
"Saya terima nikah dan kawinnya Agnes Kuncoro binti Kuncoro dengan mas kawin tersebut saya bayar tunai!" dengan lantang William mampu mengucap ijab qabul hanya dengan satu tarikan nafas
Kata "SAH" pun menggema di ruangan itu, semua tampak haru dan bahagia, ucapan hamdalah saling bersautan saru sama lain. Bahagia menyeruak, pada akhirnya perjalanan panjang yang berliku menemui titik akhir dari langkahnya. Lelah dan penuh pelajaran ketuka aku ingat kembali bagaimana semuanya berakhir di momen ini
Aku dan William kini bergantian menandatangani buku kecil yang berwarna hijau dan merah itu, sebuah tanda bahwa kita berdua kini sudah sah, baik di mata agama maupun hukum. Kucium punggung tangan William untuk pertama kalinya aku sebagai seorang istri
Setelahnya, aku dan William mendekat ke arah orang tuaku, Oma Mariyam dan orang tua William. Kami berdua memeluk mereka bergantian, tampak rona bahagia juga terlukis di wajah mereka. Kemudian Mbak Sumi, Prima, Samuel, tak lupa Om Defrico, dia adalah orang paling berjasa dalam momen ini. Dan yang terakhir adalah kak Alexa, alasan paling kuat dan paling besar untuk diriku melakukan ijab qabul di tempat yang tidak lazim ini, aku tidak ingin membuatnya merasa disisihkan saat dia sedang terpuruk
"Kak" kali ini aku berani memanggilnya dengan sebutan itu, sebab sejak beberapa minggu yang lalu ia sudah berbuah dan tidak se ganas dulu
Alexa kembali menangis, ia tak kuasa menahan kebahagiaan yang kini mendominasi dirinya meski ia sadar sesaat setelah ini semua berakhir dirinya akan kembali menjalani hari-harinya yang kembali sepi dan sendiri. Ya, hari ini dia sudah harus kembali ke sel tahanan sebab kondisinya sudah memungkinkan dan sudah sehat
"Berbahagia lah kalian, berikan kakak keponakan yang lucu dan imut" ia terlihat mengusap air matanya yang kini kembali menetes
"Terima kasih, Kak. Jangan khawatirkan hal itu, akan aku buatkan lima lusin keponakan untuk kakak!" aku melotot ke arah William yang dengan mudahnya mengucapkan hal konyol itu. Apa dia tidak berpikir jika apa yang ia ucapkan itu nanti akan jadi kenyataan, lalu berapa kali aku harus melahirkan. Apa dia pikir aku seekor kucing
"Mas!" William menoleh dan seketika tertawa
"Jangan marah ya, sayang" Dia meraih tubuhku dan mencium keningku
"Hallo, pengantin baru yang berbahagia. Di sini masih ada kakak loh ya?" kami bertiga kemudian tertawa
...*****************...
__ADS_1
Di luar aula
Di halaman yang terletak di depan aula, kini sudah disulap menjadi sebuah perjamuan makan, halaman yang tidak terlalu luas itu kini sudah penuh dengan meja, kursi dan berbahagia makanan. Halaman itu kini bak sebuah pesta kebun dan tidak akan pernah mengira jika ini terdapat di sebuah klinik. Kali ini makanan yang tersaji berasal dari sebuah katering.
Katering yang ditangani oleh Prima Cs kini menyajikan berbagai olahan makanan nusantara, mereka semua adalah beberapa karyawan yang dulu sempat terkena dampak dari kebangkrutan Adiputra Corp, namun mereka kini kembali bekerja di bawah kepemimpinan empat sekawan, siapa lagi jika bukan William, Prima, Tomi dan juga Andreas
Semuanya menikmati hidangan, tapi tidak dengan Mama, Om Defrico dan juga orang tua William. Mereka tampak serius dan tengah membicarakan hal penting, meski fi depan mereka juga tersaji makanan yang mereka ambil tadi
"Terima kasih, Tuan Def. Anda sudah sangat membantu kami" kata Adiputra, ia menyadari kuasa yang dimiliki oleh Om Defrico kini jauh di atasnya
"Tidak perlu berterima kasih, kita kan keluarga sekarang"
"Tanpa Anda, perizinan itu tidak akan mungkin kami dapatkan" lagi-lagi Adiputra merendahkan dirinya
"Jangan seperti itu, kalau pun saya tidak melakukan ini semua, sebenarnya Agnes sendiri sudah mengurus izinnya, kebetulan juga saya berteman baik dengan pemilik klinik ini jadi ya mudah mengurus semuanya" jelas Om Defrico sekali lagi
Alexa yang tadi sempat menikmati udara bebas dan merasakan kebahagiaan bersama keluarga, kini harus kembali pada takdir yang harus ia jalani. Setelah berganti pakaian serta menghapus riasan yang menempel sempurna di wajahnya kini tiba waktunya ia harus kembali ke dalam sel yang dingin dan sepi
Kami semua menghatarnya, air mata kembali menetes saat mengingat beberapa menit yang lalu kita baru saja berbahagia dan berkumpul bersama tapi kini kita harus dipisahkan, bukan hanya waktu tapi juga tempat
"Kalian jangan menangis, Alexa baik-baik saja" ucapnya kala sudah berada di balik jeruji besi
"Lexa, aku mohon terima lah permintaanku" Mbak Sumi mendekat dan terus membujuk dirinya
__ADS_1
Alexa menggeleng, "Tidak, aku sudah melakukan dosa dan ini caraku untuk menebusnya. Meski aku tahu, ini semua tidak akan pernah bisa mengembalikan nyawa yang sudah pergi"
"Aku sudah ikhlas, Lexa. Aku akan mencabut tuntutannya" Alexa terus menggeleng
"Ayo lah, Lexa. Pikirkan sekali lagi" sambung Sam
"Kalian pulang saja, kalian pasti lelah. Aku juga ingin istirahat" pungkasnya kemudian, ia lalu merebahkan dirinya di atas matras tipis dengan bantal dan juga selimut yang khusus diberikan oleh pihak berwajib
Bukan tanpa alasan, hal itu dilakukan karena Alexa baru saja keluar dari klinik. Terlebih lagi kuasa uang yang dimiliki oleh Om Defrico membuat hal itu menjadi hal yang mudah. Ia memang sangat berpengaruh dan mudah melakukan apa pun
Alexa memunggungi kita semua, ia terlihat masuk ke dalam selimutnya. Sesekali ia mengusap netranya yang kini meneteskan air mata. Mama Rosa dan Oma Mariyam masih terus saja menangis. Tapi berbeda dengan Papa Adiputra, ia tampak menahan sesak dadanya dan juga air matanya. Ia terus berusaha kerasa bersikap tegar dan tidak ikut menangis, kali ini ia benar-benar bisa merasakan sakitnya perasaan dan juga pedihnya penderitaan sang anak
Dengan berat hati kita semua pergi dari sana, tapi tidak dengan Samuel. Ia masih duduk di sana sembari menatap pujaan hatinya dengan beribu pertanyaan dan juga cara agar apa yang ia inginkan bisa disetujui Alexa
Kami pergi bukannya kami tidak ingin menemani Alexa, namun waktu yang semakin sore membuat kami harus segera bergegas ditambah lagi kami semua masih memakai baju yang tadi kami pakai untuk acara, kami memutuskan pulang dan kembali lagi besok
...************...
"Ayo masuk, sayang!" Aku dan William sudah sampai di apartemen miliknya, apartemen yang selalu rapi dan juga bersih, tapi ada yang baru dari tempat ini yaitu sebuah foto dengan ukuran yang besar menggantung tepat di dinding ruang tamu. Foto prewedding kami beberapa waktu yang lalu
Aku menatapnya untuk beberapa detik dan kemudian beralih sebab tiba-tiba kejadian itu terus melintas, membuatku agak malu jika mengingatnya
"Sayang aku mandi dulu, ya" teriak William dari dalam kamarnya
__ADS_1
"Iya, Mas!" sahutku dari ruang tamu
Aku beralih dari sana, masuk ke dalam kamar William. Baru pertama kali aku masuk ke dalam kamar ini, meski berulang kali aku datang ke apartemen ini namun aku hanya berada di ruang tamu atau di dapur saja. Kamar tidur yang penuh dengan aroma parfum yang William biasa pakai, kamar ini juga penuh dengan foto prewedding kita berdua