
"Dia memakai kemeja putih, berjas coklat" jelas Willy lagi sambil tersenyum, tapi aku menanggapinya berbeda, aku yang awalnya berharap dia akan menunjukkan di mana tepatnya pak Adi malah kini masih memberi jawaban misterius.
"Aku sudah tahu" jawabku masih dengan terus melihat sekeliling, berharap jika aku bisa dengan bertemu dengan orang yang aku cari dan segera pergi dari hadapan William.
"Bagus jika kami sudah tahu, ayo cepat kita harus segera pergi" William pun bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan mendahuluiku.
Tapi aku masih duduk dan tidak tahu apa maksudnya, " Jika ingin pergi, pergi saja sendiri. Aku masih harus menunggu atasanku, bukankah tadi kamu bilang kan membantuku untuk bertemu dengan Pak Adi?"
William berhenti dan kemudian tersenyum, " Kamu itu memang tidak tahu atau hanya pura-pura?"
Aku menatapnya penuh kebingungan dan dia malah terus tersenyum tidak jelas. Dia pun kemudian segera mengotak-atik ponselnya dan bergegas menghubungi seseorang.
Tak berselang lama, ponselku pun berbunyi dan di sana terpampang jelas nama Pak Adi, orang yang aku cari. Dengan segera aku mengangkatnya dan kemudian menjauh dari William yang sampai saat ini masih berusaha menghubungi seseorang.
"Maaf, Pak. Saya belum bisa menemukan Bapak" ucapku sedikit takut, karena hari pertama bekerja sudah membuat kesalahan.
Tidak ada jawaban dari Pak Adi, dia masih diam, dan aku semakin takut.
"Halo, Pak. Anda masih di sana, tolong jelaskan tempat Anda berada sekarang, saya akan ke sana" lanjutku
"Berbaliklah" ucapnya singkat dan aku pun segera berbalik. Tapi aku tidak mendapati siapa pun, di belakangku hanya ada William yang entah sejak kapan berada di sana.
"Anda di mana?" tanyaku masih terus mengedarkan pandangan.
"Aku di depanmu" lanjutnya lagi membuatku semakin tidak mengerti. Panggilan itu kemudian terputus.
Sekali lagi William mengulurkan tangannya, " William Adiputra, dan kamu bisa memanggilku Pak Adi!" lanjutnya sambil tersenyum
__ADS_1
Aku mematung dan tidak bisa bergerak, bibirku terasa kaku dan tanganku tak mampu aku gerakkan. Dia kemudian kembali mengajakku duduk dan aku pun hanya menurut.
"Maaf, aku tidak bermaksud mempermainkanmu, aku orang yang kamu cari" jelasnya lagi tapi aku masih belum bisa berkata apa-apa.
...***********...
Alexa baru saja ke luar dari restoran, tempat di mana ia bekerja selama ini. Dia yang kali ini memakai jaket hitam, topi, kacamata, dan juga celana panjang warna hitam segera masuk ke dalam sebuah mobil warna putih itu dan melaju entah ke mana.
Kali ini ia pergi diantar oleh seorang Sopir yang usianya masih muda, mungkin usianya tidak jauh berbeda dari dirinya.
Setelah beberapa menit melaju, mobil itu kemudian berhenti di sebuah taman kota yang cukup sepi, di sana seorang laki-laki bertubuh tinggi dan juga berpakaian serba hitam masuk ke dalam mobil di mana Alexa berada.
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka bertiga sudah sampai di sebuah tempat yang terlihat usang, di sekeliling tepat itu terdapat beberapa rumah yang sudah tua dan bisa dipastikan akan segera roboh.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah yang paling kecil dengan keadaan yang tidak jauh berbeda dari rumah-rumah yang lain.
"Tolong lepaskan saya!" teriak seorang wanita yang kini diikat di sebuah kursi besi dengan mata yang ditutup itu. Wanita itu sudah terkurung di sana selama dua hari, wanita yang tidak lain adalah Mbak Sumi, calon istri dari Prima.
Alexa mendekat dan menampar pipi kanan perempuan itu dan dengan segera wanita itu pun menjerit karena terkejut atas perlakuan Alexa
"Dasar perempuan kampung, apa yang dilihat Prima dari dirimu sampai dia mengabaikanku dan lebih memilihmu!" teriak Alexa sambil menampar pipi kiri wanita itu lagi.
"Tolong, lepaskan saya" teriaknya sambil menangis histeris
"Aku akan melepaskanmu, asalkan kamu berjanji untuk meninggalkan Prima" kata Alexa enteng
"Tapi saya mencintainya dan dia pun juga mencintai sya. Sebentar lagi kita akan menikah!" teriak Mbak Sumi dengan diiringi tangisan.
__ADS_1
Alexa yang mendengar semua itu langsung tersulut emosinya, ia yang sejak awal sudah sangat murka dan muak kini bertambah marah karena apa yang ia inginkan tidak terpenuhi.
Sekali lagi, tamparan keras itu mendarat di pipi Mbak Sumi, ini sudah yang ke sekian kalinya ia mendapatkan tamparan dari tangan Alexa.
"Oh, jadi kalian saling mencintai rupanya, tapi apakah Prima akan tetap mencintaimu jika kamu sudah tiada?" Kata Alexa lirih tepat di samping telinga Mbak Sumi yang kini masih terus menangis
Mbak Sumi terperanjat, jantungnya berdetak semakin kencang, rasa takut itu menjalar di tubuhnya. Ia tidak tahu hal apa yang akan menimpanya, apakah yang dikatakan wanita yang tidak ia kenal itu akan menjadi kenyataan atau tidak
"Kamu akan tetap hidup, jika kamu meninggalkan Prima tapi kami akan tiada jika kamu terus mempertahankan dia!" lanjut Alexa yang kini menjambak rambut Mbak Sumi dan menarik kepalanya ke belakang.
Mbak Sumi tidak menjawab, ia masih terus menangis dan menangis.
"Aku mencintainya, dan sampai kapan pun aku akan tetap mencuntainya" ucap Mbak Sumi membuat Alexa bertambah murka. Ia memang sudah membulatkan tekad untuk melawan wanita itu, toh jika nanti pada akhirnya dia akan meninggalkan Prima untuk selamanya, satu hal yang ia yakini adalah ia meninggalkan Prima bersama dengan kesetiaan dan juga cintanya.
"Dasar wanita kampung" Alexa kemudian menamparnya lagi.
"Jika dengan menghabisiku, Kamu bisa memiliki Prima, maka lakukanlah. Tapi satu hal yang pasti, yang kamu miliki hanya raganya tapi tidak dengan hati dan juga cintanya!" teriak Mbak Sumi sekali lagi
"Kamu berani rupanya?" Alexa tampak makin murka, ia kemudian mengambil sebuah pisau kecil yang ia simpan di dalam saku jaketnya dan menggoreskannya tepat di pipi Mbak Sumi.
Mbak Sumi yang terkejut langsung berteriak, tak lama kemudian darah mengalir di sana meninggalkan rasa yang perih pada pemiliknya.
"Baiklah. Jika memang nyawamu tidak berharga, lalu bagaimana dengan nyawa laki-laki tua ini!" Alexa bergantian mengambil sebuah ponsel yang di sana terdapat sebuah video seorang laki-laki tua yang kini juga sedang diikat dan dipukuli oleh beberapa orang.
Laki-laki yang tidak lain adalah Pak Samin, keluarga satu-satunya yang dimiliki oleh Mbak Sumi.
Keteguhan dan keyakinan hari Mbak Sumi untuk melawan wanita itu pun kemudian musnah seketika, ia kemudian kembali merasakan takut akan hal buruk yang kan menimpa Pamannya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan padanya, jangan pernah menyakiti dia, dia tidak ada hubungannya dengan semua ini!" teriak Mbak Sumi meski kini tubuhnya bergetar dan juga dingin.