
Aku dan William baru saja sampai di depan sebuah kafe berada tidak jauh dari kantor, kafe itu terlihat sepi hanya ada beberapa karyawan berseragam hitam yang lalu-lalang meletakkan barang-barang yang baru saja datang.
Dengan segera, William menarik tanganku dan membawaku masuk ke dalam kafe bernuansa kekinian itu. Kafe dengan cat yang berwarna biru terang dan juga menyala, hampir di setiap sisi temboknya terdapat beragam gambar dan juga tulisan-tulisan dengan ejaan kekinian
Letak meja dan kursi pun dibuat semenarik dan senyaman mungkin untuk para pelanggannya yang bisa diperkirakan adalah dari kalangan muda-mudi.
Para pelayan kafe ini juga masih muda serta tampan dan juga cantik, itu menambah nilai plus bagi tempat ini.
Aku pun dibawa William duduk di sebuah tempat yang paling dekat dengan pintu, tempat yang merupakan spot favorit dari William saat pergi ke mana pun.
"Duduklah," William menarik sebuah kursi dan memintaku duduk di sana, membuatku semakin gelisah karena hal ini terjadi lagi. Hal yang sangat ingin aku lupakan tapi pada nyatanya malah terjadi.
Aku mengangguk dan kemudian duduk, "Apa Direktur kita masih muda?" aku memberanikan diri untuk bertanya meski kini aku semakin gugup di saat William duduk tepat di depankuabil terus tersenyum.
Dia mengangguk dan lagi-lagi sambil tersenyum, " Apa kamu tidak lelah dari tadi terus tersenyum, aku takut gigimu kering" ucapku lirih sambil menunduk
"Kamu mengatakan sesuatu?" aku buru-buru menggeleng, dan kemudian mencoba bersikap biasa agar aku tidak terlihat gugup
"Mau makan atau minum apa?" imbuh William sambil membuka buku menu yang ada di atas meja itu
"Terserah" kataku singkat sambil memainkan ponselku
"Di sini tidak ada makanan atau minuman dengan nama terserah" William kemudian menutup buku menu itu dan kembali menatapku dengan senyuman di wajahnya, dan yang membuatku semakin tidak mengerti adalah sikapnya kali ini, ia dengan sengaja menopang wajahnya dengan kedua tangannya yang ia landaskan pada meja kemudian masih dengan diiringi sebuah senyuman.
"Aku akan pesankan makanan yang sama denganku" aku mengangguk dan William pun memanggil seorang pramusaji dan kemudian kembali membuka buku menu itu sambil menunjuk gambar makanan dan minuman di sana.
Sang pramusaji pun hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian berlalu untuk menyiapkan makanan untuk kami, William pun kembali ke aktivitas awalnya,
__ADS_1
"Nanti gigimu bisa kering, Will" akhirnya kalimat itu terlontar dari mulutku dan ia pun tidak menjawab masih dengan tingkah konyolnya
"Jangan menatapku terus-menerus, kamu menakutiku" lanjutku
"Kamu takut denganku?" aku mengangguk masih dengan menatap ponsel milikku
"Kamu itu sebenarnya tidak takut denganku, yang kamu takutkan adalah kamu jatuh cinta denganku lagi. Iya kan, jujur saja" ucap William penuh percaya diri.
Aku mengelak dan terus menyangkalnya meski di dalam hatiku sekarang aku mengiyakan kata-kata itu, tapi tidak mungkin juga aku mengakuinya, mau ditaruh di mana mukaku, kan malu.
Makanan yang Willy pesan pun datang, setelah semuanya tersaji di meja aku belum berani memakannya karena seseorang yang kami tunggu belum datang.
"Ayo makan!" Willy mulai memakan makanannya tapi aku masih diam sambil mengamati makanan itu
"Bukankah kita harus menunggu Pak Direktur terlebih dahulu?"
Aku menyipitkan mataku ketika mendengar perkataannya, aku tidak tahu maksud pasti dari kata-katanya. "Maksudnya apa, Will?" lanjutku
"Maaf, Nes. Aku berbohong" ucap Willy tanpa dosa
"Jadi, ini semua?" aku menunjuk ke arah makanan yang tersaji di atas meja itu
"Sudah, jangan banyak bicara, cepat makan"
"Aku tidak mau"
"Kenapa, bukankah tadi kamu bilang kamu bosan dan ingin meminta pekerjaan, ya jadi ini pekerjaan kamu sekarang. Makan denganku, sudah cepat makan" Willy pun kemudian kembali memakan makanannya dan tidak lagi peduli denganku yang kini terus berbicara dan agak marah.
__ADS_1
...*************...
Prima masih bersembunyi di balik sebuah tembok kaca, pembatas antara restoran milik Alexa dan sebuah barber shop yang kini telah berdiri megah tepat di sebuah lahan, di mana dahulu toko bunga miliknya berada.
Barber Shop yang terlihat begitu luas, kira-kira bisa menampung sekitar 20 pengunjung atau lebih, di dalam tempat ini juga dilengkapi dengan mini Cafe sehingga pengunjung tidak merasa bosan ketika sedang menunggu giliran untuk merapikan rambut mereka atau mereka yang memang sengaja untuk nongkrong di tempat in
Ada perasaan haru dan juga sakit yang ia rasakan ketika menapakkan kaki di tempat ini, semua kenangan selama ia bekerja kembali berputar otomatis di otaknya.
Kejadian demi Kejadian kembali terngiang di telinganya, Kejadian di mana usahanya berawal dan berjalan dengan baik, kemudian ia mulai mengenalku, menjalin kisah yang pada kenyataannya hanya aku yang memiliki rasa hingga pada akhirnya kisah itu terungkap dan dia kehilangan tempat ini
Dadanya bergemuruh dan matanya memerah, tapi apa daya itu semua hanya masa lalu yang tak akan pernah mampu ia ulang dan perbaiki
Semua itu telah ia lalui dan mungkin sudah ia ikhlaskan, tapi ada hal yang lebih buruk dari itu, ia kehilangan jejak dari orang yang ia cintai dan sampai sekarang belum memiliki titik terang di mana kiranya dia berada.
Ia masih terus mengamati dari jarak yang cukup dekat, mengawasi Alexa yang memang ia curigai dan ia merasa jika hilangnya Mbak Sumi memang ada hubungannya dengan dirinya.
Seharian ini ia masih di sana, membiarkan perut dan tenggorokannya kosong, ia juga telah melaporkan kehilangan Mbak Sumi kepada pihak berwajib dan kini sedang dalam proses.
Alexa sendiri yang seharian ini diawasi memang tidak menunjukkan pergerakan yang mencurigakan karean seharian ini restoran miliknya penuh dengan pengunjung dan hampir tidak ada waktu senggang untuk dirinya beristirahat.
Tapi, ada satu hal yang tidak Prima ketahui, bahwa seseorang telah mengawasinya dari jarak yang Prima pun tidak menyadarinya. Seluruh pergerakan Prima telah terekam jelas di penglihatannya dan segera hal itu ia laporkan pada Alexa, sehingga seharian ini Alexa memang menyibukkan dirinya di restoran dan tidak pergi ke luar agar Prima tidak merasa curiga.
"Mohon maaf, Mas. Kami akan tutup, jika Mas masih ingin menunggu, saya harap Mas menunggu di luar" seoarang pemuda yang berpenampilan rapi itu mendekat ke arah Prima yang kini masih duduk di tempat awal dan masih terus mengamati targetnya.
"Oh begitu ya, maaf. Saya akan menunggu di luar" Prima segera bangkit dan kemudian pergi
"Mohon maaf sekali lagi" Prima mengangguk
__ADS_1