HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 134. Menjelang ijab qabul


__ADS_3

Pagi menjelang, matahari mulai tersenyum. Memberikan rasa hangat pada mereka yang merindunya, memberi harapan dan juga kenyataan bahwa hari ini masih ada waktu untuk bahagia


Aku dan keluargaku sudah bergegas pergi ke tempat di mana nanti ijab qabulku dengan William akan diselenggarakan. Mama yang pagi-pagi sudah datang juga tampak di sana, tak luput mbak dan Prima juga sudah bersiap. Kami berangkat dengan mobil, aku sendiri kini berada satu mobil dengan Ayah, Mbak Sumi, Prima dan juga Bibi, sementara Mama berangkat bersama keluarganya.


Semua yang aku butuhkan juga sudah tertata rapi di bagasi mobil, memang kali ini aku belum berganti baju maupun memakai riasan. Rencananya kami semua akan berdandan di tempat dengan bantuan MUA pilihan dari Kak Sofia dan juga Andreas. Mereka tidak bisa hadir kali ini namun mereka menugaskan seorang MUA profesional untuk acaraku. Pun sama dengan Tomi, ia juga tidak bisa pulang, ia juga tidak diam, ia mengirimkan seorang fotografer handal yang tentunya sudah tidak diragukan lagi kemampuannya


Rasa gugup pasti ada, terlebih sejak subuh tadi aku sudah tidak bisa tidur. William yang terus menerus mengirimkan pesan dan juga menelpon, ia juga merasakan persis seperti apa yang aku rasakan. Ia juga gelisah dan tentunya sudah sangat tidak sabar menunggu pagi


Kini kami semua sudah tiba di lokasi, aku dan rombongan tiba terlebih dahulu dan segera menuju ke sebuah tempat yang tentunya kita semua tahu ini bukan tempat yang seharusnya kami mengadakan ijab qabul, namun bagaimana lagi, ini sudah jadi kesepakatan antara diriku dan William


Klinik Merdeka, ya kini aku berada di klinik Merdeka. Tempat Alexa dirawat dan menjalani pemulihan atas kondisinya. Klinik ini berdekatan dengan Lembaga Permasyarakatan, tempat di mana Alexa di tahan untuk menjalani hukumannya. Klinik ini untuk saat ini hanya merawat beberapa orang saja dengan kategori penyakit ringan sedangkan untuk mereka yang menderita penyakit serius sudah Om Defrico pindahkan ke rumah sakit yang lebih besar. Tentunya dengan biaya yang ditanggung oleh Om Defrico


Kami segera bergegas menuju sebuah aula yang berada di klinik itu, aula ini tidak terlalu besar dan hanya bisa menampung sekitar dua puluh orang saja. Aula ini juga sudah penuh dengan dekorasi, mawar merah tertata rapi di setiap sudut ruangan. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah meja kecil yang di kelilingi oleh enam kursi, selebihnya ruangan ini berisi beberapa kursi yang nantinya akan kami pakai untuk menyaksikan ijab qabulku


Di samping aula itu terdapat sebuah ruangan yang kini disulap menjadi sebuah ruang ganti yang nanti akan aku pakai untk berganti baju dan juga memakai riasan. Ruangan itu juga kecil tapi setidaknya cukup untuk kita semua


Alasan terbesar aku memilih untuk melangsungkan ijab qabul di tempat ini tidak lain karena beberapa saat yang lalu, Alexa sempat mengatakan jika dirinya ikut berbahagia dengan pernikahanku, ia juga meminta maaf karena tidak bisa hadir di pernikahan kami. Sorot matanya kala itu menunjukkan jika dirinya sedang dalam keadaan yang paling lemah semasa hidupnya, ketulusan juga tampak di sana dan karena hal itu lah akhirnya aku putuskan untuk melakukan hal ini. Hatiku merasa tergerak, aku merasakan bagaimana dia saat itu


Om Defrico, dia salah satu yang mewujudkan hal ini. Banyak uang yang sudah ia gelontorkan untuk hal ini, ini semua bukan tanpa alasan, dukungan untukku dan juga untuk Sam menjadi hal yang paling ia pertimbangkan. Uang bukan masalah baginya sebab ia kini juga sudah menjadi milyarder yang ternama di penjuru dunia


"Selamat pagi!" sapa Sam ketika masuk ke dalam ruangan Alexa, ia yang kali ini sudah bersiap dengan memakai setelan jas warna hitam tampak begitu sumringah dan juga bahagia

__ADS_1


"Pagi" jawab Alexa yang kini terduduk di ranjangnya, ia sudah tampak sehat, selang infus juga sudah lepas dari tangannya. Alexa menatap Sam yang kini duduk di sampingnya


"Mau ke kantor?" Sam menggeleng, ia mengatakan jika ingin menghadiri pernikahanku, lalu wajah Alexa tampak lain, ia tak se bahagia tadi saat Sam masuk ke dalam ruangannya. Sam menyadarinya, ia tahu bagaimana rasanya seorang kakak tidak bisa menghadiri acara pernikahan adiknya. Pasti ada rasa haru dan juga sedih


"Sampaikan pada mereka, aku turut berbahagia. Doaku bersama mereka" netra Alexa nampak merah dan kini mengembun


"Pasti, akan aku sampaikan pada mereka" sengaja Sam menggoda Alexa yang belum mengetahui rencana pernikahanku


"Apa kamu bisa berjalan?" Alexa menatap Sam penuh kebingungan


"Bisa, aku sudah sehat hanya saja belum dipindahkan"


"Jika begitu, ayo ikut aku!"


Bersamaan dengan itu, William dan keluarganya juga baru sampai. William yang kala itu sudah terlihat rapi dengan balutan jas hitam, ia tampak gagah dan juga bahagia. Dia berjalan ke arah Alexa dan Sam yang kini berhenti sesaat sebelum masuk ke aula yang kini sudah dijaga ketat oleh beberapa penjaga utusan Om Defrico dan juga dari pihak terkait


Alexa tidak tahu apa maksud semua ini, bukankah adiknya hari ini akan menikah, lalu kenapa ia datang ke tempat ini dan bukan ke tempat pernikahan. Pikiran buruk sempat melintas di benaknya


"William, bukankah kamu hari ini akan menikah?" Willy mengangguk


"Lalu kenapa datang ke tempat ini?" tanpa basa-basi William segera menjelaskan semuanya agar kakaknya tidak merasa penasaran dan berpikir hal buruk lainnya. Air mata tiba-tiba menetes dari netra Alexa, ia tak kuasa menahan haru akan apa yang ia dengar, Tante Rosa lalu memeluknya. Kebahagiaan kembali ia rasakan, ia memang sempat berpikir untuk meminta bantuan Samuel, ia ingin melihat adiknya menikah meski hanya lewat sambungan video call, belum sempat hal itu ia utarakan, kenyataan lain kini malah mengejutkannya

__ADS_1


"Jangan menangis, Kak. Hari ini kakak akan menjadi pendamping pengantin wanita, ayo kita masuk!" Mereka semua masuk dan menuju ke tempat di mana aku berada sekarang di antar oleh Tante Rosa


Aku yang kala itu sudah selesai berganti baju dan memakai riasan, melihat kedatangan Alexa yang masih saja terus menangis. Ia dengan segera memelukku dan menangis di pelukanku


"Kenapa kamu melakukan ini semua, Nes. Ini hari bahagiamu, harusnya bukan di sini tapi di tempat lain yang lebih baik dan pantas"


"Kak, tempat ini jauh lebih baik dan lebih pantas dari tempat yang lain. Di sini aku bisa bersamamu, aku bisa berbagi kebahagiaan denganmu. Kita sekarang keluarga dan sudah sepantasnya sebuah keluarga itu saling membahagiakan satu sama"


"Terima kasih, Nes"


"Sama-sama, Kak. Oh ya, kakak ganti baju dan pakai make up ya, kakak mau kan?"


"Tapi bajunya?" ia bingung karena ia tidak tahu harus memakai baju apa, aku menjelaskan padanya jika aku sudah membawa baju yang akan ia pakai


Alexa pun segera memakai riasan dan juga berganti baju. Ia yang pada dasarnya seorang model yang cantik, membuat MUA rak merasa kesulitan untuk mengaplikasikan berbagai riasan, selain itu ia juga memiliki tubuh yang langsing kini tampak lebih cantik dengan balutan kebaya putih dengan paduan rok batik, ditambah lagi kaki jenjangnya yang kini beralaskan sepatu hak tinggi membuatnya tampil sempurna


"Kakak cantik sekali" kugandeng tangannya ke luar dari ruangan itu menuju ke aula yang kini sudah penuh dengan keluarga yang memang diundang untuk menyaksikan acara pada hari ini


Samuel tak henti menatap sang pujaan hati yang kini tampak lain dari beberapa bulan terakhir ini, ia sudah kembali seperti sedia kala, wajahnya penuh riasan, tubuhnya terbalut pakaian yang berbeda meski kini ia terlihat kurus namun tidak membuatnya hilang pesona. Pun dengan William, meski setiap hari ia selalu melihatku namun aura yang kini nampak dari wajahku amat jauh berbeda. Ditambah lagi degn balutan bruklat putih yang menjuntai panjang layaknya sebuah ekor, aku yang kali ini memakai hijab tidak memperlihatkan rambut panjang ku pada semua orang


Aku kini duduk tepat di samping William, berhadapan langsung dengan Ayah dan juga penghulu. Di samping kiri dan kanan sudah ada, Alexa, Mama dan orang tuan William

__ADS_1


Doa dilantunkan sebelum ijab qabul dimulai, lagi dan lagi suasana haru mendominasi. Mama dan Alexa kembali menumpahkan air matanya, entah apa yang mereka pikirkan. Aku sendiri sebenarnya juga merasakan hal yang sama namun sekuat tenaga aku tahan, aku berhasil sampai doa itu selesai


Kini tampak William menjabat erat tangan penghulu, gugup kembali menghampirinya, kali ini gugupnya sudah berada di level tertinggi


__ADS_2