
Happy reading.....
Maya meneguk salivanya dengan kasar, saat melihat pusaka milik Carlen yang begitu besar dan kekar. Dia mencoba menghilangkan kegugupan di wajahnya, walaupun sebenarnya tidak bisa, sebab itu sangat terlihat jelas.
Pria itu mulai menindih Maya, dan dia mulai menciumi leher jenjang wanita itu, hingga meninggalkan beberapa bercak keunguan di sana.
Maya yang mendapat perlakuan kasar seperti itu pun langsung mendorong tubuh Carlen, hingga membuat pria tersebut menatap tajam ke arahnya.
"Setidaknya kau melakukannya dengan lemah lembut, Mas. Kenapa harus kasar seperti ini? Tidak bisakah kamu bersikap lembut sedikit saja kepadaku!" pinta Maya.
Carlen yang mendengar itu pun menyeringai, kemudian dia mulai mencekik wanita tersebut. "Kau ingin aku bersikap lembut kepadamu? Jangan pernah bermimpi, wanita sialaan! Bahkan tidak sudi aku memberikan cintaku sepeserpun dan sedikitpun untukmu, paham!"
Nafas Maya tersengal-sengal saat Carlen mencekiknya dengan keras, dan belum juga nafasnya bisa teratur, Carlen mulai merobek celana yang digunakan oleh Maya, begitupun dengan bagian atasnya. Sehingga benar-benar menampilkan tubuh polos wanita itu.
"Cukup menarik. Setidaknya tidak ada kudis di tubuhmu," ucap Carlen sambil tersenyum miring, kemudian dia mulai melahap dua buah semangka yang indah dan menantang di hadapannya.
Maya mencoba untuk memberontak, karena dia tidak mau jika harus diperlakukan sekasar itu. Namun semakin dia berontak, Carlen semakin bermain secara kasar dan menggila. Hingga dia menggigit bagian permen coklat di ujung hingga lecet, dan itu membuat Maya meringis sakit sampai menitikan air mata.
"Jangan pernah melawanku, wanita rendah!" geram Carlen sambil menampar wajah Maya.
Maya menangis, bukan hanya pipinya saja yang terasa panas, tetapi tubuhnya terasa begitu nyeri. Apalagi di bagian dadanya. Kemudian Carlen mengambil bajunya, lalu mengikat tangan Maya di atas, lalu dengan paksa dia membuka kedua paha Maya, lalu mulai melancarkan aksinya dengan cara yang kasar.
Maya menjerit, dia menggeleng saat sesuatu yang besar memaksa untuk masuk ke dalam tubuhnya, tetapi Carlen tidak perduli. Dia semakin tersenyum menyeringai, dan entah kenapa dia merasa sangat sulit sekali untuk menjebol gawang tersebut. Hingga dengan beberapa kali hentakan, pria itu pun berhasil menenggelamkan ikan lelenya di sebuah lubang belut nan hangat milik Maya.
__ADS_1
Berbarengan dengan itu, Maya menjerit. Air matanya deras membasahi pipi, saat merasakan sesuatu yang robek dan begitu sangat menyakitkan. Bahkan lebih menyakitkan dari penyiksaan yang selama ini diterimanya dari Carlen.
Maya seperti wanita pelacuur yang sedang disiksa oleh seorang gigolo. Dia seperti tidak mempunyai harga diri sama sekali, apalagi yang saat ini yang tengah menyetubuhinya adalah suaminya sendiri, tetapi tidak ada rasa lembut sedikitpun.
"Cukup Mas! Sakit ... pelan-pelan, sakit Mas!" ringis Maya sambil terus menangis.
Dia terus memohon kepada Carlen agar pria itu menghentakkan tanggulnya dengan sedikit pelan. Akan tetapi, Carlen tidak peduli. Karena baginya melihat tangisan Maya Itu adalah sebuah kesenangan.
"Teruslah menangis wanita sialaan. Aku sangat menyukainya. Kau memang terasa begitu nikmat dari Freya. Tidak kusangka, ternyata tidak seburuk yang kubayangkan." rancau Carlen tanpa sadar jika dia mengatakan bahwa tubuh Maya lebih nikmat daripada wanita yang dicintainya.
Pria itu terus saja melakukan aksinya sambil terus menampar wajah Maya, hingga setelah beberapa saat, dia berhasil menanamkan benih di ladang milik Maya. Setelahnya Carlen terkapar lemas di samping wanita itu.
Maya memejamkan matanya dengan air mata yang terus saja mengalir. Dia memimpikan bahwa kesuciannya direnggut tidak sekasar itu, tapi dengan perlakuan yang lemah lembut. Tapi ternyata itu hanyalah sebuah mimpi dan angan-angan saja.
"Aku rasa tidak terlalu buruk. Tubuhmu sedikit enak untuk dinikmati," ucap Carlen sambil memakai kolornya. Namun seketika dia melihat ke arah pangkal paha milik Maya yang belum tertutup selimut.
'Apakah dia masih perawan? Berarti ini adalah pertama kalinya?' batin Carlen.
Maya mulai bangkit tanpa menggunakan apapun, karena percuma jika dia menutup tubuhnya, Carlen juga sudah melihat semuanya. Jadi untuk apa Maya melakukan itu.
Dengan air mata yang sudah mengalir, Maya berdiri dengan tubuh yang sedikit tertatih, dan beberapa bercak di dada dan juga lehernya. Tidak lupa, bahkan dada Maya terasa perih, karena akibat digigit oleh Carlen.
"Semoga kamu puas, Mas. Semoga kamu puas!" Hanya kata-kata itulah yang terucap dari Maya dengan wajah sembabnya. Setelah itu, dia melangkah dengan sedikit tertatih menahan rasa nyeri yang begitu sangat menyakitkan dan masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Ada rasa bersalah di hati Carlen saat melihat noda darah yang berceceran di atas sprei. Dia bahkan tidak menemukan itu saat melakukan yang pertama kali dengan Freya. Apalagi waktu melakukannya dengan istri keduanya tersebut, satu kali hentakan saja pusakanya sudah masuk, dan sangat berbeda dengan Maya.
Namun Carlen segera menggelengkan kepalanya, dia keluar dari kamar Maya, karena tidak mau terus-terusan merasa bersalah.
"Sayang, kamu dari mana aja sih? Aku bangun kok kamu nggak ada di kamar?" tanya Freya saat dia membuka matanya dan melihat Carlen masuk ke dalam kamar.
"Aku habis olahraga pagi. Udahlah, aku gerah mau mandi dulu," jawab Carlen dengan berbohong.
Dia tidak mungkin mengatakan jika habis melakukan hubungan badan bersama dengan Maya, tanpa sepengetahuan Freya, karena pasti istrinya akan sangat marah.
Tepat jam 07.00 pagi, semua orang sudah berkumpul di meja makan. Tetapi Maya masih belum kelihatan. Rania yang merasakan itu pun merasa cemas. Begitu pun dengan mama Gisel, dia juga merasa heran, sebab biasanya Maya jam segitu sudah berada di meja makan dan sedang menyiapkan makanan.
"Maya ke mana? Kok tumben jam segini belum ada di ruang makan?" tanya mama Gisel sambil mengoles rotinya.
"Entah Mah. Rania juga tidak tahu. Sebentar, aku ke kamarnya dulu ya, mau ngecek keadaannya mbak Maya," ucap Rania.
Gadis itu pun beranjak dari duduknya untuk menuju kamar Maya. Namun baru beberapa langkah, dia harus terhenti, karena mendengar ucapan yang begitu nyelekit dari Freya.
"Alah, Mah. Paling juga dia lagi tidur tuh? Biasalah, sekarang 'kan dia udah mulai manja. Kemarin aja pekerjaannya sama aku, udah mulai menjadi bos, 'kan udah ketahuan sifat aslinya Mah." Freya mencoba untuk menghasut mama Gisel.
"Heh, mulut comberan! Kalau ngomong itu dijaga! Pagi-pagi dah bikin gosip aja. Ku semprot lu pakai saosnya mak Erot baru Nyah!" geram Rania, kemudian dia pergi meninggalkan meja makan untuk ke kamarnya Maya.
"Anak itu kenapa sih, semakin mengenal Maya bahasanya semakin tidak tertata? Modelnya saja sekarang berhijab, tapi perkataannya sering melawan kepada yang lebih tua?" heran Carlen sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku takut ya sayang, ajarannya Maya malah menyesatkan Adik kamu. Bagus aja mungkin jika berhijab, tapi untuk apa jika tutur katanya tidak bisa dijaga?" Freya masih belum cukup untuk memanas-manasi hati Carlen dan juga mama Gisel.
BERSAMBUNG......