HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Kenapa Kamu Di Sini?


__ADS_3

Happy reading.......


Tepat jam 04.00 subuh Freya terbangun. Dia memegang sebelah kasurnya, tetapi tidak menemukan adanya Carlen. Wanita itu pun mengerutkan dahinya, kemudian dia menatap ke arah kamar mandi, tetapi tidak menemukan suaminya di sana.


"Mas Carlen ke mana ya? Kok jam segini udah nggak ada di kamar? Di kamar mandi juga nggak ada?" gumam Freya sambil menguap.


Seketika matanya membeliak saat mengingat nama Maya, dia berpikir mungkin saja Carlen ada di sana, tapi seketika saat Freya akan membuka pintu kamar, dia menghentikan gerakan tangannya.


"Tidak mungkin jika mas Carlen ada di sana? Melihat wajahnya saja dia sudah emosi. Bagaimana mungkin dia bisa berada dengan wanita itu? Apa aku cari ke lantai bawah aja ya?" Setelah bermonolog pada dirinya sendiri, Freya pun turun ke lantai bawah untuk mencari Carlen.


Akan tetapi, saat Freya turun ke lantai bawah, lagi-lagi dia tidak menemukan keberadaan Carlen. Dan di sana hanya ada beberapa pelayan saja.


"Bi, apa mas Carlen tadi turun ke lantai bawah, atau dia ada di sini?" tanya Freya pada salah satu pelayan.


"Maaf Nyonya muda, saya tidak melihat Tuan Carlen turun ke lantai bawah," jawab pelayan tersebut.


Freya mengerutkan dahinya, kemudian dia mengetuk-ngetuk dagu memikirkan keberadaan suaminya. Kemudian Freya berjalan ke arah ruang kerja suaminya. Namun, ternyata di sana juga tidak ada. Wanita itu pun semakin yakin jika Carlen pasti berada di kamarnya Maya.


Dengan cepat dan langkah terburu-buru, Freya pun menaiki tangga menuju lantai atas, di mana kamar Maya berada. Dan sesampainya di sana, dia membuka pintu itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Seketika mata Freya membulat saat melihat Carlen dan juga Maya sedang tidur, apalagi posisi Carlen saat ini tengah memeluk Maya. Dan dia melihat wajah wanita itu yang begitu sangat cantik tanpa menggunakan hijab.


Dengan amarah yang membuncah, Freya berjalan ke arah ranjang, kemudian dia menarik tangan Carlen hingga membuat kedua manusia itu tersentak kaget.


"Mas Carlen!" bentak Freya, "Ngapain kamu tidur di sini, hah!" teriaknya sambil menatap Maya dengan tatapan tak suka.

__ADS_1


Carlen mengucek matanya, dia masih merasa kaget karena Freya tiba-tiba saja datang dan memarahi dirinya. Begitupun dengan Maya, wanita itu menguap sambil menatap ke arah Freya.


"Freya, kamu ngapain di sini?" ucap Carlen dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Ngapain kamu tidur sama wanita udik ini? Seharusnya kamu itu ada di kamarnya aku, Mas. Bukan di sini! Ngapain kamu ada di sini? Bahkan meluk-meluk dia lagi?!" teriak Freya tidak terima.


"Aduh Mbak, ini masih pagi ya. Kok malah marah-marah sih? Memangnya ada yang salah kalau Mas Carlen tidur di sini? Dia 'kan juga suami saya. Wajar saja jika Mas Carlen tidur di sini," ujar Maya sambil mengikat rambutnya.


Gerakan itu bagaikan slow motion di mata Carlen. Pria tersebut menatap Maya tanpa berkedip sedikit pun, apalagi melihat leher jenjang milik istri pertamanya itu.


Freya yang menyadari tatapan Carlen pun memegang bahu pria tersebut, hingga menyadarkan lamunan pria tampan itu.


"Kamu ini kenapa sih, pagi-pagi marah-marah aja? Aku masih ngantuk tau nggak sih! Udah, lebih baik kamu keluar deh! Aku mau tidur lagi!" usir Carlen kepada Freya, dia merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur.


"Apa sih? Di sini dan di sana juga sama aja, sama-sama ranjang. Udah deh, aku ngantuk. Nanti mau ada kerjaan. Udah, kamu tidur lagi aja sana!" Carlen benar-benar tidak ingin diganggu, karena matanya masih sangat mengantuk.


Freya yang tidak terima pun berjalan ke arah Maya, kemudian dia menjambak rambut wanita itu. "Dasar kau wanita jalaang! Berani kau ya mempengaruhi Mas Carlen untuk tidur di sini, hah!" bentak Freya.


"Aduh Mbak, apaan sih? Siapa yang menggoda Mas Carlen? Aku aja nggak tahu, kalau dia tidur di sini. Sakit!" rangis Maya sambil memegangi rambutnya yang dijambak oleh Freya.


Carlen yang melihat itu pun bangun, dan melepaskan tangan Freya di rambut Maya.


"Kamu itu kenapa sih, pagi-pagi datang-datang marah-marah? Lebih baik sekarang kamu keluar deh! Lagian Maya itu nggak nggoda aku. Aku yang datang ke sini semalam, karena tidak bisa tidur. Tanpa sadar aku tertidur di sini. Emangya salah? 'Kan dia juga istriku!" ujar Carlen dengan nada yang sudah naik satu oktaf.


Maya cukup kaget saat mendengar jawaban pria itu. Dia tidak menyangka, jika Carlen akan membelanya. Padahal selama ini suaminya bahkan tidak pernah menyukai dirinya.

__ADS_1


"Mas, kamu membela dia?" tanya Freya dengan tatapan tak percaya.


"Aku bukannya membela dia, tapi memang pada kenyataannya Maya tidak menggodaku. Aku yang datang ke sini. Sudahlah, aku lagi ingin tidur. zini masih jam 04.00 pagi loh." _Carlen berkata sambil merebahkan tubuhnya kembali di ranjang.


Freya yang melihat itu benar-benar sangat geram, kemudian dia menatap sinis ke arah Maya. "Kau dengar ya wanita udik! Aku tidak akan pernah membiarkan Mas Carlen jatuh ke dalam pangkuanmu, paham!" bentak Freya, kemudian dia keluar dari kamar Maya sambil membanting pintu kamar tersebut.


Sedangkan Carle kembali menutup matanya. Entah apa yang membuat dia bisa jatuh cinta pada wanita seperti Freya yang mudah sekali marah.


Maya berjalan hendak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tetapi tangannya ditahan oleh Carlen. "Tidurlah di sini kembali, temani aku sampai aku tertidur!" pinta Carlen.


Entah kenapa dia sedang tidak ingin marah-marah kepada Maya. Carlen pun tidak tahu, saat ini hanya bau tubuh Mayalah yang ingin dia cium, karena bisa menenangkan dirinya.


Wanita itu mengangguk, kemudian dia naik ke atas ranjang. Walaupun sebenarnya Maya merasa bingung, kenapa sikap Carlen berubah 180 derajat. Padahal tadinya Carlen begitu jahat kepada dirinya.


Setelah Maya naik, Carlen mendekatkan tubuhnya ke arah wanita itu. Kemudian dia mendekatkan wajahnya di dada Maya, membuat jantung Maya berdetak dengan kencang dan itu mampu terdengar oleh Carlen.


'Astaga! Kenapa mas Carlen berada di situ sih?' batin Maya merasa tak nyaman, karena saat ini wajah suaminya berada di hadapan kedua gunung kembarnya.


"Apakah aku boleh meminta sesuatu?" tanya Carlen sambil memejamkan matanya.


"Apa itu?" tanya Maya sambil menahan napas, karena dia tidak biasa berdekatan dengan Carlen seperti sekarang.


"Apakah aku boleh meminta kau melayaniku pagi ini, sebelum aku berangkat bekerja? Maksudku, kita ...." Carlen menyatukan kedua jari telunjuknya sambil menatap ke arah Maya.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2