HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 90. Memulai interogasi


__ADS_3

"Ini rumah siapa, Will?" tanyaku kemudian sesaat setelah sampai di sebuah rumah kecil yang bercat serba putih itu, rumah yang hanya punya 1 pintu dan 2 jendela di bagian depan. Pekarangan di rumah itu terlihat cukup luas tapi entah kenapa rumah itu dibangun sangat kecil dan hanya memakan tempat tidak kurang dari seperempat tempat itu


Di sekitaran tempat itu tidak begitu banyak rumah yang dibangun dan juga sangat sepi.


"Masuklah nanti kami juga akan tahu" tanpa bertanya lagi aku hanya menurut dan mengikutinya


William mengeluarkan sebuah kunci yang ia simpan di saku jas miliknya dan membuat pintu itu, aku pun mengikutinya masuk dan di sana aku disuguhkan dengan sebuah ruangan kecil yang tidak berisi apa pun, ruangan itu juga bercat putih dan berlantai keramik warna hitam. Kulihat kanan kiri mencoba kembali memastikan apa yang aku lihat dan ternyata tidak ada perbedaan sedikit pun


William kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya, sebuah remot kecil berwarna hitam yang hanya punya satu tombol. William memencet tombol itu dan kemudian lantai pun terbuka dan tampaklah sebuah ruangan yang dihubungkan oleh sebuah tangga


"Ayo!" ajaknya dan aku pun menurut tanpa bertanya lebih jauh lagi. Aku tidak ingin mencari penjelasan sebab aku tahu William tidak mungkin akan mencelakaiku


Kami pun menuruni tangga itu dengan pelan sebab tangga itu hanya terbuat dari besi dan memiliki pegangan di sisi kanan dan kiri. Setengah perjalanan aku sudah bisa melihat, di sana ada cahaya yang terlihat menyilaukan mata


Aku sedikit menyipitkan mataku saat melihatnya namun sedetik kemudian aku kembali fokus pada langkah kakiku yang kini sudah hampir mencapai dasar tempat itu


Ruangan bawah tanah, di situlah kini aku berada. Ruangan dengan penerangan yang luar biasa terang. Dinding bercat putih dan terdapat 2 pintu di sana yang memiliki warna yang berbeda dari dinding ruangan itu


Wulliam menarikku ke sebuah pintu yang berada di sisi kiri, belum lagi William membukanya, pintu itu sudah terbuka dan tampaklah seorang laki-laki berpakaian serba hitam yang entah siapa itu tapi ia terlihat menunduk hormat pada William


Aku pun mengikutinya dan satu lagi kejutan aku dapatkan. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah meja besar yang di keliling oleh beberapa kursi, di mana di dinding terdapat beberapa monitor yang mengawasi sebuah ruangan dan bisa aku simpulkan mungkin saja itu adalah ruangan yang berada di sebelah


Ada beberapa orang yang duduk di sana, aku tidak begitu mengenali mereka sebab mereka duduk sembari memebelakangiku dan juga William. Mereka semua masih asyik memerhatikan monitor yang terpampang di sana


"Maaf menunggu lama" William angkat suara dan semuanya pun berbalik


Setelah mereka berbalik aku pun kini bisa mengenali siapa saja yang sedari tadi duduk di sana

__ADS_1


"Mbak Sumi!" ucapku cukup kencang, sang pemilik nama pun juga terkejut ketika melihatku. Cukup lama kami berdua saling pandang, ada rasa bahagia yang kini menyeruak di dalam dadaku. Ketakutan dan kekhawatiran yang kemarin aku rasakan saat dia terbaring lemah tak berdaya


"Non Agnes!" dia berlari dan kemudian memelukku, aku pun membalas pelukannya


"Terima kasih, Non!" lanjutnya


"Untuk?"


"Sudah menyelamatkan Sumi dan juga Pak lek, meski kini pak lek sudah pergi untuk selamanya" tangis pun pecah


"Sama-sama, Mbak. Sudah, yang sabar ya" aku mencoba menenangkannya. Dia pun melepasakn pelukannya meski isakanasih terdengar


"Maaf ya, Non"


"Kenapa minta maaf?"


"Sumi sudah menyakiti, Non. Tapi Non malah menyelamatkan Sumi, harusnya biarkan saja Sumi, mungkin sampai sekarang Sumi tidak akan berpisah dengan Pak lek" tangisnya kembali pecah, aku pun kemudian memintanya untuk duduk


"Tapi ....."


"Jangan mencari alasan yang tidak-tidak, aku tidak ingin mendengar hal konyol seperti ini lagi. Ingat Mbak, sebentar lagi Mbak akan menikah dan berbahagialah untuk itu"


"Pernikahan itu tidak akan sempurna, Non. Satu-satunya keluarga yang Sumi miliki sekarang sudah pergi untuk selamanya"


"Jodoh, maut, rejeki, semuanya sudah diatur Mbak. Kita hanya tinggal berjalan mengikuti alur. Apa pun yang terjadi, kita harus tetap melanjutkan hidup. Apa Mbak lupa atau memang Mbak sudah tidak menganggap Agnes lagi, bukankah kita keluarga?" Mbak Sumi kemudian memelukku dan tangis itu kembali pecah, aku mencoba menenangkannya meski aku sendiri kini tengah kacau dan tidak karuan tapi aku mencoba untuk tegar dan baik-baik saja agar tidak membuat yang lain cemas


William pun selesai dengan pembicaraan seriusnya, ia kemudian mendekat, "Ayo!"

__ADS_1


"Ke mana?" aku mengangkat kepalaku dan menatapnya yang kini berdiri di sampingku


"Oh iya, aku lupa memberitahumu" William menepuk jidatnya sembari tersenyum manis. Kadang, hatiku masih suka bergetar kala melihatnya tersenyum manis seperti itu tapi semuanya segera aku tepis agar aku tidak kembali larut dalam perasaan itu dan kemudian kembali membuatnya terluka


Ia kemudian menceritakan semuanya, jika hari ini kita akan segera mengetahui semuanya dengan gamblang. Ada keraguan kala dirinya menyebut nama Alexa, Kakak perempuannya. Aku sendiri sedikit tidak percaya apakah dia memang pelaku di balik itu semua, orang yang berpendidikan dan berpengalaman seperti dia bisa-bisanya berbuat di luar nalar yang hampir merenggut dua nyawa sekaligus


Tapi inilah hidup, segala sesuatu bisa saja terjadi entah itu bisa di nalar atau tidak tapi ketika yang bersangkutan sudah menganggap semuanya itu jalan yang paling jitu untuk ia lakukan maka hal itu terjadi dan tidak menutup kemungkinan juga bagi orang yang punya pengalaman dan juga pendidikan tinggi


Aku kemudian berpikir atas dasar apa dirinya sampai sekeji ini, hal apa yang membuatnya nekat sampai berbuat sejauh ini. Jika dibandingkan, maka Mbak Sumi dan dirinya sudah sangat jauh dan mungkin bisa dikatakan langit dan juga bumi. Tapi jika dipikir kembali, mungkin ini semua karena laki-laki itu


Prima, laki-laki dengan sejuta pesona yang membuat siapa pun pasti akan terkesimq ketika melihatnya. Sikapnya yang hangat dan juga ramah, serta kesabaran yang ia miliki mampu membuat simpati berlebih bagi orang yang mengenalnya, tidak terkecuali aku sendiri. Tetapi untung saja sampai saat ini kesadaran di dalam otak masih terus menuntunku ke arah yang benar dan tidak terjerumus ke dalam hal yang mirip dengan Alexa, meski pun aku tahu aku juga salah dan mungkin salahku tidak termaafkan tapi biarlah semua masa lalu itu menjadi pelajaran dan membawaku lebih baik lagi


"Ayo!" ajak William kembali, aku pun memgangguk dan mengikutinya. Ia pun kembali menggengam erat tanganku


Kulihat ke arah mbak Sumi yang masih berada di belakangku, dia masih berdiri sembari menunggu kekasihnya yang sedari tadi sibuk dengan berbagai tumpukan kertas itu. Sang kekasih pun selesai dengan aktivitasnya dan mendekat, meraih jemari Mbak Sumi dan keduanya pun tersenyum bersamaan


Ada rasa sakit terbesit di hatiku, aku masih merasakan cemburu meski dia bukan siapa-siapa lagi di hidupku. Kumencoba menguasai perasaanku dan kembali fokus pada ajakan William untuk memulai interogasi


.


.


.


.


hay mak emak semua....

__ADS_1


otor up lagi loh ini. harap maklum ye kalo banyak typo soalnya ngetiknya sambil merem melek ini mata, ngantuk berat .....


jangan lupa yah untuk tetep dukung otor, like komen dan juga votenya ditunggu loh ya


__ADS_2