
Aku masih duduk sendirian di mini cafe itu, meski banyak orang yang berlalu-lalang di sana namun tak ada satu pun yang aku kenal
"Selamat siang, Bu" sapa Aira yang kini berdiri di sampingku, aku menoleh ke arahnya, dia tersenyum lalu aku memepersilakan dia duduk
"Kamu datang sendiri, Ra?" Aira mengangguk
"Bu Agnes lagi menunggu seseorang?" aku menggeleng
"Ada hal yang ingin saya sampaikan pada Bu Agnes. Maaf jika ini menyangkut hal yang pribadi" Aira menundukkan wajahnya
"Katakan saja, Ra. Tidak perlu sungkan, jika memang saya bisa menjawabnya maka akan saya jawab"
"Sebelumnya saya mohon maaf, Bu. Saya baru tahu jika Mas William ternyata adalah mantan ibu" Ada sekelumit perasaan tidak rela kala ia mengucapkan kata mantan, ya memang benar adanya namun aku belum siap untuk mendengarkan hal itu
"Iya, dia memang mantan saya. Kami memang menjalani hubungan dan bahkan sudah menentukan tanggal pernikahan, tapi hal yang tidak terduga terjadi dan kami berpisah" dengan sekuat tenaga aku mengatakannya, aku menahan air mata yang hendak keluar
"Maaf ya, bu" lirih Aira
"Kamu tidak perlu minta maaf, Aira. Jodoh itu sudah ada yang mengatur, jika memang saya tidak bersamanya ya berarti saya bukan jodohnya, kalau pun sekarang kamu yang bersamanya ya berarti dia jodoh kamu. Saya sudah mengikhlaskan semuanya" kugenggam tangan Aira yang kini terasa dingin dan berkeringat
"Titik paling tinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskan orang yang kita cintai berbahagia bersama orang lain"
"Apa ibu masih menyimpan rasa untuk mas William?" dengan tubuh yang gemetar Aira memberanikan diri untuk mengatakan hal itu
Aku tersenyum mendengarnya, "Cinta ini memang masih ada, tapi tidak untuk ditumbuhkan, ia sudah pernah berbunga di masanya dan sekarang mungkin sudah waktunya untuk disimpan menjadi benih yang tidak perlu ditanam"
"Tapi apa Bu Agnes masih mau bersama mas William jika seandainya dia tidak bersamaku" kulepas genggaman tanganku dan kumundurkan tubuhku
"Jangan pernah berpikir untuk meninggalkannya hanya karena kamu mendengar penjelasanku, Aira. Dia sudah memilihmu dan kamu juga sudah memilihnya. Kalian bersama saat aku dan William tidak lagi bersama, jadi jangan pernah berpikir yang tidak-tidak"
...*****************...
Di lantai satu, semua pemain pendukung sudah siap beraksi kembali. Semua sudah bersiap di tempat masing-masing, tempat ini juga sudah ditutup tanpa sepengetahuanku. Kini William yang akan mulai beraksi, dia akan mengakhiri semua sandiwaranya
William berjalan ke lantai dua, ia berjalan santai sambil senyum-senyum tidak jelas. Ia pun melirik ke arah mini kafe yang kini hanya berisikan aku, Aira dan seorang pramusaji kafe. Ia berjalan santai dan menghampiri kami berdua, bagai tak memiliki dosa ia pun duduk di samping Aira dan merangkul bahu kekasih pura-puranya itu
Sesaat aku merasakan sesak kala melihat pemandangan mesra itu, tatapan mata William begitu hangat dan penuh cinta saat menatap Aira namun tidak dengan Aira, ia malah terlihat risih dan juga seperti memendam hal yang sulit untuk diungkapkan. Jantung Aira berdetak lebih cepat dan keringat mulai menetes di sana, ia berulang kali mengusapnya
Aku pun sama, jantungku berdetak lebih kencang saat kembali disuguhkan dengan pemandangan romantis saat Willy mengusap keringat yang menetes di pelipis Aira
"Apa di sini terasa panas, sayang. Aku akan menaikkan suhu ACnya jika begitu"
__ADS_1
"Tidak usah, mas. Aku pamit dulu, aku ingin ke toilet sebentar" William mengangguk dan Aira pergi meninggalkan aku dan William di sana, bersamaan dengan itu, pramusaji yang tadi berada di sana juga ikut pergi. Aira merasakan kelegaan karena pada akhirnya dia terbebas dari sandiwara yang mengguncang jantungnya itu, ia dan pramusaji itu kini berada di lantai satu bergabung dengan para pemain pendukung lainnya
Aku kali ini sibuk mengirimkan pesan pada Mbak Sumi dan juga Kak Sofi tapi keduanya kompak tidak membalas pesanku dan bahkan panggilanku juga diabaikan. Aku berdiri tanpa menoleh ke arah William, aku hendak pergi tapi dia mencegahku
"Duduk lah, aku ingin bicara" suaranya melunak, berbeda dari saat terakhir aku berbicara dengannya
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Will. Semuanya sudah selesai" tangan William masih berada di pergelangan tanganku
"Siapa bilang semuanya sudah berakhir, masih ada satu hal yang bahkan belum dimulai" aku menatapnya dan dia malah tersenyum
"Duduk saja" aku kemudian duduk
"Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu!" nada bicaraku kali ini lebih tinggi
"Selamat ulang tahu, Nes. Maaf terlambat mengatakannya" aku masih diam dan tidak menyahut sama sekali
"Apa kadoku sudah sampai, aku menitipkannya pada Sofia"
"Kenapa kamu mengirimkan foto-foto itu, apa kamu tidak punya pekerjaan lain lagi pula jika kelasihmu tahu nanti dikiranya kamu masih menyukaiku!" Sekali lagi nada bicaraku mulai naik
"Memang salah jika aku masih menyukaimu, apa kamu juga sudah tidak menyukaiku lagi?" senyuman itu kembali terukir di wajah William
"Katakan padaku, Nes. Apa kamu memang sudah tidak lagi mencintaiku?" aku menggeleng
"Seribu persen yakin!"
"Lalu ini apa, Nes?" William memutar sebuah audio yang berisi percakapanku dengan Ayah saat di rumah sakit, tidak ada lagi tempat untuk menghindar sekarang. Beribu alasan yang sedari tadi aku sanggahkan padanya tidak lagi berguna sama sekali
Malu, hanya itu yang aku rasakan sekarang. Aku memang meminta bantuan Ayah untuk bisa bertemu dengan Willy tapi tidak begini caranya. Dan kenapa juga ayah merekamnya lalu memberikannya pada William, itu hanya membuatku semakin terlihat bodoh dan semakin terlihat jika aku masih memiliki rasa padanya
"Kenapa diam, Nes. Coba jelaskan ini apa?" dengan suara lembutnya ia kembali meminta penjelasan
"Iya, memang, yang kamu dengar itu benar tapi sekarang semuanya sudah tidak ada gunanya lagi, toh kamu juga akan menikah, kan?"
William tertawa kali ini, ia benar-benar tidak dapat menyembunyikan tawanya meski hanya sejenak. Entah apa yang ia tertawakan namun yang pasti ia sepertinya sangat bahagia
"Benar, aku memang benar akan menikah dan bisa dipastikan akan terjadi dalam waktu dekat" William kemudian mengambil sesuatu dari saku jaketnya, iaengambil sebuah undangan pernikahan yang berwarna merah, undangan dengan bentuk bunga mawarerah dan berinisial AW itu kini ia sodorkan tepat di depanku
"Terima kasih undangannya" aku mengambilnya dan segera berdiri, kugenggam erat undangan itu, kertasnya kini sudah terlipat menjadi dua saking kerasnya aku menggenggam
"Lihat dulu sebelum pergi, Nes!" seru William dari tempat duduknya, aku yang kini sudah berjalan menuruni tangga seketika berhenti dan melihat apa yang aku pegang
__ADS_1
Bak tersambar petir di siang bolong, seketika jantungku rasanya berhenti saat membaca undangan pernikahan itu, bukan nama Aira dan William yang ada di sana melainkan namaku dan William
Kuputar tubuhku dan kembali ke William, "Jelaskan apa maksudnya. Aku tahu aku pernah mengabaikanmu dan membuatmu bosan menungguku, tapi bukan begini caranya kamu membalasnya, ini enggak lucu, Will!" Tapi William malah semakin keras tertawa membuatku makin emosi
"Aku tahu kamu akan menikah, kamu tidak perlu menghinaku dengan semua ini. Aku tahu aku salah tapi aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini untuk membalas kesalahan orang lain"
"Kenapa kamu marah, apa kamu tidak senang dengan desainnya, kalau kamu tidak senang kamu bisa merubahnya" sejenak aku diam saat apa yang aku dengar tidak masuk di nalarku, apa maksudnya semua ini
"Aku memang akan menikah, dan hanya denganmu aku akan menikah. Jika aku tidak bisa memilikimu maka aku tidak akan pernah menikah!"
"Will you marry me?" William menunjukkan sebuah cincin padaku, ia berlutut tepat di depanku dan tersenyum manis. Aku masih tidak tahu harus berkata apa, otakku tidak bisa berpikir sejauh ini, ingin rasanya aku menangis tapi di sisi lain aku juga masih sedikit emosi pada laki-laki ini
"Surprise!" teriak mereka semua dari arah tangga, para pemain pendukung yang sedari tadi bersembunyi dan mendengarkan dengan seksama apa yang terjadi padaku dan juga William, sampai di sini aku masih belum mengerti dan masih terdiam seperti orang bodoh yang tersesat
"Terima saja, Nes. Benih cintamu masih bisa tumbuh, kan?" seru kak Sofi sembari bergelayut manja di lengan sang suami
"Ayo lah, Nes. Terima dia kembali, dia hampir kami masukkan ke rumah sakit jiwa karena terus memikirkanmu" sambung Tomi
"Kasihan dia, umurnya sudah hampir kepala tiga, jangan sampai dia jadi perjaka tua!" Prima pun tak ingin kalah
"Maaf ya, Bu. Kami semua membuat Bu Agnes mengalami ini semua" Aira mendekat ke arahku yang sampai saat ini masih diam dan belum tahu harus bicara apa
"Saya sebenarnya bukan calon istri kak Willy, kami berdua masih keluarga dan kami saudara sepupu" jelas Aira sekali lagi, kali ini aku baru bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Aku kembali duduk dan mengatur nafas serta emosiku yang belum stabil
"Sejauh ini kami sudah bekerja dengan baik, maka selebihnya biar pak William Adiputra saja yang menyelesaikan. Ayo kita semua pergi dan biarkan mereka berdiskusi" ajak Tomi pada mereka semua, William berdiri, ia duduk tepat di depanku
"Maafkan aku, Nes. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana" aku menatapnya tajam
"Ini semua rencana Oma, awalnya aku tidak mau tapi ternyata rencana ini cukup akurat dan berhasil" William masih terus tersenyum seolah kini kemenangan telah berada di tangannya
"Lagi pula om Kuncoro juga terlibat, dia tahu semuanya" hal mengejutkan kembali kudengar, aku tidak mengira ayah tega melakukan ini semua padaku, pantas saja waktu itu ia menyarankan aku agar aku datang ke pertunangan William ternyata ada udang dibalik batu, menyebalkan
"Terima kasih, Will!" aku tak lagi menanggapi ocehannya, aku segera pergi dari sana. Jujur, untuk saat ini aku memang bahagia tapi aku berencana membalas kejahilan yang Willy perbuat padaku, lihat saja nanti Will
Aku melenggang pergi dari sana, masuk ke dalam mobil yang masih menungguku di sana. William masih memanggil namaku tapi tak aku hiraukan
.
.
.
__ADS_1
William sudah mengaku, namun Agnes memiliki niat untuk menjahili William kembali. Kira2 bagaimana ya kelanjutan kisah mereka.........