia masuk ke tempat itu dan memasuki lorong di mana bui wanita pujaanya berada


"Alexa" lirih Samuel kala berdiri tak jauh, netranya menangkap seorang wanita yang ia kenal namun tak terlihat sama seperi terakhir mereka bertemu. Kakinya melangkah mendekat ke arah wanita berbaju hitam itu, ia meringkuk sendirian, kedinginan sembari merangkul kedua lututnya. Wajahnya tampak pucat dan tak terawat, tubuhnya juga semakin kurus


Ia tak berani bersuara, tak ingin membangunkan tidurnya yang entah nyenyak atau hanya sekedar menutup mata tak ingin melihat sekitar. Alexa mendengar pergerakan Samuel tapi ia lebih memilih diam dan berpura-pura tidur


Samuel sendiri kini berjongkok di depan jeruji besi itu, tangannya hendak meraih tubuh itu namun tak sampai sebab Alexa berada di pojok ruangan kecil dan pengap itu


"Aku merasa sakit saat merindukanmu, tapi kenap setelah aku melihatmu sakit ini semakin menjadi dan tidak berkurang" monolog Sam masih berlutut di sana


"Alexa!" antusias Samuel menatapnya, sakit itu bertambah kala melihat wajah tirus dan tubuh tinggal tulang yang terbalut dalam baju tahanan yang Alexa kenakan


Alexa masih sama, ia diam dan tak bergeming. Matanya memang menatap lawan bicara namun bibirnya enggan terbuka seolah terkunci dan tak mampu lagi dibuka


"Alexa, ia aku!" Sekali lagi Sam membuat percakapan, kedua tangan Alexa pun kini berada di genggamannya namun netra Alexa hanya menatapnya dengan tatapan kosong dan kini terlihat memerah


"Untuk apa kamu datang, apa sekarang kamu ingin tertawa?" Alexa menatap ke arah lain, ia berusaha melepas genggaman tangan Samuel


"Aku ingin melihatmu, Lexa"

__ADS_1


Alexa menatapnya tajam, "Ingin melihatku terpuruk?" lanjutnya berhasil melepas genggaman tangan Samuel


Samuel menggeleng, "Aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi satu hal yang harus kamu tahu, rasa ini masih sama bahkan makin besar"


"Kamu tidak perlu membual, aku tidak butuh bualan, aku juga tidak butuh dikasihani oleh siapa pun termasuk dirimu!"


"Alexa, dengar aku. Aku tidak membual, aku juga tidak bermaksud mengasihanimu, aku mencintaimu, Lexa!" Sekali lagi Samuel mencoba meyakinkan gadis pujaannya


"Pergi, Sam!" Alexa menjauh


"Aku tidak butuh siapa, apa pun termasuk cinta. Cinta itu tidak pernah ada, itu hanya sebuah kebodohan yang membuat kita jauh dari pemikiran waras" kemudian Alexa terbahak seolah melihat hal lucu di depannya, Samuel merasa miris akan hal itu, ia merasa Alexa tenaga berada di dalam tekanan yang membuatnya tidak mampu mengendalikan diri


"Aku bisa membebaskanmu" lanjut Samuel


"Kaku ingin membebaskan seorang penjahat, apa kamu tidak takut jika penjahat ini akan kembali membuat ulah dan membunuh banyak orang, hah?"


"Aku percaya kamu tidak akan melakukannya. Kita bisa pergi ke luar negeri dan memulai kehidupan baru di sana" buruk Sam


"Kamu ingin memulai hidup baru dengan seorang penjahat?" kembali, tawa Alexa pecah membuat suara nyaring yang terdengar hampir di seluruh tempat itu. Banyak dari napi lain terbangun dan merasa terganggu namun mereka menerka jika Alexa sudah mulai terkena gangguan jiwa


"Kamu mau kan, Lexa?" Alexa menggeleng


"Terima kasih, aku tidak tertarik!" Alexa pun memutar tubuhnya dan kemudian kembali meringkuk di sudut ruang hampa itu

__ADS_1


__ADS_2