HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Kita Perlu Bicara!


__ADS_3

Happy reading...,


Setelah menemui Maya, kakek Albert dan juga Rania pulang ke rumah. Sementara itu, Carlen yang baru saja selesai melakukan olahraga panas keluar dari kamar untuk mencari udara segar.


Dia melihat Freya sudah tertidur dengan pulas, karena wanita itu kelelahan. Dan saat Carlen berada di luar kamar, dia menengok ke arah kamar Maya. Entah magnet dari mana, langkah pria itu pun menuju ke kamar istri pertamanya tersebut.


Saat pintu terbuka, ruangan itu kosong, hampa seperti ada sesuatu yang kurang. Carlen menatap ke arah ranjang, bayang-bayang di mana dia menyetubuhi Maya dengan kasar terlintas di benaknya.


'Kenapa aku merasa seperti merindukannya?' batin Carlen, kemudian pria itu cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak-tidak! Aku bukan merindukannya, tetapi merindukan tangisan dan jeritan dari wanita itu, saat aku menyiksa dirinya," ujar Carlen pada diri sendiri.


Terdengar suara mobil di teras rumah, pria itu pun keluar dan dia melihat Rania dan juga sang kakek baru saja pulang. Dengan cepat Carlen keluar dari kamar Maya menuruni tangga ke lantai bawah.


"Kalian habis dari mana?" tanya Carlen.


"Dari mana juga bukan urusan Kakak. Udah ya Kek, aku masuk duluan. Kakek jangan bergadang, 'kan baru dateng. Bobo supaya besok pagi kita bisa jogging bersama," ucap Rania. Kemudian dia masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan keberadaan sang kakak.


Rania masih sangat begitu kecewa kepada Carlen, selagi dia belum bisa melepaskan Freya. Dan selagi Carlen masih menjadi orang bodoh, karena cinta kepada ular berbisa tersebut. Maka sampai kapanpun, Rania akan mendiamkan pria itu.


Begitu pula dengan kakek Albert, tanpa menjawab ucapan sang cucu, dia berjalan masuk ke dalam kamarnya. Tetapi ditahan oleh Carlen, saat pria tua tersebut akan membuka pintunya.


"Kakek kenapa sih malah membela wanita itu, daripada cucu kakek sendiri? Lagi pula, sekarang Freya sudah menjadi istriku. Jadi mau tidak mau, Kakek harus menerimanya, dan jika nanti Freya hamil anakku juga, Kakek harus---"


"Jangan pernah bermimpi! Bagi Kakek, menantu adalah Maya, bukan wanita ular itu!" potong kakek Albert.

__ADS_1


"Kenapa Kakek selalu bilang, bahwa Freya itu wanita ular? Apa yang membuat kakek begitu benci kepadanya? Jelaskan kepadaku, Kek, jika memang Kakek membencinya karena sesuatu hal! Mana buktinya, biar aku lihat sendiri?" tantang Carlen, karena dia sudah tidak tahan dengan kelakuan sang kakek yang tidak menyukai Freya.


Mendengar amarah cucunya, kakek Albert malah tersenyum miring. Kemudian dia menatap ke arah Carlen sambil menggelengkan kepalanya.


"Jika kamu pria yang pintar, kamu akan menyelidikinya dengan detail. Hanya karena cinta, kamu bahkan tidak ingin menyelidiki tentang siapa Freya sebenarnya." Setelah mengatakan itu, kakek Albert masuk ke dalam kamar.


Sedangkan Carlen masih terpaku di tempat, mengingat perkataan sang kakek yang mengatakan tentang Freya. Memang selama ini dia tidak pernah menyelidiki tentang wanita itu, karena Carlen sangat mencintainya. Dan dia yakin, Freya wanita yang baik-baik. Sebab mereka juga sudah pacaran lumayan lama.


pagi pun tiba....


Saat ini, semua tengah berkumpul di meja makan, begitupun dengan Rania dan juga kakek Albert. Mereka berdua sibuk bercengkrama tanpa menghiraukan ketiga orang yang saat ini berada di


meja makan.


"Iya, Kakek dua minggu di sini. Setelah itu Kakek harus kembali ke Jerman, sebab banyak kerjaan yang menunggu di sana," jawab kakek Albert sambil mengusap pucuk kepala Rania.


Freya yang melihat itu pun tersenyum mengejek, 'Dasar gadis manja!' batin Freya dengan geram. Karena tidak suka melihat kemanjaan Rania pada kakek Albert.


Setelah selesai sarapan, kakek Albert mengantar Rania ke kampus, karena dia sekalian mampir ke cafe milik Maya.


Saat mereka akan keluar dari kediaman Dalmiro, tiba-tiba saja mama Gisel menghentikan langkah keduanya, berbarengan dengan itu Carlen juga akan berangkat ke kantor.


"Mama perlu bicara sama kamu, Rania, sebentar saja," ucap wanita itu kepada putrinya.

__ADS_1


Rania menengok sebentar ke arah kakek Albert, dan pria tua itu pun menganggukkan kepalanya. Lemudian Rania memutar bola matanya dengan malas, lalu berjalan ke arah ruang keluarga.


Freya yang melihat itu tentu saja sangat penasaran, kemudian dia hendak menyusul dan menguping pembicaraan dua wanita tersebut. Namun, kakek Alvert seketika menahan tangannya dan menatapnya dengan tajam.


"Jangan berani-berani menguping pembicaraan menantu dan cucuku, paham! Jika tidak ingin kebusukanmu di bongkar di sini!" ancam kakek Albert dengan suara yang tegas.


Freya meneguk ludahnya dengan kasar, dan dia beralasan akan ke kamar, tetapi kakek Albert tidak percaya. Dia menahan Freya di sana, dan wanita itu pun hanya bisa pasrah. Padahal dia sangat penasaran dengan apa yang akan mama Gisel ucapkan bersama dengan Rania.


Sedangkan di ruang keluarga, mama Gisel dan juga Rania sedang duduk bersebelahan. Gadis itu hanya diam saja sambil melihat ke arah lain, karena jujur Rania masih sangat kecewa kepada mama Gisel.


"Kenapa kamu selama ini mendiamkan Mama, hanya karena Maya?" tanya mama Gisel membuka pembicaraan.


"Seharusnya tanpa kujawab, Mama juga udah tahu kan jawabannya?" Rania berkata dengan nada yang cuek.


"Tapi Maya itu---"


"Sudahlah, kalau Mama hanya untuk menjelekkan mbak Maya. Apa yang perlu dibicarakan? Aku mengenal mbak Maya jauh dari Mama. Asal Mama tahu ya! Aku benar-benar kecewa banget sama Mama dan juga kak Carlen. Kenapa kalian tidak pernah mau mengenal mbak Maya seperti apa? Kalian selalu berspekulasi bahwa mbak Maya itu hanya mengincar harta keluarga Dalmiro? Pikir Mah secara logika, kalau dia wanita yang seperti itu, sudah pasti setiap hari kerjanya shopping terus. Pakaiannya juga glamor, sedangkan jatah aja cuma satu juta kan sebulan sama kak Carlen? Jadi apa yang bisa dikatakan, jika dia wanita yang matre? Pernah mbak Maya meminta kepada Mama ataupun Kakak untuk belanja? Untuk keperluan pribadinya? Pernah nggak?" jelas Rania panjang lebar.


Mama Gisel terdiam, dia tidak bisa berkata-kata, karena apa yang dikatakan Rania memang benar. Maya sama sekali tidak pernah berbelanja, membeli baju ataupun tas branded dan juga yang lainnya. Wanita itu hanya di rumah dan mengerjakan pekerjaan sebagai seorang pelayan.


"Asal Mama tahu ya! Bahkan aku bisa shalat, aku bisa ngaji, karena siapa? Mbak Maya. Aku sekarang seperti ini, karena siapa? Mbak Maya. Jika dia bukan wanita baik-baik, mana mungkin dia hafal agama? Mana mungkin dia tahu tentang aturan dalam agama Islam? Sudahlah! Percuma saja aku berbicara panjang lebar pun, nggak akan pernah Mama menyukai mbak Maya, karena di mata Mama, wanita itu tetap salah. Dan menantu kesayangan Mama, adalah mbak Freya. Bahkan aku rasa, kehancuran sebentar lagi akan dirasakan oleh kak Carlen, karena telah memilih wanita yang salah." Setelah mengatakan itu, Rania pergi dari ruang keluarga untuk berangkat ke kampus bersama sang kakek.


Dia meninggalkan sang Mama yang masih terdiam di ruangan itu, meresapi setiap ucapannya tentang Maya.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2