HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 69


__ADS_3

"Pulanglah, Will. Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun" aku menepis tangan William yang kini memegang tanganku,


Aku tahu dia menungguku sejak tadi, baju kerja yang ia pakai masih melekat di tubuhnya. Wajahnya yang kusut menandakan dia belum mandi atau pun mencuci mukanya


Perasaan sakit dan juga marah ini masih meliputi hatiku, aku tidak peduli dengan siapa pun saat ini. Yang aku inginkan hanyalah tidur dan melupakan sejenak kesedihan hari ini


"Maaf, Agnes. Ini salahku" dia mengejarku yang kini sudah sampai di depan pintu rumah kosku


"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakan semuanya. Pulanglah" aku pun masuk ke dalam rumah kosku dan membiarkan William berdiri di luar. Aku tidak lagi memedulikan keadaan rumah yang sepi, aku kemudian naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarku


Pagi menjelang, sinar mentari yang hangat menembus masuk ke dalam kamarku. Tampak silau cahaya itu mengenai mataku yang baru saja tersadar dari alam mimpi


Ponselku terus saja berbunyi, entah siapa yang menghubungiku sepagi ini. Aku mengabaikannya dan kemudian masuk kembali ke dalam selimutku


Kuputuskan untuk kembali dan lagi hari ini aku aku putuskan untuk berhenti bekerja dan akan mencari pekerjaan lain. egois dan kekanak-kanakkan memang, menghindari masalah dan tidak menyelesaikannya. Tapi apa daya, aku memang tidak ingin terlibat lagi dalam hal itu dan lebih memilih menghindar untuk saat ini dan jika suatu nanti aku harus benar-benar menghadapinya maka akan aku lakukan


Baru saja aku akan kembali tidur, tiba-tiba pintu kamarki diketuk oleh seseorang. Aku kembali mengabaikannya tapi suara ketukan itu semakin sering dan bertambah keras


Aku bangun sembari menggerutu dan mengomel, mendekat ke arah pintu yang semakin lama seperti digedor


"Apa sih pagi-pagi berisik" ucapku seraya membuka pintu itu dan betapa malunya diriku yang kini masih memakai baju tidur bermotif kartun, rambut acak-acakan dan wajah kusut melihat ibu kos yang berdiri di depan pintu dengan dandana yang rapi dan juga wangi


Dia menggelengkan kepalanya sembari melipqt kedua tangannya di dada, "Ada yang menunggumu di bawah, cepat temui dia, kasihan sudah menunggu lama" aku pun mengangguk dan kemudian menutup pintu menghindari rasa malu yang semakin menjadi


Aku bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri, kemudian berganti baju dengan baju rumahan setelahnya aku turun ke tempat di mana katanya seseorang menungguku

__ADS_1


Aku sudah berada di ruang tamu, tapi di sana tidak ada siapa pun, hanya ibu kos yang pagi ini masih sibuk memasak atau entah melakukan apa


"Maaf, Bu. Di mana tamu yang menunggu saya?" aku mendekat ke arah ibu kos yang masih sibuk melakukan aktivitasnya di dapur


"Dia di luar" jawabnya tanpa menoleh ke arahku


"Oh, terima kasih" aku pun segera perg dan kemudian membuka pintu rumah kosku. Kulirik sekitar halaman, tidak ada siapa pun, di sana hanya pak Satpam yang sudah siap sedia di tempatnya


Kuputuskan untuk bertanya pada pak Satpam, siapa tahu dia mengetahui seseorang yang aku maksud


"Pagi, Pak" Satpam itu menoleh ke arahku


"Iya, Non. Ada apa, ada yang bisa saya bantu?" lanjutnya


"Apa pak Satpam tahu, siapa ya yang kira-kira nungguin saya. Kata ibu kos katanya ada tamu?" jelasku kemudian


Dan yang lebih membingungkan lagi, kenapa harus menunggu disana, bukankah lebih enak menunggu di ruang tamu atau di halaman depan. Entah, suka-suka mereka


Setelah berterima kasih pada pak Satpam aku pun segera berjalan ke tempat tersebut sambil terus menebak siapakah kiranya tamu itu


Kulihat di sekeliling mobil itu, mobil warna hitam dengan merek ternama dan masih terlihat baru. Mobil yang aku pun baru melihatnya karena platnya masih terlihat asing, tidak ada orang di sekitar mobil itu, tidak di depan, di belakang atau pun samping. Aku sempat bingung dan hendak bertanya lagi pada pak Satpam tapi kuurungkqn dan ide pun muncul di otakku


Kuketuk kaca mobil itu barangkali memang seseorang masih di dalam dan belum ke luar, berulang kali aku lakukan hal itu tapi tetap saja tidak ada sahutan. Aku coba mengintip ke dalam tapi aku tak bisa melihat apa pu karena kaca itu terlihat begitu pekat dan tidak tembus pandang


Akunyang lelah dan sudah tidak berminat itu langsung pergi dari mobil itu, tapi baru saja aku melangkahkan kaki aku mendengar pintu terbuka dan seseorang ke luar dari dalam sana

__ADS_1


"Apa ini sudah pagi?" ucapnya dengan suara serak, khas orang baru bangun tidur, ketikaendenagr suaranya aku sudah bisa menebak siapa orangnya dan benar saj ketika aku menoleh di sana sudah ada William yang terlihat acak-acakan mulai dari rambut, wajah dan juga setelan jasnya


Tapi tunggu, setelan jas itu bukankah setelan jas yang ia pakai kemarin dan kenapa masih ia pakai. Ditambah lagi ia sudah sampai di sini, di jam se pagi ini, apa ku.gkin dia tidak pulang semalam, apa mungkin dia menungguku di sini semalam dan apa mungkin dia menginap denganasih memakai baju kerjanya


Biarkan saja, aku tidak peduli. Aku pun melangkah semakin jauh dan hendak masuk kembali ke dalam rumah tapi langkah lebarnya berhasil3nyusulku dan tangannya berhasil mencekalku


"Agnes, tunggu, dengarkan aku!" ucapnya kemudian, aku hanya menoleh sekilas sembari menatapnya tajam tapi tidak bermaksud untuk membalas ucapannya


"Kita bicarakan semuanya, Nes. Aku minta maaf, ini salahku" lanjutnya masih enggan melepas tanganku


Aku sendiri juga tidak tahu kenapa tidak menepis tangannya yang kini berkaitan dengan tanganku, Aku sendiri enggan menatapnya tapi aku sendiri juga enggan melepas tautan itu, memang kadang hati dan tubuh tidak bisa bersahabat.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, Will. Pulanglah!"


"Aku tidak akan pernah pulang sampai kamu mau mendengarkan aku, lagipulq aku sudah berada di sini semalaman, tidur di dalam mobil dan merasakan pengennya garasi sempit itu, apa kamu tidak kasihan padaku?" rajuknya padaku


"Oh jadi benar, dia semalam tidak pulang. Tapi kenapa dia bisa senekat itu, apa untungnya!" batinku sembari berwajah cemberut


"Ayolah, Nes. Jangan seperti anak kecil"


Aku pun kemudian melepaskan tautan tangan itu, membalikkan badannya dan kemudian menatapnya, "Aku tidak memintamu untuk menungguku, aku juga tidak memintamu untuk tidur di sana dan satu hal lagi, Aku memangqsih anak kecil dan jika kamu tidak suka dengan anak kecil maka Pulanglah!" kataku pelan seraya menatapnya tajam


Aku memang sempat bersimpati ketika dia rela berkorban dan menungguku tapi simpati itu hilang saat dia mengatakan aku seperti anak kecil. Memang, aku masih berusia 20 tahun tapi aku tidak suka jika seseorang menganggapku anak-anak


Aku pun kemudian kembali berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam rumah, kututup pintu rumah kosku dengan keras dan menimbulkan suara nyaring

__ADS_1


William tidak berkutik, ia justru terkejut dan mengajak rambut serta wajahnya, "Salah lagu, salah lagi" gerutunya sambil terus melihat ke arah pintu


__ADS_2