HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Mama Kecewa Sama Kamu!


__ADS_3

Happy reading.....


"Mbak Maya," panggil Rania, Maya yang mendengar Rania pun segera menghapus air matanya.


"Rania, Mbak hamil," ucap Maya dengan wajah yang sendu.


Gadis itu menggangguk, kemudian dia langsung memeluk tubuh Maya. Merasa terharu dan juga bahagia, karena sebentar lagi di rumah mereka akan ramai oleh tangisan bayi.


"Aku tidak percaya jika itu anakku!" ucap Carlen yang tiba-tiba saja masuk.


Rania menatap tajam ke arah kakaknya, sementara Maya hanya memejamkan mata mencoba untuk menahan emosi. Dia tidak ingin marah-marah, karena itu bisa berpengaruh pada kehamilannya.


"Rania, Mbak mau pulang sekarang. Kamu bisa 'kan nganterin Mbak pulang?" pinta Maya.


"Iya Mbak, ayo Rania bantu," ucap gadis tersebut, kemudian membantu Maya berdiri dan mereka pun pulang.


Carlen yang merasa diacuhkan pun tidak terima, kemudian dia menarik tangan Maya dengan kasar. "Kamu dengar ya! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mengakui benih yang ada di rahimu itu anakku, sebelum aku bisa membuktikannya sendiri, paham!" geram Carlen dengan sorot mata yang tajam.


"Terserah kamu Mas, mau kamu percaya ataupun tidak. Toh apa yang keluar dari mulutku tidak akan pernah kamu percaya bukan? Mau aku bilang tuan Felix bukan selingkuhanku pun, kamu tidak akan percaya. Hanya saja, mungkin saat kamu akan mengakui anak ini sebagai anakmu, maka jangan pernah berharap Mas aku akan mengizinkannya!" tegas Maya.


Setelah mengatakan itu, Maya pun pergi bersama dengan Rania meninggalkan Carlen yang masih berdiri mematung mendengar ucapan dari istri pertamanya tersebut.


Hati mana yang tidak sakit saat suaminya tidak percaya, jika benih yang ada di dalam kandungannya saat ini adalah hasil dari perbuatannya. Dan hati mana yang tidak sakit, saat suaminya sendiri menuduh dia selingkuh dengan pria lain, padahal Maya hanya bekerja sama dengan Felix.


Selama di dalam mobil, Maya hanya diam saja menatap ke arah samping. Namun air matanya sedari tadi terus aja berjatuhan, dan Rania yang melihat itu pun turut bersedih.


Padahal baru beberapa hari Carlen bahkan berubah sikapnya kepada Maya. Pria itu tidak lagi menyiksanya, tapi sekarang Carlen malah berubah kembali menjadi seekor singa.

__ADS_1


"Mbak yang sabar ya. Aku yakin kok, apa yang kak Carlen tuduhkan itu tidak benar. Mbak harus buktikan kepadanya, kalau anak yang ada di dalam kandungan Mbak adalah anaknya kak Carlen, bukan dari orang lain," jelas Rania.


"Untuk apa Rania? Tidak usah, biarkan saja Mas Carlen dengan pikirannya, jika memang dia berpikir bahwa ini bukanlah putranya. Biarkan saja! Toh saat kebenarannya terungkap, maka dia akan menyesal sendiri," jelas Maya dengan suara tertahan menahan isak tangis.


Sesampainya di rumah, Maya akan masuk ke dalam kamar, tetapi tangannya ditahan oleh Rania. Mereka berjalan menghampiri mama Gisel yang sedang duduk di meja makan bersama dengan Freya.


"Mama," panggil Rania sambil memeluk tubuh wanita itu dari belakang, "Aku punya kabar gembira buat Mama," ucap Rania sambil mengecup pipinya.


"Kabar apa itu sayang? Sepertinya kamu bahagia sekali?" tanya mama Gisel dengan penasaran.


"Mama tahu nggak, sebentar lagi di rumah ini tuh akan ramai oleh tangisan bayi," jawab Rania sambil melirik ke arah Maya.


Mama Gisel mengerutkan dahinya, dia menatap putrinya dengan bingung. "Maksudnya? Mama tidak mengerti sayang, apa maksud kamu?" tanya mama Gisel.


"Mbak Maya sekarang sedang hamil Ma, dan kandungannya memasuki Minggu ke-6," jelas Rania dengan wajah yang bahagia.


"Iya Mah," jawab Maya.


Wanita itu pun langsung bangkit dari duduknya dan dia langsung memeluk tubuh Maya. Hatinya benar-benar sangat bahagia, karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang nenek, dan rumah itu akan ramai oleh tangisan seorang bayi.


"Terima kasih ya sayang, sebentar lagi rumah ini pasti akan ramai. Mama akan menjadi seorang nenek. Wah, senangnya!" seru mama Gisel dengan wajah yang bahagia.


"Buat apa senang, Mah?" timpal Carlen yang tiba-tiba saja masuk ke ruang makan.


"Carlen," lirim Mama Gisel, "Kenapa kamu berbicara seperti itu? Seharusnya senang dong, 'kan Maya sedang hamil anak kamu?" tutur mama Gisel dengan heran.


"Itu bukan Putraku, Mah. Itu pasti anak dari selingkuhannya!" tuduh Carlen.

__ADS_1


"Cukup Mas! Sudah berapa kali aku bilang, ini tuh anak kamu. Jika memang kamu tidak ingin mengakuinya, hangan pernah menuduhku seperti itu! Aku tidak masalah kok, kalau kamu memang tidak ingin mengakui anak kita. Aku bisa mengurusnya sendiri! Tapi jangan pernah kamu Berkata seperti itu, yang nantinya kamu akan menelan ludah kamu sendiri, Mas!" seru Maya dengan suara yang serak.


Dadanya begitu sesak saat mendapatkan tuduhan dari suaminya sendiri. Dia mencoba untuk kuat, tapi nyatanya tidak bisa. Sementara mama Gisel menatap ke arah Carlen dan juga Maya bergantian, dia merasa heran dengan situasi yang sedang dihadapinya sekarang.


"Maksudnya bagaimana? Kenapa kamu berbicara seperti itu, Carlen?" tanya mama Gisel.


"Iya Mah, tadi itu aku memergoki dia sedang selingkuh bersama dengan pria lain. Sudah jelas-jelas, pasti itu bukan anakku!" jelas Carlen sambil menatap sinis ke arah Maya.


Sedangkan Freya hanya tersenyum menyeringai saat melihat perdebatan itu. Dia meminum tehnya sambil menonton drama yang sedang berlangsung di hadapannya.


'Aah, aku menikmati drama ini. Benar-benar sangat seru!' batin Freya.


"Kak, udah berapa kali sih aku dan Mbak Maya bilang, kalau mereka itu hanya kerjasama tidak lebih. Pria itu tuh Tuan felix, yang pernah menolong Mbak Maya 'kan waktu di Jerman? Dia bukan selingkuhannya! Seharusnya Kakak itu dengarkan dulu penjelasan--"


"Diam! Kamu tidak usah banyak bicara! Kamu itu hanya anak kecil, tidak usah ikut campur dalam rumah tangga Kakak!" bentak Carlen dengan nada yang naik satu oktaf.


"atunggu-tunggu! Sebenarnya ini ada apa sih?" Mama Gisel masih terlihat bingung.


Kemudian Rania pun menceritakan tentang kejadian di cafe beberapa saat yang lalu, dan setelah dijelaskan mama Gisel hanya manggut-manggut. Dia mengerti tentang situasi saat ini, kemudian dia menatap ke arah Carlen berjalan dan langsung menampar wajah putranya tersebut.


Freya pikir, mama Gisel akan marah kepada Maya, dan menampar wajah wanita itu. Tetapi di luar dugaannya, yang ditampar adalah suaminya dan itu membuat Freya sangat bingung.


"Keterlaluan kamu ya! Istri sedang hamil, kamu malah menuduhnya yang tidak-tidak? Jelas-jelas dia itu anak kamu! Dan Cafe itu emang milik Maya!" bentak mama Gisel yang tidak terima dengan tuduhan putranya kepada Maya.


"Mama nampar aku, cuma gara-gara wanita udik itu? Yang sudah selingkuh---"


"Cukup Carlen! Yang dikatakan Rania dan Maya itu benar. Cafe tersebut adalah milik Maya, dan dia memilikinya sebelum kalian menikah. Sekarang gini, kalau memang Maya hamil anak dari pria lain, kamu pikir aja! Apakah waktu kamu melakukan yang pertama kali dia masih perawan atau tidak? Apakah Maya bisa berselingkuh, sedangkan dia dikurung di rumah ini selama 24 jam? Pikir dengan logika! Jangan dengan amarah! Mama benar-benar kecewa sama kamu. Kecewa banget," ucap mama Gisel. Setelah itu dia mengajak Maya pergi meninggalkan meja makan.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2