HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 81


__ADS_3

"Semua berjalan seperti rencana, Bos!" Tegas seorang laki-laki berbaju hitam pada bosnya yang kini makin baju yang sama dengannya, keduanya tengah bertemu di sebuah rumah kosong yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah sakit


"Kerja bagus. Ini bayaranmu!" Ia pun melemparkan sebuah amplop berukuran sedang pada anak buahnya


"Terima kasih, Bos" lanjutnya sembari menangkap amplop dan membukanya, ia pun terlihat begitu gembira tatkala menghitung lembaran merah yang ia dapat di dalam amplop itu


"Itu baru setengahnya, jika wanita itu berhasil lenyap maka aku akan memberimu lebih dari itu" Dia pun mengangguk sembari memasang wajah yang sangat senang


"Baik, Bos. Tapi mungkin ini akan lebih sulit karena hampir saja tadi seseorang datang dan melihat senuanya"


"Tidak apa-apa, aku sudah memercayakan seseorang di dalam rumah sakit itu"


"Baik, saya akan memantau dari tempat biasanya"


"Pergilah dan terus amati perkembangannya, kemajuan apa pun tetap laporkan padaku!" laki-laki itu pun kemudian pergi dan tak.lama setelahnya sang bos pun ikut pergi


...***************...


"Begitu, Will. Maaf jika aku sudah keterlaluan, tapi itu semua adalah yang aku pikirkan saat ini" jelas Prima pada William,

__ADS_1


Ia menyampaikan apa yang selama ini ia pikirkan, ia menceritakan jika dirinya menaruh curiga pada Alexa dan yang melakukan ini semua adalah Alexa dan anak buahnya. Ada rasa tidak percaya pada William akan apa yang dikatakan Prima, tapi ia tidak mau menyimpulkan jika itu benar atau salah, ia ingin menyelidikinya lebih lanjut karena ia juga merasakan ada hal yang janggal pada kakaknya


"Tidak apa-apa, Prim. Aku juga sedang berpikir jika akhir-akhir ini ada hal yang tidak benar pada Alexa" sambung William dan mendapat anggukan dari Prima


"Apa itu, Will?" William kemudian menjelaskan jika beberapa waktu yang lalu ia pernah mendengarkan Alexa tengah berbicara dengan orang asing melalui telepon dengan nada yang kasar dan juga emosi, ia juga sering mendapati Alexa pulang larut malam dan sering memakai pakaian serba hitam


Tak berselang lama, aku pun mulai sadar dan terbangun. Aku merasakan pusing dan juga berat, mataku juga terasa sangat panas. Aku mencoba berdiri tapi kakiku terasa lemas


"Agnes!" teriak William sembari berlari menghampiriku yang kini tertunduk lemas di bawah ranjang karena tidak kuat menopang tubuh, Prima pun bereaksi sama, tapi ia tidak mendekat dan lebih membiarkan William saja yang mendekat


"Kamu sudah sadar, Nes. Ayo aku bantu berdiri" Dia pun memapahku dan membantuku untuk kembali duduk di atas ranjang, tapi aku menolaknya dan mengatakan jika aku ingin duduk di sofa saja, dia pun menurutiku dan membawaku ke sana


"Duduk, Nes" aku pun duduk masih dengan memegangi kepalaku yang terasa berat


"Bisa kamu ceritakan apa yang terjadi, Will. Kenapa tadi aku bisa tidur di sana?" mataku mengarah ke ranjang samping Mbak Sumi


William pun kemudian menceritakan apa yang tadi terjadi ketika ia da Prima datang, ia juga menceritakan jika Mbak Sumi hampir saja celaka. Aku semakin bingung, seingatku tadi aku tidak melihat siapa pun masuk dan juga mencelakai Mbak Sumi


"Tidak perlu bingung seperti itu, sekarang semuanya baik-baik saja, tidak usah khawatir. Sekarang ceritakan darimana kamu mendapat makanan itu dan akhirnya membuatmu tertidur?" lanjut William sambil melihat ke arah makanan yang kini sudah rapi terbungkus plastik

__ADS_1


"Loh, bukannya kamu yang kirim makanan itu?" William terkejut dan menunjuk dirinya sendiri


Aku mengangguk, " Iya kamu, kata kang kurir ini makanan kamu yang kirim"


"Kapan?" William berganti bingung, aku pun menjelaskan secara rinci dan detail tentang apa yang ia dengar, aku juga menjelaskan tidak menghubunginya sesaat setelah menerima paket itu karena aku sudah percaya padanya dan aku pikir jika itu memang dia


"Kamu masih ingat bagaimana ciri-ciri tukang kurir itu?"


"Dia tidak terlalu tinggi, badannya kecil, tapi wajahnya aku tidak begitu jelas melihatnya karena dia memakai masker" lanjutku kemudian


"Baiklah, tidak perlu khawatir. Semuanya akan segera terungkap" dia menggenggam tanganku erat mencoba memberi semangat


Aku mengangguk dan kemudian berdiri dan berjalan ke arah Mbak Sumi yang kini masih terbaring lemas tidak berdaya


"Maaf Mbak, aku teledor dan hampir membuat Mbak celaka" aku kini duduk di sampingnya, Prima yang semula di sana kemudian berdiri dan akan meninggalkan kami tapi buru-buru aku mencegahnya


"Jangan pergi, aku ingin mengatakan sesuatu" Aku mengucapkan kata-kata itu dengan hati yang bergetar, sakit dan juga bimbang


Dia tidak menjawab, hanya diam dan kembali duduk. Aku menghela nafas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya perlahan

__ADS_1


"Maaf" kata itu kemudian meluncur begitu saja


__ADS_2