
Happy reading......
Malam ini semua sudah berkumpul di meja makan, dan tidak ada pembicaraan sama sekali, begitupun dengan Rania dan juga kakek Albert. Mereka bahkan cuek saja saat Freya melayani Carlen dan menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Mereka berdua tahu, jika itu adalah sebuah pencitraan agar Freya terlihat baik di mata Carlen dan juga mama Gisel. Tetapi wanita sundel itu tidak bisa membohongi Rania dan juga kakek Albert dengan tipu muslihatnya.
Setelah makan malam, Rania pun beranjak untuk masuk ke dalam kamar. Sebab masih ada tugas kuliah yang harus dikerjakan, dan saat dia sedang memangku laptopnya sambil mengerjakan skripsi, tiba-tiba saja pintu kamarnya dibuka, dan ternyata yang masuk adalah mama Gisel.
Rania yang melihat itu pun cuek saja, dia kembali menatap ke arah laptop. "Mau ngapain Mama ke sini?" tanya Rania tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ada yang mau Mama bicarakan sama kamu, Nak," ucap mama Gisel.
"Owh, mau bicara apa, Mah?" tanya Rania dengan cuek.
Ada rasa sakit di hati wanita tersebut saat melihat putrinya sama sekali tidak menghiraukan keberadaannya. Sebagai seorang ibu, tentu saja diabaikan oleh anaknya adalah hal yang paling menyakitkan bagi orang-tua.
"Rania, Mama mohon, jangan mendiamkan Mama seperti ini Nak, hanya karena Maya! Kamu tega mendiamkan Mama? Tidakkah kamu ingat, Mama ini orang tuamu yang merawatmu, yang melahirkanmu dan membesarkanmu. Tapi sekarang kamu malah bersikap acuh kepada Mama," ucap mama Gisel sambil menitikan air matanya dan memegang tangan Rania.
Mendengar penuturan sang mama, hati Rania pun sakit. Bagaimana tidak? Dia begitu sangat menyayangi mama Gisel, tetapi melihat bagaimana mamanya bersikap kepada Maya, Rania jauh lebih sakit.
"Mama bilang hanya karena mbak Maya? Bukan karena mbak Maya, aku bersikap seperti ini, tapi karena diri mama sendiri. Sadar nggak, jika suatu saat nanti karma datang? Dan jika aku menikah dengan seseorang, lalu aku diperlakukan seperti itu oleh suami dan juga mertuaku. Apakah Mama akan rela? Tentu saja tidak, bukan? Begitupun dengan mbak Maya, Mah. Dia sama sekali tidak mempunyai orang tua, hidupnya sebatang kara, tapi Mama malah membencinya. Sedangkan mbak Maya sudah menganggap Mama sebagai orang tuanya sendiri. Jika mbak Maya orang jahat, bahkan dia mungkin bisa saja menghasut diriku untuk membenci kalian. Tapi nyatanya apa? Mbak Maya malah terus mendorong ku, men-support diriku, memberikan pengertian kepadaku untuk tidak durhaka kepada Mama. Agar aku tidak membenci kalian. Apakah wanita seperti itu yang patut dibenci oleh Mama?" jelas Rania panjang lebar.
Air matanya menetes membasahi kedua pipi gadis tersebut. Rasa sakit yang sudah dia lupakan muncul kembali, saat mengingat bagaimana perlakuan mamanya dan juga sang kakak kepada Maya.
Tentu saja Rania sebagai seorang perempuan merasa kasihan, karena Maya diperlakukan secara tidak adil oleh suami dan juga mertuanya.
"Iya, Mama sadar, Mama itu salah. Tidak seharusnya Mama memperlakukan Maya seperti itu. Sebenarnya Mama ke sini bukan hanya ingin berbicara kepada kamu saja, tapi Mama juga mau meminta tolong sama kamu, untuk mempertemukan Maya dengan Mama. Karena Mama ingin meminta maaf padanya. Apakah bisa?" pinta mama Gisel kepada Rania.
Mendengar itu, tentu saja Rania sangat kaget. Dia menatap ke arah mamanya dengan wajah yang terkejut, dan mama Gisel menganggukkan kepalanya dengan pasti, bahwa apa yang dia ucapkan memang benar, jika dia ingin bertemu dan meminta maaf kepada Maya.
"Apakah Mama serius ingin meminta maaf pada Mbak Maya?" tanya Rania memastikan.
"Mama serius sayang, Mama ingin bertemu dengan Maya dan meminta maaf kepadanya," jawab mama Gisel dengan pasti.
Rania yang mendengar itu pun tentu saja sangat senang, kemudian dia pun menganggukkan kepalanya.
Pagi hari sesuai apa yang telah direncanakan Rania dan juga sang mama, jika mereka akan pergi menemui Maya. Sedangkan Freya sedang menyiram tanaman dengan kakek Albert yang duduk di taman.
__ADS_1
Wanita itu tidak akan pernah tenang hidupnya jika kakek Albert ada di sana, karena pria tua tersebut akan memberikan pelajaran kepada Freya. Dan menjadikannya sebagai pelayan, selayaknya Maya waktu dia berada di kediaman Dalmiro.
Carlen juga tidak bisa menghentikan sang kakek, karena semua kekuasaan saat ini masih dipegang oleh kakeknya.
"Apa Maya sekarang tinggal di rumah kedua orang tuanya?" tanya mama Gisel saat berada di dalam mobil.
Rania menggelengkan kepalanya sambil menyetir, "Tidak Mah. Mbak Maya tidak ingin tinggal di rumah itu, sebab kenangan di sana terlalu banyak, dan dia tidak akan kuat. Mbak Maya sekarang ngontrak," jawab Rania tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
"Ngontrak?" tanya mama Gisel, dan Rania pun langsung menganggukkan kepalanya.
Tak lama mereka sampai di sebuah Cafe, dan mama Gisel yang melihat itu pun merasa heran, sebab Rania bilang jika Maya tinggal di sebuah kontrakan, tetapi mereka malah berhenti di sebuah cafe.
"Sayang, kata kamu Maya tinggal di kontrakan? Kok kita malah ke cafe? Kamu udah laper, mau makan?" tanya mama Gisel.
Rania menggelengkan kepalanya, "Tidak Mah, tapi mbak Maya memang ada di sini. Ayo masuk!" ajak Rania.
Mama Gisel merasa heran. Dia pikir, mungkin saja memang Maya bekerja di cafe tersebut setelah keluar dari kediaman Dalmiro, dan dia mengikuti langkah putrinya masuk ke dalam cafe itu.
Saat sampai di dalam, Rania meminta mamanya untuk duduk di salah satu meja. Kemudian Rania memanggil pelayan yang ada di sana dan menanyakan keberadaan Maya.
"Oh mbak Maya, dia belum datang. Mungkin sebentar lagi, Mbak Rania ditunggu aja," ucap pelayan itu.
"Maya bekerja di sini?" tanya mama Gisel kepada Rania.
Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya saja, tanpa menjawab jika cafe tersebut sebenarnya milik Maya. Dan setelah beberapa menit mereka menunggu, Rania melihat Maya masuk dari pintu utama, kemudian dia langsung memanggil wanita itu.
"Mbak Maya!" panggil Rania.
Maya yang merasa dipanggil kemudian menengok ke arah samping, dan ternyata ada Rania di sana. Wanita itu pun tersenyum, kemudian menghampiri Rania. Namun seketika wajahnya berubah kaget saat melihat keberadaan mama Gisel di sana.
Lalu Maya langsung mencium tangan mama Gisel dengan khidmat. "Mama apa kabar?" tanya Maya dengan ramah.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri apa kabar?" tanya mama Gisel.
"Alhamdulillah Mah, baik," jawab Maya sedikit kebingungan. Karena baru kali ini mama Gisel berbicara dengan nada yang lembut. Biasanya wanita itu tidak pernah menanyakan kabarnya ataupun berbicara dengan nada suara seperti itu.
"Rania, ini ..." Maya menggantung ucapannya sambil menatap ke arah mama Gisel.
__ADS_1
"Iya Mbak, aku sengaja ke sini bersama dengan Mama. Soalnya Mama ingin bertemu dengan Mbak. Katanya ada yang mau sampaikan," jawab Rania.
Maya melihat ke arah mertuanya. Dia berpikir mungkin saja mama Gisel ke sana karena akan memarahinya, tetapi entah apa yang akan diucapkan oleh wanita itu, sebab Maya merasa dia tidak mempunyai salah apapun semenjak keluar dari kediaman Dalmiro.
"Mama mau bicara apa?" tanya Maya.
"Sebenarnya, Mama ke sini karena---"
Ucapan mama Gisel terhenti saat tiba-tiba saja ada pelayan yang menghampiri Maya. "Maaf Mbak Maya mengganggu waktunya. Saya hanya ingin menyampaikan bahan-bahan di dapur sudah habis, sedangkan pasokan dari kebun Pak Joko juga belum datang. Sebab katanya hujan terus, jadi gagal panen. Apa kita pesan kopi di tempat lain aja untuk sementara waktu?" tanya pelayan tersebut kepada Maya.
"Oh ya, boleh. Nanti kamu tolong telepon pak Joko, minta saran dari dia kopi mana yang bagus. Karena kita juga perlu 'kan? Apalagi dalam minggu ini pelanggan juga yang lumayan banyak. Bilang aja saya yang nyuruh," ujar Maya pada pelayan tersebut.
"Baik Mbak, kalau begitu saya kembali ke belakang dulu," ucap pelayan itu sambil menundukkan kepalanya. Kemudian pergi meninggalkan meja.
Mama Gisel yang melihat itu pun merasa heran, kenapa pelayan tersebut laporan perihal pemasok kopi kepada Maya. Dahinya mengkerut sambil menatap menantunya yang saat ini tengah berada di hadapannya.
"Maya, apakah kamu pemilik cafe ini?" tanya mama Gisel dengan to the point.
"Eeum ... itu Mah ..." Maya terlihat ragu untuk mengatakan jika cafe tersebut memang miliknya.
"Iya, cafe ini memang miliknya Mbak Maya. Jauh sebelum menikah dengan kak Carlen, dia sudah memiliki usaha. Mungkin memang terlihat sederhana dari luar, tapi dalamnya ternyata sangat cerdas bukan?" timpal Rania sambil memainkan ponselnya.
Mama Gisel terlihat sangat kaget, kemudian dia menatap ke arah Maya. "Benarkah Maya? Ini adalah cafe mu?" tanya mama Gisel memastikan.
Maya menganggukkan kepalanya, "Iya Ma," jawab Maya dengan singkat, "Oh ya, tadi Mama mau bilang apa?" tanya Maya kembali ke topik utama.
"Itu, Mama ke sini sebenarnya mau bilang, kalau Mama mau minta maaf sama kamu, atas segala perbuatan yang telah Mama lakukan. Mungkin memang Mama sangat kejam, tidak pantas disebut seorang ibu. Seharusnya Mama tidak memperlakukanmu seperti itu, tetapi Mama telah dibutakan dengan kata-kata kebencian. Maafkan Mama, Maya. Mama malah mendukung Carlen yang sering menyiksa dirimu," ucap mama Gisel sambil menggenggam tangan Maya.
Maya tidak menyangka, jika mama Gisel ternyata ke sana untuk meminta maaf kepadanya. Kemudian dia menggenggam balik tangan mertuanya tersebut
"Mah, Maya tidak pernah sedikitpun benci ataupun marah kepada Mama. Karena bagi Maya, Mama adalah orang tua Maya sendiri. Dan untuk mas Carlen, Maya sadar kok, mungkin memang Maya ini istri yang tak diinginkan. Jadi tidak ada alasan bagi Maya untuk membenci kalian. Walaupun sebenarnya Maya memang terluka," jawab wanita itu.
"Tapi perlakuan Carlen kepada kamu, dia ...."
"Maya memaklumi itu, Mah. Maya yakin kok, sebenarnya mas Carlen itu orang yang sangat baik. Hanya saja dia sedang dikuasai oleh amarah dan tidak bisa mengontrolnya. Maya tidak pernah membenci kalian," jelas Maya dengan tutur kata yang lembut.
Mama Gisel menangis haru mendengar penuturan Maya. Dia tidak menyangka, jika wanita yang selama ini dibencinya mempunyai hati bagaikan malaikat. Padahal dia sudah banyak menyakiti Maya, tapi wanita itu bahkan tidak membencinya sedikitpun.
__ADS_1
"Terima kasih sayang," ucap mama Gisel dengan tulus.
BERSAMBUNG.......