HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 125. Tidak perlu malu, sayang


__ADS_3

Aku mengatakan padanya rencana apa yang aku pikirkan, keraguan memang sempat ia utarakan tapi aku memberinya alasan, apa dan kenapa aku memiliki rencana itu, dengan berbagai penjelasan dan juga uraian akhirnya William mengiyakan dan akan mengikuti apa yang aku minta


"Baik, aku mengalah padamu sekarang. Tapi aku harap kamu mau menuruti satu permintaanku"


"Permintaan apa?"


"Besok kita menyusul orang tuaku dan juga oma Mariyam, kita minta restu pada mereka terlebih dahulu baru kita menentukan tanggal untuk pernikahan kita" aku mengangguk


"Bisa antarkan aku pulang sekarang, ini sudah waktunya Ayah pulang kerja. Aku akan berpamitan padanya untuk rencana besok"


William kemudian mengajakku turun dan pulang, namun sebelumnya ia berpamitan pada Prima yang masih berada di lantai bawah


"Iya, Will. Sebentar lagi aku juga akan pulang" kami kemudian masuk mobil dan melaju ke rumahku


************


Pagi menjelang, aku sudah bersiap untuk rencana hari ini. Setelah semalam aku berpamitan pada Ayah dan dia mengijinkanku maka hari ini aku siap meminta restu pada orang tua William. Kupatut tampilan tubuhku di cermin, kukuncir rambutku, kupoles wajahku dengan pelembab serta kuoleskan lipstik warna merah muda di bibirku


"Non Agnes, ditunggu tuan William di bawah" ketukan pintu yang dibarengi suara dari ARTku dari luar


"Iya, sebentar" sahutku kemudian menyambar tas dan koper yang sudah penuh dengan semua perlengkapan pribadiku. Aku memang membawa satu koper penuh saat ini sebab menurut rencana, aku dan William akan berada di sana beberapa hari


"Kamu mau ke mana, Nes?" Ayah melihatku turun dari tangga sembari membawa koper dan juga tas, ia melipat koran yang ia baca. William duduk di sampingnya dan hanya tersenyum


"Kan kemarin Agnes udah ijin sama Ayah, Agnes sama mas Willy berangkat hari ini" jelasku dan duduk di samping Ayah


"Enggak jadi, Nes" aku menatap William kemudian dan meminta penjelasan


"Kita enggak jadi ke luar negeri karena orang tuaku sudah datang ke Indonesia semalam dan sekarang mereka berada di apartemenku" jelasnya lagi


"Ya Allah, Mas. Percuma dong bangun pagi terus dandan cantik kayak gini" kuhela nafasku kasar sembari memundurkan punggungku, aku yang pagi ini rela bangun sebelum biasanya, berdandan dan kini sudah rapi ternyata harus menerima kenyataan bahwa apa yang sudah direncanakan harus gagal


"Ya maaf" senyum William sekali lagi muncul, ia kemudian memberitahukan jika sudah mengirimkan pesan padaku semalam tapi aku tidak membalasnya dan pagi ini pun aku juga belum menyentuh ponselku. Setelah mendengar apa yang ia katakan aku mengambil ponsel yang berada di tas kecilku, kulihat beberapa pesan dan juga panggilan dari William, mencoba memberitahukan hal itu padaku


"Maaf, aku juga tidak tahu jika kamu sudah mengirimkan pesan" kusimpan kembali ponselku ke tempat semula

__ADS_1


"Lanjutkan pembicaraan kalian, Ayah akan pergi ke suatu tempat" Ayah hendak berdiri tapi kutahan


"Ke mana, Yah. Agnes boleh ikut enggak?" aku menatapnya lekat


"Ayah mau pergi kencan, kamu mau ikut?" Entah itu benar atau tidak tapi Ayah mengatakannya dengan penuh semangat


"Tapi ini masih pagi, Yah. Belum jamnya untuk kencan"


"Memangnya cinta harus nunggu waktu ya, Nes?" tawanya meledak dan ia berjalan ke kamarnya. Aku menatapnya heran dan juga penuh selidik


"Hari ini Ayah tidak bekerja dan kamu juga boleh libur, semua urusan kantor sudah Ayah limpahkan pada asisten ayah" ia kemudian menutup pintu kamarnya dan melakukan entah apa


"Ayo, sayang" William berdiri dan mengulurkan tangannya


"Ke mana?" aku masih berada di posisiku


William kembali duduk, "Kita ke apartemenku sekarang. Orang tuaku ingin bertemu denganmu" jelasnya kemudian, aku hanya mengangguk lalu mengikutinya


"Ayah, Agnes berangkat, ya" kudengar kata iya dari dalam kamar Ayah dan aku pun ke luar dari rumah mengikuti William


Tak berselang lama, William datang bersama dengan orang-orang yang aku kenal. Oma Mariyam, tante Rosa dan om Adiputra, ketiga tersenyum sembari berjalan ke arah ruang tamu, ketiganya tampak berbeda dari terakhir kali aku bertemu mereka. Om dan tante Rosa lebih kurus aun keduanya tampak bugar dan juga lebih bersemangat sedangkan oma Mariyam ia malah sebaliknya. Aku berdiri menyambut mereka semua, kucium punggung tangan mereka satu per satu


"Agnes sayang, aku merindukanmu" Oma Mariyam tampak lebih gemuk dari sebelumnya, ia juga terlihat ramah seperti biasa


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya om Adiputra


"Agnes baik, om"


"Panggil aku papa, seperti William" pintanya dengan senyum


"Agnes baik, Pa" kuturuti apa yang dia minta meski masih terdengar aneh dan juga baru tapi aku harus terbiasa


"Dan panggil aku mama!" Tante Rosa juga tak ingin kalah, aku juga menurutinya lalu dia juga tampak bahagia


"Kapan kalian akan menikah?" belum lagi kami meminta restu dan membicarakan semuanya, tiba-tiba oma Mariyam sudah membuka suara seolah tidak sabar dengan pernikahan kami berdua. Aku yang duduk di sebelah William kemudian menatapnya dan dia pun tersenyum

__ADS_1


"Secepatnya, Oma" jawab Willy


"Tetapkan hari dan tanggalnya sebelum kami kembali ke luar negeri" usul om Adiputra


"Kalau William sih terserah Agnes saja maunya kapan" William kembali menoleh ke arahku, rona bahagia terukir di sana


"Bagaimana kalau minggu ini, bukankah lebih cepat lebih baik?" aku dan William kembali saling pandang. Bahagia tentu merajai hati kami berdua tapi untuk kali ini yang dominan adalah rasa gugup, detak jantung kami berdua seolah tengah lari maraton


"Bagaimana, Nes?" tanya Oma Mariyam dan tanpa pikir panjang aku mengangguk, rona bahagia juga terukir di wajah oma Mariyam dan kedua orang tua William


"Tapi Agnes punya satu permintaan" mereka semua menatap ke arahku


"Permintaan apa, Nak?" aku menceritakan apa yang aku rencanakan, awalnya mereka ragu seperti William tapi setelah mendengar apa dan kenapa aku memintanya maka mereka semua akhirnya setuju


"Baik, jika itu yang kamu minta maka kami akan menurutinya"


"Terima kasih, Pa. Dan Agnes juga ingin meminta maaf pada kalian semua, jika beberapa waktu yang lalu Agnes melakukan kesalahan dan membuat pernikahan ini tertunda. Agnes tahu ini bukan hal yang mudah untuk dimaafkan tapi sekali lagi maafkan Agnes" William menggenggam erat tanganku, mencoba memberi kekuatan padaku untuk mengakui semua kesalahan yang aku perbuat


"Semua orang pasti pernah berbuat salah dan itu manusiawi, menyesal memang pasti tapi hal yang harus dilakukan sekarang adalah tetap berusaha menjadi lebih baik dan tidak mengulanginya" Om Adiputra tampak serius, dan dari situ aku merasa lega karena akhirnya apa yang aku takutkan tidak terjadi. Aku takut jika om Adiputra tidak memberikan restunya karena aku pernah melakukan kesalahan


"Sayang, mama tahu waktu itu kamu masih terlalu muda untuk menjalani pernikahan dan jiwa muda itu masih labil untuk melakukan hal yang berkomitmen serius, mama bisa memahaminya. Dan untuk sekarang, mama harap hal itu menjadi pembelajaran untuk kalian berdua dalam menjalani hubungan agar kalian bisa langgeng sampai menua nanti" imbuh tante Rosa


"Kalian menikah bukan hanya untuk kalian berdua saja, tapi pernikahan itu juga menyatukan kedua keluarga. Jadi oma harap kalian berdua bisa saling menerima satu sama lain anggota keluarga kalian yang baru. Berkomunikasi lah dengan baik, bicarakan semuanya meski sampai hal yang paling kecil sekali pun"


"Oh, ya. Kabari ayahmu, nanti malam kami semua akan berkunjung ke rumahmu!" aku mengangguk


"Oma, terima kasih" tiba-tiba Willy mendekat ke arah omanya


"Apa rencana oma berhasil?" senyum mengembang di wajahnya oma Mariyam, ia tahu hal apa yang membuat William mengucapkan kata itu


"Rencana apa, Ma?" tante Rosa juga ingin tahu. William. akhirnya menjelaskan apa yang dirahasiakan oleh dirinya dna juga omanya, malu tentu saja aku rasakan sekarang terlebih lagi William menceritakan semuanya dengan sangat detail


"Apa itu benar, sayang?" Tante Rosa menatapku, aku hanya mengangguk sembari menundukkan kepalaku sedangkan William kini tampak penuh kemenangan, wajahnya penuh senyum kesombongan dari hal yang ia ceritakan


"Tidak perlu malu, sayang. Itu adalah bukti jika kamu memang benar-benar mencintainya"

__ADS_1


__ADS_2